
Saat Mahawira sedikit lagi akan dikendalikan oleh emosinya sendiri, tiba-tiba bayangan Cornelia muncul dalam kepalanya. Bayangan gadis berambut hitam panjang itu seperti mengatakan pada Mahawira untuk tidak melakukan hal yang dapat mengakibatkan dirinya hilang kendali. Oleh karena itu, Mahawira pun mengurungkan niat membangkitkan kekuatan penuh dengan jurus Napas Naga.
Mahawira memang sudah dapat menguasai jurus itu, tetapi jika dalam emosi yang tidak stabil, tubuhnya bisa-bisa diambil alih oleh naga yang hidup di tabir jiwanya, sekaligus menyatu dengan pedang bermata dua miliknya. Hal itu pernah disampaikan Ki Cakra: Jika Mahawira menggunakan kekuatan itu sepenuhnya, maka dia bisa kehilangan jiwanya sendiri, lalu berubah menyatu dengan sosok naga yang pernah ia kalahkan.
Semua yang ada di pekarangan istana nyaris panik jika saja Mahawira mengamuk dan merusak bangunan istana.
Dengan segera Raja Simaseba memerintahkan kepada semua menteri untuk menghadapi Mahawira.
"Para menteri dan kesatria! Tangkap Mahawira dan kurung dia bersama prajurit-prajuritnya!"
Perintah telah diturunkan, akhirnya akan membuat Mahawira kerepotan. Meski begitu, hanya ada tiga kesatria yang turun tangan.
"Biar aku saja yang mengatasinya."
Dengan gagahnya seorang pria yang berjabatan kesatria kerajaan keluar dari barisan. Dia terlihat sangat tangguh, memiliki senjata tombak. Usianya mungkin tidak jauh dengan Mahawira. Mereka terlihat sebanding dengan raut wajah yang tak kalah tegas. Pria dengan ikat kepala berwarna merah serta bergambar kepala singa itu berdiri beberapa jarak dari Mahawira.
Tentu tidak hanya dia saja, tetapi pria bertubuh tinggi yang juga adalah kesatria andalan istana, dengan gagahnya berdiri di samping kesatria berjuluk Auman Singa membawa busur panah berwarna hitam.
Satu lagi yang tak kalah terlihat tangkas, Kesatria Naga Laut yang bersenjatakan dua pedang melengkung. Kini, ketiga kesatria telah berdiri di depan Mahawira dan siap untuk melakukan pertarungan.
Camelia tertawa melihat raut wajah Mahawira.
"Itulah yang kau dapat, Sayang. Sebelum terlambat, kau boleh menyerah dan menerima pernikahan itu. Jika tidak, maka kau hanya akan menjadi tawananku untuk selamanya, Sayang."
Mahawira tak menanggapi, matanya lamat menatap Camelia yang tertawa di atas penderitaannya. Tentu, tak ada ketakutan di benak Mahawira. Yang ada hanya perasaan jijik karena seorang gadis melakukan hal di luar batas. Kejijikan Mahawira bahkan sudah mencapai tingkat paling tinggi, sehingga untuk bicara dengan gadis itu saja membuatnya ingin muntah.
"Bahkan meski kau mengerahkan seribu kesatria pun, aku tidak akan pernah mundur."
Mahawira menghunus pedang, lalu membentuk kuda-kuda bertarung dengan mengarahkan senjata secara tegak lurus. Matanya kini fokus terhadap tiga kesatria di hadapan. Namun, yang paling Mahawira waspadai adalah si kesatria pengguna busur panah.
Busur panah adalah sebuah senjata yang diciptakan untuk pertarungan jarak jauh. Sedangkan pedang hanya senjata pertarungan jarak dekat. Meski begitu, Mahawira memiliki teknik untuk menghadapi sang pemanah.
__ADS_1
Para menteri yang lain begitu tenang seolah kemenangan sudah bisa mereka tebak. Mahawira tak punya kesempatan, setidaknya itulah apa yang mereka pikirkan tentang suasana tersebut.
Mahawira tak lupa mengatur napasnya agar stabil. Untuk melakukan sebuah gerakan yang sangat cepat, teknik pernapasan adalah dasarnya. Setelah beberapa saat, Mahawira bergerak cepat seperti halilintar yang memercik. Dia lebih dulu mengincar si pemanah.
Tentu, kesatria bersenjata panah telah menyiasati apa yang akan dilakukan oleh Mahawira, sehingga itu ia melompat dan berhasil menjauh dari jangkauan pedang sang pangeran.
Sayang sekali, tebakan Kesatria Pemanah meleset. Mahawira ternyata mengincar kesatria bersenjata dua pedang.
Meski bisa menghindar dari serangan tusukan, pengguna dua pedang tersabet di pinggang. Lukanya cukup dalam sehingga membuatnya harus segera membalut luka itu.
Tidak cukup sampai di situ, meskipun sukses melukai si kesatria pengguna dua pedang, Mahawira melempar pedangnya, seolah tangannya adalah busur panah sehingga lesatannya sangat cepat. Tanpa bisa dihalau atau dihindari oleh si pemanah, pedang Mahawira menancap di dadanya.
Semua orang terbebalak, tentu saja. Tidak ada yang pernah menduga Mahawira akan sekuat ini, bahkan pergerakannya sangat cepat. Raja Simaseba tak sedikit pun mengalihkan pandangan dari Mahawira.
Inikah kekuatan seorang pangeran dari Istana Rosalia? batin Raja Simaseba dengan perasaan takut.
Mahawira berjalan ke tubuh lemah si pemanah, lalu mencabut pedangnya yang menancap di dada sang musuh.
"Aku sudah mengatakan ini sekian kali, tapi aku ingin mengatakannya sekali lagi." Dia berhasil mencabut pedang diiringi oleh jerit kesakitan Kesatria Pemanah.
Terakhir kali Camelia melawan Mahawira, dia tidak cukup kuat. Namun, kali ini Camelia merasakan kekuatan Mahawira bertambah sepuluh kali lipat.
"Lihat si pemanah itu! Hidupnya tidak lama lagi. Sebentar lagi, dia pasti mati. Aku mengizinkan kalian untuk membawa dan memberikannya pertolongan," jelas Mahawira sambil menurunkan pedangnya.
Tak ada yang bergerak. Si pemanah dibiarkan sekarat.
"Lihat, kan? Di kerajaan biadab ini, tidak satu pun yang peduli dengan prajurit atau kesatria yang sekarat. Apa ini masih bisa disebut dengan kerajaan? Maaf saja, di mataku, kalian sudah gagal dan hanya menjadi sampah dunia."
Mendengar pernyataan lancang itu, Raja Simaseba semakin murka, begitu pun dengan Camelia.
"Baiklah. Siapa lagi yang siap untuk mati?"
__ADS_1
Kembali Mahawira membentuk kuda-kuda. Ia siap dengan pertarungan selanjutnya. Dua kesatria masih berdiri dan baik-baik saja, meskipun salah satunya terkena sabetan, tapi tak seberapa.
"Maju kalian!"
Pengguna dua pedang dan tombak melompat secara bersamaan, Mahawira menunduk, lalu menendang perut dua musuhnya hingga mundur beberapa jarak.
Dua kesatria itu paling-paling sudah kehilangan fokus dan kestabilan pernapasan. Mahawira pun menggunakan sebuah jurus yang menghendaki dirinya berpindah tempat secara cepat. Jurus itu dinamakan Seribu Kaki.
Dengan cara memfokuskan tempat yang ingin dituju, Mahawira berpindah ke tempat di belakang dua kesatria. Tentu saja, dua kesatria terkesiap karena bagi penglihatan mereka, Mahawira seolah-olah menghilang. Namun, tidak seperti itu. Mahawira berada di belakang mereka. Sehingga itu, Mahawira bisa menyabet punggung mereka, memberikan luka berbentuk garis tegak lurus. Pekikan kembali bergema.
Mahawira menjauh dari kedua musuhnya, lalu menancapkan pedang di tanah. Entah jurus apa yang lagi-lagi dia gunakan. Namun, Mahawira kini memejamkan mata, menyatukan telapak tangan di depan dada, kemudian kembali mencabut pedang. Hasilnya, pedang diselimuti cahaya berwarna hijau.
"Jangan khawatir. Ini hanya jurus biasa. Biar kuberitahukan, jika kalian tak bisa menghindar atau menghalaunya, nyawa kalian taruhannya." Mahawira menyunggingkan senyum menyeramkan. "Bersiaplah."
Diangkatnya pedang tinggi-tinggi, lalu Mahawira melepaskan tangannya. Benda tajam itu melayang, membuat orang-orang kembali menatap tak percaya.
"Jurus Naga Terbang!"
Pedang melesat ke atas, lalu tiba-tiba kembali mengincar dua kesatria. Karena merasa tidak akan mampu menghalau energi yang sangat tinggi dari pedang, mereka melompat berusaha menghindar. Sayangnya, pedang itu jauh lebih cerdik, seolah naga dalam artefak menggerakkannya. Dua kesatria terkena sabetan, luka yang sangat dalam. Tak dapat mereka tahan rasa sakit yang menggerogoti sehingga menggelepar.
Mahawira menangkap pedang miliknya, lalu menatap ke arah Camelia yang kini menampakkan ketakutan.
"Sekarang giliranmu, Gadis Licik!"
Dada Camelia kembang kempis, mata melotot, aliran darahnya meningkat, itu artinya dia telah dirundung murka.
"Semua prajurit dan menteri! Tangkap Mahawira!"
Para menteri seolah sangat senang karena perintah telah turun langsung dari Camelia.
"Baiklah. Ini giliranku," ucap seorang menteri dengan anting-anting berbentuk ular melingkar, persis seperti milik Kalandra.
__ADS_1
Mahawira terkesiap.
---------------