
Artefak berlambang naga diletakkan di sisi gagang pedang oleh Ki Cakra. Sinar memancar beberapa saat kemudian, terlihat seperti nyala api yang menyebar ke seluruh pedang itu, memberikan energi positif sebagai tanda bahwa pedang menerimanya. Tuan Mahawira terkagum melihat pedang itu menyala, lalu melesat terbang cukup tinggi.
Sama seperti Tuan Mahawira, aku terkagum bahkan tak dapat berkomentar apa pun melihat pedang itu terbang dengan sendirinya.
Tak lama kemudian, pedang kembali dengan posisi runcingnya berada di bagian bawah, lalu menancap pada sebuah batu besar di dekat sungai tempat kami berada.
"Nah, sekarang cabutlah pedang itu. Jika memang sudah waktunya, maka kau akan berhasil mencabut pedangnya." Ki Cakra menjelaskan.
"Lalu, jika aku gagal?" Tuan Mahawira bertanya.
"Artinya kau belum cukup mampu. Kemampuanmu masih kurang dan harus lebih dilatih lagi. Bisa atau tidaknya kau mencabut pedang itu adalah bukti kepantasanmu menerima kekuatan dari artefak naga."
Tuan Mahawira terlihat sangat antusias, tentu saja. Tuanku itu sangat menyukai sesuatu yang berbau tantangan. Jelas-jelas Ki Cakra seolah menantang pria itu untuk mencabut pedangnya.
"Baiklah." Tuan Mahawira melangkah menuju pedang yang tertancap, aku mengikuti di belakang.
Setelah naik ke batu itu, ia terlihat mengambil napas, mencoba mengumpulkan energi alam dan menyatukan dengan jiwanya.
"Ingat yang kuajarkan padamu? Energi alam adalah segalanya. Kau harus bisa setidaknya mengambil sedikit energi dari alam ini."
Tuan Mahawira mengangguk tanda mengerti.
Ia pun menggenggam gagang pedang. Sebelum mulai mencabut benda itu, Tuan Mahawira memejamkan kedua mata.
Dalam hati, aku berdoa untuknya. Aku berharap Tuan Mahawira bisa mencabut pedang itu dan mencapai kekuatan tertingginya sehingga kami bisa lebih cepat berangkat ke Kerajaan Simaseba, lalu membalaskan dendam, menyelamatkan Paduka Raja, kemudian mengalahkan Baltra.
Tuan Mahawira mulai mengeluarkan seluruh tenaganya. Namun, sedikit pun pedang tak bergerak. Pria itu bercucur keringat, tetapi ia tidak menyerah. Kembali ia coba mencabut pedang dengan tenaga lebih.
Tuan Mahawira terengah-engah. "Berat sekali. Aku yakin bisa mencabut pedangnya, tetapi rasanya seperti ada yang menarik pedang ini."
"Jangan banyak bicara, Mahawira. Cabutlah pedangnya, maka kekuatanmu akan bertambah luar biasa. Kau akan bisa mengendalikan jurus Napas Naga yang aku ajarkan padamu dengan mudah."
"Baiklah."
Kembali Tuan Mahawira mencobanya, tetapi ia masih tampak kesulitan. Aku yang memperhatikan saja tidak sedikit pun melihat pedangnya bergerak.
"Tuan Mahawira! Kau pasti bisa!" kataku coba menyemangati.
Siapa tahu saja dengan semangat dariku, itu bisa membuat tenaganya bertambah. Cinta bisa melakukan apa saja. Itu yang aku percaya.
"Tuan! Jika kau tidak bisa mencabut pedangnya, aku tidak akan menikah denganmu. Kalau kau bisa mencabut pedangnya, akan kuberikan sesuatu yang kau inginkan," tandasku.
Akhirnya, aku mengatakan sesuatu yang jelas-jelas tidak akan bisa aku tepati. Namun, tentu saja aku berharap Tuan Mahawira menjadi tambah semangat.
"Kau serius dengan ucapanmu?" tanya pria itu kemudian.
"A-aku serius. Ya, ya. Aku sangat serius."
__ADS_1
"Kau akan memberikan sesuatu yang aku inginkan?" Kembali ia memastikan.
Aku mengangguk ragu.
"Meragukan. Kau harus berjanji dulu padaku." Pria itu malah tersenyum licik. Dia benar-benar menjadikan kesempatan ini untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
"A-aku janji."
Akhirnya, setelah mendengar itu, Tuan Mahawira tampak lebih bersemangat. Ia mencabut pedangnya dengan kekuatan yang lebih besar daripada sebelumnya. Aku pun melihat percikan-percikan api saat pedang itu tercabut dari batu secara perlahan. Api-api itu juga mengalir di lengan Tuan Mahawira.
Aku tercengang. Cinta memang bisa melakukan segalanya. Benar kata Tuan Mahawira. Aku turut bahagia, tetapi juga takut karena sebentar lagi dia pasti akan meminta sesuatu yang aneh padaku.
Tak lama kemudian, tenaga yang lebih besar sepertinya membalut tubuh Tuan Mahawira sehingga pedang tercabut sepenuhnya. Diangkatnya pedang itu dengan bangga, diarahkan lancipnya pada langit.
"Aku berhasil," kata pria itu dengan penuh kebanggaan.
"Selamat, Mahawira. Itu artinya, pedang itu menilaimu sudah pantas mendapatkan kekuatannya. Artefak itu juga menilaimu sudah cocok menggunakan energinya."
Tuan Mahawira tersenyum lebar. "Tentu saja. Aku akan menjadi kuat, lalu mengalahkan Baltra. Aku dan Cornelia akan bisa hidup dengan tenang. Benar, kan, Sayang?"
Aku bergeming.
-----------------
Aku mondar-mandir di depan ranjang sambil gelisah akan suatu hal.
Aduh, gimana ini? Dia pasti sebentar lagi akan datang ke kamar ini.
Aku segera menenangkan diri, mengambil napas panjang agar tidak terlalu resah memikirkan hal itu. Aku yakin Tuan Mahawira tidak akan meminta sesuatu yang aneh padaku.
"Baiklah, Cornelia! Aku datang menagih janjimu."
Tuan Mahawira tiba-tiba saja berada di depan pintu. Dan ... ia sama sekali tidak mengenakan pakaian. Dada bidangnya telanjang sehingga bisa kulihat otot-ototnya yang menyembul, urat-uratnya juga terlihat sangat seksi. Ya, Tuhan. Apa yang aku pikirkan?
Tuan Mahawira mendekatiku.
"J-jadi apa yang kau inginkan dariku, Tuan?"
"Aku menginginkan sesuatu yang sangat istimewa. Tidak, tidak. Bahkan ini bisa dikatakan adalah hal yang terlarang."
Tiba-tiba lidahku kelu. Dadanya berontak tak menentu. Rasanya hatiku ingin mencelos dari cangkangnya.
"S-sesuatu yang terlarang?"
"Ya, Cornelia." Tuan Mahawira berbisik di telingaku begitu tajam. Apalagi ia langsung melingkarkan kedua lengannya di pinggangku, lalu menarik tubuhku agar menempel padanya.
"T-tidakkah ini terlalu berlebihan, Tuan?" Aku mengalihkan pandangan.
__ADS_1
"Tidak, Cornelia. Kau sudah berjanji akan memenuhi apa pun yang aku inginkan, bukan? Lalu, aku meminta hal ini darimu. Aku ingin menikmati malam dengan dirimu yang cantik."
"M-maksud Tuan?"
Tuan Mahawira melepaskan lengannya. "Sekarang, rias dirimu dan tunjukkan aku wajahmu yang paling cantik."
"Tapi aku tidak punya alat rias, Tuan."
"Tentu saja aku memilikinya."
Pria itu keluar, lalu kembali dengan membawa seperangkat alat rias. Benar saja, dari mana dia mendapatkan alat-alat milik seorang perempuan?
"Ayo, kau rias wajahmu. Tunjukkan aku wajah paling cantik dan biarkan aku menikmatimu."
Tanpa menolak karena memang tidak akan bisa ditolak, aku pun melaksanakan perintah tuanku. Kuambil alat-alat rias, sambil bercermin kupoles wajahku perlahan-lahan.
Sementara itu, Tuan Mahawira berbaring di ranjang, menanti diriku selesai memoles wajah.
"Aku sudah tidak sabar," kata pria itu.
Aku benar-benar sebal. Kenapa dia harus meminta hal seperti merias wajah? Aku bahkan tidak pernah merias wajahku, kecuali saat diam-diam dan tidak ada orang yang tahu.
Tak lama kemudian, aku pun sudah selesai. Kutaruh kembali semua alat di wadahnya.
"Aku sudah selesai."
"Tunjukkan padaku," perintahnya.
Aku berbalik badan perlahan. Setelah tepat menghadap Tuan Mahawira, ia bergeming, menatap padaku dengan lamat.
"Kemarilah, Cornelia."
Aku mendekati tuanku, lalu duduk di sebelahnya.
Ia masih memandangku dengan takjub. "Aku tidak menyangka, kau sangat cantik. Sangat, sangat, sangat cantik."
Dielusnya wajahku pelan, lalu naik ke kepala. "Aku ... ingin menikmati malam ini bersamamu."
Aku tidak mengerti sama sekali dengan permintaan tuanku. "Menikmati malam" yang dimaksudnya itu bisa membuatku salah mengartikan.
"Kau tidak mengerti? Baiklah. Menikmati malam maksudku adalah ... tidurlah bersamaku."
Tuan Mahawira mendorong tubuhku hingga roboh di ranjang. Ia memandangku kemudian sambil berbaring.
"T-Tuan ...."
"Tidak apa-apa," katanya berbisik.
__ADS_1
------------------
Ayo, dong vote biar kagak malas up ....