
Terdengar jerit kesakitan dari kamar seseorang di sebuah istana. Para prajurit yang mendengar teriakan itu pun langsung menuju sumbernya. Di kamar yang luas dengan cahaya remang-remang dari lampu lampion, Pangeran Ganandra memeluk ayahnya dengan bersimbah darah. Usut demi usut, darah itu bersumber dari perut ayahnya. Ganandra berlumur air mata melihat pria paruh baya itu telentang tak berdaya. Dari yang terlihat, ayahnya telah meregang nyawa.
"Y-Yang Mulia?! S-siapa yang melakukan ini?!" tanya seorang menteri yang datang bersama beberapa prajurit dan kesatria.
Ganandra memutar kepalanya, menatap menteri dengan alis berwarna putih, lalu mulai menceritakan apa yang ia lihat dengan tersedu-sedu.
"R-Raja Batra dari Istana Rosalia. Saat aku sedang ingin menemui ayah, aku ... melihatnya memegang pisau berlumuran darah. Awalnya, dia ingin membunuhku, tapi saat Ayahanda berteriak, dia langsung melarikan diri dari jendela."
Para prajurit dan menteri melihat ke arah jendela. Memang benar jendela itu terbuka, ditambah ada beberapa perkakas yang jatuh dari meja di sampingnya.
"Maafkan hamba, Pangeran. Ini jelas kesalahan kami yang terlalu teledor. Kami bahkan tidak tahu dari mana pembunuh Yang Mulia masuk ke istana."
Ganandra berdiri, lalu menatap menteri yang menunjukkan wajah sendu dan penyesalan itu.
"Sekarang aku perintahkan kalian untuk menangkap Raja Batra! Bawa dia, bantai prajuritnya dan aku akan membalaskan dendam ayahku."
Dengan keadaan wajah yang masih dipenuhi air mata, tatapan Ganandra menyiratkan sebuah kebencian yang sangat dalam. Jelas, pembunuhan terang-terangan adalah sikap pernyataan perang yang sesungguhnya.
Semua prajurit dan kesatria langsung sibuk menyiapkan senjata dan baju zirah, lalu berangkat menuju Istana Rosalia untuk menangkap Batra beserta para prajuritnya.
Di saat-saat genting itu, Kalandra dan Birendra baru saja tiba di istana. Mereka heran melihat para prajurit berbondong-bondong keluar dari istana bahkan mengenakan zirah serta lengkap dengan persenjataan. Mereka tak tahu apa yang terjadi, sehingga masuk ke istana dan menemui saudara mereka, yaitu Ganandra.
"Ganandra? A-ada apa ini? Kenapa—"
"Ayahanda!"
Kalandra berteriak tatkala melihat tubuh ayahnya terkulai tanpa nyawa di lantai. Sedangkan di sekitarnya darah menggenang. Birendra membelalak, lalu menggeleng-geleng sebagai bentuk rasa tidak percaya dengan apa yang disaksikannya.
"Aya ... handa?" lirih Birendra dengan air mata yang menganaksungai. Tenggorokannya terasa kelu, dadanya berontak kala kenyataan menikamnya.
"Ap-apa ... yang terjadi dengan Ayahanda, Ganandra?" Birendra bertanya, tatapannya kosong saat melihat perut ayahnya berlubang dan mengalir darah segar.
Ganandra tak menjawab. Ia tak kuasa mendengar tangisan Kalandra yang semakin jadi. Pasalnya, Kalandra adalah saudaranya yang paling dekat dengan sang ayah.
__ADS_1
"Ganandra! Apa yang terjadi?!" Birendra berteriak pekak dengan mata melotot tajam.
"Maaf, Pangeran Birendra. Menurut Pangeran Ganandra, Raja Batra-lah yang menyusup ke istana, lalu membunuh Yang Mulia Raja," jelas menteri.
"Raja ... Batra? Kerajaan ... Rosalia?"
Birendra merasa lututnya lemas seketika. Ia tak sanggup lagi menahan pedihnya sebuah rasa yang hadir, berlomba menikam hatinya dengan senyap. Birendra pun menangis dengan kencang seolah bayi yang baru keluar dari perut sang ibu.
Ganandra melangkah keluar dari kamar, membiarkan dua saudaranya menangisi sang ayah yang telah menemui Tuhannya.
Akan tetapi, ada yang aneh setelah Ganandra berhasil keluar. Ia mengambil pedang di atas kursi takhta sang ayah. Sambil menaruhnya di punggung, Ganandra mengubah air mukanya. Dari sendu menjadi senyum licik yang sangat mencurigakan.
Menunggangi kuda, Ganandra bukannya pergi ke arah Istana Rosalia, tetapi ia berkunjung ke Simaseba dan menemui Camelia.
Ganandra disambut dengan meriah oleh para menteri dan kesatria Simaseba serta sang raja.
"Selamat datang, Ganandra. Coba kutebak. Jika kau berada di sini, itu artinya rencanamu sukses besar," kata Camelia sambil menunjukkan seringai lebar.
"Akhirnya." Camelia tersenyum kembali.
--------------
"Apa yang kau lakukan di sini, Ganandra?" Mahawira bertanya.
Ganandra tertawa pelan sambil membuka tudung jubah, kemudian meregangkan beberapa bagian tubuh dan lehernya.
"Jangan memberiku pertanyaan bodoh, Mahawira. Kau sudah pasti tahu jawabannya. Untuk apa aku di sini kalau bukan untuk melawanmu?" Ganandra tertawa renyah.
"Oh, begitu." Mahawira menyipitkan mata. "Sekarang jelas sudah siapa sebenarnya yang memfitnah ayahku. Ternyata kau orangnya, Ganandra. Tidak kusangka lelaki sepertimu yang selalu berpikir positif bisa termakan hasutan dan tipu daya perempuan picik seperti Camelia."
"Jangan banyak bicara, Mahawira. Kau tidak tahu apa-apa tentangku. Lebih baik kau diam dan lawan aku."
Mahawira dan Ganandra bersitatap.
__ADS_1
"Tidak. Tunggu dulu. Jangan terburu-buru. Aku ingin kau sadar dengan yang kau lakukan sekarang. Di saat Kalandra dan Birendra berusaha membalaskan dendam ayah kalian, kau di sini membantu seseorang yang licik seperti Camelia. Atau jangan-jangan kau yang telah membunuh ayahmu sendiri," tukas Mahawira penuh selidik.
Ganandra kembali terbahak-bahak, bahkan sampai-sampai menahan perutnya. Mungkin baginya, perkataan Mahawira adalah sebuah lelucon atau semacam kebodohan yang baru saja diungkap oleh orang bodoh.
"Kalau iya kenapa?" Seketika tawa Ganandra terhenti, lalu ditatapnya Mahawira dengan lamat.
"Sungguh keparat kau Ganandra. Hatimu sangat busuk sehingga kau tidak mampu berpikir dengan sehat. Kau membunuh ayah yang sudah membesarkanmu, bersusah payah memberikan kasih sayang padamu. Dan kau mengaku tanpa rasa bersalah?" Mahawira menggeleng-geleng seolah perkataan Ganandra sudah tidak dapat diterima oleh akal sehatnya.
"Ganandra. Katakan padaku, apa yang membuatmu membunuh ayahmu sendiri?"
"Mahawira, berhenti mengurus hidupku. Sifat ini yang selalu membuatku benci padamu. Kau seolah-olah menjadi pahlawan untuk semua orang. Selalu ikut campur ke dalam urusan orang lain. Apa kau mau menjadi pahlawan di dunia ini, hah?!"
Ganandra menarik napas dalam-dalam. Dihunusnya pedang yang menempel di punggung.
"Nah, Mahawira. Katakan padaku, bagaimana seorang ayah bisa adil memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya? Ah, aku lupa. Batra hanya memiliki satu anak, jadi dia tidak perlu repot untuk membagi kasih sayangnya." Ganandra tertunduk. Mahawira melihat sebuah kesedihan dan kekecewaan yang sekian lama telah dipendam Ganandra.
"Aku tidak suka memiliki adik. Dua bocah ingusan itu merebut segalanya dariku. Sejak kehadiran mereka, ayahku telah melupakan kehadiranku. Bahkan dia tidak lagi peduli apa pun yang aku lakukan. Saat aku menjadi lelaki nakal yang bertujuan untuk menarik perhatiannya, dia tetap tidak peduli dan membiarkanku terlena dengan hidup di balik kegelapan."
Mahawira terkesiap karena sepertinya melihat kilatan cahaya dari setitik air mata yang jatuh membasahi tanah.
"Kau tidak tahu rasanya, kan? Kau tidak tahu rasanya iri hati di dalam dadaku ini sudah tumbuh mekar sejak lama, berbau busuk dan membutakan hatiku seperti yang kau katakan."
"Ganandra! Menyerahlah. Katakan semuanya dengan jujur pada Kalandra dan Birendra. Aku tidak akan membunuhmu di sini."
Ganandra mengangkat wajahnya, lalu menyeringai kembali.
"Justru aku ingin kau melawanku, Mahawira!"
Camelia terbahak menyaksikan dua teman masa kecil itu sebentar lagi akan saling membunuh.
"Dua orang bodoh akan bertarung. Salah satu akan mati. Siapa pun yang hidup, akan menjadi suamiku."
-----------------
__ADS_1