
Pedang milik Tuan Mahawira patah oleh tebasan pedang pria bertopeng yang baru saja datang entah dari mana. Kami bertiga membelalak, bahkan aku tidak bisa membayangkan bagaimana bisa pedang yang sudah ditunjang oleh energi artefak naga itu bisa patah.
Tuan Mahawira segera menjauh dari dua pria bertopeng. Aku melihat kekesalan yang memuncak di wajah sang pangeran.
"Keparat."
Waktunya sudah tiba. Aura di sekeliling tiba-tiba berubah drastis. Suhu udara yang semula dingin seketika menjadi panas. Ini adalah tanda-tanda saat kekuatan Tuan Mahawira akan mulai hilang kendali.
Tak lama kemudian, api mengelilingi tubuh Tuan Mahawira. Tangannya mengepal keras. Tatapannya menajam tersirat sebuah makna ada dendam yang harus dibalas.
Dua pria bertopeng menyadari suhu di sekeliling tiba-tiba panas. Mereka meningkatkan kewaspadaan dengan bersiap kembali menyerang.
Akan tetapi, sebelum mereka mulai bergerak, Tuan Mahawira secepat kilat tanpa bisa kulihat dengan jelas, kini telah berdiri di belakang dua pria bertopeng. Dengan sikut tangannya, Tuan Mahawira mampu mengempaskan mereka. Tentu saja, tenaga pria itu sangatlah kuat.
Dua pria bertopeng roboh setelah tubuh mereka terempas pada pohon besar.
Tuan Mahawira berbalik badan, tampak ia belum puas melakukan serangan.
Kuperhatikan pedang milik tuanku bergerak dengan sendirinya, seolah ada energi kuat yang melakukan hal itu, kemudian menyatu dan kembali utuh seperti sedia kala. Pedang melesat ke atas, lalu kembali mendarat di tangan sang pangeran.
"Kalian telah salah memilih lawan," kata Tuan Mahawira.
"Tu—"
Sang pangeran lebih dulu menghilang, tiba-tiba berada di hadapan salah satu lawan, lalu menggunakan tangannya membenturkan kepala pria bertopeng di pohon. Topeng milik pria itu retak, lalu terbelah menjadi dua bagian, tergeletak.
Aku membelalak setelah melihat siapa orang di balik topeng itu. Tentu, tidak hanya aku, melainkan Tuan Mahawira seolah tak percaya. Ia beringsut mundur menjauhi pria itu perlahan.
"T-Tuan Birendra ...."
Tak terduga, tetapi juga tak terelakkan karena kenyataan ada di depan mata. Ya, ialah Tuan Birendra yang juga banyak membantu kami.
Kalau pria itu adalah Tuan Birendra, berarti ....
Tatapanku berganti memandang ke arah pria bertopeng lainnya yang sedang dalam keadaan terluka.
Tuan Mahawira mungkin sepemikiran denganku, sehingga ia melangkah menuju pria bertopeng lainnya.
"Jangan-jangan kau adalah ...."
Tuan Mahawira membuka topeng hitam yang melekat di wajah sang lawan. Ternyata benar, ialah Pangeran Kalandra.
Kenapa dua pangeran itu menyerang kami? Bukankah kami memiliki tujuan yang sama dengan mereka? Lalu, kenapa? Kenapa?
__ADS_1
Kubekap mulut sebagai penolakan akan kenyataan. Percuma.
Api yang mengelilingi tubuh Tuan Mahawira sirna seketika.
"Aku tidak pernah menduga sebelumnya, dua sahabat bahkan dua orang yang telah kuanggap saudara ternyata juga berniat menghalangi jalanku. Ah, aku sepertinya terlalu percaya."
Tuan Birendra terlihat kesakitan. Aku coba mendekat, tetapi langkah langsung berhenti saat Tuan Mahawira melarang.
"Berhenti, Cornelia! Jangan mendekati dua pengkhianat ini!" teriaknya.
"K-kenapa? Padahal—"
"Kalian berdua tidak akan pernah mengerti penderitaan kami." Tuan Birendra angkat suara.
"Omong kosong! Apanya yang tidak mengerti? Jelaskan padaku, apanya yang tidak aku pahami dari kalian?"
Keduanya bisu. Tuan Mahawira meraih pakaian Tuan Birendra, lalu memaksanya berdiri.
"Keparat! Katakan padaku! Apanya yang tidak aku pahami?!" Sang pangeran meninju wajah Tuan Birendra hingga kembali menggelepar. "Pengkhianat sampah! Aku baru tahu kalian ternyata adalah anjing yang diutus oleh Camelia. Keparat!"
Sebuah tawa renyah mengalihkan perhatian kami. Di sana, Pangeran Kalandra tertawa terbahak-bahak.
"Apanya yang lucu?!"
"Mahawira." Pangeran Kalandra bangkit. "Kau memang tidak akan pernah mengerti bagaimana rasanya kehilangan orang yang kau sayangi. Kau sungguh tidak akan pernah mengerti."
"Ayahmu telah membunuh ayahku." Tuan Birendra menimpali sambil berdiri dengan sisa tenaga.
Aku menggeleng-geleng, Tuan Mahawira membelalak.
"Tidak mungkin," kataku lirih.
"Kau memang tidak tahu apa-apa, Mahawira. Kau tahu kenapa? Karena kau terlalu asyik dengan dunia percintaanmu yang tidak penting itu!" Tatapan Tuan Birendra berubah, pun Pangeran Kalandra.
"KEPARAT!"
Api itu kembali menyala mengelilingi tubuh Tuan Mahawira. Ia bergerak cepat menghantam dua pangeran. Napas tuanku terengah.
"Jangan pernah mengatakan dunia percintaanku seolah menjadi musibah bagi kalian. Jangan pernah mengatakan dunia percintaanku seperti menyalahkan aku dan Cornelia! Sekali lagi kau katakan, kau pastilah mati di tempat ini. Kalian berdua! Ya, kalian berdua akan mati di tanganku."
"Tuan Mahawira, tunggu!" Aku berhasil mendekati Tuan Mahawira. Kutatap dua pangeran, bergantian.
"Kita bicarakan semuanya dengan kepala dingin. Kalau tidak, kalian akan semakin diselimuti emosi."
__ADS_1
"Tenang saja, Cornelia. Aku memang iblis yang sering kali hilang kendali, tapi aku masih punya hati seorang manusia. Jangan ikut campur. Ini bukan tentang kau dan mereka. Ini tentang aku dan dua pangeran pengecut ini."
"Setelah kembali ke istana, aku menemukan ayah kami telah berlumur darah. Dan seorang prajurit mengatakan ayahmu yang datang secara tiba-tiba, lalu mengamuk di istana dan menyerang ayahku," tutur Tuan Birendra sambil membersihkan darah yang mengalir melalui mulut.
"Kami tidak memerlukan alasan untuk kau tidak peduli. Yang jelas, kami hanya menuntut balas atas apa yang ayahmu lakukan pada ayah kami. Saat aku berkunjung ke Rosalia, benar yang dikatakan prajurit, ayahmu berniat memindahkan istananya ke Simaseba, lalu bergabung dengan Camelia—"
"Berhenti." Tuan Mahawira memotong penjelasan Pangeran Kalandra.
"Setelah itu—"
"AKU BILANG BERHENTI, KEPARAT!"
Tuan Mahawira mengibaskan pedang, tetapi segera aku tangkap tangannya. Kutatap tuanku dengan lamat.
"Maafkan aku, Tuan. Kita harus mendengarkan penjelasan Tuan Birendra dan Pangeran Kalandra. Aku mohon kau tahan emosi. Aku mohon."
Setelah sejenak menatap mataku, Tuan Mahawira menurunkan pedang.
"Lanjutkan, Pangeran Kalandra."
"Orang-orang di istanaku mengatakan Raja Rosalia telah bergabung dengan Simaseba. Awalnya aku tidak percaya. Namun, setelah melihat sendiri dengan mata dan kepalaku, Istana Rosalia sudah ditinggalkan. Tidak hanya itu, aku mengunjungi Simaseba, dan di sana kutemukan ayahmu sedang berbincang dengan Camelia," jelas Pangeran Kalandra.
"Apa kau masih ingin mengatakan kami hanya bergurau? Itulah kenyataan yang kami lihat, Mahawira. Tentu saja, kau tidak akan pernah percaya dengan apa yang kami sampaikan padamu. Hatimu sudah sekeras batu. Kau hanya mempercayai cinta yang kau pikir dapat menyatu dengan dirimu." Tuan Birendra tersenyum enggan sambil menoleh ke sembarang arah.
"Akan kujelaskan—"
"Tidak, Cornelia. Sayangnya, aku tidak lagi percaya padamu. Siapa pun yang berhubungan dengan si keparat Mahawira sudah tidak bisa lagi aku percaya. Maaf."
Tuan Mahawira bergeming. Entah apa yang saat itu ada di pikirannya. Namun, jelas bahwa ia tidak akan terima dengan perkataan Pangeran Kalandra.
"Awalnya, aku menaruh hati padamu, Cornelia. Tapi, karena sebuah kesalahan di masa lalu menjadikanku sangat hina di matamu, aku mengubur keinginanku dalam-dalam." Dengan pedangnya, Pangeran Kalandra bangkit.
"Kalau kalian keras kepala dan tidak ingin mendengar penjelasan dari Cornelia, maka biarkan pertarungan membungkam mulut kalian. Aku siap mati di sini. Jika ayahku terbukti benar telah melakukan kejahatan seperti yang kau katakan, maka aku siap menanggung dosa itu dan dihukum Tuhan." Tuan Mahawira kembali membara.
"Kita selesaikan dengan cara laki-laki sejati menyelesaikan masalahnya. Pertarungan sampai mati."
Lidahku kelu saat Tuan Mahawira ternyata memilih untuk menyelesaikan konflik kesalahpahaman itu dengan sebuah pertarungan kematian. Tidak dapat dipercaya. Tiga pria yang dulu selalu bersama dipertemukan dalam sebuah pertarungan dan akan berakhir pula dengan sebuah kematian serta kekalahan.
"Tangan kosong." Tuan Mahawira membuang pedangnya.
Dua pangeran bersaudara itu tersenyum miring, lalu ikut membuang senjata mereka.
"Kau akan mati di tangan kami."
__ADS_1
------------------
Vote, ya ;)