
Aku berdiri beberapa meter dari pintu raksasa Kerajaan Batalia bersama sang kakek sambil mengawasi para prajurit yang masuk ke istana dengan membawa para perempuan muda. Ini mirip seperti perbudakan. Sepertinya pamanku yang licik itu merencanakan sesuatu seperti perbudakan dan memanfaatkan para rakyat untuk bekerja secara paksa.
"Tetaplah waspada," bisik sang kakek. Aku mengangguk. "Kau tunggulah di sini, aku akan masuk ke istana itu. Jika aku tidak keluar dalam waktu yang lama, kau boleh menyusulku."
Sang kakek melangkah masuk ke istana sambil tetap awas. Kebetulan pintu istana dibiarkan terbuka dan tak satu pun prajurit berjaga.
Aku menunggu cukup lama di luar istana. Saat memutuskan untuk masuk, sang kakek terlihat berjalan keluar.
"Gawat. Baltra ternyata punya rencana untuk mengeksekusi masal para rakyat yang menurutnya tidak mematuhi kebijakan istana. Aku melihat ibu dan ayahmu baik-baik saja, tapi mereka dibelenggu serta dipertontonkan di hadapan semua orang beserta para menteri yang membelot."
Seketika amarah menelusup masuk ke kedalaman jiwa. Tentu saja, aku tidak bisa membiarkan pamanku itu melakukan aksi kejamnya.
"Baltra merencanakan perbudakan. Para rakyat yang teguh pendiriannya untuk tidak tunduk pada kebijakan yang baru akan segera dieksekusi."
"Lalu, apa yang harus kita lakukan, Kek? Kita tidak bisa membiarkan hal itu terjadi."
"Tentu saja, kita tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Untuk sekarang, aku akan berusaha negosiasi dengan Baltra. Kau pura-puralah menjadi korban."
Mau tidak mau aku harus menurut pada rencana sang kakek demi kebebasan kedua orang tuaku beserta dua pangeran yang sangat berjasa dalam hidupku. Akhirnya, aku mengangguk setuju. Kami memasuki istana tanpa menyembunyikan wajah seperti sebelumnya.
Memang benar apa yang dikatakan oleh sang kakek bahwa para perempuan yang ingin melarikan diri dari istana itu dihardik oleh para prajurit. Bahkan hingga kulihat beberapa perempuan berdarah-darah. Meski begitu, tidak ada belas kasihan.
Tuan Birendra dan Pangeran Kalandra kulihat di sisi sebelah kiri disalib dengan keadaan luka-luka. Bahkan kedua orang tuaku pun seperti itu.
Sang kakek sengaja mengikat tanganku menggunakan tali agar sandiwara yang akan kami lakukan terkesan nyata.
"Paduka Raja!" Sang kakek berteriak sambil berjalan melewati barisan para perempuan yang menjadi tawanan, lalu berhenti beberapa jarak dari hadapan Raja Baltra.
Sang raja terlihat tidak bersahabat. Dahinya mengernyit dan menahan emosi. Sementara itu, para prajurit bersiap-siap untuk menyerang, tetapi Raja Baltra segera mengacungkan tangan sebagai tanda kepada prajurit untuk tidak langsung menyerang.
"Ada apa, Ki Dawo? Apa maksud kedatanganmu kemari?" tanya Raja Baltra dengan baritonnya yang berat.
"Hamba ingin menyerahkan seseorang yang sangat Paduka inginkan. Bukankah gadis ini sangat berharga bagi Paduka?"
Raja Baltra tersenyum miring.
"Hamba sudah mengetahui rencana Paduka. Bukankah Paduka ingin mempersunting anak gadis dari saudara Paduka sendiri? Cornelia."
Aku terkesiap mendengar pernyataan sang kakek. Ternyata itulah alasan kenapa Raja Baltra begitu menginginkanku? Jika seperti itu kenyataannya, maka tidak diragukan lagi bahwa itu adalah bagian dari perjanjian ayahku dengannya.
"Lalu, apa maumu, Ki Dawo? Apa kau sedang bersandiwara di hadapanku? Sayang sekali, itu tidak mempan untuk mengelabuiku."
__ADS_1
Memang sangat tidak mungkin bersandiwara hingga membuat Raja Baltra percaya sepenuhnya. Dia pasti tahu ini hanyalah sandiwara. Apalagi sang kakek dikenal sangat dekat dengan ayahku.
Sang kakek tersenyum enggan. "Sayang sekali, hamba tidak sedang bersandiwara. Silakan, jika Paduka mau, ambil gadis ini. Setelah itu, bebaskan semua perempuan yang Paduka jadikan tawanan."
"Bagaimana dengan Abirama? Apa kau juga ingin dia bebas?"
"Tidak, Paduka. Hamba hanya ingin Paduka memberikan kebebasan kepada rakyat. Hamba sama sekali tidak peduli dengan Abirama dan tawanan Paduka yang lain."
Hening sejenak. Raja Baltra menatap lamat sang kakek. Sedetik kemudian, pria berambut ikal itu bergantian menatapku. Ia menyunggingkan senyum tipis, tetapi aku menolak dan mengalihkan tatapan.
Tak berselang lama, Raja Baltra benar-benar berjalan menuju tempatku sedang berdiri. Hatiku berdebar-debar sambil menyaksikan ayah dan ibuku yang keadaannya begitu memprihatinkan.
"Hentikan!" Teriakan itu berasal dari seseorang yang disalib di sebelah kiri. Tuan Birendra.
"Jangan lakukan itu!" Sekarang giliran Pangeran Kalandra yang berteriak.
Aku pasrah. Raja Baltra sudah semakin dekat untuk segera mengambil alih diriku dari Kakek. Namun, seketika sang raja berhenti sebelum tiba di tempatku.
"Ada apa, Paduka?"
"Menjauhlah, Ki Dawo. Aku masih belum bisa mempercayaimu."
Sang kakek pun menjauh dariku, mundur beberapa jarak. Hal itu membuatku semakin gugup dan takut. Meskipun sudah bisa menguasai bela diri, tetapi tak ada yang menjamin aku bisa lolos setelah Raja Baltra menangkapku.
Akhirnya, Raja Baltra kini tiba di hadapanku. Ditatapnya diriku dengan sebuah seringai.
"Sudah kuduga, kau akan sangat cantik, Cornelia. Kau tahu? Ayahmu sudah menjualmu padaku," ungkapnya sambil meraih dagu lancipku.
Aku menelan saliva, menahan takut. Napas seolah tersangkut di tenggorokan. Hawa keberadaan Raja Baltra seperti mengalahkanku.
"Kau tidak perlu takut. Aku ini pamanmu, tetapi akan menjadi suamimu." Raja Baltra tertawa renyah.
"Biadab! Jauhkan tanganmu dari Cornelia!" teriak Pangeran Kalandra. Padahal dilihat dari raut wajahnya, ia hampir tidak punya tenaga.
Raja Baltra tak memedulikan teriakan pria itu.
"Kau pasti sudah tahu semuanya, kan? Istana ini bukan lagi milik ayahmu. Dan sekarang adalah milikku. Kau dan istana ini adalah milikku seutuhnya. Puluhan tahun sudah aku menunggu kau dewasa." Dibelainya kedua pipiku oleh pria berkumis hitam itu. Aku benar-benar ingin menyingkirkan tangan kotornya dariku, tetapi tidak mungkin aku lakukan karena hanya akan membuang-buang waktu dan menghancurkan sandiwara ini.
"Bukankah kau sangat menderita karena menjadi pelayan selama belasan tahun? Tapi, sekarang kau akan bebas. Aku akan memberikan apa pun untukmu jika kita sudah resmi menjadi suami istri."
Aku berusaha menahan amarah. Perkataannya benar-benar menjijikkan bagiku. Bagaimana mungkin seorang paman menyukai keponakannya sendiri, bahkan ingin mempersuntingku? Dia benar-benar pria biadab dan kejam. Aku ingin sekali memukul wajahnya hingga tidak dapat dikenali lagi.
__ADS_1
"Mari, ikutlah denganku. Kau tidak perlu takut. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang buruk padamu."
Saat memintaku untuk berjalan, aku malah terdiam. Kuambil napas, lalu mengembuskannya.
"Bebaskan para perempuan yang ada di sini," kataku akhirnya.
Raja Baltra menoleh ke belakang. Kembali ia tatap diriku dengan lamat. Ekspresinya berubah seketika.
"Untuk apa?"
"Bukankah itu yang diminta Kakek Dawo? Artinya Paduka Raja harus memenuhi keinginannya karena sudah sepakat."
"Aku tidak pernah mengatakan sepakat. Sayang sekali, aku tidak pernah bisa menepati janji." Raja Baltra menyeringai, lalu tertawa begitu renyah.
"Kurang ajar! Baltra!"
"Prajurit! Tangkap orang tua itu!"
Puluhan prajurit mengepung sang kakek. Kulihat ia sudah tak bisa ke mana-mana. Bahkan untuk mengeluarkan jurus pun tidak bisa karena beberapa prajurit membelenggunya dari belakang.
"Baltra! Minta prajuritmu menjauh dariku!" teriak sang kakek penuh amarah.
Raja Baltra hanya tertawa sambil menahan perutnya. Ia begitu senang melihat orang lain tertindas.
Namun, ini merupakan kesempatan untukku. Saat sang raja sedang lengah, aku membuka tali yang melilit tangan, kemudian dengan cepat melompat sambil melayangkan serangan padanya. Aku berhasil menendang perut Raja Baltra hingga membuatnya membungkuk menahan sakit.
Meski begitu, saat akan melakukan serangan selanjutnya, Raja Baltra menangkap tanganku begitu mudah, lalu menariknya dan memaksaku berjalan naik ke istana.
"Prajurit! Eksekusi semuanya!" titah pria licik itu.
Aku tidak mungkin pasrah dalam keadaan genting seperti ini. Justru, aku berusaha melepaskan diri dari genggaman Raja Baltra. Namun, sampai di anak tangga terakhir, tak juga aku berhasil melepaskan diri.
"SERANG!"
Sebuah suara yang sangat aku kenal menggema di seluruh penjuru istana. Kontan membuatku menoleh ke pintu masuk. Kulihat ribuan prajurit dengan pakaian yang berbeda dari prajurit milik Raja Baltra. Suasana riuh karena peperangan antara kedua belah pihak berlangsung atas kedatangan Tuan ... Mahawira.
"BALTRA BIADAB!"
Tatapan tuanku yang telah kurindukan, akhirnya terlihat kembali. Ia semakin gagah, berdiri dengan tegak, diselimuti oleh aura yang indah bercampur amarah.
"CORNELIA! AKU DATANG UNTUKMU!"
__ADS_1
-------------------------
Ayo, vote terus biar rajin update 😅