
Hari ini Camelia sangat gembira. Satu-satunya hal yang membuat gadis berdagu lancip itu merasa senang dan puas adalah kabar mengenai Cornelia telah diterimanya dengan baik. Kabar gembira baginya mendengar keadaan Cornelia yang berbaring tak dapat melakukan apa pun selain memejamkan mata dan bergeming. Tentu saja, itu adalah bagian dari rencana meskipun orang suruhannya telah mati di tangan Mahawira.
"Oh, Camelia putriku. Apa yang membuatmu sangat gembira hari ini?"
Raja Simaseba, pria yang berusia 65 tahun itu sangat penasaran untuk mengetahui sebab putrinya tampak bahagia. Sebagai seorang raja yang tak pernah meninggalkan kursi takhta, ia tak tahu-menahu soal rencana putrinya. Sejak hari kaburnya Mahawira dari Kerajaan Rosalia bersama pelayan cantik berhidung lancip, sang raja memercayakan semuanya pada sang putri. Baik dengan cara apa pun untuk kembali merebut Mahawira dari tangan si pelayan, ia tetap menerima, sebab Camelia adalah putri satu-satunya yang dimiliki oleh sang raja.
"Aku sangat senang, Ayah. Aku senang sekali karena pelayan rendahan itu sudah berhasil aku kalahkan. Aku meminta Jaro menyerangnya dengan menggunakan mantera sihir Pengambil Jiwa." Camelia menarik napas dalam. "Aku senaaaaang sekali, Ayah."
Sang raja tertawa, ikut bahagia atas perasaan putrinya yang berbunga-bunga.
"Dan sebentar lagi, Ayah, Mahawira akan datang padaku. Dia akan datang untuk memohon-mohon." Tawa Camelia pekak memenuhi ruang takhta.
Di ruangan luas itu, terdapat puluhan prajurit pilihan serta menteri-menteri yang berdiri. Mereka pun ikut senang karena bisa melihat senyum Camelia kembali. Namun, bukan hanya itu alasannya. Mereka—para menteri itu—sangat diuntungkan oleh serangkaian rencana Camelia. Mulai dari penyerangan terhadap Mahawira, penculikan Raja Rosalia dan para prajuritnya, dan terakhir adalah pembunuhan seorang raja yang merupakan ayahanda dari dua pangeran bersaudara—Kalandra dan Birendra.
Saat Camelia menolehkan pandangan ke salah satu menteri yang berdiri tak jauh dari kursi takhta, ia berkedip seolah memberikan tanda.
"Ayah, aku punya permintaan."
"Apa itu, putriku?"
Camelia tersenyum miring, kemudian membisikkan permintaannya pada sang ayah.
---------------
Mahawira telah berubah menjadi seseorang yang dingin tanpa ekspresi. Semua itu terjadi karena gadis yang dicintainya telah berhari-hari tak sadarkan diri. Pangeran itu selalu berharap Cornelia membuka matanya secara tiba-tiba, tapi sayang semua hanya khayalan belaka.
Mahawira dan teman-temannya menetap di Desa Kaswari. Ia selalu berbicara dengan gadis yang dicintainya setiap malam. Meski tak pernah mendapatkan tanggapan, pembicaraannya tak pernah berhenti.
Mahawira mengusap-usap wajah Cornelia sambil berkata, "Aku selalu menantimu, Cornelia. Bangunlah kapan pun. Aku selalu menantimu."
Tiga pria yang bertualang bersama Mahawira selalu tersentuh setiap kali mendengarnya bicara seorang diri di tempat tidur Cornelia. Tiap menit, jam, hari tak pernah bosan. Mahawira selalu mengulang cerita tentang masa kecilnya, menuturkan pada putri tidur itu betapa indah ikatan mereka, betapa indah takdir yang menghubungkan mereka.
Mahawira keluar dari kamar Cornelia. Di luar, tiga temannya sedang duduk dengan ekspresi sedih.
__ADS_1
"Jagalah Cornelia untukku. Kalian tinggallah di sini. Aku akan pergi mencari cara agar Cornelia bisa bangun kembali."
"Tapi—"
"Tidak ada penolakan, Kalandra. Aku ingin kalian membantu. Tinggallah, lakukan pekerjaan seperti orang-orang desa pada umumnya. Aku akan kembali setelah berhasil mendapatkan jawaban yang aku cari."
Saat Kalandra hendak menghalangi jalan Mahawira, Birendra menahannya.
"Biarlah, Kalandra. Jangan halangi dia. Biar Mahawira memuaskan hatinya. Yang perlu kita lakukan adalah merawat Cornelia selalu."
Kalandra pun pasrah setelah mendengar perkataan saudaranya. Setelah mengembuskan napas panjang, dilihatnya Mahawira berjalan keluar dari desa.
"Semoga kau selalu dilindungi Tuhan, Mahawira sahabatku."
Di luar Desa Kaswari, Mahawira sebenarnya telah ditunggu oleh perempuan pengguna trisula yang dilawannya beberapa hari lalu.
"Apa yang kau tunggu? Cepat, bawa aku ke istana."
Sang perempuan segera meletakkan tangannya di bahu Mahawira, lalu melakukan teleportasi ke Istana Simaseba yang sangat sejuk dan besar.
Benar-benar kota yang menyedihkan, batin Mahawira saat berada di depan pintu istana yang sangat besar. Mata Mahawira mengedar ke sekeliling, melihat kesunyian yang mencekam.
Perempuan yang bersama Mahawira memasuki istana setelah para pengawal membuka pintu dan memberikan jalan.
Di depan istana yang megah itu, Mahawira menyaksikan Camelia telah berdiri menanti kedatangannya.
Ternyata sudah direncanakan, sialan! umpatnya dalam hati.
Pandangan para pengawal tak luput dari sosok Mahawira, tentu saja. Mahawira saat ini masih berstatus bahaya atau ancaman bagi Simaseba. Mereka tak bisa lengah, kewaspadaan harus ditingkatkan.
Mahawira tiba di depan bangunan istana. Jaraknya dengan Camelia cukup renggang. Perempuan yang mengantarnya telah berdiri di samping Camelia.
"Tidak perlu basa-basi. Aku datang kemari hanya untuk memintamu membebaskan ayahku dan semua prajurit yang telah kau kurung di istana ini. Dan yang terpenting, beritahu caranya untuk membangunkan Cornelia."
__ADS_1
Tatapan Mahawira mengandung api yang menyala-nyala, membakar bola mata, membakar emosi di jiwanya. Namun, ia berusaha tetap terkendali.
"Pertama-tama, izinkan aku menyambut kedatanganmu, Mahawira calon suamiku. Selamat datang di Istana Simaseba."
Camelia tersenyum ramah, tetapi masih saja mengeluarkan aura yang mencurigakan.
"Tak perlu! Aku tidak butuh ucapan omong kosong! Sekarang, cepat bebaskan—"
"Dengan senang hati akan akan aku lakukan, Sayang. Tapi ... permintaanmu yang nomor dua sepertinya tidak akan bisa aku penuhi."
"Apa?! Kau tidak bisa memenuhi permintaan yang paling penting?! Kau tahu?! Tujuanku kemari hanya untuk mengetahui cara membangunkan Cornelia. Untuk kebebasan ayahku dan para prajurit, aku bisa memaksamu melakukannya." Tangan kanan Mahawira mengacung, jari telunjuknya lurus ke arah Camelia.
"Jangan pikir dengan kedatanganku ini, aku akan terhasut oleh rencana-rencana busukmu, Camelia! Dengar! Aku tidak akan pernah menikah denganmu! Aku hanya milik Cornelia! Seluruh hidupku hanya milik Cornelia!"
Semua orang yang berkumpul di sekitar, termasuk para menteri yang beberapa saat lalu baru muncul, mengarahkan tatapan ke pria beranting-anting emas berbentuk bulan dan bintang itu.
Hati Camelia sangat sakit mendengar perkataan Mahawira. Sangat jelas terlihat dari caranya menahan semua emosi. Rahangnya mengeras. Tak berapa lama kemudian, ia berhasil menenangkan diri.
"Kalau begitu, bagaimana jika aku memberitahumu cara membangunkan si pelayan rendahan itu dengan syarat kau harus menerimaku sebagai istrimu." Senyum licik Camelia mulai terlihat. Ia sangat hebat memainkan peran dan politik.
"Sialan ...." Mahawira geram, tangannya terkepal keras.
Suara tawa diiringi derap langkah terdengar dari dalam istana. Tak berselang lama, muncullah Raja Simaseba.
"Mahawira, Pangeran Rosalia. Aku harap kau selalu diberikan kesehatan. Sayang sekali, setelah memasuki area istana, kau mungkin akan dilanda rasa sakit sebentar lagi." Raja Simaseba berdiri di sebelah putrinya sambil tersenyum lebar pada Mahawira. Namun, matanya tak seramah senyum yang ia ukir. Matanya mengatakan sesuatu yang lain.
"Aku tidak peduli lagi dengan kalian. Apa pun yang kalian rencanakan, aku pasti akan menghalanginya."
"Jadi, begitu, Mahawira calon suamiku. Maka, bagaimana kalau aku berencana melenyapkan jiwa si pelayan sampah itu dari ruang hampa? Pasti dia akan mati. Kasihan sekali."
"TUTUP MULUTMU, CAMELIA KEPARAT!"
Teriak pekak yang hampir memecahkan gendang telinga itu menggelegar bagai halilintar, membuat semua orang terkesiap. Api yang membakar bola mata Mahawira telah menyebar ke seluruh tubuhnya.
__ADS_1
-------------
Jangan malas vote. Vote, yuk, biar rajin update.