Tuan, Jangan Sakiti Aku!

Tuan, Jangan Sakiti Aku!
Pertarungan Sengit dengan Naga Merah


__ADS_3

"Kau begitu sombong, Anak Muda! Apa yang kau inginkan datang ke rumahku?!"


Suara naga merah menggelegar bagai memecahkan gendang telinga. Sementara itu, Tuan Mahawira tak sedikit pun menunjukkan ekspresi takut. Ia bahkan semakin terlihat sangat antusias. Aku tetap berada di belakang pria itu. Apa pun yang terjadi, aku akan bersamanya. Akan tetapi, aku tak enak jika menjadi beban dan penghalang baginya.


Oleh karena itu, aku menjauh dan bersembunyi di balik sebuah pohon.


"Jadi, seperti ini wujud dari penunggu goa. Hmm, aku semakin tertarik untuk mengalahkanmu."


Naga itu terbahak mendengar pernyataan tuanku yang sangat percaya diri bisa mengalahkannya dengan mudah. Tentu, jika dipikir secara logika, mana mungkin seorang manusia dapat mengalahkan hewan raksasa seperti sang naga?


"Kau benar-benar sombong, Manusia! Kau percaya sekali bisa mengalahkan naga legendaris sepertiku. Seberapa kuat kau sehingga berani datang kemari?"


"Aku tidak perlu mengatakan seberapa kuat diriku. Kau coba saja."


Di sekitar tubuh Tuan Mahawira muncul fatamorgana. Seolah-olah tubuhnya adalah api yang berkobar dan segera melenyapkan segala hal.


Naga itu tak berbuat apa-apa. Sepertinya ia menunggu serangan yang akan dilancarkan Tuan Mahawira.


Benar saja. Beberapa saat kemudian, Tuan Mahawira melompat ke kepala naga itu. Pedangnya mengacung, melayang, mengibas, membidik tepat ke arah mata sang naga. Namun, usaha tuanku gagal saat naga menggerakkan kepalanya untuk membuang Tuan Mahawira darinya.


Pria itu terpental, tetapi ia mendarat dengan sangat sempurna. Bahkan ia tidak jera, lalu kembali melompat. Lompatan kedua itu gagal karena sang naga meniup api yang sangat panas.


Aku yakin hewan itu tidaklah berasal dari dunia manusia. Oleh sebabnya, ia bahkan dapat keluar dan masuk ke goa tanpa menghancurkan ukurannya yang semula. Itu benar, bahwa sang naga sebenarnya hanyalah hewan yang tinggal di alam gaib. Ia tak mewujud fisik, melainkan roh dari sebuah benda yang disebut artefak.


Ini hanya pendapatku saja. Aku tak tahu apakah benar naga itu ada. Akan tetapi, ia hanyalah bagian dari dunia lain yang mewujud naga dan mencegah siapa pun masuk ke goa.


Tuan Mahawira masih berkutat dengan pertarungan. Pria itu bahkan tidak sedikit pun menyerah. Pandanganku tertumbuk pertarungan mereka yang sengit. Naga sesekali mengeluarkan api dari mulut, tetapi tidak sampai menghancurkan apa-apa yang ada di sekitar, kecuali membuat Tuan Mahawira kewalahan dengan panasnya.


"Tidak hanya kau yang punya api, Tuan Naga."


Kembali sang pangeran melesat seperti kilat, berpindah tempat, berlari di atas tubuh panjang naga itu dan mengibas-ngibaskan pedangnya untuk melukai hewan raksasa.


"Kau dilindungi sisik yang paten. Baiklah, aku akan mencari cara lain untuk bisa membunuhmu."


Sang naga kembali tertawa renyah. Ia hampir tidak melakukan apa pun selain membiarkan Tuan Mahawira bermain-main di atas tubuhnya.


Pedang Tuan Mahawira selalu terpental. Tak sedikit pun tubuh sang naga terluka bahkan setelah cukup lama pertarungan berlangsung. Padahal, Tuan Mahawira sudah bercucuran keringat.


"Tuan! Aku tahu kau bisa!" teriakku demi menyemangatinya.


Tiba-tiba naga itu melesat mengitari bukit yang ada di belakang goa. Sepertinya ia bertujuan membuat sang pangeran pusing. Tentu saja, itu tidak membuat Tuan Mahawira lengah sedikit pun.

__ADS_1


Terlihat sang pangeran berhenti membentur-benturkan pedangnya di tubuh sang naga. Ia melompat turun, lalu menancapkan pedangnya pada tanah. Tuan Mahawira duduk bersila sembari menyatukan dua tangan di depan dada. Mulutnya komat-kamit. Tiba-tiba pedangnya dikelilingi api.


Aku pikir itulah ilmu yang diajarkan oleh Ki Cakra padanya. Meskipun kemampuan itu sering dilakukan Tuan Mahawira, tetapi tak sampai membuat pedang dikelilingi oleh api.


Tak sabar menunggu, sang naga kembali melesat dan menabrak Tuan Mahawira yang coba mengeluarkan kemampuan. Pria itu terpental sangat jauh. Tentu saja, tak dapat kubiarkan sehingga mengejarnya dengan langkah seribu.


"Tuan! Tuan!"


Sebelum dapat meraih pria itu, ia lebih dulu bangkit. Darah lagi-lagi mengucur di mulutnya, bahkan setelah itu terbatuk-batuk. Pedang tak lagi di genggaman. Benda tajam itu terpisah dari tuanku dan berada di tempat yang sangat sulit ia jangkau.


Untuk merasa berguna baginya, segera kulangkahkan kaki untuk mengambil pedang yang tergeletak.


"Cornelia! Jangan mengambil pedang itu!"


Terlambat. Setelah memegang benda itu, tanganku terasa seolah terbakar. Kontan kulepaskan.


"Apa yang terjadi dengan pedangnya?" gumamku sambil menatap benda mengilap milik tuanku itu.


"Pedang itu sudah kualirkan elemen api yang ada di dalam tubuhku. Orang biasa tidak akan tahan jika memegangnya." Tuan Mahawira mengambil pedang, apinya semakin berkobar.


"Tenanglah. Aku akan hidup. Kau akan kembali mendengar kata-kata godaanku."


"Hahaha. Bodoh sekali kau, Anak Muda. Artefak yang kau cari tidak ada di dalam goa."


"Apa? Kau pasti membohongiku, dasar naga jelek!"


"Artefak itu adalah aku. Jika kau menginginkannya, berarti kau harus mengalahkanku."


Aku mengerti sekarang. Dari pernyataan sang naga, ia merupakan wujud dari artefak yang diceritakan oleh Ki Cakra.


"Baiklah kalau begitu!"


Tuan Mahawira kembali melompat, kali ini gerakannya jauh lebih cepat. Tangannya yang mengibas pedang hampir tak terlihat. Namun, tiba-tiba saja benda logam itu telah menancap di mata sang naga.


Pekik pekak memecah gendang telinga. Jerit kesakitan sang naga menggelegar. Napasnya seolah angin yang mengibaskan dahan-dahan pohon di sekitar.


"Matamu tersisa satu lagi! Hiyat!"


Kali ini, sang naga berhasil menghindar. Tuan Mahawira gagal melancarkan serangan. Malah, pria itu yang tersembur api dari mulut lawannya.


Tubuh pria itu tampak gosong. Namun, ia melawan api sang naga dengan elemen apinya sendiri.

__ADS_1


"Kau cukup cerdik. Tapi, bagaimanapun juga, apiku jauh lebih unggul daripada apimu."


"Naga kurang ajar!"


Tuan Mahawira kembali terlihat menyeramkan seperti dirinya yang lain sesuai pengalamanku.


Api yang melindungi tubuh pria itu semakin membesar. Entah tenaga dari mana, tetapi Tuan Mahawira melompat jauh lebih tinggi. Ia berlari di sepanjang tubuh sang naga, lalu menancapkan pedangnya di sana. Kali ini berhasil. Tubuh sang naga berhasil ditembus oleh pedang milik tuanku


Naga kembali menjerit.


"Manusia kurang ajar!"


Bagaimanapun juga, kulit naga itu bukan sesuatu yang mustahil untuk bisa ditembus. Dengan kepercayaan tingkat tingginya, Tuan Mahawira kembali melesat ke kepala sang naga. Ditatapnya sejenak mata hewan raksasa itu, lalu dengan sekuat tenaga menancapkan pedangnya.


Kini, lengkap sudah. Tuan Mahawira berhasil membutakan kedua mata sang naga. Tidak hanya itu, tetapi Tuan Mahawira menebas kumis panjang sang naga.


Sambil melompat turun dari hewan raksasa itu, Tuan Mahawira berkata, "Kau salah telah mencoba kemampuan seseorang sepertiku."


Seperti biasa, wajahnya dipenuhi kebanggaan setelah menguasai pertarungan itu.


"Sekarang, serahkan artefak itu!"


Darah mengucur di kedua mata sang naga. "Baiklah."


Cahaya muncul di tubuh naga, lalu perlahan-lahan ia menyusut menjadi sangat kecil, lebih kecil dan pendek.


Tak lama kemudian, ia berubah menjadi sebuah batu bundar yang di permukaannya terdapat lambang naga sedang mengeluarkan api.


Tuan Mahawira memungut benda itu, menatapnya dengan lamat.


"Akhirnya."


Tentu, aku turut bahagia dan bangga atas kemenangan yang Tuan Mahawira raih.


"Perjalanan ke Kerajaan Simaseba akan segera kita mulai, Cornelia."


Aku mengangguk sambil mendekati Tuan Mahawira.


----------------


Jangan lupa vote!!!!

__ADS_1


__ADS_2