
Gelap menyapu pandangan. Tak seberkas pun cahaya menerangi ruang-ruang kepekatan. Yang terdengar hanya derap, mendekat, perlahan, lalu sirna.
Meski membuka mata lebar-lebar, Mahawira tak dapat menyaksikan apa pun selain pekatnya kegelapan. Dia tak tahu di mana dirinya berada. Yang pasti, hal terakhir yang diingatnya adalah rasa sakit di leher karena diikat rantai besi oleh Ganandra. Mahawira menduga dirinya telah kalah dalam pertarungan, lalu akhirnya mati.
Tempat apa ini? batin Mahawira terus bertanya, sedangkan tak satu pun orang berada di sana yang dapat menjawab tanya-tanya yang terlontarkan.
"Ruang hampa? Berarti ... Cornelia!"
Pangeran itu menghendaki langkahnya melaju kencang, tetapi hanya lelah yang ia dapat tanpa kepastian akan pertemuan dengan Cornelia.
"Cornelia!" teriaknya sekuat tenaga. Baritonnya menggema seolah dikembalikan padanya. Mahawira menutup telinga karena suaranya sendiri memantul keras hingga kepalanya terasa akan meledak.
"Cornelia ...." Mahawira bersimpuh sembari menunduk.
Dari raut wajahnya, pria itu seolah menyerah untuk memperjuangkan apa-apa yang baginya sangat berharga dan tentu saja pantas diperjuangkan.
"Aku ... mungkin harus menyerah—"
"Tidak boleh!"
Suara Cornelia memotong, tetapi sama sekali keberadaannya tak tampak di kegelapan yang Mahawira saksikan. Ditolehkannya kepala ke segala penjuru, tetap hanya gelap yang ditangkap netra.
"Ya, aku tidak boleh menyerah. Banyak hal ... banyak orang yang berusaha aku perjuangkan. Dengan tangan ini aku bisa melakukannya. Dengan semangat di dalam diriku, aku bisa menyelesaikannya. Cornelia, tunggulah aku!"
Akhirnya, Mahawira kembali bangkit dengan penuh kebanggaan.
"Wahai diriku! Jangan menyerah! Kembalilah pada raga yang sedang terkulai tak berdaya. Wahai diriku! Berteriaklah dengan penuh kebanggaan!"
"Bagus, Mahawira! Berteriaklah! Nyalakan api kebencian!"
----------------
Ganandra tergelak melihat darah yang menggenang di permukaan tanah sebelum akhirnya menyadari cairan kental yang sangat segar itu adalah darah dari tangan kirinya yang terpotong.
__ADS_1
Tidak hanya Ganandra yang terkejut dengan kejadian itu, tetapi semua orang yang berkumpul di pekarangan istana membelalak seolah melihat iblis telah menampakkan wujudnya dalam bentuk manusia.
Pangeran Mahawira, berdiri dengan gagah di belakang Ganandra sambil memegang pedang berlumuran darah.
Untuk memastikan sekali lagi, Ganandra mengerjapkan mata, ternyata benar Mahawira yang terkulai lemah beberapa waktu lalu sudah tiada. Yang ada hanya Mahawira yang berdiri tepat di belakangnya dengan tatapan menyala-nyala layaknya bara api yang tersepuh air, tetapi tak padam. Aroma asap kebencian semakin kuat menelusup di lubang pernapasan semua orang.
Seketika rasa yang buruk hadir dalam benak mereka; panik, khawatir, takut, ingin lari, dan menghilang. Semua itu tercipta dalam hati mereka setelah melihat wujud Mahawira dikelilingi api amarah yang bergejolak.
"Ganandra ...." Suara Mahawira berubah; jauh lebih berat dari biasanya.
Itu adalah suara kebencian. Camelia pun nyaris tak dapat menggerakkan anggota tubuhnya. Ketakutan-ketakutan itu mulai hinggap dalam hati sang putri. Bahkan Raja Simaseba merasa seolah degup jantungnya berhenti.
"Mahawira sialan!"
Ganandra yang telah kehilangan satu tangannya, lantas berusaha membalas perlakuan Mahawira dengan mengibaskan pedang yang digenggam tangan kanannya. Namun, gagal.
Hanya dengan satu kali ayunan, pedang Ganandra patah menjadi dua bagian. Dia terperangah, lalu membuang gagang pedang dan memilih menggunakan tangan untuk melumpuhkan teman masa kecilnya itu.
Lagi-lagi hal yang mustahil Ganandra lakukan sebab Mahawira yang telah sepenuhnya dalam wujud kebencian. Dengan sangat mudah Mahawira menghantam Ganandra dengan tangan kiri hingga terpental puluhan meter. Ia terempas di tembok tinggi pembatas halaman istana. Tulang rusuknya patah, tenaganya terkuras habis.
Maka, saat Mahawira menoleh ke arah Camelia, secepat angin topan pria itu melesat dan berdiri di hadapan Camelia.
"Camelia. Kau adalah orang yang sangat kubenci di dunia ini."
"T-tidak! P-pergi kau! Iblis! Pergi kau—"
Suara Camelia tertahan di tenggorokan. Hawa keberadaan Mahawira telah mengalahkan segala kehendak orang-orang di istana untuk menggerakkan tubuh mereka. Ini tak pernah terjadi sebelumnya. Bahkan mereka tak pernah menduga bahwa Mahawira akan menjadi seorang pangeran yang sangat kuat dan berwujud menyeramkan.
Dengan menggunakan tangan kiri, Mahawira mencekik Camelia, lalu mengangkatnya hingga berontak. Sayangnya, tenaga putri sombong itu tidak bisa mengalahkan cengkeraman kuat Mahawira.
"Kau membuat Cornelia dan diriku menderita, Camelia. Kau harus membayar semuanya. Kau ... harus membayar semuanya dengan nyawamu."
Dibuangnya tubuh Camelia bagaikan seonggok sampah yang tiada harganya. Tenaga Mahawira membuat tubuh Camelia terpelanting.
__ADS_1
"S-semuanya! Ke-kepung iblis itu!"
Tampaknya Raja Simaseba berhasil mengeluarkan suara setelah berkali-kali berusaha menenangkan diri agar aura pria itu tidak mengintimidasi dirinya.
Sungguh kekuatan yang sangat luar biasa, batin Raja Simaseba. Padahal dia sendiri telah ketakutan setengah mati meski berada cukup jauh dengan iblis yang tengah mengamuk itu.
Perintah memang telah diturunkan, tetapi para kesatria dan menteri yang tersisa merasakan tubuh mereka tak dapat digerakkan. Meski mereka memaksanya, tetap sangat sulit. Sejengkal pun kaki mereka tak dapat menjejak.
Mahawira kembali melangkah ke arah Camelia sedang berbaring sambil terbatuk-batuk memuntahkan cairan merah. Pakaiannya yang putih bersih telah ternodai oleh darahnya sendiri. Wajahnya yang putih mulus, luka-luka.
"Sekarang katakan padaku, Camelia. Bagaimana cara mengembalikan Cornelia ke tubuhnya."
Camelia menggeleng-geleng takut. Mencoba bangkit pun ia tak mampu.
"Nah, Camelia. Katakan padaku cepat!" Suara Mahawira menggelegar bak guntur. Api yang menyelimuti dirinya menyebar, lalu perlahan membakar bagian istana yang terbuat dari kayu.
"Api! Woi! Apa yang kalian tunggu?! Cepat, padamkan apinya!" titah Raja Simaseba panik.
Para pengawal bergerak mengambil air yang dikumpulkan dalam sebuah gentong. Namun, Mahawira kembali berteriak memekakkan sehingga api miliknya kembali menyebar, jauh lebih besar, lebih besar, bergejolak dan menghanguskan beberapa pengawal.
"Camelia! Jawab pertanyaanku!"
"A-aku ... aku ... t-tidak tahu ...."
Saking takutnya, Camelia pun meneteskan air mata. Sebenarnya ia tak takut dengan kematian, hanya saja menatap wajah Mahawira bagaikan menatap sosok iblis yang diceritakan dalam sebuah buku kuno. Iblis Kebencian, sebuah legenda kuno yang tak diketahui penulisnya. Namun, Camelia pernah mendengar cerita itu dari penasehat kerajaan.
Iblis Kebencian dijelaskan sebagai sosok yang bermartabat tinggi. Matanya menyala api, giginya bertaring, tubuhnya dikelilingi oleh api, serta tanduknya mirip seperti tanduk seekor naga.
Mendengar jawaban Camelia, Mahawira pun melompat ke tengah-tengah halaman, lalu berteriak sekuat tenaga menyebarkan api kebenciannya hingga membakar separuh bangunan istana.
Raja Simaseba dan Camelia dibawa oleh para pengawal keluar dari istana demi keselamatan. Sementara Ganandra yang telah sadar, kini membuka matanya, melihat keadaan Istana Simaseba yang sebagiannya berubah menjadi abu.
"Tidak ... mungkin ...." Ganandra tergelak, lalu matanya beralih ke sosok Mahawira yang sedang bertekuk lutut sambil tertunduk. Api di tubuh pria itu perlahan-lahan mengecil.
__ADS_1
"Mahawira ..., siapa kau sebenarnya?"
------------------