
Adalah sesuatu yang sulit dipercaya bahwa seorang manusia biasa seperti Mahawira dapat membakar sebagian istana Simaseba yang begitu megah. Bahkan para menteri dan kestaria tak berani mendekati pria itu. Mereka semua telah pergi dan membawa Putri Camelia beserta sang raja ke kediaman sementara milik kerajaan. Yang tersisa di sana hanyalah Ganandra dengan ketertegunannya menyaksikan Mahawira yang tak berkutik sedari beberapa waktu lalu.
Bagi Ganandra, Mahawira merupakan lelaki yang manja dan selalu takut pada segala hal. Ya, itu dulu. Namun, melihat perubahan Mahawira yang sekarang hingga bisa mengeluarkan kekuatan menyeramkan yang lebih mirip seperti iblis, rasa percayanya tentang Mahawira yang lemah menjadi berubah. Ganandra juga meragukan lelaki itu merupakan manusia biasa. Dengan melihat kekuatan dan kerusakan yang dia lakukan, itu sudah cukup membuktikan bahwa Mahawira sebenarnya bukanlah manusia pada umumnya. Dia lebih dari itu. Setidaknya itulah yang dipercaya Ganandra saat ini.
Karena rasa penasaran yang sangat tinggi, Ganandra menahan dirinya untuk tidak pergi dari istana dan terus menyaksikan kerapuhan Mahawira.
Ganandra terpaksa bangkit meski menyadari tulang punggungnya patah oleh empasan kuat tenaga Mahawira. Dengan langkah gontai ia berjalan mendekati pria yang sedang bertekuk lutut dengan tatapan putus asa.
“Siapa kau sebenarnya, Mahawira? Kenapa kau mempunyai wujud menyeramkan seperti iblis? Apakah kau bukan manusia?” cecar Ganandra dengan pertanyaan.
Walau begitu, Mahawira tidak menanggapi satu pun dari pertanyaan Ganandra. Tatapannya tetap kosong. Hingga tak lama kemudian, setitik air mata jatuh ke tanah.
“Apa sebegitu cintanya kau terhadap gadis itu? Aku tidak mengerti, Mahawira. Aku tidak mengerti bagaimana rasanya mencintai seseorang. Apakah cinta itu mengubah seseorang menjadi iblis seperti yang kau lakukan?”
Mahawira terpancing dengan pertanyaan Ganandra yang menyangkutpautkan cinta dengan iblis. Mahawira berpikir bukanlah cintanya terhadap Cornelia yang menjadikan ia bertindak layaknya iblis, melainkan sebuah ambisi di dalam dirinya.
Memang, jika dipikir-pikir kembali, Mahawira tidak akan ada bedanya dengan Ganandra yang telah membunuh ayahnya hanya dengan alasan keirihatian.
Ditolehkannya pandangan pada Ganandra, Mahawira menajamkan tatapan.
“Jangan pernah mengatakan cinta yang mengubahku menjadi iblis! Sekali lagi kau katakan itu, aku akan membunuhmu, Ganandra—“
“Lalu, apa bedanya kau denganku? Jika kau membunuhku, apa bedanya sepertiku yang membunuh ayahku sendiri karena tidak pernah merasakan kasih sayang darinya?”
Mahawira tergelak. Dia kembali tertunduk. Beberapa waktu kemudian, ditatapnya tangan Ganandra yang sudah tiada.
“Jangan merasa bersalah. Sesuatu yang wajar terluka dalam sebuah pertarungan. Ini tidak ada apa-apanya dibanding mati. Apa kau tidak ingin membunuhku sekarang juga? Mumpung aku sedang lelah dan tidak punya tenaga sama sekali.”
Mahawira mengembuskan napas panjang. Sepertinya ia cukup menyesal karena sudah memotong tangan Ganandra. Walau begitu, jika tidak melakukannya, dialah yang akan mati.
“Kalau kau tidak mau membunuhku, maka aku akan pergi dari sini.” Ganandra pun melangkah pergi. Namun, saat mengingat sesuatu, dia terhenti dan berbalik badan. “Mahawira. Aku tahu siapa yang bisa mengembalikan jiwa gadismu ke dalam tubuhnya.”
__ADS_1
Mahawira semringah, lalu ditatapnya Ganandra dengan lamat.
“Raja Baltra. Yah, walau aku tidak yakin dia akan melakukannya untukmu.”
Ganandra pun menghilang dari pandangan Mahawira.
Hal yang wajar jika Mahawira sakit hati dan merasa putus asa. Dia sebenarnya hanya menghabiskan waktu berada di Simaseba yang faktanya sama sekali tidak bisa membantunya menemukan jalan keluar dari masalah yang dihadapi. Tatkala hujan menerpa, Mahawira menangis seperti anak kecil sambil membentur-benturkan tinju ke tanah. Amat sesak yang dia rasa sebab tidak dapat menyelamatkan sang kekasih dari tidur panjangnya.
Hujan seolah mengetahui pedihnya hati Mahawira, lalu mereka berbondong-bondong menikam kepedihan itu hingga membuat sang pria menjerit pekak dalam kesendirian.
--------------
Cukup lama menunduk, Baltra mengangkat kepalanya sembari membuka mata lebar-lebar. Segores senyum terukir di wajah.
“Akhirnya aku punya musuh yang setara. Tapi, jangan senang dulu, Mahawira. Meskipun kau telah berhasil membangkitkan wujud iblis itu, kau tetaplah hanya akan menjadi pecundang yang menyedihkan,” kata Baltra, lalu tertawa renyah.
Semua pengawal yang ada di ruangan takhta tertunduk, tetapi satu demi satu diselimuti ketakutan yang luar biasa. Mungkin penyebabnya adalah kebangkitan Iblis Kebencian yang ternyata adalah seorang pangeran di Kerajaan Rosalia.
-------------
“Anak Yang Mulia terlahir dengan sempurna tanpa cacat. Silakan, Yang Mulia.”
Pria berjanggut dengan bekas luka di mata sebelah kiri itu menyaksikan anaknya yang baru saja lahir di bulan purnama. Senyum merekah di wajahnya. Segera dia ambil bayi mungil itu dari sisi sang istri, lalu digendongnya dengan perasaan bahagia.
“Kau lahir dengan selamat, Nak,” kata pria itu. Namun, ada yang aneh dengan tatapannya. Meski semua orang akan tahu Raja Batra sangat senang karena di malam ini anaknya telah lahir dengan selamat ke dunia, tetapi sebenarnya dia sangat sedih.
Air mata menganak sungai. Mata Raja Batra bergantian menatap sang istri di ranjang yang telah tak bernyawa. Melihat mata sang istri yang begitu kosong menandakan nyawanya tidak lagi hidup di tubuhnya, Raja Batra semakin diterkam oleh kesedihan tak berkesudahan.
“Berjanjilah padaku, Mahawira. Kau akan menjadi seorang lelaki yang hebat di masa depan. Kau akan menjadi penyelamat bagi semua orang.”
Raja Batra menyentuhkan jemari besarnya ke hidung bayi dalam gendongannya.
__ADS_1
“Karena kau adalah anugerah paling indah. Kau adalah harta yang tak tergantikan. Kau adalah perhiasan dan mahkotaku, Mahawira.”
Tiba-tiba seseorang dengan memegang sebuah tongkat berdiri di mulut pintu. Batra menyadari kehadiran itu, lalu berbalik badan.
“Cakra.”
Ki Cakra tersenyum tipis pada Batra, lalu bertanya, “Apa kau sudah siap, Batra?”
Sembari mengembuskan napas, Batra mengangguk pelan. Ki Cakra mengambil bayi yang baru saja lahir itu dari Batra, lalu membawanya ke sebuah goa yang dihuni oleh seekor naga api. Tentu saja, naga itu bukan sesuatu yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Akan tetapi, sang naga adalah perwujudan dari makhluk gaib yang ribuan tahun telah bersemayam dalam goa.
“Nyawa anak ini tidak akan bertahan lama. Sesuai janjimu padaku, Naga Api, kau harus memberikan sedikit energi kehidupanmu pada anak ini agar penyakit yang menyerangnya sirna dari tubuhnya.” Ki Cakra meletakkan bayi itu di atas sebuah batu raksasa.
“Dalam sebuah buku kuno dijelaskan akan ada dua iblis yang terlahir ke dunia ini. Satu iblis itu akan menjadi momok bagi penghuni dunia, sedangkan yang satunya lagi akan menjadi penyelamat semua orang. Naga Api, kau pasti sudah tahu selama ini. Bayi itu adalah salah satu iblis yang diramalkan dalam buku kuno itu. Sedangkan satu iblis lagi telah lama bangkit dari tidurnya.”
Jeda sejenak. Ki Cakra mengambil napas panjang.
“Namun, untuk dapat menetralisir kekuatan negatif di dalam dirinya, berikanlah dia energimu. Kelak setelah dia cukup dewasa, kau akan hidup di tubuhnya, lalu menjadi pedangnya. Kau akan diajak berkeliling negeri untuk menumpas kejahatan.”
“Ya, aku mengerti.”
Tak berselang lama, sebuah sinar kemerahan mengelilingi bayi itu, lalu masuk ke dalam tubuhnya.
“Suatu saat, dia akan kembali untuk mengalahkanmu dan mengambil artefak yang kau jaga. Tunggulah, Naga Api.”
Ki Cakra mengambil bayi itu, lalu melangkah keluar dari goa.
“Namamu adalah Mahawira Baladewa Balmatra Bangsawan. Hiduplah dan jadi penyelamat semua orang.”
--------------------
Follow IG: @mariondrossi
__ADS_1