
"Akhirnya, kita tiba di desa pertama setelah melewati hutan," ujar Aksa saat kami berhasil keluar dari hutan.
"Bukankah perkataanmu sangat aneh, Aksa. Benarkah ini sebuah desa?" tanyaku sambil mengernyit.
"Benar. Ini sebuah desa yang bernama Desa Kaswari. Namun, sayangnya pihak kerajaan sudah merenggut semuanya sehingga desa yang dulunya ramai ini menjadi desa yang sangat sepi."
Mata kami mengedar ke sekeliling melihat keadaan desa yang porak-poranda.
"Putri Camelia sudah merenggut segalanya dari rakyat. Tempat tinggal kami, sumber daya kami, semuanya." Aksa tiba-tiba berwajah sedih.
"Mungkin kita harus lebih berhati-hati mulai sekarang. Aku ingat yang kau bilang, Aksa. Semua wilayah di tanah ini sudah menjadi milik kerajaan, artinya prajurit kerajaan mengawasi setiap desa dan lahan-lahan bercocok tanam."
"Ya, benar. Kita harus berhati-hati."
"Ada yang datang!" ujar Pangeran Kalandra.
Untung saja ada sebuah pohon besar sehingga kami bisa bersembunyi sekaligus mencaritahu siapa siapa yang datang ke desa itu.
Tak lama kemudian, sekitar tiga orang pria menggunakan kuda terlihat berjalan ke wilayah pemukiman yang tampak sepi dan berantakan. Hampir semua bangunannya roboh hingga tak ada yang tersisa. Hewan-hewan ternak dibiarkan kelaparan karena tak dikeluarkan dari kandang. Semua itu terlihat dari pohon tempat kami bersembunyi.
Ternyata tak hanya mereka, tetapi setelahnya ada kereta kuda yang dikawal oleh puluhan prajurit kerajaan.
Kucoba melihat lebih jauh. Di belakang kereta kuda terdapat puluhan orang yang diikat dengan rantai membentuk barisan panjang. Seseorang keluar dari kereta, lalu menuju para lelaki dan perempuan yang terlihat seperti tawanan di barisan paling belakang.
Ini jelas perbudakan. Namun, entah apa yang akan mereka lakukan terhadap orang-orang yang berpenampilan kumal itu. Saat mataku terlalu fokus pada puluhan tawanan, teringat sebuah kejadian saat diriku diculik dan nyaris dijual. Mungkin kasusnya sedikit berbeda, tetapi tak diragukan lagi bahwa orang-orang itu pasti akan diperlakukan secara tidak berprikemanusiaan. Mereka adalah manusia yang sama-sama tak memiliki hati seperti para anjing istana milik Baltra.
"Mereka adalah orang-orang dari kerajaan. Dan orang-orang yang berbaris di sana adalah penduduk asli dari desa ini." Aksa menjelaskan.
"Untuk apa mereka dibawa ke desa ini lagi?" tanyaku.
"Mereka akan dieksekusi mati."
Aku membelalak. Seketika wajah-wajah para tawanan itu menghantui pikiran. Jelas-jelas menyedihkan karena hidup mereka direnggut dengan kejam. Orang-orang dari kerajaan itu benar-benar seperti menganggap diri mereka Tuhan yang dengan seenaknya ingin menguasai segalanya.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanyaku dengan tatapan hampa.
__ADS_1
"Tidak ada yang bisa kita lakukan. Beginilah sekarang keadaan di setiap desa. Yang menolak bekerja sebagai anjing istana akan mati. Yang menerima diperlakukan semena-mena akan hidup, tetapi percuma karena tak ada kebebasan lagi. Hidup mereka bergantung pada orang-orang kerajaan."
Aku memejamkan mata, tiba-tiba setetes air mata terasa membasahi pipi. Setelah membuka mata dan ingin bertanya kepada Tuan Mahawira, seketika ia tak ada.
Aku tergelak. "M-mana Tuan Mahawira?!" tanyaku pada dua pangeran yang berada di sampingku.
"Di samping—"
Mata Tuan Birendra membulat. Kedua pangeran itu juga tak percaya Tuan Mahawira telah menghilang entah sejak kapan.
Aku menoleh ke arah para tawanan dan orang-orang dari kerajaan. Tuan Mahawira terlihat berjalan santai. Namun, yang lebih mengejutkan, pria itu tak pikir panjang langsung menyerang para prajurit hingga terjadi keributan. Tentu saja, puluhan prajurit mengepung pria itu dan melakukan segala serangan.
"Mahawira sialan!" umpat Pangeran Kalandra yang terlihat sangat kesal dengan tindakan pria itu. "Kita terpaksa harus turun tangan juga."
Tuan Birendra mengangguk, lalu keduanya menyusul Tuan Mahawira dan membantunya melakukan penyerangan terhadap para prajurit Kerajaan Simaseba.
Tangan Aksa yang menempel di pohon kulihat bergetar. Aku bergantian menatap wajahnya. Rasa takut telah menyelimuti Aksa. Namun, entah mengapa aku juga melihat sebuah api semangat di matanya meskipun sangat kecil.
Aku tahu Aksa sangat ingin membantu dan berguna bagi orang lain, tetapi sayangnya ia mungkin belum bisa melawan perasaan-perasaan negatif di benak.
Kupegang tangan Aksa, lalu berkata padanya, "Jangan takut. Mereka bertiga tidak akan terkalahkan."
"Pergilah. Bantu mereka. Aku yakin jika kau berada di sana, rasa takutmu perlahan-lahan akan menghilang. Aku tahu masih ada api semangat dan keberanian di matamu, Aksa."
Aku melebarkan senyum pada Aksa karena mengingat perkataan Tuan Mahawira yang sangat bijak.
"Kau ingat apa yang dikatakan Tuan Mahawira? Setidaknya jika kau mati pada saat memperjuangkan sesuatu, hidupmu tidaklah sia-sia."
Tatapan Aksa tiba-tiba berubah. Api yang menyala di matanya semakin bergejolak dan membesar. Diembuskannya napas panjang, lalu menampar kedua pipi dengan sangat keras.
"Aku adalah lelaki sejati. Mana mungkin aku kalah dengan mereka. Aku harus berani!" katanya. Aksa begitu mantap menentukan pilihannya. Hatinya benar-benar tergerak untuk melakukan sesuatu daripada harus pasrah menerima takdir sebagai pecundang.
Gawat, aku telah jatuh cinta untuk kesekian kalinya, tentu saja pada tuanku—Mahawira. Pria itu telah mampu membuat seseorang yang lemah menjadi pemberani yang mengorbankan nyawanya sendiri demi keselamatan banyak orang.
Meski begitu, tidak hanya mereka para lelaki. Aku pun harus membantu karena saat ini aku punya kemampuan bela diri.
__ADS_1
Aku bergabung dalam pertarungan di antara para lelaki tangguh. Kami punya tujuan yang mulia, jadi aku sangat yakin Tuhan akan mempermudah segalanya. Meskipun akan ada kesulitan, tetapi justru itu yang akan membuat kami semakin mahir dan menyalakan sumbu semangat hingga bergejolak agar tidak menyerah.
Puluhan prajurit telah berhasil dilumpuhkan. Akan tetapi, masih ada tiga orang dari kerajaan yang tampak tangguh. Tiga orang pria yang lebih dulu tiba di desa menggunakan kuda, mereka tidak bisa diremehkan.
"Siapa kalian?!" tanya pria dengan mantel tebal berwarna hitam.
"Kau tak perlu tahu. Yang perlu kau tahu, kalian harus membebaskan orang-orang ini!" jawab Tuan Mahawira.
Dua pria mengedarkan pandangan, melihat para prajurit yang telah dikalahkan dalam sekejap.
"Kalian lumayan juga."
Pria dengan mantel hitam mengeluarkan dua pedang dari sarungnya, lalu menggiring Tuan Mahawira dalam pertarungan. Sementara dua pria lainnya yang sama-sama terlihat tangguh seperti musuh yang dihadapi tuanku, melawan dua pangeran yang tak kalah memiliki kemampuan tingkat tinggi.
"Aksa! Ayo, kita bebaskan dulu orang-orang."
Aksa mengangguk, lalu mengikuti diriku ke barisan para tawanan. Aksa memeriksa rantai-rantai yang mengikat mereka, lalu berpikir cara untuk membukanya.
"Ini akan sulit, tapi sepertinya aku bisa mengakalinya." Segera Aksa mengambil sebuah pedang dari milik prajurit yang tak bernyawa, lalu berusaha menggunakannya untuk memaksa rantai terlepas dari kereta kuda.
"Gawat. Kita butuh setidaknya pedang atau pisau berukuran kecil. Apa kau punya semacam itu?"
"Ada. Sebentar."
Sebelum berangkat bersama Tuan Mahawira, aku memang menyiapkan beberapa hal, termasuk juga senjata darurat yang bisa kupakai jika terjadi hal di luar dugaan. Siapa sangka benda kecil yang kubawa akan berguna di saat-saat seperti ini.
Kuberikan sebuah pisau kecil seukuran jari telunjuk pada Aksa yang kemudian digunakannya untuk memaksa gelang besi yang membelenggu tangan dan kaki para tawanan.
"Semoga bisa, semoga bisa," ucapku dalam hati.
Karena terlalu fokus dengan tangan Aksa, aku benar-benar tak memperhatikan sekitar. Aku lengah.
Sebuah tangan menggenggam tangan Aksa, seketika membuatku membelalak. Perlahan kuangkat kepala dan menatap pemilik tangan itu. Perutku dihantam dengan tangan kirinya hingga terempas dan roboh.
"CORNELIA!"
__ADS_1
---------------
Jangan lupa vote! ;)