Tuan, Jangan Sakiti Aku!

Tuan, Jangan Sakiti Aku!
Mimpi Buruk Paling Buruk (Volume 2): Kebangkitan Sang Iblis


__ADS_3

Ini adalah sebuah cerita tentang pertemuan, perjuangan, pengorbanan, cinta yang sejati, dan ikatan kemanusiaan. Di sebuah kerajaan bernama Rosalia, pada abad pertengahan (1063 M) di belahan bumi selatan—Balmatra—hidup seorang raja dengan satu putra pangeran bernama Mahawira.


Pangeran Mahawira dijodohkan dengan seorang putri dari kerajaan aliansi, yaitu Kerajaan Simaseba. Namun, Mahawira tidak menerima perjodohan yang diatur untuk kepentingan politik. Ia menolak keras permintaan sang ayah, lalu memilih seorang pelayan yang hidup sebatang kara dan selalu menemaninya sejak berusia 8 tahun.


Mahawira mengajak pelayan bernama Cornelia melarikan diri dan dikejar-kejar prajurit istana saat hari pernikahannya dengan Camelia dari Istana Simaseba. Pelarian itu akhirnya membawa Cornelia dan Mahawira pada sebuah fakta yang tak terelakkan. Seiring berlalunya waktu dalam perjalanan menuju Negeri Angin, Mahawira jatuh cinta dengan Cornelia sehingga memutuskan untuk hidup bebas di Negeri Angin bersamanya.


Cornelia terjebak dalam sebuah fakta yang menyatakan dirinya adalah seorang putri kerajaan yang terbuang di Negeri Angin. Dia bertemu ayah dan ibunya, lalu mengetahui fakta yang lebih kelam bahwa pamannya—Baltra—telah merampas istana dan membuang ayah serta ibunya.


Demi merebut kembali kerajaan yang telah dirampas oleh Baltra dan menyelamatkan Raja Rosalia yang diculik oleh Camelia yang ternyata merupakan aliansi dari Baltra, Mahawira memperdalam ilmu bela diri serta membangkitkan kekuatan luar biasa yang tersembunyi pada dirinya.


Perjalanan Cornelia dan Mahawira menuju Kerajaan Simaseba penuh dengan rintangan. Satu demi satu musuh berdatangan, tetapi juga satu demi satu teman yang akan menemaninya bertualang demi masing-masing tujuan pun bertambah.


Mahawira dan Cornelia dibantu oleh dua pangeran dari kerajaan aliansi serta seorang laki-laki dari sebuah desa di Kerajaan Simaseba.


Petualangan mereka terhenti saat berusaha menyelamatkan para penduduk desa yang menjadi tawanan dibawa untuk dieksekusi mati. Cornelia tidak sadarkan diri setelah mendapatkan pukulan musuh dengan jurus Pengambil Jiwa.


-------------------


"Cornelia! Cornelia! Bangun, Cornelia!"


Teriakan dipenuhi emosi menggema diiringi suara tangis dan air mata yang mengalir deras dari sepasang netra berpupil biru muda. Mahawira menangis dan berteriak berusaha membangunkan Cornelia—perempuan yang sangat ia cintai.


Namun, tak ada yang bisa dilakukan. Mahawira tidak tahu bagaimana untuk mengembalikan jiwa Cornelia yang telah direnggut dan dibuang ke ruang hampa oleh salah satu pendekar utusan Camelia. Bahkan pendekar itu mengaku tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan jiwa yang telah ia buang ke ruang hampa.


Tidak hanya Mahawira yang bersedih hati, tetapi dua pangeran dan laki-laki bernama Aksa juga berduka. Kebingungan merasuki kepala, air mata seperti tak dapat dihentikan. Mahawira menanggung luka yang amat pedih. Baginya, kehilangan Cornelia adalah sebuah mimpi buruk yang paling buruk. Segala hal menjadi buruk yang paling buruk.


"Bagaimana ... caranya aku bisa ... mengembalikanmu, Cornelia." Berkali-kali Mahawira membenturkan tinjunya di tanah. Percuma saja, tak ada yang dapat membantunya.


Tak berselang lama, bulir-bulir bening dari manik sang hujan pun mengguyur seluruh jagat Kerajaan Simaseba. Hujan seolah hadiah paling buruk untuk hati yang sedang memendam perasaan buruk.


"Kita harus bawa Cornelia ke tempat teduh," saran Kalandra.


Tak menunggu lama, Mahawira mengangkat tubuh perempuan berhidung lancip itu ke salah satu rumah di pemukiman. Sementara itu, Birendra dan Kalandra membebaskan para tawanan dari rantai yang membelenggu kaki serta tangan.

__ADS_1


Aksa sedari tadi tak bersuara. Ia hanya takut, berbicara hanya akan membuat pikiran Mahawira tambah merana. Oleh karena itu, Aksa bungkam, mengunci mulutnya, tetapi sebenarnya memikirkan cara untuk bisa mengembalikan Cornelia.


Sayang sekali, seorang perempuan baik hati seperti Cornelia harus berakhir dengan kematian di usia yang masih terbilang muda. Aksa ingat, Cornelia-lah yang menyemangati dirinya saat berada dalam keterpurukan.


Dilihatnya tubuh Cornelia yang berbaring tak berdaya tanpa gerak sedikit pun sedang didekap erat oleh Mahawira.


"Maafkan aku, Cornelia. Aku tidak bisa melindungimu. Aku tidak bisa melindungi apa pun, tak bisa melindungi siapa pun. Maafkan aku, maafkan aku."


Hanya kalimat itu yang terus diucapkan Mahawira dengan isak yang semakin memilukan.


Tak berselang lama, Kalandra dan Birendra datang setelah membebaskan para tawanan.


"Maaf, Mahawira. Aku—"


"DIAM!" Mahawira membentak, seolah tidak ingin orang lain mengganggu momen penyesalannya karena tidak bisa melindungi Cornelia.


"Mahawira, kau harus kuat. Pasti ada cara untuk mengembalikan Cornelia seperti semula. Dia masih hidup. Aku yakin dia pun pasti menyadari kita." Birendra angkat suara.


"Camelia sialan! Orang-orang keparat! Aku biadab! Aku bodoh!"


Mahawira tampaknya belum puas melampiaskan sedih dan kesalnya. Semua orang yang ia ingat menjadi lampiasan, bahkan kepada dirinya sendiri.


Hujan semakin deras mengguyur jagat raya. Tangis Mahawira telah terhenti dan bekas-bekasnya mengering tak tersisa.


"Kalandra, Birendra, jaga Cornelia."


Tanpa memberitahu ke mana akan pergi, Mahawira menjejak keluar dari rumah. Meskipun dua pangeran itu menghentikannya dan bertanya, percuma karena Mahawira tidak akan menjawab.


Pria tanpa pakaian itu berjalan di bawah serbuan hujan yang semakin sakit karena bercampur dengan desau angin.


Mahawira keluar dari rumah itu bukan tanpa tujuan. Ia merasakan hawa keberadaan seseorang yang sangat kuat tengah mengintai sejak beberapa waktu lalu. Benar saja, seorang perempuan mengintai di balik sebuah pohon.


Karena merasakan aura yang mencekam dari perempuan itu, Mahawira tak berbelas kasihan, lalu menjambak rambutnya hingga melakukan bantingan yang sangat kuat.

__ADS_1


"Siapa kau?" Bariton Mahawira sangat berat. Tatapannya seolah kosong, tetapi sangat tajam.


Si perempuan bangkit dengan melakukan salto, lalu melompat-lompat menjauhi Mahawira, menjaga jarak dan tetap waspada.


"Kurang ajar!" Perempuan itu mengeluarkan trisula, kemudian menyerang Mahawira dengan dorongan emosi.


Mahawira tak beranjak dari pijakan meski serangan datang padanya. Ia tangkis trisula milik sang perempuan begitu mudahnya, lalu menghantam dengan tenaga penuh sehingga terpental beberapa jarak.


"Kau mengganggu. Auramu sama persis seperti orang-orang suruhan Camelia. Apa kau salah satunya?"


"Memangnya siapa ... yang peduli dengan omong kosong seperti itu!"


Perempuan itu melakukan lompatan sambil mengarahkan trisula dengan posisi horizontal. Didorongnya dengan kekuatan penuh.


Mahawira meraih pergelangan tangan sang perempuan hingga tak dapat melakukan serangan.


"Lepaskan! Lepaskan!" Perempuan itu berontak.


Mahawira menarik napas dalam, kemudian melakukan tendangan ke atas tepat mendarat di perut perempuan hingga membuatnya terlempar ke atas.


Setelah mendarat kembali secara tidak sempurna, perempuan itu memegangi perut yang terasa perih. Keluar darah dari mulutnya.


Saat Mahawira akan menyerang lagi, perempuan itu berkata, "Aku bisa membantumu mengembalikan jiwa kekasihmu!"


Pergerakan Mahawira terhenti. Tangannya yang terkepal dan terangkat, lantas melemas dan perlahan ditariknya.


"Bagaimana caranya?!"


Perempuan menyeringai.


-----------------------


Vote, ya.

__ADS_1


__ADS_2