
Tuan Mahawira! Sadarlah!
Beberapa detik yang lalu, Mahawira sempat kehilangan kesadaran. Oleh karena itu, dia jadi begitu lengah saat menghadapi serangan dari Ganandra. Tanpa dia sadari, pria berambut panjang diikat dengan gaya kucir itu telah berada di belakangnya. Mahawira tersentak, tetapi dengan cepat menghalau tebasan Ganandra yang secara tegak lurus bisa saja membelah kepalanya, untung saja.
"Wah, aku terkesan kau bisa menangkis serangan mematikan dari Jurus Penghenti Kesadaran milikku, Mahawira." Ganandra menekan pedangnya yang sedang berbenturan dengan milik Mahawira.
Sementara itu, yang membuat Mahawira heran adalah suara yang didengarnya beberapa waktu lalu. Tidak salah lagi suara itu adalah Cornelia. Namun, setahu Mahawira, Cornelia sedang berbaring tak berdaya tanpa bisa melakukan apa-apa. Jadi, jika menganggap Cornelia datang ke istana ini, itu sangatlah tidak mungkin.
Tuan! Dari atas!
Lagi-lagi suara itu ditangkap telinga Mahawira sehingga membuatnya sadar kembali, kontan mendongak sambil memosisikan pedang secara vertikal. Tentu, itu berkat suara yang entah datang dari mana, membuatnya secara refleks dapat menangkis serangan Ganandra yang datang dari atas kepala.
Karena berhasil ditangkis lagi oleh Mahawira, Ganandra menjauh sambil menyetabilkan napasnya. Dilapnya keringat yang bercucur di kening dan leher.
"Sialan. Bagaimana kau tahu aku akan menyerang dari atas selama kau kubuat hilang kesadaran dalam beberapa saat."
Meski bertanya seperti itu, Mahawira tak tahu jawabannya. Dia pun masih memikirkan hal itu; sebuah suara yang sangat dikenalnya.
Perasaan tak menentu serta kebingungan yang memuncak membuat Mahawira tak fokus dengan pertarungannya dengan Ganandra. Berkali-kali Ganandra mengatakan sesuatu, tetapi tatapan Mahawira kosong. Pikirannya dipenuhi banyak sekali pertanyaan membingungkan.
Cornelia? Apa benar itu kau? Di mana kau sebenarnya? Jika itu kau, tunjukkan dirimu padaku. Cornelia, Cornelia!
Sebuah rantai panjang melilit leher Mahawira hingga langsung sadar bahwa Ganandra telah berhasil menyudutkan dirinya. Napas Mahawira jadi tak lancar. Ia berontak berkali-kali berusaha melepaskan rantai yang melingkar di lehernya. Bahkan acap kali berusaha memotong rantai itu. Namun, Ganandra setiap detiknya menambah erat rantai yang mencengkeram.
"Sekarang, kau tidak akan bisa lolos, Mahawira. Kau tidak akan bisa melawan. Tak akan bisa melakukan apa pun." Ganandra tertawa lepas sambil menarik rantai untuk mendekatkan tubuh Mahawira padanya.
"S-sia ... lan ...." Mahawira mulai merasa aliran darahnya akan meledak karena napas yang tak dapat dibuang secara normal.
Tidak hanya itu, tetapi tangan pria itu juga melemas. Hingga beberapa waktu kemudian, pedang terlepas dari tangan Mahawira. Ia fokus menggunakan tangan untuk mengendurkan rantai yang mengikat lehernya. Cepat-cepat Ganandra menarik rantai itu lagi sampai membuat Mahawira tergeletak.
Kedua kakinya merasa lemas, Mahawira nyaris kehilangan kesadaran sepenuhnya.
__ADS_1
Tuanku. Kau pasti bisa menghadapi Tuan Ganandra.
Suara itu kembali menghampiri Mahawira. Kali ini jauh lebih jelas dari sebelumnya. Itulah kenapa Mahawira mampu mempertahankan kesadaran meski napasnya tak dihela maupun diembuskan secara lancar. Padahal, detak jantungnya pun sudah bertambah cepat. Rasa letih menghampiri dirinya untuk membuatnya menutup mata.
Ganandra masih tertawa dan senang bermain-main. Tentu saja, ia punya mainan baru, yaitu sebuah rantai dan Mahawira.
"Hei, hei! Kau kenapa, Mahawira?! Katamu kau akan membuatku menyesali perbuatanku. Sepertinya sekarang kau sedang kesulitan."
Ganandra mengibas rantai ke atas dengan tenaga yang besar sehingga tubuh Mahawira pun terbanting cukup keras.
"Ganan ... dra .... Keparat!"
Dikepalnya tangan kuat-kuat, matanya menajam—jauh lebih tajam.
"Kau ... akan merasakan ... akibat—"
Ganandra langsung menarik rantai dengan sangat kuat sehingga membuat Mahawira lemas tak berdaya. Hening.
Mahawira kehilangan kesadaran. Setidaknya itulah yang dipikirkan Ganandra.
Karena tidak cukup yakin, Ganandra kembali menarik rantai lebih keras.
"Oh, ternyata benar. Selanjutnya serangan terakhir, Mahawira."
Setelah menghela napas sedalam mungkin, Ganandra melepaskan rantai sambil mendekati Mahawira yang tergeletak tanpa gerak apa pun.
Dihunusnya pedang yang menggantung di punggung. "Jadi, cuma sampai di sini perjuanganmu, Mahawira? Aku pikir kau cukup kuat untuk mengalahkanku," tandas Ganandra sambil menatap Mahawira.
Camelia yang berdiri di anak tangga tak pernah menduga bahwa Ganandra akan bisa mengalahkan Mahawira dengan sekejap. Meski begitu, ia tidak merasa sedih sedikit pun. Itu cukup membuktikan hati Camelia sebenarnya.
Sepertinya dia memang tidak mencintai Mahawira sedikit pun. Ada hal lain yang dia incar dari pria itu. Namun, entahlah.
__ADS_1
"Ganandra! Cepat, habisi dia sebelum dia sadar kembali!" teriak Camelia.
"Kau tidak perlu memerintahku, Camelia! Aku pasti akan membunuh dia!" balas Ganandra.
Ganandra belum mengangkat pedangnya. Sebuah bayangan empat bocah laki-laki hadir di dalam pikirannya.
"Sialan! Kenapa bayangan ini tiba-tiba datang! Pergi!" Ganandra berteriak sambil memejamkan kedua mata.
Tampaknya, bayangan itu adalah kilas balik dari ikatan Ganandra—masa-masa menyenangkan saat kecil—bersama dengan dua adiknya dan Mahawira. Ingatan itu hadir tanpa kehendak Ganandra; kilas balik saat mereka menghabiskan waktu dengan bermain di sekitar istana, lalu saling berjanji satu sama lain untuk terus mengikat hubungan mereka.
Namun, saat Mahawira telah memiliki pelayan pribadi yang selalu menemani dirinya, itulah awal dari hancurnya ikatan mereka.
"Tidak ada yang perlu aku sesali. Semua orang yang bersamaku memang selalu direnggut orang lain. Aku tidak seberuntung orang lain. Bahkan kau, Mahawira. Gadis buruk rupa itu juga telah merenggutmu dariku. Dia memanipulasi pikiranmu dan kau lebih memilih dia daripada persahabatan kita. Sungguh menyedihkan."
Ganandra menggerakkan pedangnya, menempelkan lancipnya di leher Mahawira.
"Ibuku, ayahku, dua adikku, dan terakhir kau. Semuanya pergi meninggalkanku dalam sebuah kesepian. Pada akhirnya aku hidup dalam kesendirian tanpa siapa-siapa. Aku berjuang keras, mempertahankan hidupku saat tua bangka itu akhirnya mengusirku dari istana. Dia lebih membela Kalandra sialan itu, dia lebih menyayangi Birendra sialan itu. Dan aku ..., dan aku ditinggalkannya di dunia hitam yang pekat."
Menyadari kondisi perasaan Ganandra yang sedang terguncang, Camelia kembali mempengaruhi pikirannya.
"Ganandra! Apa yang kau tunggu! Bunuh dia! Dunia ini kejam, Ganandra! Bahkan Mahawira sudah lama tidak menganggapmu sebagai teman!"
Camelia memang berbakat menjadi orang yang memicu konflik. Dalam sekejap saja, ia mampu mencuci otak Ganandra, membuat lelaki itu bertambah murka, ditelan amarah dari ingatan masa lalunya.
"Berisik kau, Camelia. Aku pasti ... pasti akan membunuh Mahawira dengan tanganku sendiri. Setelah itu, aku akan membunuh dua bocah ingusan yang selalu dibela dan disayangi oleh tua bangka yang sudah terbakar di neraka itu. Lalu, terakhir aku akan membunuh gadis buruk rupa itu. Semuanya ... semuanya. Aku akan menjadi penguasa dan mengembalikan apa pun yang telah mereka renggut dariku."
Dengan kemarahan yang telah memuncak, Ganandra mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Sambil menatap Mahawira yang berbaring, ia menyeringai.
Sementara itu, Camelia tak sabar ingin cepat-cepat melihat tubuh Mahawira kehilangan nyawa oleh teman masa kecilnya sendiri.
Sepertinya Ganandra memang jauh lebih cocok menjadi suamiku. Dia kuat dan sebentar lagi bisa mengalahkan Mahawira, batin Camelia.
__ADS_1
Cairan merah kental menyemprot bercucuran, menggenang di permukaan tanah.
--------------