
Perjalanan menuju Kerajaan Simaseba tidak akan mudah. Ki Cakra berkata bahwa di perjalanan nanti kami akan menemui musuh-musuh yang tentunya merupakan utusan Putri Camelia. Ki Cakra juga memberikan sebuah kalung permata berwarna hijau yang berfungsi untuk memanggilnya jika saja Tuan Mahawira kehilangan kendali sewaktu-waktu.
Masih ada potensi pria itu kehilangan kendali karena proses penyatuan energinya di dalam tabir jiwanya dengan artefak naga.
Aku membawa perbekalan secukupnya dari istana. Sisanya, jika kekurangan nanti, aku kami bisa berburu di hutan. Apa gunanya kemampuan Tuan Mahawira yang ahli dalam memanah jika tidak digunakan? Tentu, aku sudah membawa busur dan puluhan anak panah milik Tuan Mahawira yang selalu ia gunakan saat berburu.
Sudah cukup lama berjalan, kami berhenti sejenak untuk mengembalikan energi di tepi sebuah sungai.
"Wah, airnya jernih dan segar," kata Tuan Mahawira yang sedang mencuci wajahnya di sungai itu. "Cornelia, apa kau tidak ingin mandi di sini?"
"Apa kau gila, Tuan? Mana mungkin aku mandi saat kau ada di sini."
"Jadi, kau malu dilihat olehku?" Tuan Mahawira penuh selidik.
"Kau selalu saja bertanya hal yang sudah pasti jawabannya dapat kau temukan sendiri."
"Baiklah. Aku anggap kau malu denganku. Apabila kita mandi bersama, apa kau bersedia—"
"Berhenti!" teriakku. "Jangan menggodaku lagi, Tuan. Aku sudah cukup menerima kata-kata godaanmu sepanjang perjalanan. Dan itu berhasil membuatku malu."
Tuan Mahawira naik setelah dari sungai mencuci wajahnya dan kembali terlihat bersih.
"Aku lihat kau membawa Ubi Rebus. Rasanya aku lapar sekali. Boleh aku minta?" pria itu duduk di hadapanku.
Lekas aku buka kain yang kugunakan untuk membawa beberapa makanan dari istana.
"Ini. Kau boleh memakan satu yang besar."
Tuan Mahawira segera mengambil ubi berukuran besar di tanganku. "Hmm ... ini terlihat seperti—"
"Jangan lagi!" potongku sambil mengalihkan pandangan.
Pria itu pun segera memakan Ubi Rebus yang terlihat lezat itu.
"Kau tidak makan?"
"Aku tidak banyak makan, Tuan. Bahkan melihatmu kenyang saja sudah cukup membuatku kenyang juga."
"Hmm ... apa kau sedang mencoba menggodaku?"
"Hah? Siapa bilang? Terbalik, Tuan. Kau yang selalu menggodaku."
"Tapi, kau selalu suka saat aku menggodamu." Pria itu terkikik kemudian, lalu memakan potongan ubi terakhir.
__ADS_1
Sebuah anak panah tiba-tiba menancap di hadapan, membuat diriku dan Tuan Mahawira terkesiap. Kami langsung dalam posisi waspada. Tuan Mahawira berdiri sambil mengedarkan pandangan ke sekitar mencari sumber anak panah.
Tak lama, seorang pria muncul dari balik semak-semak di seberang sungai. Pria yang membawa busur dan anak panah dengan ikat kepala berwarna hitam.
Karena takut, aku bersembunyi di balik punggung Tuan Mahawira.
"Siapa kau?" Tuan Mahawira bertanya sambil tetap waspada.
"Kalian mengambil tempat peristirahatanku. Ini adalah tempatku!" katanya sambil menatap tajam.
"Hmm ... jadi, kau sudah membeli tempat ini? Melalui siapa kau membelinya?"
Sial. Tuan Mahawira memancing amarah pria di seberang sungai. Tak menunggu lama, pria itu langsung melompat dan dan menyerang Tuan Mahawira. Namun, Tuan Mahawira segera menghindar dengan lincah.
Beranjak dari pria itu, aku menjadi sasaran. Orang asing itu mengangkat tinju, lalu berusaha memukulku. Untung saja, aku punya cukup ilmu bela diri sehingga dengan begitu mudahnya aku menangkis, lalu memukul sang pria.
"Hebat. Gerakan yang sangat bagus," puji Tuan Mahawira dengan santainya melihatku menghadapi pria asing itu.
Sang musuh pun tak terima, lalu kembali menyerangku dengan tendangan-tendangan, tinju-tinju yang berkali-kali dilayangkan, tetapi selalu bisa aku hindari. Aku melompat, kemudian memukul punggung pria itu dari belakang hingga tersungkur.
"Kurang ajar!" katanya dengan nada amarah
"Ayo, lawanlah istriku itu—maaf—maksudku calon istriku itu. Jika kau sudah bisa mengalahkannya, berarti kau pantas melawanku."
Jarak kami cukup jauh. Pria itu lalu membidik dengan busur panahnya. Dadaku berdebar karena sebentar lagi akan menerima lesatan anak panah. Meski begitu, Tuan Mahawira masih mempercayakan semuanya padaku.
Karena itu, aku memutuskan untuk memperlihatkan kemampuanku yang sebenarnya hingga Tuan Mahawira percaya dan aku tidak akan menjadi beban lagi baginya.
Anak panah dilesatkan, aku melompat semakin dekat ke arah pria asing itu. Sayangnya, aku kehabisan tenaga. Perutku terasa perih karena sedari pagi belum diisi oleh makanan apa pun.
Kupegangi perut. Tuan Mahawira masih memperhatikanku dengan lamat tanpa mau turun tangan.
Kembali aku melompat mendekatkan diri pada pria asing, lalu memukulnya dengan jurus Seribu Telapak Tangan.
Berhasil, itu membuat sang pria langsung memuntahkan darah hingga mundur beberapa jarak.
"Calon istriku sangat hebat." Sambil bertepuk tangan, pria itu tersenyum puas. "Biar aku yang menyelesaikannya."
Tuan Mahawira melompat, lalu menghantam rahang sang pria hingga tergeletak di tanah. Ia sudah tak berdaya. Bahkan untuk bangkit saja mungkin ia sudah kesulitan. Benar saja, menunggu cukup lama, pria itu tak juga bangkit.
"Kau tahu? Itu tadi namanya adalah pukulan mematikan," kata Tuan Mahawira sambil menatap ke arahku.
"Hah? Lalu, pria itu kau buat mati?"
__ADS_1
"Ya ... tidak. Dia hanya pingsan sebentar."
"Kalau seperti itu, bukan pukulan mematikan namanya."
"Baiklah. Aku beri nama Pukulan yang Membuat Orang Pingsan. Apa itu cukup?"
"Bisa-bisanya kau bercanda di tengah pertarungan, Tuan." Aku mengembuskan napas pasrah.
"Berani-beraninya kalian mempermainkanku."
Kulihat pria asing itu kembali bangkit sambil membersihkan darah di sekitar mulutnya. Ia hanya memaksakan diri bangkit dan terlihat kuat, sepertinya.
"Hei, Orang Asing. Kau tidak perlu memaksakan diri untuk bangkit. Jika kau sudah kelelahan, kau tinggal mengaku saja. Jangan malu, meskipun lumayan memalukan karena bisa dikalahkan oleh seorang perempuan."
Tuan Mahawira tertawa renyah. Sosok Tuan Mahawira yang baru ini memang orang yang menyebalkan. Dia bahkan mengolok-olok lawan seolah pria itu bukanlah tandingannya. Ya, aku mengerti bagaimana perasaan orang asing itu.
"Baj*ngan!"
Pria itu menyatukan kedua tangan di depan dada. Setelah itu, cahaya berwarna kuning mengelilingi tubuhnya. Puluhan anak panah yang ada di punggungnya beterbangan, lalu melayang di sekitarnya menghadap ke arah kami.
"Kau punya kemampuan yang menarik," ucap Tuan Mahawira. "Apa yang akan terjadi dengan—"
Puluhan anak panah itu melesat. Tuan Mahawira dengan kecepatan kilat membawaku lari menjauh dari jangkauan anak-anak panah. Akan tetapi, benda itu mengejar-ngejar ke mana pun tuanku berlari.
Sementara itu, aku tidak bisa mengikuti langkah Tuan Mahawira karena terlalu cepat. Tenagaku sangat banyak terkuras. Namun, dengan cara menggendongku, Tuan Mahawira melompat seolah aku bukanlah beban berat baginya.
Setelah mengelilingi beberapa puluh pohon, puluhan anak panah yang mengejar itu berhenti dan tergeletak berserakan di tanah.
Tuan Mahawira kembali menghampiri sang pria asing.
"Ternyata itu ada batasnya." Diturunkannya diriku kemudian. Kulihat Tuan Mahawira menyeringai.
"Kau memaksaku untuk bertarung serius."
Cahaya kuning tua melindungi tubuh Tuan Mahawira. Sepertinya dia akan menggunakan ilmu yang sangat berbahaya itu. Karena tidak mau hal itu terjadi, aku lebih dulu melompat ke arah pria asing dan menendangnya dengan gerakan salto hingga terkapar. Dia bergerak beberapa saat, lalu tak sadarkan diri.
Akhirnya, cahaya-cahaya itu hilang dari sekeliling tubuh tuanku. Aku berhasil membendung amarahnya.
Akan tetapi, entah apa yang merasuki lelaki itu hingga dengan cepat ia meraih tubuhku, kemudian mendekapnya, meraih bibirku, melumatnya habis.
Aku membelalak.
-------------------
__ADS_1
Jangan lupa vote yang banyak untuk crazy up ~`~