Tuan, Jangan Sakiti Aku!

Tuan, Jangan Sakiti Aku!
Lingkaran Kasih Sayang


__ADS_3

Kilatan bara api sesekali memercik di sekitar Mahawira. Bara api itu seolah petir yang mengamuk, melintas begitu cepat mengitari dirinya. Sinarnya membentuk lingkaran yang menyilaukan. Mahawira beringsut mundur, lalu berhenti seketika. Dalam waktu yang cukup singkat, sinar itu lenyap seketika. Namun, Cornelia yang dilihatnya berbaring lemah telah sirna pula. Ke mana perginya gadis yang dicintai Mahawira?


"Cornelia?! Cornelia! Di mana kau?!" teriak pria itu sambil mengedarkan bola mata ke sekeliling. Yang matanya tangkap hanyalah gelap yang pekat.


Tak lama kemudian, dia dikejutkan oleh erangan yang sayup-sayup menghampiri telinga. Walau begitu, pria tersebut mengenali suara erangan itu. Naga Api.


Mahawira mengepal tangannya begitu kuat, lalu menggertakkan giginya sebagai tanda emosi telah menggebu, menggedor-gedor di kedalaman kalbu.


"Naga Api! Apa-apaan ini?!" teriaknya.


Naga tersebut pun menghadirkan dirinya di hadapan Mahawira. Dia bagai semut di hadapan makhluk itu. Badannya panjang, matanya menyala api. Dia seperti Mahawira yang sedang dilanda amarah.


Pria tersebut tidak gentar. Meski sedang menghadapi seekor makhluk raksasa mengerikan, dia sama sekali tak menunjukkan ekspresi takut.


"Apa-apaan ini, Naga Api? Ini tidak seperti kesepakatan kita."


Naga Api tertawa menggema. "Tentu saja ini bagian dari kesepakatan kita, Mahawira. Sebelum kau bisa membangunkan gadis itu, ada sebuah ritual yang harus kau jalani. Kita akan menjalin kontrak keabadian agar aku tidak tersisihkan sebagai bagian dari dirimu," jelas sang naga.


"Picik. Biarkan aku bertemu Cornelia. Baru setelah itu aku akan melakukan ritual seperti yang kau katakan."


Suasana hening. Sang naga sepertinya sedang berpikir apakah akan menerima tawaran Mahawira atau tidak. Namun, tidak ada sesuatu yang semestinya dia ragukan. Sebab jika berada di ruang hampa, hanya dialah yang bisa mengirim Mahawira ataupun gadis itu ke dunia nyata.


Naga itu mengembuskan napas, mengeluarkan percikan-percikan api melalui lubang hidungnya yang besar.

__ADS_1


"Baiklah. Akan aku terima tawaranmu. Satu hal yang harus kau ketahui, Mahawira bahwa kau tidak akan bisa keluar dari ruang hampa ini kecuali dengan bantuanku."


Setelahnya, sang naga pun lenyap. Cornelia kembali muncul di hadapan Mahawira. Dengan dada yang berdebar, pria itu meraih sang gadis. Pertama-tama, dia mengelus wajah Cornelia dengan begitu lembut. Kerinduan itu seolah gugur, bagai daun pohon di musim gugur yang beterbangan, sirna, lenyap, melayang terbang entah ke mana singgah.


"C-Cornelia, sayangku." Mahawira mengeluarkan cairan bening dari maniknya. Itu adalah air mata ketulusan, kerinduan, serta kesengsaraan yang selama ini dia alami selama sang gadis tak pernah hadir di sisinya.


Saat setitik air mata Mahawira menitik di wajah Cornelia, dia membuka mata perlahan-lahan, lalu menatap wajah Mahawira dengan lamat. Raut wajahnya mengatakan sesuatu seolah tidak percaya bahwa orang yang sangat dia harapkan ada di depannya kini.


"Tuan ... Mahawira. Apa aku sedang bermimpi?" tanyanya. Pertanyaan itu bukan diajukan untuk sang pria, melainkan kepada dirinya sendiri.


"Ini aku, Cornelia. Ya, ini aku. Ini aku Mahawira."


Segera lelaki itu menyentuhkan keningnya dengan kening mulus Cornelia. Bibir mereka hanya berjarak satu sentimeter. Bahkan napas Cornelia begitu jelas dia rasakan mengembus. Sebuah kerinduan mendorongnya untuk melakukan sesuatu yang menghadirkan sejuta rasa. Cornelia merespons rasa yang Mahawira alami sehingga membuka mulutnya dengan penuh ketulusan. Akhirnya, mereka lagi-lagi menyatu dalam lingkaran suci kasih sayang.


Bibir mereka menyatu, melekat. Mahawira melumatnya seolah tidak ingin membiarkan bibir tipis nan lembut itu jauh darinya. Dia menahannya, mencengkeram leher Cornelia dengan begitu erat. Mereka bertukar saliva hingga tak ada lagi yang bisa dilakukan selain terbuai pada rasa yang menggebu.


Ditatapnya Mahawira oleh Cornelia. Dada keduanya kembang-kempis. Napas menderu hebat tak dapat menahan hasrat yang membludak bagai bom jika tak dilepaskan dengan segera.


"Tuanku, maafkan aku. Aku telah berdosa meninggalkanmu sendiri. Aku tak dapat memaafkan diriku sendiri karena telah membiarkan kau diselimuti kerinduan. Tapi, tahukah kau? Rindu-rindu iti kini seolah berkurang dari botol cinta kita. Namun, lambat laun dia akan terisi kembali."


"Cornelia. Terimalah cintaku. Aku sangat mengharapkan cintamu selalu hadir di sisiku. Aku ingin kau selalu menemani hari-hariku. Aku tak peduli kau bukan putri atau orang dari bangsawan. Yang lebih penting adalah cinta yang kita bina." Dielusnya kedua pipi sang gadis oleh Mahawira. Tatapan mereka berbinar-binar, seolah cahaya masuk ke sana dan berpijar.


"Tuan. Aku bersedia menerima cintamu. Bahkan sebelum kau mengatakannya kepadaku, aku telah menerimanya dengan sangat tulus. Maafkan aku yang selalu berbicara mengenai batasan kita. Aku kini paham bahwa dalam percintaan, tak ada batasan. Tuanku, aku mohon terima cintaku."

__ADS_1


"Cornelia."


Setelah itu, mereka kembali menyatukan kasih dengan melepas hasrat yang telah terisi penuh. Mereka mengurangi botol kasih sayang itu, lalu dengan sendirinya akan terisi penuh kembali.


Cornelia melingkarkan kedua tangannya di leher Mahawira. Sang pria mencengkeram pinggang Cornelia. Mereka jatuh dalam lubang asmara yang obatnya hanya ditemukan dalam penyatuan kasih dan sayang.


------------------


Semua berakhir begitu singkat. Hasrat itu telah mereka lenyapkan. Meskipun tidak sampai menghilangkannya secara total, sebab akan kembali nanti setelah satu sama lain saling mendambakan. Cornelia berbaring di pangkuan Mahawira, tersenyum, kadang tertawa saat Mahawira menceritakan sesuatu yang menarik dan lucu. Sementara itu, sang lelaki terus bercerita sambil mengelus lembut rambut sang kekasih.


Momen yang sempurna untuk suasana hati yang sempurna. Dalam pikiran masing-masing hanya ada ungkapan syukur yang mereka panjatkan pada Sang Pemilik Hidup yang telah mempertemukan mereka dalam cinta dan sayang.


"Cornelia. Sampai saat ini, aku belum menyangka diriku bisa jatuh cinta padamu. Setiap malam, aku selalu terpikir tentangmu. Wajahmu sangat sulit pikiranku lupakan. Dulu, saat di istana, aku selalu curi-curi kesempatan untuk setidaknya melihat ke arah matamu yang cantik itu. Aku selalu memperhatikanmu dari kejauhan, memperhatikan dirimu tumbuh, lalu kita tumbuh bersama di tempat yang sama. Dari saat itu, aku mulai berpikir bahwa kita akan berakhir di tempat yang sama. Berdua."


Saat Mahawira mendongakkan kepala sambil terpejam, dia tiba-tiba merasakan Cornelia telah hilang. Tangannya tak lagi merasakan kulit lembut atau rambut sang kekasih. Dia pun membuka matanya secara cepat. Mahawira mendapati Cornelia tak lagi hadir di kedua bola matanya.


"Cornelia!"


"Mahawira! Waktumu telah habis!"


Sang naga muncul di hadapan lelaki itu dengan tatapan yang mengintimidasi.


"Naga sialan!"

__ADS_1


--------------


Note: maaf lama update. Saya sebenarnya agak sibuk. Tapi setelah membaca komen-komen yang masuk, saya putuskan update walaupun sedikit di waktu yang sangat terbatas. Sekali lagi maaf untuk para pembaca.


__ADS_2