
Angin mendesau di sekeliling, pohon-pohon dikibaskan, daun-daunnya berjatuhan. Aku masih menggeleng dan terheran-heran melihat kemarahan Tuan Mahawira. Sama sekali pria itu belum juga berhenti menghardik musuhnya.
"Tuan! Hentikan!" teriakku.
Dulu, aku pernah mendengar cerita dari Paduka Raja bahwa Tuan Mahawira punya emosi yang tidak stabil. Bila suatu hari emosinya memuncak, akan sangat sulit untuk menyadarkannya. Apalagi, Tuan Mahawira diajarkan jurus-jurus tenaga dalam yang sangat ampuh untuk membunuh lawan oleh gurunya di Kerajaan.
Bahkan, gurunya bukanlah orang sembarang. Beliau adalah orang pilihan Paduka Raja.
Aku mengetahui bahwa Tuan Mahawira mempunyai kekuatan yang tersembunyi di dalam dirinya. Sebuah kekuatan yang dapat membawanya pada sebuah malapetaka. Jadi, Paduka Raja sering kali mengingatkan padaku untuk tidak membiarkan pria itu hilang kendali atas dirinya sendiri.
Amarah dan kekuatan di dalam dirinya bisa mengakibatkan kerusakan yang luar biasa. Itu akan menjadi mimpi buruk bagi orang-orang di sekitarnya.
"TUAN! Kembalilah padaku!" Kembali aku berteriak, tetapi tak juga memberikan pengaruh pada tuanku.
Ia terus menendang dan memukul pria yang sudah tak berdaya itu hingga darah bersimbah di tubuhnya.
Tak berselang lama, kulihat Tuan Mahawira mengangkat kedua tangannya, lalu diturunkan perlahan dan disatukan. Perlahan-lahan cahaya berwarna abu-abu muncul di sekelilingnya.
Karena merasa sudah tidak wajar, aku lekas berlari menuju pria itu. Kupeluk ia dengan erat dari belakang.
"Jangan halangi aku, Cornelia!" katanya dengan nada suara yang benar-benar menakutkan.
Bariton itu terdengar mengerikan, terus menggema di telinga. Tanganku pun terlepas dan tak mengikuti kehendakku.
"Menjauh dari sini. Kalau tidak, kau juga akan kulenyapkan dari dunia ini!"
Mataku membelalak oleh kalimat Tuan Mahawira yang begitu kejam. Bagaimana bisa ia ingin melenyapkan diriku yang ia cinta?
Akhirnya, karena merasa sangat takut, aku beringsut mundur, menjauh dari pria itu.
Kulihat sinar yang memancar dari tubuhnya semakin jelas. Angin semakin mendesau di sekitar. Pohon-pohon melambai.
"Mati kau, Keparat!"
Sebelum mulai memusatkan cahaya abu-abu itu di tangannya, seseorang lebih dulu menerjang kepalanya hingga tersungkur. Tuan Mahawira dibuat pingsan oleh Kakek Dawo.
Angin seketika berhenti.
"Cornelia! Kemari dan bawa Pangeran Mahawira masuk!" kata Kakek Dawo.
Dengan perasaan takut yang masih menyelimuti, aku pun melaksanakan perintah Kakek.
Kupapah Tuan Mahawira ke rumah. Kubaringkan tubuhnya di samping ayahku yang juga terkulai lemah.
"Tuan ... kenapa kau sampai melakukan hal itu?"
__ADS_1
"Cornelia! Biarkan aku mengobatinya."
Aku segera menyingkir. Kakek Dawo melakukan sesuatu pada Tuan Mahawira. Ia menempelkan tangan di dada sang pangeran. Akan tetapi, beberapa detik kemudian, Kakek Dawo terpental.
Aku dan Ibu membelalak.
"Apa yang terjadi?" tanya ibuku.
"Pangeran bisa-bisa kehilangan dirinya oleh kekuatan yang dia bangkitkan. Kekuatan itu adalah jurus terlarang yang tertanam di jiwanya," jelas Kakek Dawo.
Aku pun mengerti kini kenapa Paduka Raja selalu khawatir jika Tuan Mahawira terbalut amarah yang membuncah.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan, Kek?"
"Aku akan mencoba sekali lagi."
Kakek kembali mendekati Tuan Mahawira, lalu melakukan hal seperti sebelumnya.
Meskipun terlihat agak kesulitan, tetapi Kakek Dawo sepertinya berhasil.
"Bagaimana, Kek?" tanyaku penuh harap.
"Dia akan baik-baik saja. Sekarang biarkan dia beristirahat."
-------------------
Beberapa hari berlalu, Tuan Mahawira belum juga sadar. Namun, aku tetap merawatnya dengan penuh kasih. Sedangkan, ayahku sudah lebih dulu pulih beberapa hari yang lalu.
"Ada yang ingin ayah ceritakan padamu, Nak."
"Soal apa, Yah?" tanyaku sambil mengelap tubuh Tuan Mahawira menggunakan kain basah.
"Soal ayah dan ayah pangeran itu."
Aku fokus mendengarkan. Sepertinya penuturan Ayah akan sangat berguna.
"Saat masih kanak-kanak, kami selalu bersama. Ayah selalu bermain ke Negeri Tulip dan Kerajaan Rosalia. Kami sama-sama menyukai ibumu, tapi ayah Mahawira mengalah karena tidak ingin kehilangan apa pun.
Kau tahu? Menikah dengan gadis biasa atau pelayan adalah suatu tindakan paling tercela bagi seorang bangsawan. Itu adalah aturan. Namun, ayah melanggar aturan itu dan harus kehilangan tahta serta harta."
"Jadi, Paduka Raja dulunya juga menyukai Ibu?"
"Ya, betul sekali. Karena ayah Mahawira selalu bermain ke istana, sejak saat itulah dia juga memendam perasaan. Namun, saat mengetahui ayah juga mencintai ibumu, dia merelakannya untuk ayah.
Namun, tidak hanya itu alasannya. Seperti yang ayah katakan, dia tidak ingin kehilangan sesuatu hanya demi cinta."
__ADS_1
Ayahku mengembangkan senyum kemudian. Aku tertunduk.
"Mahawira lahir hanya beberapa hari sebelum kau lahir, Nak. Dulu, kami saling berjanji untuk menjodohkan kalian. Namun, lambat laun karena desakan politik, ayah Mahawira membatalkan janji itu.
Hingga suatu hari, Baltra datang menuntut hak yang telah aku janjikan padanya karena sudah merestui pernikahanku dan ibumu. Dia juga membungkam mulut-mulut para menteri yang tidak menyetujui pernikahan itu.
Sampai akhirnya, ayah menyusun sebuah skenario. Ayah membuangmu, tetapi sebelum itu ayah sudah meminta bantuan kepada ayah Mahawira untuk merawatmu."
Air mata kembali menitik karena mendengar cerita dari ayahku. Jadi, semua ini memang ada kaitannya. Paduka Raja, Tuan Mahawira, ibuku, ayahku, dan beberapa kejadian lainnya yang sama sekali tidak aku mengerti.
"Ayah Mahawira pernah bercerita, dia menamakan sebuah mantera pada putranya untuk melindungi dia dari segala marabahaya. Dia terlalu takut sehingga akhirnya meminta bantuan kepada penyihir sakti untuk memberikan kekuatan itu pada Mahawira saat berumur lima tahun."
Jeda sejenak. Sang ayah menyeruput teh yang beberapa waktu lalu kubuatkan untuknya.
"Kau mungkin sudah lupa, Nak. Tapi, Mahawira dulunya sering bermain-main ke istana. Dan dia begitu akur denganmu."
"Tapi, kenapa saat di Kerajaan Rosalia dia tidak mengingatku?"
"Sederhana, Nak. Ayah meminta penyihir untuk mengambil ingatanmu, lalu membuat wajahmu buruk rupa. Namun, efek di wajahmu hanya bertahan hingga kau berusia tujuh belas tahun. Setelah itu, wajah cantikmu sudah bisa kembali, bukan?"
Benar yang dikatakan oleh Ayah. Pada saat berusia tujuh belas tahun, wajahku tiba-tiba saja berubah cantik. Kulitku yang hitam, memutih. Luka-luka di tubuhku yang selalu mengganggu dan sulit diobati pun menghilang tanpa sisa.
"Namun, mungkin sudah jadi takdir. Kau dan lelaki itu ditakdirkan untuk bersama. Dan itu bukanlah skenario dari ayah."
Ayah mengusap air mata di pipiku. "Jangan menangis lagi. Ayah akan menebus dosa-dosa ayah. Ayah akan menghadap ke Kerajaan Rosalia dan berterima kasih kepada ayah Mahawira. Kalau memungkinkan, ayah akan meminta Mahawira memberikan kasih sayangnya untukmu hingga kalian dapat bersatu."
Kontan kupeluk sang ayah. Aku merasa begitu jahat karena sebelumnya berkata tidak akan memaafkannya. Ayahku adalah pria yang sangat baik. Sekarang aku yakin dengan hal itu.
"Maafkan Cornelia, Ayah. Terima kasih," ucapku sambil menangis di pelukannya.
"Kau tidak mempunyai salah apa pun, Nak." Ayah mengelus kepalaku.
Sebuah suara yang begitu parau membuatku berhenti menangis. Kutarik diri dari pelukan sang ayah, lalu melihat ke arah Tuan Mahawira.
"A ... ir. C-Cornelia ... air."
"Tuan Mahawira?!"
Sang pangeran membuka kedua mata sambil meminta air dan menyebut namaku berkali-kali.
Setitik cairan bening bertengger di sudut netranya.
---------------------
Kuylah, vote, ya!!! 🙏
__ADS_1