Tuan, Jangan Sakiti Aku!

Tuan, Jangan Sakiti Aku!
Bukan Sebuah Akhir


__ADS_3

"HEI! LEPASKAN CORNELIA!"


Tuan Mahawira meraih tangan kiriku, lalu membuat sang raja terhenti.


"Bocah keparat! Berani-beraninya kau!"


Sang pangeran melompat, lalu berdiri di hadapan Raja Baltra. Pria itu mengayunkan pedangnya hingga sang raja melepaskan tanganku. Ia fokus pada serangan yang dilakukan oleh Tuan Mahawira.


"Cornelia! Menjauh dari sini! Bebaskan orang tuamu!"


Sesuai yang diperintahkan oleh Tuan Mahawira, aku segera menyelinap melewati para prajurit. Sesekali kulawan beberapa dari mereka yang berusaha menghalangi jalanku. Sementara itu, kulihat sang kakek juga sedang fokus pada pertarungan.


Setelah menghantam mundur beberapa prajurit, kembali kulanjutkan langkah demi sampai di tempat ibu dan ayahku berada.


"Ayah! Ibu!" teriakku yang seketika membuat mereka menatap ke arahku dengan ekspresi sendu.


Tiba di tempat mereka sedang disalib, kutatap keduanya dengan pilu. "Sebentar. Aku akan membebaskan kalian berdua—"


"Nak! Jangan lakukan ini. Kau tidak tahu betapa kejam dan licik Baltra. Kau harus segera pergi dan menyelamatkan dirimu. Jangan melakukan perlawanan sia-sia," ucap Ayah.


Aku terhenti, lalu menatap pria itu dengan lamat. "Kau tidak berhak menyuruhku pergi! Aku akan melakukan kewajibanku, yaitu menyelamatkan kalian!"


Segera aku mencari senjata untuk memutus tali yang membelenggu mereka. Kulawan salah satu prajurit hingga terkapar, lalu mengambil pedang miliknya. Setelah itu, aku kembali menuju ayah dan ibuku.


Pertama-tama, aku membebaskan sang ibu. Kuputuskan tali yang mengikat kedua kaki beliau, kemudian lanjut ke tangannya. Ibuku tidak berdaya sehingga ia menggelepar di tanah. Segera aku bantu ia bersandar di kayu salib.


"Terima ... kasih, Nak ...," ucap sang ibu begitu parau. Aku mengangguk menahan air mata.


Aku kembali berdiri dan membebaskan sang ayah, lalu berlari ke arah dua pangeran yang sudah dengan tulus membantuku. Sepertinya dua pangeran itu masih kuat meskipun sudah mendapatkan banyak luka.


"Ayahku pasti akan sangat marah mendengar kabar ini. Aku pastikan para prajurit Kerajaan Bolalang datang ke sini dan menghancurkan para bedebah itu," kata Pangeran Kalandra setelah berhasil kubebaskan.


Jelas sekali api kebencian sedang menyala-nyala di bola matanya. Aku memaklumi hal itu karena kenyataan Raja Baltra melakukan kekejaman tanpa peduli dua pria itu merupakan anak dari raja di Negeri Tulip.


"Sebaiknya kita pergi dari sini," kata Tuan Birendra.


"Kenapa kita harus pergi? Bukankah Tuan Mahawira datang menyelamatkan kita?" tanyaku.


"Kau tidak tahu betapa kuat dan kejamnya Raja Baltra, Cornelia. Aku sendiri yang mengalami. Kau harus percaya padaku. Dengan prajurit sebanyak ini, kita masih belum bisa mengalahkannya."


Aku tersentak mendengar pengakuan Tuan Birendra. Benar dugaanku. Raja Baltra kemungkinan besar sangat kuat dan sulit untuk dikalahkan. Bahkan pangeran sekelas Tuan Birendra dan Kalandra saja mengakui hal itu.


"Begini saja, aku akan membawa orang tuamu untuk kabur dari istana ini. Lalu, kau mintalah Mahawira untuk mundur. Sebab, dia adalah lelaki yang keras kepala. Aku tidak ingin apa yang terjadi padaku juga ia alami," saran Tuan Birendra, lalu mengambil napas dalam.


Aku pun mengangguk untuk menyetujui rencana pangeran itu.


"Kalau begitu, kau pergilah menuju Mahawira."

__ADS_1


Tanpa berpikir lagi, kulangkahkan kaki menuju tuanku. Namun, tiba di sana, aku tidak melihat ia melawan Raja Baltra. Justru, ia sedang melawan orang lain yang bertarung menggunakan sebuah tongkat besi.


"Tuan Mahawira!" teriakku. Pria itu masih fokus pada pertarungan, sedikit pun tak menoleh ke arahku.


"Tuan Mahawira!"


Kali ini, ia menoleh. Sayangnya, tongkat pria dengan penutup mata itu mengenainya hingga berhasil tergeletak.


Aku benar-benar lupa Tuan Mahawira pernah berkata kalau aku tidak boleh memanggilnya saat berada di tengah-tengah pertarungan. Posisi Tuan Mahawira sedang terpojok.


Meski begitu, aku bisa membantunya dengan ilmuku yang memang tidak seberapa. Kebetulan aku masih membawa pedang yang kurampas dari musuh. Maka, aku berlari dan berusaha menyerang pria itu.


Pedangku ditangkisnya dengan amat cekatan hingga terlepas dari genggaman. Aku terkesiap saat tongkat besi itu kembali diayunkan ke arahku. Sedikit lagi akan mengenai kepala, Tuan Mahawira berhasil menangkap benda logam dan menahannya.


"Kau pergilah! Kenapa kau masih ada di sini?!"


"M-maaf, Tuan. Tapi ... aku tidak ingin Tuan berlama-lama ada di istana ini. Tuan ikutlah bersamaku untuk pergi."


"Tidak, Cornelia! Aku tidak akan pergi sebelum bisa—"


Kupeluk Tuan Mahawira dari belakang sehingga kalimatnya terpotong. Aku benar-benar tidak bisa membiarkan pria itu menanggung beban luka yang semakin menggerogoti hatinya. Lagi pula, aku juga sangat merindukan Tuan Mahawira, dan itu telah lama terjadi.


"K-kenapa kau melakukan ini di tengah-tengah pertarungan?" Tuan Mahawira masih menahan tongkat dari lawannya.


"Berani-beraninya kalian bermesraan saat melawanku!"


Sepertinya pria dengan penutup mata itu jengkel dengan tingkahku. Oleh itu, ia menarik tongkat sekuat tenaga sehingga berhasil lepas dari tangan Pangeran Mahawira. Pada detik berikutnya, kembali tongkat mengayun, tetapi kali ini Tuan Mahawira lebih cepat mengacungkan pedang ke arah leher sang pria.


"Kau memilih mati di sini?!" ancam Tuan Mahawira.


Hening sejenak. Tuan Mahawira dan lawannya beradu tatap. Sementara itu, aku masih terus menempel di tubuhnya.


Duh, nyaman sekali berada di sisi tuanku. Aku ingin seperti ini selamanya. Aroma keringatnya begitu kusuka.


Apa?! Apa aku sudah gila? Tidak, tidak, tidak. Bagaimana bisa aku menyukai aroma keringat laki-laki?


Aku tersadar dari lamunan setelah sebuah pedang dikibaskan dari sebelah kanan. Senjata tuanku beralih untuk menangkis pedang itu, lalu pria bersenjata tongkat mundur beberapa langkah.


Musuh baru berdiri sambil menyeringai. Kini, tuanku akan melawan dua orang sekaligus.


"Cornelia! Jangan gila! Pergilah. Kita bisa bermesraan jika pertarungan ini selesai!" katanya penuh penekanan.


"Tidak! Aku ingin sekarang!"


"Apa kau gila?!"


"Ya, aku sangat gila padamu. Pokoknya, aku ingin kau pergi bersamaku! Aku tidak ingin kehilanganmu lagi. Titik!" tegasku.

__ADS_1


Tuan Mahawira terdengar mengembuskan napas panjang.


"Dasar anak kecil!" katanya.


Tuan Mahawira membalik tubuhnya. Pelukku terlepas, tetapi ia meraih tanganku dan segera menjauh dari dua lawannya yang terlihat tangguh.


"Semua prajurit! Aku perintahkan mundur!" teriaknya kemudian.


"Kek! Kita mundur!" kataku saat melewati sang kakek.


Pria tua itu cukup terkejut karena keputusan yang mendadak. Meski begitu, benar kata Tuan Birendra bahwa kami belumlah mampu mengalahkan Raja Baltra. Itu terbukti saat beberapa lawan profesional muncul secara tiba-tiba dalam pertempuran.


Aku berani bertaruh, Raja Baltra sudah menyiapkan rencananya sematang mungkin.


Kami berhasil keluar dari istana dengan beberapa prajurit. Meskipun prajurit Raja Baltra sempat mengejar karena tidak ingin membiarkan kami kabur, tetapi mereka akhirnya menyerah setelah tertinggal cukup jauh.


Tuan Mahawira menghentikan laju kakinya, lalu berhenti karena melihat Tuan Birendra dan Pangeran Kalandra di tepi jalan. Ibu dan ayahku juga bersama mereka.


Kedua orang tuaku mereka sandarkan pada pohon.


"Ayah, Ibu," ucapku dengan khawatir.


"Mereka tidak apa-apa. Jangan khawatir. Mereka hanya kelelahan, lapar, dan haus."


"Kalau begitu, kita harus mencari tempat untuk bersembunyi," usulku.


"Ikuti aku," kata sang kakek.


Sementara itu, aku masih terdiam bersama Tuan Mahawira.


"Prajurit! Kalian kembalilah ke istana. Laporkan apa yang sudah kalian lihat pada Raja!"


"Baik!"


Segera setelah itu, para prajurit yang tersisa kembali ke kerajaan sesuai yang diperintahkan oleh Tuan Mahawira.


Diembuskannya napas panjang oleh pria itu, lalu membalik badan dan menatapku dengan lamat.


"Ayo, kita jalani hari-hari ini bersama-sama. Baik suka maupun duka."


Tuan Mahawira meraih tanganku, dielusnya sejenak, lalu berjalan dengan menggandengnya.


"Kita perjuangkan cinta kita."


Aku pun tersenyum sambil melangkah.


------------------------

__ADS_1


Yuklah, jangan malas vote 😅 komen ya komen hehe


Oh, ya. Follow IG: mariondrossi


__ADS_2