
Kami memutuskan untuk tinggal sementara waktu di salah satu rumah warga tak berpenghuni. Kebetulan rumah itu dilengkapi dengan dua tempat tidur serta alat-alat untuk memasak.
Tuan Birendra dan Pangeran Kalandra telah kembali ke istana. Keduanya mengatakan akan kembali setelah berbicara beberapa hal dengan ayah mereka. Sepertinya, dua pangeran itu benar-benar berniat untuk membawa para prajurit kerajaannya dan melawan Raja Baltra.
Menurutku, bagus juga. Karena dengan begitu, kesempatan kami untuk bisa menggulingkan Raja Baltra akan meningkat.
Aku seharian ini telah selesai mengobati luka-luka di tubuh ayah dan ibuku. Tentu saja, aku menggunakan tanaman obat yang banyak sekali tumbuh di dekat-dekat pohon. Jadi, tidak terlalu susah untuk mencarinya karena banyak pohon dan kebun di sekitar tempatku berada.
Ayah dan ibuku belum sadar. Mereka sangat kelelahan. Padahal, aku sudah menyiapkan bubur untuk mereka hidangkan.
Tuan Birendra mengatakan padaku bahwa ibu dan ayahku kadang tidak ingin memakan makanan pemberian dari Raja Baltra saat mereka dikurung di penjara bawah tanah.
Meski begitu, aku bersyukur mereka bisa bertahan hidup sampai aku kembali.
Sementara itu, Tuan Mahawira selalu berlatih dengan Kakek Dawo. Kata lelaki itu, ini kesempatan bagus untuk mendapatkan pelatihan yang berbeda dari guru yang berbeda.
Hmm, aku ingin mengajari tuanku itu karena aku pun sudah tentu menguasai apa-apa yang diajarkan sang kakek. Meski begitu, aku selalu menyambut Tuan Mahawira ketika pulang dari berlatih. Aku juga selalu menyeduhkan teh lezat untuknya yang kupelajari dari sang kakek.
"Cornelia! Aku pulang!"
Aku yang berada di dalam rumah, dengan lugas berlari keluar, kemudian membawakan air minum untuk tuanku itu.
Diambilnya gelas dari tanganku. Namun, ia tak langsung meminumnya. Melainkan, ia menatap air di dalam gelas.
"Ada apa?" tanyaku. "Apa ada yang aneh dengan airnya?"
"Aneh sekali," balas tuanku sambil mengernyitkan dahi.
"Apanya yang aneh?"
"Sepertinya di dalam gelas ini ada kasih sayang yang tertuang," ucapnya, lalu tersenyum begitu hangat.
Ya, ampun. Bisa-bisanya lelaki ini menggodaku sampai membuat pipiku merah merona.
Aku pun mengalihkan pandangan karena malu. Bagaimana tidak? Tuan Mahawira setelah itu langsung tertawa renyah.
Diteguknya air minum. "Aku lelah sekali," katanya sambil merebahkan punggung pada pilar kayu.
"Apa kau lapar, Tuan?"
"Sangat lapar."
"Kalau begitu—"
"Sangat lapar dengan cintamu, Cornelia."
Lagi-lagi Tuan Mahawira membuatku tersipu malu. Aku benar-benar tidak tahan. Senyumku selalu terpancar. Meski begitu, kusembunyikan wajah dengan menunduk.
__ADS_1
"Menunduk sangat tidak bagus untukmu. Aku bisa terkena penyakit hanya karena kau menunduk seperti itu."
Ya, ampun. Hal aneh apa lagi yang akan dia katakan padaku? Kenapa bisa pria ini berubah drastis seperti ini?
"Penyakit apa tepatnya?"
"Penyakit kerinduan karena tidak bisa melihat wajahmu."
"Ih, terserah kau saja, Tuan!" Aku bangkit. "Akan kubuatkan makanan."
Segera aku melangkah, tetapi pria itu langsung menggapai tanganku. Kubalikkan badan. Mata kami bertemu.
"Tatap mataku, Cornelia. Apakah ada kebohongan di mataku ini?"
Memang benar. Ketika menatap mata tuanku itu, sama sekali tak kulihat adanya suatu kebohongan. Ia sangat serius dengan segala yang diucapkan. Bahwa rasa rindu yang selalu ia ungkapkan itu, benar adanya.
"Adakah kebohongan itu?"
"T-tidak ada, Tuan. Aku hanya takut jika saja Putri Camelia kembali menangkap Tuan."
"Jangan takut dengan putri angkuh itu! Aku selalu bisa mengatasi hal apa pun, termasuk dia."
Diraihnya pipiku kemudian sembari menatap mataku begitu dalam.
"Aku sudah tahu semuanya. Sebentar lagi, aku akan menghancurkan dia dan kerajaannya. Istana sudah tidak bekerjasama dengan Kerajaan Simaseba. Kau tahu? Dia sangat marah dan tidak bisa melakukan apa pun. Karena aku selalu mempunyai kekuatan cinta yang tidak ia miliki," jelas Tuan Mahawira yang tak sedetik pun mengalihkan pandangan dariku.
"Tentu. Sudah kukatakan padamu, aku tidak pernah mengatakan kebohongan. Kau lihat sendiri bola mataku. Di sini tak ada kebohongan."
Hening datang menelungkup suasana. Meski begitu, kami tetap saling tatap.
"Cornelia, apakah aku boleh ...." Tuan Mahawira menggantungkan kalimatnya.
"Boleh? Boleh apa, Tuan?" Kuangkat sebelah alis.
"Boleh ... untuk ... mengecup keningmu?" katanya agak terbata-bata.
Ya, Tuhan. Apa aku t-tidak salah dengar? Tuan Mahawira baru saja mengatakan ingin mengecup keningku?
Aku bungkam karena tidak tahu harus menjawab. Sementara itu, mata Tuan Mahawira semakin dalam memasuki netra.
"Oh, maaf. Aku tidak bermaksud untuk—"
"Silakan, Tuan," jawabku akhirnya.
Lidahku terasa kelu.
Bagaimana ini? Aku mulai gugup, ya, Tuhan.
__ADS_1
"Pejamkanlah matamu," pintanya.
Setelah menelan saliva, membasahi tenggorokan yang terasa kering tiba-tiba, kupejamkan netra. Namun, di dalam hati benar-benar tidak tenang.
Aku tidak berpikir yang aneh-aneh. Akan tetapi, ini pertama kali bagiku. Wajar saja jika aku sangat gugup karena tidak dapat menahan perasaan yang hadir seketika membuncah.
Aku merasakannya.
Mungkin bibir tipis Tuan Mahawira sudah menempel di keningku.
Jadi, begini rasanya?
Aku merasakannya cukup lama menempel. Meski begitu, aku juga seperti tidak ingin Tuan Mahawira menjauhkan bibirnya.
Karena tidak bisa menahan rasa penasaran, segera kubuka mata. Ternyata benar, bibir tuanku menempel di kening. Terlebih lagi, wajahnya begitu dekat denganku. Napas menderu, degup jantungku meronta.
Ada sebuah debaran lain yang datang, tetapi aku tidak tahu itu. Rasanya sangat nikmat. Rasanya ingin tetap dan lebih dari sekadar dicumbu pada kening.
Ada apa denganku? Kenapa aku ingin lebih dari ini? Apa yang terjadi? Kenapa ada rasa yang nikmat hadir di bagian sensitif tubuhku?
Entah, aku tidak mengerti perasaan apa yang kali ini menyelimuti. Meski begitu, aku tidak ingin berbohong. Aku sangat ingin memeluk tuanku dengan sengaja. Aku ingin mendekapnya dengan penuh cinta. Maka, tanganku tergerak untuk melakukannya. Sehingga itu, kini melingkar di tubuhnya.
Tak lama kemudian, Tuan Mahawira berhenti mengecupku. Tiba-tiba saja aku merasa kehilangan nikmat itu. Aku begitu kecewa. Namun, aku masih mendekapnya erat.
"Kita akan melakukan hal yang lebih dari ini setelah resmi menikah nanti," katanya berbisik tajam.
Kembali aku menelan saliva.
Suaranya membuat sesuatu bergetar, membuat sesuatu kembali terasa nikmat.
"Kau pasti sudah sangat ingin melakukannya denganku, kan?"
Dasar! Pria ini benar-benar membaca pikiranku! Dan apa yang terjadi dengan kepalaku? Kenapa tiba-tiba pikiranku dipenuhi oleh bayang-bayang Tuan Mahawira yang sedang tak mengenakan pakaian? Apakah pikiranku sedang rusak? Ataukah diracuni oleh perkataan Tuan Mahawira?
"Aku bisa tahu apa yang kau pikirkan," bisiknya lagi. "Kau sedang memikirkan—"
"Berhenti!" teriakku seketika melepaskan diri dari pelukan itu.
"Eh? Kenapa?" tanyanya seolah tidak pernah terjadi apa pun. Wajahnya yang seolah tidak tahu apa-apa itu membuatku jengkel.
"Aku benci kau, Tuan!" kataku dengan nada ditekan, lalu berlari masuk ke rumah.
Tuan Mahawira tak mengejarku.
------------------------------
Jangan lupa voting biar crazy up!!!!
__ADS_1
😊