
Mahawira mengedarkan pandangan ke sekeliling lahan yang dipenuhi oleh rerumputan hijau serta ratusan pohon yang menjulang tinggi. Dia heran karena tak tahu berada di mana. Berjalan selangkah, tempat itu kemudian dipenuhi oleh hewan; kelinci, domba, rusa, gajah, dan lain sebagainya. Tiba-tiba saja jantung Mahawira berdegup lebih cepat dari sebelumnya.
Dia sangat tahu perasaan yang menyelimuti dirinya sama seperti saat Cornelia berada di sisi. Mahawira pun menebak kemungkinan besar di sekitar tempat indah itu ada keberadaan Cornelia. Dengan cepat Mahawira melajukan kakinya mencari sosok yang sangat didambakan jiwanya.
Cukup jauh Mahawira melangkah, telinganya menangkap suara air yang mengempas dari ketinggian. Air terjun. Kemungkinan besar Cornelia ada di sana. Oleh itulah Mahawira langsung menambah kecepatan langkah.
Napas lelaki itu terengah, jantungnya berdegup semakin kencang. Dia terhenti tatkala melihat seorang perempuan dengan kimono putih dan rambut yang dikepang selang-seling tampak begitu bahagia memainkan air yang menerpa.
Bibir Mahawira pun membentuk kurva, matanya berbinar seolah menemukan seseorang yang telah ratusan tahun lamanya dirindukan. Tak kuasa menunggu lebih lama lagi, Mahawira melangkah ke pekarangan air terjun.
“Cornelia,” panggil Mahawira dengan suara amat lirih.
Meski suara air terjun cukup bising, tetapi suara pria itu tersampaikan ke telinga sang gadis manis. Cornelia menolehkan pandangan, lalu menarik tangannya dan perlahan melangkah ke hadapan Mahawira.
“Selamat datang di duniaku, Tuan.” Cornelia menyambut kedatangan Mahawira sambil tersenyum begitu teduh.
Tak menunggu lama—karena degup jantung tak kuasa Mahawira halau—ditariknya tangan Cornelia, lalu mendekapnya dengan gembira. Rasa haru membalut hati sang pria hingga meneteskan air mata.
Cornelia memahami apa yang dirasakan oleh lelaki itu, lalu membalas dekapannya dengan tidak kalah erat.
“Aku sudah di sini, Tuan.”
“Aku rindu, Cornelia. Aku sangat rindu padamu. Sangat, sangat merindukanmu. Kenapa kau pergi meniggalkan diriku seorang diri?” kata Mahawira dengan air mata yang semakin berjatuhan.
“Kau tidak boleh menangis, Tuan. Kau ini lelaki, sekaligus pangeran. Apa kau tidak malu menangis seperti itu?” Cornelia berusaha menggoda pria itu.
“Aku tidak peduli, Cornelia. Aku sama sekali tidak peduli. Yang penting ... yang penting aku bisa bertemu denganmu.”
Dielusnya Mahawira oleh Cornelia seolah mengelus seorang bocah agar tidak menangis lagi.
“Apa kau sebegitu rindunya denganku, Tuan?”
__ADS_1
“Sangat, Cornelia. Aku tidak bisa mengukur sedalam apa rinduku padamu. Yang pasti, waktu seolah berhenti saat kau tidak lagi bertualang bersamaku. Aku bagai melihat kehancuran sendiri saat senyummu tak lagi dapat kubayangkan. Semua perlahan sirna, Cornelia. Mataku seolah tidak dapat menangkap berbagai warna. Hanya kau ... hanya kaulah warna yang mampu membuat hidupku mewarni.”
Gadis itu sangat tersentuh dengan ungkapan perasaan sang pangeran. Bagaimana tidak? Mahawira selalu ada untuk Cornelia bahkan saat dirinya sama sekali tidak mengetahui kebenaran tentang dirinya yang merupakan seorang putri di kerajaan.
Cukup lama pelukan itu berlangsung, Mahawira melepaskan Cornelia dan membersihkan sisa-sisa air mata di kedua pipi. Setelah itu, ditangkapnya tangan sang gadis, lalu membawanya ke pohon yang paling tinggi; Mahawira bersandar di sana, lalu Cornelia tertidur di pangkuannya.
“Aku tidak percaya akan bisa bertemu lagi denganmu, Cornelia.”
Sang gadis hanya membalas perkataan Mahawira dengan senyuman yang merekah. Sementara itu, Mahawira mengelus-elus kepala Cornelia, lalu turun ke wajah.
“Aku tak tahu kenapa aku bisa sangat mencintaimu.”
“Aku pernah mendengar seseorang berkata, cinta itu tidak butuh alasan, Tuan. Kita tidak butuh alasan untuk mencintai seseorang. Aku yakin cintamu berasal dari ketulusan hati. Kau tidak melihatku dari wajah atau apa pun. Seperti yang kau tahu, aku hanya seorang pelayan. Tapi, kau selalu berusaha menjagaku. Terima kasih, Tuan,” jelas Cornelia sambil memejamkan mata.
“Cornelia, pulanglah. Aku ingin bertualang lagi bersamamu. Aku ingin kau—“
“Maafkan aku, Tuan. Aku bukannya tidak ingin menikmati petualangan bersamamu lagi. Aku sangat ingin keluar dari dunia ini, tetapi sesuatu tidak mengizinkanku.” Cornelia menarik napas dalam. “Apakah tubuhku baik-baik saja, Tuan? Apakah kau menjagaku dengan sepenuh hatimu? Jikalau aku menjadi penghalang bagimu, kau boleh meninggalkanku.”
“Cornelia. Cinta adalah anugerah Tuhan yang paling indah, diturunkan untuk semua makhluk hidup di bumi tanpa terkecuali. Karena Tuhan telah memercayakan cinta itu padaku, maka aku akan selalu menjaganya, memperjuangkannya, bahkan meski harus mati sekalipun.”
“Tidak, Tuan. Jangan mati untukku. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu—“
“Cinta adalah memberi, Cornelia. Apa pun yang berharga di hidupku, akan kuberikan padamu. Bukankah Tuhan seperti itu? Bukankah Tuhan terlalu banyak memberikan manusia? Tuhan memberikan hidup untuk manusia, memberikan makanan, dunia, memberikan segala sesuatunya, yang berarti Tuhan mencintai kita sebagai manusia.
Seseorang pernah berkata padaku, Cornelia. Cinta adalah harga mati. Jika aku cinta pada tanah airku, maka aku akan membelanya. Dan begitu pun padamu. Cintaku padamu adalah harga yang tak dapat ditawar lagi. Aku akan selalu menjagamu.”
Saat menurunkan pandangan dari langit yang begitu cerah dihiasi oleh berbagai bentuk awan, Mahawira menyaksikan wajah Cornelia telah bersimbah bulir-bulir bening.
“C-Cornelia?! K-kenapa kau menangis? Apa aku menyakitimu?!” Mahawira terlihat panik.
Cornelia menggeleng, lantas tersenyum dalam tangis. “Aku menangis karena ketulusan cintamu, Tuan. Terima kasih kau sudah mencurahkan segalanya padaku.”
__ADS_1
“Bukan sesuatu yang besar, Sayang.” Tangan Mahawira perlahan menyapu air mata di wajah sang gadis. “Pengorbananku belum bisa dianggap besar jika aku belum bisa membuat kita bersatu dalam sebuah pernikahan.”
Angin berembus sepoi, menyejukkan dua insan yang sedang menjalin kasih.
“Matahari sangat mencintai alam semesta, Cornelia. Itulah kenapa dia selalu memberikan kehangatan dan sinarnya. Bahkan itu dapat diartikan bahwa matahari itu sangat mencintai kita.”
“Aku mengerti, Tuan. Aku mengerti.” Cornelia menyeka bulir-bulir bening yang masih ingin berjatuhan dari netra. Segera ia bangkit dan menghadap Mahawira.
“Tuan. Maafkan aku karena belum bisa pulang bersamamu. Sebagai permintaan maaf, apa boleh aku memberikanmu sesuatu?” Cornelia tampak tersipu malu. Kedua pipinya memerah, tentu saja.
Mahawira mengangguk pelan. “Boleh. Akan kuterima dengan senang hati.”
Meski begitu, wajah pria itu terkesan begitu sendu. Tentu saja itu karena Cornelia belum bisa kembali pulang bersamanya.
“Pejamkan kedua mata Tuan.”
Setelah menarik napas sedalam mungkin, Mahawira memejamkan matanya. Sementara itu, Cornelia menelan saliva sebelum akhirnya mengecup bibir sang pangeran dengan begitu hangat. Bibir dua insan itu menyatu dalam ikatan cinta yang dianugerahkan Tuhan.
Jeda sejenak, Cornelia berkata, “Aku sangat mencintai Tuan.”
Mahawira membuka mata dengan tangis yang kembali pecah, kemudian dengan lugas menyambar bibir Cornelia hingga melumatnya dengan penuh luapan kerinduan.
Maafkan aku, Tuan ....
Gelap gulita. Tak ada tempat indah, tak ada hewan-hewan, tak ada suara air terjun, dan tak ada Cornelia. Mahawira membuka matanya sembari berteriak menyebut nama Cornelia. Yang ditangkap mata Mahawira hanyalah rembulan yang menggantung tepat di tengah-tengah cakrawala.
“Ternyata aku bermimpi ....”
-------------------
Kalau vote banyak, bisa crazy up!!!! Vote yang banyak!
__ADS_1