
Pada masa-masa peperangan masih merajalela antara kerajaan di Negeri Angin, salah seorang pangeran berambut ikal memimpin sekitar lebih dari dua ribu pasukan dari Kerajaan Batalia. Pangeran itu bernama Baltra Halilintar Suryajati. Baltra memiliki seorang saudara bernama Abirama yang memimpin pasukan perang jauh lebih sedikit dibandingkan dirinya.
Pasukan Kerajaan Batalia terbagi menjadi dua dan bertujuan untuk melumpuhkan kekuatan kerajaan lain seperti Kerajaan Malavia, Buanira, Sangkuna, dan Tartarius. Keempat kerajaan itu dilumpuhkan dalam sekejap oleh dua pangeran dari Batalia dan berhasil merebut benteng serta istana mereka untuk memperluas wilayah Batalia.
Pada hari kepulangannya dari wilayah perang di dua kerajaan berbeda, Baltra menemui ayahnya untuk memberikan laporan. Sambil membuka pelindung kepala yang terbuat dari logam, Baltra menghadap Raja Batalia. Dia bertekuk lutut di hadapan pria yang sudah tampak rapuh sambil menundukkan kepala.
“Yang Mulia, hamba telah berhasil menaklukkan dua kerajaan, yaitu Malavia dan Buanira. Wilayah mereka akhirnya menjadi milik Batalia,” katanya dengan nada tegas.
“Bagus, Baltra. Kau sudah tumbuh menjadi seorang kesatria sekaligus pangeran yang gagah berani. Aku mengapresiasi pencapaianmu. Sekarang, katakanlah! Apa yang kau inginkan dariku sebagai hadiah?”
Baltra mengangkat kepalanya. Sebelum mulai berbicara, Abirama datang dan bertekuk lutut di sebelah Baltra dan melaporkan kepada Raja Batalia.
“Yang Mulia! Hamba telah berhasil menaklukkan kerajaan Sangkuna dan Tartarius. Ditambah lagi, mereka bersedia menjadi pengikut hamba.”
Mendengar laporan dari Abirama—saudaranya—Baltra menatapnya dengan penuh selidik. Ada sebuah arti yang tersirat dari tatapan Pangeran Baltra.
Sambil tersenyum miring, Baltra berucap kepada Abirama, “Jangan bangga hanya karena pengikutmu bertambah. Bagaimanapun juga, dua kerajaan yang kau taklukkan jauh lebih lemah daripada kerajaan yang berhasil aku taklukkan.”
Abirama tak merespons. Dia hanya memberikan tatapan sinis kepada kakaknya itu, lalu kembali menghadap Raja Batalia.
“Baiklah. Kalian berdua memang putraku yang tangguh. Sekarang, katakan apa yang kalian inginkan sebagai hadiah dariku?”
“Yang Mulia, hamba ingin diberikan wilayah yang lebih luas daripada Abirama. Bagaimanapun juga, hamba telah mengalahkan dua kerajaan yang ribuan tahun berkuasa di negeri ini.”
Mendengar permintaan sang anak, Raja Batalia tertawa terbahak. Sambil membetulkan mahkota emas mengilap yang bertengger di kepala, sang raja buka suara.
“Putra-putraku, kalian tidak perlu bersaing dalam hal perebutan wilayah. Akan sangat fatal akibatnya jika kalian melakukan sesuatu seperti itu. Aku tetap akan membagi wilayah sama rata. Bagaimanapun juga, rasa sayangku kepada kalian sama besarnya.”
Mendengar jawaban sang ayah, wajah Baltra jadi agak masam. Ia kecewa, tetapi tidak hanya itu. Ada sebuah amarah yang langsung menyelimuti dirinya.
Tanpa berkata apa pun lagi, Baltra mundur beberapa langkah, lalu bangkit dan meninggalkan ruang takhta Raja Batalia.
“Hamba akan mengejarnya—“
“Tidak perlu, Abirama.”
__ADS_1
“Baik.”
Raja Batalia hanya bisa mengembuskan napas panjang melihat tingkah kekanakan Baltra. Padahal, dia adalah anak tertua, tetapi hanya Abirama yang bisa pasrah dengan keputusan apa pun yang ditetapkan.
Setelah mendapatkan kekecewaan atas keputusan sang ayah, Baltra menuju sebuah goa yang selalu menjadi tempatnya menyendiri dan meluapkan kekesalan. Setelah itu, dia pasti akan berlatih jauh lebih keras.
Baltra memang lelaki yang sangat keras. Dari kecil pun, jika tak mendapatkan apa yang ia inginkan, dia bisa mengamuk dan menghancurkan properti istana. Kebiasaannya itu masih terus dia lakukan hingga sekarang. Sebelum keinginannya tercapai, dia tidak akan pernah berhenti berusaha mendapatkannya. Baltra adalah lelaki yang penuh ambisi, mudah iri dan tidak ingin dikalahkan oleh siapa pun.
“Raja sialan!” umpat Baltra sambil mengayunkan pedangnya ke dinding goa hingga menciptakan percikan-percikan berwarna kuning. “Lihat saja! Aku akan menjadi kuat dan membunuhmu, Ayah sialan! Aku akan merebut takhtamu.”
Saat Baltra sedang dilingkupi oleh kebencian yang mendalam pada ayahnya, angin mengembus entah datang dari mana. Baltra terkesiap, tetapi dia begitu penasaran sehingga memilih diam dan menatap awan hitam yang bercampur dengan halilintar.
Di luar goa pun langit telah berubah gelap. Halilintar memercik nan silau, angin mendesau. Tak berselang lama, hujan turun mengguyur jagat raya.
Saat angin yang mendesau di dalam goa sirna, Baltra melihat sebuah simbol naga di sebuah batu yang menumpuk. Padahal, Baltra tak pernah melihat simbol itu sebelumnya. Rasa penasaran menyeret Baltra untuk mengetahui lebih lanjut mengenai batu berlambangkan naga dan petir.
Digerakkannya tangan kanan oleh Baltra, lalu mulai mengelus lambang naga yang terpahat pada batu hitam yang seukuran dengan tubuhnya.
“Apa ini?”
Simbol itu menyala biru, membuat Baltra tergelak dan melompat mundur—menjaga jarak. Sebuah bariton yang sangat berat terdengar memekakkan telinga Baltra sehingga ia harus menutup telinga jika ingin gendang telinganya tidak meledak. Baltra berusaha keluar dari goa, tetapi angin kembali datang seolah mendorongnya untuk lebih dekat pada batu yang masih bersinar.
Karena tidak dapat menahan dorongan angin yang sangat kuat, Baltra terempas. Dia berakhir pada batu itu. Terlihat kembali cahaya biru yang semakin menyilaukan pandangannya. Cepat-cepat ia menghalau sinar menyilaukan itu dengan lengannya. Namun, tak lama kemudian batu itu meledak tepat di hadapan Baltra. Salah satu serpihan batu yang paling besar menghantam wajah pria itu hingga tak sadarkan diri.
Bariton berat masih terdengar di telinga Baltra meskipun hanya gelap yang ditangkap netra; bergelak renyah. Jelas saja Baltra menjadi sangat kebingungan menyaksikan kegelapan yang tak berujung.
“Di mana ini?!” teriak Baltra.
“Bangun!”
Secara lugas, Baltra bangkit dari ketidaksadaran yang ia alami. Kini, di tempat semula batu itu berada, Baltra melihat sebuah buku kuno yang cukup tebal; tampak lusuh, kecokelatan.
“Jika kau ingin kekuatan, maka ambillah buku itu. Aku menjanjikan kekuatan yang sangat besar untukmu.” Suara yang sama kembali terdengar.
“Siapa kau?!”
__ADS_1
“Aku adalah Naga Halilintar yang hidup di goa ini selama ribuan tahun.”
“Hah?! Kau sedang bercanda?! Kau pikir aku akan percaya padamu begitu saja?!” Baltra tercengir meremehkan sambil bangkit memperhatikan buku lusuh yang tergeletak.
“Apa ada jaminan aku bisa percaya padamu?”
Baltra sepertinya mulai terpancing. Dia tergiur dengan kekuatan yang dijanjikan sebuah suara yang mengaku sebagai Naga Halilintar.
“Untuk membuktikannya, peganglah buku itu dengan kedua tanganmu. Aku akan memberikan seluruh energiku padamu, lalu hidup di dalam tubuhmu. Cepat, lakukanlah!”
Baltra mengernyit. Rasa percaya mulai merasuk ke kepalanya. Jika benar suara itu bisa memberikannya kekuatan yang besar, maka tepat sekali. Baltra akan bisa mengalahkan siapa saja di Negeri Angin. Dia akan bisa membunuh ayahnya yang sangat kuat, lalu merebut Kerajaan Batalia secara paksa.
“Baiklah.”
Dengan langkah yang sangat hati-hati, Baltra pun mendekati buku itu, lalu memeganginya dengan kedua tangan.
“Mana?! Apa kau sedang mempermainkan—“
Kilatan cahaya biru menyambar Baltra dengan sangat cepat. Mulut pria itu menjerit pekak. Bola matanya menyala biru, tubuhnya mengalami perubahan; dia menjadi bertambah besar dengan otot-otot yang menyembul serta urat-uratnya tampak sangat jelas. Baltra dikelilingi petir yang menyambar-nyambar.
Setelah perlahan cahaya biru itu sirna, Baltra jatuh pingsan. Buku yang tangannya genggam pun menghilang secara misterius.
-----------------
Selama berhari-hari pingsan, Baltra akhirnya bangkit. Dilihatnya segala perubahan pada tubuhnya, tetapi yang jauh lebih penting adalah tenaga yang dia rasakan di dalam dirinya jauh lebih besar. Baltra tidak menyangka mendapatkan kekuatan luar biasa hanya dari sebuah buku.
“Sekarang, aku sudah ada di dalam tubuhmu, Baltra. Akan kuceritakan semuanya mengenai siapa diriku dan akan menjadi apa kau setelah aku memberikanmu kekuatan.”
Tatapan Baltra tajam.
“Tujuanku adalah merebut takhta Raja Batalia.”
Baltra melangkah ke sebuah batu besar yang berdekatan dengan dinding goa, lalu meninjunya dengan sekuat tenaga hingga lebur menjadi serpihan-serpihan kecil.
Pangeran Baltra tertawa renyah sambil mengacungkan tinju ke atas. “Aku akan menjadi penguasa di negeri ini!”
__ADS_1
---------------------
Follow IG: @mariondrossi