Tuan, Jangan Sakiti Aku!

Tuan, Jangan Sakiti Aku!
Keteguhan Hati Mahawira


__ADS_3

Mahawira memasuki rumah tempat Cornelia dan tiga lelaki itu bernaung menunggunya kembali membawa kabar gembira. Aksa yang sedang membuat sesuatu dari anyaman bambu di luar rumah langsung semringah melihatnya dan menghentikan aktivitasnya.


Meski begitu, Mahawira tidak berniat menyapa pria itu dan langsung masuk ke kamar Cornelia. Tak ada perubahan. Cornelia masih tetap berbaring lemah dengan segala kebisuan yang membuat Mahawira benar-benar muak dengannya.


Lelaki itu masih tidak yakin untuk menggunakan metode dari Naga Api demi membangkitkan sang kekasih. Jika benar itu akan menghidupkan kembali Cornelia, maka pasti dia yang akan menanggung segala risikonya. Lagi pula, Mahawira pernah berkata bahwa berkorban adalah bagian dari cinta itu sendiri. Akan tetapi, kenapa dia masih ragu untuk mengorbankan sedikit dari unsur kehidupan bahkan seluruh hidupnya?


Saat Mahawira termenung dengan segala pikiran negatif, Birendra dan Kalandra datang menghampirinya secara hening. Dua lelaki itu berdiri di belakang Mahawira.


“Akhirnya kau kembali, Mahawira. Apa saja yang terjadi selama kau pergi?” Kalandra angkat bertanya.


Cukup lama Mahawira terdiam hanya untuk menjawab pertanyaan dari Kalandra. Dia memang berniat untuk menceritakan mengenai saudara mereka, tetapi sepertinya bukan waktu yang tepat. Yang jauh lebih penting bagi Mahawira adalah keselamatan Cornelia.


“Aku akan menjawab semua pertanyaan kalian nanti.” Sangat datar nada bicaranya. Kedua lelaki di belakangnya pun mengambil kesimpulan bahwa Mahawira sedang dikecewakan oleh sesuatu yang dia alami saat pergi ke Istana Simaseba.


Birendra dan Kalandra mengembuskan napas panjang dan memilih diam menuruti apa yang dikatakan Mahawira.


“Aku harus memilih. Aku bisa menyelamatkan Cornelia, tapi akan memiliki risiko yang sangat besar untukku sendiri.”


“Aku tidak dapat mengatakan apa pun, Mahawira. Semuanya aku serahkan padamu. Lagi pula, kau sendiri yang bisa memutuskan dan menyelamatkan Cornelia, sebab dia telah memilihmu sebagai kekasih hati yang akan selalu dia perjuangkan.” Birendra maju selangkah sehingga posisinya sejajar dengan Mahawira sambil menyaksikan Cornelia yang hanya bisa mengembuskan napas serta menghela.


“Bahkan terlalu bahaya untuk diriku sendiri. Kemungkinan terbesar yang bisa terjadi adalah bahwa aku tidak akan bisa bertemu Cornelia lagi.”


Birendra dan Kalandra mengernyit. Keduanya mungkin belum paham maksud penjelasan Mahawira. Memang metode pengobatan apa yang akan digunakan oleh Mahawira sehingga berisiko sangat tinggi sehingga dia meramalkan dirinya sendiri untuk tidak dapat bertemu lagi dengan Cornelia. Sungguh sesuatu yang di luar dugaan.


“Aku penasaran, Mahawira. Memangnya metode apa yang akan kau gunakan untuk menyembuhkan Cornelia? Apakah itu sesuatu yang bisa merenggut nyawamu sendiri?” Kalandra sepertinya tidak dapat membendung rasa penasaran yang telah memuncak di dalam benaknya.

__ADS_1


“Ya. Kemungkinan seperti kematian itu bisa terjadi. Lagi pula, aku tidak dapat memercayai sepenuhnya apa yang dikatakan oleh Naga Api di dalam diriku ini.”


“Naga Api?” Mendengar penjelasan Mahawira, napas Kalandra jadi agak berat.


Kedua pangeran itu semestinya sudah tahu bahwa di dalam diri Mahawira hidup seekor naga yang disebutnya sebagai Naga Api. Akan tetapi, mereka tidak pernah menduga sebelumnya bahwa lelaki itu dapat berkomunikasi dengan sang naga.


Di zaman ini, bukan sesuatu yang aneh jika di dalam diri setiap manusia memiliki masing-masing kekuatan dengan berbagai simbol. Yang membuat Kalandra sulit percaya adalah bahwa Mahawira dapat berbicara dengan hewan jelmaan di dalam dirinya itu.


“Memangnya apa yang dia katakan padamu, Mahawira?”


“Aku harus menerimanya sebagai sumber kekuatan utama bagi diriku. Itu adalah syarat mutlak agar dia menyelamatkan Cornelia untukku.”


“Tidak banyak yang dapat aku katakan soal itu, Mahawira. Aku hanya bisa mengatakan padamu untuk tidak terseret terlalu jauh dengan apa yang dikatakan oleh Naga Api itu padamu.”


“Aku juga sama. Aku tidak dapat mengatakan apa pun. Meski begitu, aku sangat percaya kau bukan seseorang yang mudah dikalahkan oleh hal apa pun.” Birendra menimpali dengan senyum yang merekah.


Namun, perasaannya yang menggebu kepada Cornelia itulah yang menjadi landasan utama mengapa Mahawira menolak pernikahan konyol yang dilakukan atas kepentingan politik semata. Hingga saat ini, Mahawira betapa sadar bahwa Cornelia-lah yang telah membebaskan hidupnya dari segala aturan yang mengekang di dalam istana. Cornelia adalah satu-satunya gadis yang selalu menemani Mahawira dalam setiap momen apa pun.


Jika memikirkan hal itu, mata Mahawira pasti selalu diselimuti oleh bulir-bulir air mata yang siap menghunjam batinnya dalam kurun waktu yang singkat. Kini, dia harus membulatkan tekad untuk memilih. Ingin menyelamatkan Cornelia dengan risiko yang sangat besar ataukah berdiam diri melihat sang kekasih terbaring tanpa daya di atas ranjang itu dengan wajah yang datar.


Itu benar-benar tidak elegan. Benar-benar tidak anggun dan semakin hari membuat lubang di kedalaman hatinya semakin besar.


Mahawira mengambil napas dalam-dalam sebelum mulai angkat bicara pada dua kawannya.


“Aku akan melakukannya. Jika terjadi sesuatu padaku atau Cornelia, pastikan kalian melakukan sesuatu. Jika aku melakukan hal yang merusak, kuharap kalian mengambil tindakan yang serius. Jangan pernah sungkan. Jangan biarkan aku menjadi iblis yang menutup hatiku secara penuh.”

__ADS_1


Terpaksa Mahawira harus mengatakannya karena itu adalah cara satu-satunya untuk menyelamatkan Cornelia. Dia tidak ingin tindakan seorang iblis dapat melukai hati Cornelia ketika dia bangun nanti. Memang, itu adalah keputusan tepat baginya.


Kalandra dan Birendra menggeleng pelan seolah tidak sanggup akan melakukan sesuatu seperti yang Mahawira katakan.


“Kami tidak akan bisa melakukan—“


“Kalian harus melakukannya demi diriku dan Cornelia.”


Lamat Mahawira menatap dua kawannya secara bergantian. Meski begitu, Kalandra dan Birendra langsung menundukkan kepala.


Diangkatnya tangan dan diletakkan di atas bahu dua kawannya, Mahawira berkata dengan mengulas senyum.


“Aku percaya dengan kalian berdua. Aku sangat mempercayai kalian. Jika pada akhirnya aku akan tiada di dunia ini, kalianlah yang akan bertugas untuk menjaga Cornelia.”


Kalandra menggeleng sebagai tanda ketidaksetujuannya pada perkataan Mahawira yang seolah akan pergi jauh setelah Cornelia dapat terbangun kembali.


“Apa kalian ingat? Kalian juga punya setitik rasa pada Cornelia. Aku harap itu menjadi hal yang membuat kalian termotivasi untuk melakukan pengorbanan demi dirinya. Cornelia butuh diriku, tetapi setelah itu dia akan membutuhkan kalian.”


Mahawira dengan hati yang mantap menurunkan tangannya, lalu duduk bersila di sisi ranjang Cornelia. Dipejamkannya kedua mata, bersamaan dengan penyatuan tangan dari atas hingga terhenti di depan dada.


Mahawira mulai mengaktifkan energi Naga Api pada dirinya untuk dialirkan ke Cornelia. Setelah selesai, dia buka matanya dan mencumbu Cornelia dengan hangat sambil berniat untuk masuk ke dalam ruang hampa tempat gadis itu terjebak.


Setelah jiwanya pergi ke alam yang tidak pernah Mahawira kunjungi, tubuhnya lemas, lalu berbaring dengan lemas di atas tubuh sang gadis. Kalandra dan Birendra mengatur posisi tubuh kawannya itu sehingga berada di samping Cornelia.


Sementara itu, Mahawira di alam yang dia tuju telah membuka matanya, lalu melihat Cornelia sedang terbaring lemah di ruang hampa yang serba putih.

__ADS_1


“Cornelia!”


---------


__ADS_2