Tuan, Jangan Sakiti Aku!

Tuan, Jangan Sakiti Aku!
Mekarnya Cinta Sebelum Bertemu


__ADS_3

"Pergilah ke Kerajaan Rosalia bersama Mahawira dan kirimkan rasa terima kasihku pada ayahnya."


"Untuk apa, Ayah?"


"Mahawira. Untuk bisa mengalahkan Baltra, kau tidak hanya perlu mengerahkan semua prajurit. Bahkan jika menggabungkan prajurit dengan kerajaan lain pun, Baltra tidak akan terkalahkan," jelas sang ayah sambil menatap Tuan Mahawira yang duduk di hadapannya.


"Lalu, dengan cara apa dia bisa dikalahkan?" tanya sang pria, lalu meneguk segelas air minum yang beberapa waktu lalu kuberikan untuknya.


"Dengan kekuatanmu, Mahawira. Sayangnya, kekuatanmu harus dilatih dan kau harus bisa mengendalikannya. Kekuatan yang diwariskan seorang penyihir terkuat di Negeri Tulip padamu itu tidak bisa dipelajari hanya dengan melakukan pertapaan.


Kau harus meminta ayahmu untuk membuka kuncinya."


Tuan Mahawira terlihat mengernyit. Begitu pun denganku yang sama sekali tidak mengerti hal yang dibicarakan sang ayah. Kunci?


"Apa maksudnya dengan kunci? Dan ... kekuatan macam apa yang kita bicarakan."


Sang ayah menghela napas dalam, lalu kembali melanjutkan penuturannya.


"Kunci dari segel yang menghalangi kekuatanmu untuk keluar secara alami. Itu yang pernah diberitahukan ayahmu padaku. Dan kekuatan itu haruslah dilatih dengan cara melakukan pernapasan serta menyelami tabir jiwa."


Aku menelan saliva. Baru kali ini kudengar ada kekuatan semacam itu. Berarti, ini memang sudah takdir bahwa Tuan Mahawira merupakan lawan seimbang dari Raja Baltra. Meski begitu, seperti yang dikatakan oleh sang ayah, ia haruslah melatih kekuatan dan membuka kuncinya.


"Kalau begitu, efek dari kemarahan Tuan Mahawira beberapa hari yang lalu karena tabir jiwanya masih dikunci?" tanyaku.


"Betul, Cornelia. Kekuatan yang memaksa keluar dari tabir jiwa yang dikunci akan menyebabkan amarah yang berlebihan sehingga tidak dapat dikendalikan oleh pemiliknya."


Serentak aku dan Tuan Mahawira mengangguk. Kini, aku sepenuhnya mengerti. Mungkin perubahan sikap tuanku itu juga disebabkan karena tidak stabilnya emosi di dalam diri.


"Baiklah. Terima kasih sudah menjelaskan semuanya padaku," ucap Tuan Mahawira sambil menunduk.


"Tuan, kau harus makan," kataku kemudian. Aku menjejak ke dapur untuk mengambilkan bubur yang sudah kubuatkan untuknya.


"Ya, terima kasih." Tuan Mahawira tersenyum. "Tapi ... aku mau kau menyuapiku."


Sekembalinya dari dapur, ayahku bangkit. "Baiklah. Kalau begitu, aku akan keluar karena tidak ingin mengganggu momen kalian."


"Ayah?! Apa yang Ayah katakan?!" teriakku spontan.


Ayahku hanya tercengir sambil berlalu pergi.


---------------------


"Aaaa ...."


Kulayangkan sendok di depan mulut Tuan Mahawira. Ia pun segera membuka mulutnya setelah berlama-lama menatap mataku. Sendok masuk ke mulutnya, lalu kutarik pelan. Tuan Mahawira mengunyah bubur.


"E-enak?" tanyaku malu-malu.


"Buburnya tidak terlalu enak, tetapi kasih sayangmu yang menjadikannya begitu nikmat."

__ADS_1


Sungguh, perkataan Tuan Mahawira membuatku semakin tersipu. Aku tidak bisa memalingkan wajah dan menatapnya. Bisa-bisa aku terpesona selamanya.


Tuan Mahawira mengembuskan napas sambil tersenyum. Tangannya terangkat dan mengelus kepalaku dengan lembut.


"Terima kasih karena tidak membenciku."


"Memangnya, apa yang akan membuatku membencimu, Tuan? Aku sungguh tidak bisa membencimu."


"Aku selalu takut, Cornelia. Aku takut dengan perubahan emosiku yang akhirnya bisa saja membuatmu membenciku. Itulah salah satu alasan kenapa aku selalu menjaga sikap padamu."


"Aku tidak akan membencimu hanya karena hal seperti itu, Tuan. Cintaku terlalu besar. Kebencian tidak akan merasuki diriku. Hanya saja ...."


Tuan Mahawira mengernyit. "Hanya saja?"


"Hanya saja ... aku sangat takut pada dirimu yang lain itu. Aku merasa ketika kau marah, itu bukanlah dirimu."


Suasana hening sejenak. Aku coba untuk mencairkan suasana.


"Ah, tapi tidak perlu dipikirkan. Ayo, makan lagi buburnya agar kau cepat sehat dan kita bisa kembali ke istana." Kembali kusuapi tuan tampanku dengan penuh kasih.


-----------------


Dalam beberapa hari, kondisi tubuh tuanku perlahan-lahan kembali pulih. Ia mulai berlatih di tanah luas beberapa jarak dari rumah.


Karena takut terjadi sesuatu lagi padanya, aku selalu membawakan makanan dan minuman untuk tuanku.


Aku duduk sambil meletakkan beberapa makanan dan minuman yang sudah kutaruh dalam wadah sambil menyaksikan Tuan Mahawira melatih fisiknya dengan beberapa gerakan bela diri.


Saat Tuan Mahawira berhenti bergerak dan menatapku, segera kualihkan pandangan ke sembarang arah karena malu.


"Kau kenapa, Cornelia? Apa kau malu melihatku tanpa pakaian?" tanyanya sambil menyunggingkan senyum. Lelaki itu melangkah ke arahku.


"Sepertinya mulai sekarang kau harus terbiasa melihat diriku tanpa pakaian," tambahnya.


"Kau terlalu percaya diri, Tuan!"


"Kalau begitu, lihatlah badanku yang kekar ini," tantangnya kemudian.


Aku menoleh perlahan. Tiba-tiba saja lidah terasa kelu. Apakah sebab tuanku tidak mengenakan pakaian?


Ya, Tuhan! Aku malu sekali!


"Kenapa kau berpaling, Sayang?" goda lagi Tuan Mahawira.


"Tuan! Berhentilah menggodaku!"


Pria itu semakin dekat dan mengangkat kepalaku sambil mendekatkan wajahnya.


"Aku tidak akan berhenti. Menggodamu adalah salah satu hobiku, Cornelia."

__ADS_1


Napas Tuan Mahawira kurasakan begitu jelas di kulit wajah.


"L-lalu kenapa kau tidak melakukannya dari dulu?"


"Cornelia. Sejak kapan kau sadar telah jatuh cinta padaku?" tanyanya yang seketika membuatku bergeming, tak tahu harus menjawab.


"A-aku tidak tahu, Tuan. Yang jelas—"


"Jika pertanyaan itu kau lontarkan padaku, aku akan menjawab, cinta di dalam diriku padamu sudah bermekaran saat kali pertama melihat wajahmu."


"B-bagaimana bisa, Tuan? B-bukankah pada saat itu, wajahku sangat jelek? Bahkan, tidak ada yang patut dibanggakan dari diriku."


"Kau salah telah menilai dirimu sendiri, Cornelia. Aku tidak melihat wajahmu buruk rupa sama sekali. Entah kenapa, mataku memperlihatkan sesuatu yang lain. Mataku memperlihatkan sebuah keindahan, sebuah cahaya saat menatap wajahmu."


Tuan Mahawira melepaskan daguku, lalu duduk di sebelahku.


"Setiap malam, aku selalu bermimpi bertemu dengan gadis yang sangat cantik, baik hati, murah senyum, dan selalu ada untukku setiap saat.


Gadis di dalam mimpiku persis seperti dirimu. Wajahmu, senyummu, serta kebaikan hatimu. Lalu, aku pun mengambil kesimpulan bahwa gadis itu adalah dirimu, Cornelia."


Mulut benar-benar bungkam kala Tuan Mahawira menyatakan isi hati dan hal yang ia alami sebelum bertemu denganku. Aku mungkin tidak akan percaya secepat ini jika orang itu bukanlah Tuan Mahawira.


"Jadi, p-perasaan Tuan padaku sudah—"


"Tepat sekali, Cornelia. Cinta di hatiku sudah bermekaran bahkan berbunga lebih dulu sebelum bertemu denganmu. Katakan, apa kau tidak percaya padaku?"


Angin mengembus sepoi. Rambutku terurai sang angin. Tuan Mahawira merapikannya karena sedikit berantakan.


"Katakan padaku, Cornelia. Bisakah kau mempercayai kata-kataku?"


Kami berdua bersitatap.


"Aku percaya."


"Kenapa? Apa alasannya kau percaya bahkan setelah mendengar ceritaku yang seperti mengada-ada?"


"Hanya satu, Tuan. Alasanku karena tidak ada sesuatu yang mustahil di dunia ini. Tuhan telah memberikanmu hati dan perasaan seperti yang kau ceritakan."


Tuan Mahawira kembali tersenyum hangat. Tatapannya begitu meneduhkan. Bagai diterpa hujan, tetapi ia ada sebagai benda yang melindungi diriku.


"Kita akan kembali ke istana, Cornelia. Setelah itu, aku akan meminta ayahku untuk menikahkan kita."


Diraihnya tanganku, lalu ia ciumi dan diletakkannya di dada.


"Kau selalu di hati."


Setitik air mata haru bergelantungan di manik mataku.


----------------

__ADS_1


Terus dukung dengan vote, guys! 🙏


__ADS_2