Tuan, Jangan Sakiti Aku!

Tuan, Jangan Sakiti Aku!
Pertarungan Pedang


__ADS_3

"Sudah kuputuskan. Aku akan ikut dengan kalian dan menyelamatkan Hana," kata Aksa dengan semangat membara sembari mengepal tangan kanan.


"Kau serius?!" tanyaku memastikan.


"Iya, aku sangat serius. Terima kasih karena sudah mengajariku arti penting dari sebuah pengorbanan."


Tuan Mahawira kulihat menyunggingkan senyum. "Bagus. Begitulah seharusnya. Mari, kita berangkat."


Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan menuju Istana Simaseba. Tentu saja, kali ini bertambah satu orang yang ikut dengan kami. Aksa, pria yang bertujuan menyelamatkan kekasihnya dari perbudakan.


"Aku tidak percaya kalian adalah rakyat biasa." Aksa tiba-tiba membuka percakapan sambil terus berjalan.


"Kenapa kau tak percaya? Apa penampilan kami tidak seperti rakyat biasa?" Tuan Mahawira menanggapi.


"Tidak hanya itu, tapi tak ada rakyat biasa yang sangat hebat dan berani seperti kalian. Aku merasa sangat lemah di antara kalian berdua."


"Begitu. Tidak perlu merasa seperti itu. Siapa saja bisa menjadi kuat dan hebat. Yang membedakan adalah usaha yang dilakukan."


Aku senang sekali mendengar perkataan Tuan Mahawira karena setiap kali ia memberikan sebuah motivasi, itu terdengar sangat teduh dan membuat siapa saja yang mendengarnya seperti bernaung di bawah sebuah pohon saat terik panas menerpa.


"Kenapa, Cornelia? Jangan bilang kau kagum padaku," kata Tuan Mahawira dengan senyum licik.


Baiklah, sepertinya aku harus menarik perkataanku. Dia sama sekali menyebalkan. Tidak, tidak, tidak. Di sisi lain dia sangat meneduhkan.


"Tidak juga," jawabku sambil membuang muka.


"Mengaku saja."


Tuan Mahawira berpindah ke sampingku, lalu melingkarkan tangannya di punggungku. "Kapan kau akan mengaku dengan perasaanmu sendiri?"


"Aku sudah mengakuinya, Tuan."


"Hmm, aku ingin kau mengakuinya setiap hari, bahkan setiap saat jika bisa."


Aksa tiba-tiba tertawa renyah. Aku dan Tuan Mahawira menatap pria itu.


"Apa yang tiba-tiba kau tertawakan, Aksa?" tanya tuanku.


"Aku iri sekali dengan kemesraan kalian."


"Kalau begitu, jadikan kemesraan kami sebagai motivasi untuk kau terus berkorban tentang cinta yang kau harapkan."


Aksa pun mengangguk.


Tuan Mahawira seketika menghentikan langkah. Ia juga menarik lenganku sehingga aku turut berhenti. Aksa yang berada di belakang kami juga sepertinya menghentikan langkah.


"Ssst." Tuan Mahawira meletakkan jari telunjuk di depan bibir.


"Ada apa?" bisikku.

__ADS_1


"Dengar. Ada sesuatu yang bergerak cepat ke arah kita."


Segera kufokuskan pendengaran. Benar sekali bahwa suara langkah kaki yang begitu gesit terdengar mendekat ke arah kami.


Genggaman tangan Tuan Mahawira kurasa semakin erat. Aku melihat tangannya yang tertaut dengan tanganku.


Cukup lama kami bergeming di tempat, bahkan Tuan Mahawira belum mengambil tindakan apa pun.


Akan tetapi, tak berselang lama, pria itu mendorong sambil mendekap diriku. Kami jatuh bersamaan.


Tuan Mahawira mendongak, menatap sesuatu yang tertancap di sebuah pohon. Aku memeriksa ke arah pandang pria itu.


Sebuah pisau mengilap. Benar, itu sebuah pisau. Tapi ... bagaimana bisa?


Aksa juga menyadari keanehan itu, lalu bersiap dengan panah di tangannya.


"Ayo, bangun. Hati-hati."


Kami kembali bangkit, tetapi kali ini tetap waspada akan segala kemungkinan.


"Tetap waspada." Pandangan Tuan Mahawira kini mengarah ke semak-semak di sepanjang jalan.


Saat Tuan Mahawira terkesiap, aku juga menyadari sebuah suara langkah kaki yang berderap semakin dekat. Semakin dekat!


Kontan saja, Tuan Mahawira mendorong tubuhku hingga ditangkap oleh Aksa.


Sebuah pedang menancap di tanah yang sebelumnya aku pijak. Hampir saja. Jika tak disingkirkan Tuan Mahawira, benda itu mungkin sudah menancap di kepalaku. Untung juga bahwa Tuhan belum ingin mengambil nyawaku.


"Baiklah, siapa lagi kali ini. Keluarlah!" teriak Tuan Mahawira coba membuat musuh yang bersembunyi itu segera keluar.


Karena tak ada jawaban dari pemilik benda yang menancap itu, Tuan Mahawira menendang gagang pedang sehingga melayang cukup jauh.


Kulihat seseorang segera mengambilnya dengan cara melompat.


Kami bertiga terkesiap. Orang itu mengenakan topeng berwarna hitam.


Tuan Mahawira mendekat ke pria bertopeng. "Sudah pasti kau adalah utusan dari Camelia. Baiklah, aku tidak akan banyak bertanya, karena seperti itulah kebenarannya."


Pria bertopeng tidak merespons. Ia langsung melompat dan menyerang. Lugas Tuan Mahawira menghunus pedangnya, lalu menebas ke arah sang lawan. Namun, pedang keduanya beradu gigit menciptakan denting yang ngilu.


Tak ada yang mengalah, belum ada yang dikalahkan. Inilah yang dikatakan Ki Cakra bahwa utusan putri sombong itu akan tetap kami temukan sepanjang perjalanan.


"Aku akan membantu," kata Aksa tiba-tiba sambil membidik dengan busurnya.


Sangat jelas pria itu kesulitan mencari kesempatan agar anak panahnya bisa menembus orang bertopeng yang dilawan Tuan Mahawira. Meski begitu, ia juga menunjukkan wajah khawatir jika saja yang kena anak panah adalah tuanku.


Tangan Aksa kulihat bergetar. Karena berniat membantu, aku pun memegang tangannya yang diletakkan di busur panah.


"Jangan ragu. Karena keraguan itu bisa saja membuatmu salah menyerang orang."

__ADS_1


Aksa menatapku. "Baiklah."


Karena tidak bergetar lagi, akhirnya kulepaskan tangan Aksa.


"Kali ini, aku tidak akan ragu," katanya dengan penuh keyakinan.


Tuan Mahawira masih melawan pria bertopeng. Namun, sedari tadi belum ada yang terluka, baik Tuan Mahawira maupun pria bertopeng.


Anak panah Aksa melesat dengan cepat. Aku berharap akan tepat mengenai pria bertopeng.


Sedikit lagi, anak panah akan menembus kepala Tuan Mahawira. Akan tetapi, dengan sangat cepat tuanku menukar posisinya dengan pria bertopeng.


Sayang sekali, panah gagal menembus kepala lawan. Pria bertopeng dengan tangkas menangkis anak panah yang dilesatkan menggunakan pedangnya. Lalu, ia kembali fokus dengan pertarungan melawan Tuan Mahawira.


Tidak. Bagaimana bisa pria itu memiliki fokus yang sangat tinggi dan terbagi menjadi beberapa hal.


Tentu, fokus itu membutuhkan keahlian tingkat tinggi. Pria bertopeng tampaknya bukan orang sembarangan. Dari teknik-teknik yang digunakannya, ia sudah lama berlatih.


Pertarungan terjeda. Kulihat Tuan Mahawira mengambil napas, berusaha menyetabilkan napasnya. Sementara itu, tak ada tanda-tanda pria bertopeng telah kehilangan tenaga yang banyak.


"Kau lumayan kuat," kata Tuan Mahawira memuji lawannya tanpa mendapatkan tanggapan.


"Baiklah. Sepertinya kau adalah pendekar bisu. Tapi, jangan harap aku akan berbelas kasihan padamu."


Tuan Mahawira kembali bergerak maju sambil mengarahkan ujung pedang ke depan. Namun, dengan begitu mudahnya sang pria bertopeng menghalaunya, lalu melompat—tidak—melainkan terbang cukup tinggi, lalu kembali jatuh dengan kepala dan tajam pedang menghadap bawah.


Tuan Mahawira jelas terkejut, tetapi tak membiarkan dirinya kehilangan fokus. Tuanku berpindah posisi dengan sangat cepat. Meski begitu, pria bertopeng mengubah posisi pedang, seolah mengejar ke mana pun Tuan Mahawira menghindar..


Hasilnya, pedang saling menggigit, lalu menciptakan percikan api.


"Tuan! Kau pasti bisa!" teriakku saat keduanya beradu tenaga dengan pedang yang masih menempel.


"Keluarkan semua tenagamu!"


"Hiyyaaaaat!" teriak Tuan Mahawira seolah semangatnya bangkit seketika, penuh luapan perasaan yang sangat baik.


"Terus, Tuan! Dorong!"


Aku mengepal tangan, seolah sudah tak bisa menunggu lebih lama lagi untuk melihat siapa pemenang dari pertarungan ini.


Tanpa pernah kuduga sebelumnya, satu orang pria bertopeng lainnya tiba di tempat pertarungan. Pedangnya yang besar tak seperti kebanyakan pedang lainnya itu mengayun, lalu memisahkan pedang Tuan Mahawira dan lawannya.


Salah satu pedang patah. Tuan Mahawira tampak membelalak.


"Tuan ...."


------------------------


Vote!

__ADS_1


__ADS_2