
Mimpiku semalam sangat buruk. Bagaimana mungkin Tuan Mahawira tidak ingin tinggal denganku dan memilih untuk melupakan cinta kami? Aku sangat takut jika saja hal itu terjadi.
"Putri, bangunlah. Kau sudah aku buatkan teh. Keluarlah," kata sang kakek.
Aku menguap dan meregangkan tangan untuk mengawali aktivitas pagi ini. Setelah itu, aku pun keluar dari kamar berukuran kecil yang sebenarnya merupakan milik sang kakek. Aku sangat bersyukur bisa bertemu kakek itu. Jika tidak, aku tak tahu nasibku akan seperti apa.
Segera kuangkat gelas bambu yang berisi teh hangat enak buatan si kakek. Kuseruput beberapa kali. Ia juga sudah menyiapkan ubi rebus untukku. Lumayanlah. Dengan cepat kulahap.
"Hari ini, aku akan mulai melatihmu."
"Kenapa aku harus belajar bela diri? Aku sungguh merasa tidak cocok mempelajarinya, Kek."
"Itu sudah menjadi janji yang harus kutepati pada ayahmu. Aku sudah berjanji akan melatihmu kelak jika bertemu. Dan sekarang, kau sudah ada di sini. Akan kuturunkan semua ilmu bela diriku padamu."
Aku mengangguk beberapa kali, lalu meneguk kembali teh hingga tandas.
"Aku masih tidak menyangka kalau keberadaanku tiba di tempat ini sudah diatur oleh Ayah."
"Kau tidak perlu percaya. Yang penting sekarang aku akan melatihmu hingga kau ahli."
"Tapi, bagaimana dengan Ayah, Ibu, Pangeran Kalandra, dan Tuan Birendra? Aku meninggalkan mereka begitu saja di saat suasana sedang genting."
"Tak usah kau pikirkan. Saudara ayahmu tidak akan berani melakukan sesuatu pada mereka sebelum kau tertangkap."
Aku menyipitkan mata penuh selidik. "Sebelum aku tertangkap? Memangnya apa yang sebenarnya dia rencanakan? Kenapa seolah-olah aku adalah sebab dari semua kekacauan ini?"
"Jangan berpikir seperti itu. Kau bagaikan mutiara paling berharga bagi Baltra, dan rencananya tidak akan berhasil sebelum bisa menangkapmu." Sang kakek keluar dari rumah. "Sekarang, kemarilah. Kita pemanasan dulu."
Mengembuskan napas panjang, aku pun mengikuti apa yang diperintahkan si kakek.
Aku tinggal di gubuk reyot sang kakek selama beberapa bulan, begitu pun berlatih bela diri. Kakek itu tidak membiarkanku pergi sebelum menguasai jurus-jurus yang dia ajarakan.
Ia mengajarkanku menggunakan senjata tongkat, trisula, pedang, dan tombak. Tidak bermaksud sombong, tetapi aku menguasai semua yang kakek itu ajarkan hanya dalam waktu yang singkat.
Semua itu juga berkat kerinduan yang telah menggebu ingin bertemu dengan Tuan Mahawira. Bukan hanya keinginan itu yang memotivasi, bahkan rasa ingin menyelamatkan orang-orang yang kusayangi dari pamanku yang jahat itu juga menjadi alasan untuk terus berlatih tanpa tahu waktu.
"Coba kau serang aku, Putri!" teriak sang kakek sambil menyatukan tangannya di belakang punggung.
Kuanggukkan kepala, lalu memasang kuda-kuda. Dengan sebilah pedang, aku melompat tinggi sambil mengibaskan benda itu untuk dapat mengenai sang kakek. Akan tetapi, dengan mudahnya ia menghindari seranganku.
__ADS_1
Tidak menyerah, aku terus menyerang dengan teknik-teknik lain serta dari sudut yang berbeda-beda. Namun, aku lengah karena tidak memperhatikan kuda-kuda yang semakin lemah. Sang kakek hanya menggunakan sebelah kaki untuk menendang pertahananku hingga roboh.
"Aw! Aduh!" jeritku kesakitan sambil mencoba bangkit.
"Kau tidak boleh lengah! Kau harus lebih waspada! Kuatkan pertahananmu!" Kembali kakek itu mengulurkan tangan dan memberikan tanda agar aku maju sekali lagi.
"Hiyyaaat!" Kuangkat senjata tinggi-tinggi, kemudian melompat hingga tiba di belakang sang kakek.
Saat akan mencoba menyerang, ditangkisnya benda tajam milikku hanya dengan satu tangan. Meski begitu, kugunakan tangan kiri untuk menghantam punggungnya. Akhirnya, aku bisa mengenai si kakek hingga kubuat mengerahkan tenaga lebih banyak.
"Bagus! Sudah ada kemajuan," pujinya sambil tersenyum padaku.
---------------------------
"Besok kita akan berangkat ke Kerajaan Batalia," kata sang kakek sambil mengasah pedangnya di samping gubuk.
"Aku sudah sangat rindu dengan mereka. Semoga mereka baik-baik saja."
"Jangan khawatir. Meskipun ayahmu dalam tekanan bahwa istana sudah jadi milik saudaranya, dia adalah orang yang sakti dan memiliki ilmu tinggi. Dia juga orang yang cerdas."
"Aku bahkan tidak tahu-menahu mengenai ayahku sendiri. Apakah mungkin ingatanku bisa kembali, Kek?"
"Ingatanmu bisa saja kembali jika penyihir yang merupakan kerabat ayahmu itu masih hidup sampai saat ini. Dia bisa mengembalikan ingatan yang sudah dia ambil."
"Tapi, aku masih penasaran, Kek. Apakah ada hubungannya Paduka Raja dengan ayahku?"
"Kau akan secepatnya tahu, Putri. Aku tidak bisa bercerita banyak mengenai itu padamu. Aku hanya diminta ayahmu menceritakan inti dari permasalahan yang keluargamu hadapi."
Kuembuskan napas panjang. "Hidupku dipenuhi banyak sekali teka-teki. Bahkan satu pun aku tidak bisa memecahkan teka-teki itu."
"Tak perlu terlalu dipikirkan. Semua berjalan normal. Kau akan tahu cepat atau lambat."
"Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan jika sampai di istana?"
"Tentu saja, langkah pertama kita adalah bernegosiasi. Jika cara itu tidak bisa dilakukan, maka kita harus menempuh jalan kekerasan."
----------------
Pagi harinya, aku berangkat menuju Kerajaan Batalia bersama sang kakek. Katanya, istana tidak jauh dari tempat tinggalnya itu. Hanya saja, kami harus melalui sebuah perbukitan untuk tiba di jalan utama.
__ADS_1
Kami menempuh jalan-jalan terjal dan berbatu itu hanya sekitar lima jam, lalu sampai di jalan utama di siang hari. Pertama-tama, sang kakek mengatakan tidak akan langsung menuju istana, tetapi lebih dulu ingin mengawasi segala aktivitas di sekitarnya.
"Tutupilah wajahmu dengan selendang yang kuberikan," kata Kakek sambil menunduk dan berusaha menutup wajahnya menggunakan caping.
Segera aku menutupi wajah menggunakan selendang, mulai dari mulut hingga kepala, dan kusisakan celah hanya pada bagian mata. Terlihat beberapa prajurit kerajaan sedang melakukan patroli di jalan utama.
Awalnya, beberapa dari mereka menatapku dan Kakek dengan penuh curiga. Langkah si kakek terhenti saat berpapasan dengan para prajurit sambil tetap menunduk agar wajahnya tidak terlihat.
Setelah mereka berhasil melewati kami, Kakek berkata, "Ayo, kita lanjutkan perjalanan."
"Apakah mereka prajurit dari Kerajaan Batalia?" tanyaku sambil melangkah.
"Bukan. Dilihat dari pakaiannya, mereka bukanlah prajurit dari Batalia. Mungkin prajurit dari Kerajaan Artalia yang akan menuju Batalia. Sepertinya Baltra sudah mulai akan memonopoli Batalia. Meskipun Batalia sekarang adalah miliknya, tapi Baltra tidak benar-benar menginginkannya. Dia hanya menginginkan sumber daya yang ada serta para rakyatnya," jelas sang kakek.
"Tolong! Tolong!"
Kami berhenti karena mendengar suara seorang perempuan meminta pertolongan. Kakek fokus mencari asal suara.
"Sepertinya dari arah barat, Kek."
Dengan tergesa sang kakek melangkah kembali, aku mengikuti di belakang.
Di bawah sebuah pepohonan besar, kami melihat kereta kuda terjungkal. Kontan saja kami mempercepat langkah untuk memeriksa apa yang terjadi.
Beberapa meter dari pohon, terdapat sebuah perkampungan. Tampak para perempuan dikumpulkan serta dipaksa untuk menurut oleh para prajurit yang sebelumnya kami lihat. Prajurit dari Kerajaan Artalia.
"Apa yang terjadi, Kek?" tanyaku berbisik sambil tetap waspada saat bersembunyi di balik pohon.
"Seperti yang kau lihat. Baltra sudah mulai akan mengubah sistem Kerajaan Batalia. Kebijakannya tidak akan lagi sama seperti raja sebelumnya, yaitu ayahmu."
"D-dengan cara menindas yang lemah?"
"Seperti itulah. Orang-orang yang berada di wilayah Batalia akan dipindahkan ke Artalia, lalu dipekerjakan secara paksa di sana. Begitulah pamanmu memimpin di kerajaannya. Sangat berbeda dengan cara ayahmu yang membebaskan semua rakyatnya dari penindasan."
"Tidak bisa dibiarkan, Kek," kataku dengan geram. Tanganku mengepal keras, menandakan bahwa tindakan para prajurit yang memperlakukan kasar perempuan-perempuan itu membangkitkan emosi di dalam diri.
"Satu hal yang perlu kau tahu, Putri. Kerajaan Artalia juga beraliansi dengan Kerajaan Simaseba dari Negeri Tulip."
Mataku menerawang, teringat akan Tuan Mahawira yang mungkin saat ini sedang berada di istana Putri Camelia. Kerajaan Simaseba. Mau tidak mau aku harus membuat perhitungan dengan putri sombong itu.
__ADS_1
---------------------
Jangan lupa vote, Gaes!