
“Terima kasih sudah datang menyelamatkanku dan para prajurit, Mahawira. Aku tidak tahu lagi siapa yang akan menyelamatkan kami dari penjara ini selain kau, anakku.”
Mahawira membungkuk hormat kepada Raja Batra—ayahnya sendiri—yang baru saja ia keluarkan dari penjara bawah tanah di Istana Simaseba. Kini, semua prajurit telah bebas bersama raja mereka.
“Aku berjanji akan membalas dendam dengan apa yang sudah dilakukan oleh Simaseba padaku dan prajurit Rosalia. Aku berjanji pasti akan membalasnya.” Tatapan Batra menajam, menyiratkan sebuah kebencian yang mendalam.
“Tidak perlu, Yang Mulia. Akulah yang akan membalaskan dendam kalian semua. Kalian tidak perlu ikut campur.” Mahawira mengembuskan napas panjang. Sorot matanya tak kalah tajam dan menyiratkan kebencian.
“Baiklah. Aku hanya akan membantumu untuk mengurus siapa saja yang berani menghalangi jalanmu.”
Mahawira mengangguk. “Kalau begitu, Yang Mulia dan semua prajurit pulanglah. Jika aku menghadapi kesulitan, aku akan pulang dan meminta bantuan Yang Mulia.”
Sang raja pun menunggangi kuda yang disiapkan Mahawira beberapa waktu lalu. Sementara itu, para prajurit berjalan mengawalnya.
Setelah ini, Mahawira belum punya rencana apa pun. Yang jelas, dia hanya fokus untuk menyelamatkan Cornelia dan kembali membangunkannya. Meski begitu, sesuai apa yang dikatakan Ganandra, hanya Baltra-lah yang bisa membangunkan Cornelia dari tidur panjangnya. Jika ada cara lain, Mahawira pasti akan melakukan apa pun.
Mahawira pun meninggalkan Istana Simaseba dan kembali ke pedesaan untuk memastikan keadaan Cornelia beserta para sahabatnya.
Masih teringat sangat jelas bagaimana wajah Cornelia yang begitu sedih saat Mahawira bertemu dengannya di dalam mimpi. Maka, jelas pula bahwa Cornelia rindu padanya. Meskipun mimpi, sensasi saat Cornelia mencium maupun memeluknya begitu nyata.
Sambil berjalan, Mahawira membayangkan betapa rindu Cornelia. Saat Mahawira berjuang untuk membangunkannya, Cornelia juga di sana sedang bertarung dengan kerinduan. Betapa Mahawira terenyuh membayangkan Cornelia yang ditelungkup rasa sepi tanpa seorang pun manusia berada di sana berbicara dengannya.
Cukup jauh melangkah, Mahawira merasa sangat lelah. Dia sebenarnya berniat untuk mencari kuda sebagai tunggangan, sayangnya kuda-kuda berlari entah ke mana saat terjadi kebakaran di Istana Simaseba. Karena itu, ia terpaksa juga harus berjalan kaki tanpa air minum yang dapat melegakan tenggorokan karena berjalan seharian.
Mahawira memutuskan istirahat, lalu bersandar pada batang pohon di sepanjang jalan.
“Cornelia. Aku berjanji setelah kau bangun dari tidur panjang itu, aku akan langsung menikahimu. Aku tidak akan menundanya lagi. Kita sudah mendapatkan restu dari ayahku,” gumam Mahawira sambil menengadah pada langit yang perlahan membawa kegelapan.
“Sepertinya mau hujan. Di sekitar sini tidak ada pedesaan. Mungkin aku akan kehujanan. Baiklah.”
Mahawira kembali bangkit dan melanjutkan perjalanannya. Setelah tiba di desa nanti, Mahawira sudah berniat untuk menceritakan apa yang sudah diketahuinya selama berada di Istana Simaseba kepada Kalandra dan Birendra, termasuk tentang pengkhianatan Ganandra.
Tak lama kemudian, bulir-bulir hujan mengguyur Mahawira; lebat bercampur angin yang kencang hampir membawa tubuhnya melayang.
“Sialan! Kenapa aku harus merasakan hal seperti ini?!” Mahawira berpegangan di batang pohon, sedangkan angin makin mengamuk.
Mahawira terperangah tatkala dua pohon menjulang di hadapannya roboh oleh kekuatan angin. Mahawira tidak bisa terus-menerus bertahan memegang pohon. Dia pun melepaskan pohon dan meneguhkan pijakan, fokus membawa beban tubuh ke kakinya. Namun, selangkah pun terasa sangat berat. Mahawira mungkin harus menyerah.
__ADS_1
Sang pangeran tak kehabisan akal, lantas mencabut pedang di pinggang, lalu ditancapkan pada tanah dan berpegangan. Mahawira menunduk.
Karena posisinya itu, Mahawira tidak menyaksikan sebuah pohon sedang melesat ke arahnya karena arah mata angin. Namun, buru-buru Mahawira mencabut pedang dan melompati batang pohon. Dia memang berhasil melewati pohon, tetapi sayangnya ia pun diterbangkan oleh angin, entah ke mana.
----------------
“Aku ... di mana?”
Kenyataan bahwa Mahawira lagi-lagi berada di sebuah kegelapan. Namun, perlahan-lahan matanya beradaptasi dengan gelap yang menyelimuti. Walau begitu, ia tetap saja mencari keberadaan dirinya yang tak lagi dapat dirasa.
Sebuah bariton yang sangat berat tertawa bergelak memekakkan telinga sang pangeran. Suara itu sudah tak asing lagi baginya. Itu pasti suara Naga Api dan dia berada di sebuah ruang tempat makhluk itu bersemayam.
“Kenapa aku di sini?”
Dalam hitungan detik, Naga Api muncul dengan kepala terbakar di depan wajah Mahawira. Karena sang pangeran terkejut, Naga Api itu kembali tertawa. Seolah-olah kekagetan Mahawira adalah hiburan baginya.
“Kenapa kau menertawaiku?! Naga Api jelek!” tandas Mahawira sambil mengepal tangannya.
“Aku tahu kau sedang mencari cara untuk membangkitkan kembali kekasihmu.”
“Lalu? Memangnya itu penting bagimu?”
“Apa maksudmu, Naga Jelek?!” Mahawira menggertakkan gigi.
“Aku ... tahu bagaimana cara untuk membangunkan kekasihmu dari tidur panjangnya.”
Mahawira tak terkejut. Dia berpikir sang naga bisa saja membohonginya. Lalu, kalau itu benar, kenapa sang naga tidak mengatakannya pada Mahawira sedari awal? Ini benar-benar aneh.
“Oh, kau tidak percaya padaku? Baiklah, tidak apa-apa. Kau boleh memilih. Apa kau ingin kekasihmu kembali hidup dan menemani dirimu seperti sedia kala ataukah ingin dia selamanya berbaring dalam ketidakberdayaan. Pilihlah.”
Mahawira menduga sang naga menginginkan sesuatu darinya. Oleh itu, mungkin saja ia ingin memanfaatkan sang pangeran dengan keadaannya yang sekarang.
“Apa sebenarnya maumu? Dan tujuanmu apa?”
“Kau pilih saja dulu. Jika kau ingin kekasihmu bangun dari tidur panjang, aku akan memberitahumu caranya. Kau pikir hanya Baltra yang tahu cara menarik seseorang dari ruang hampa? Asal kau tahu, aku juga bisa melakukannya,” jelas sang naga yang kembali mengukir seringai.
Mahawira tampak berpikir. Tidak ada salahnya dia mendapat bantuan dari Naga Api untuk membantunya membangunkan Cornelia dari mimpi yang panjang.
__ADS_1
Setelah mengembuskan napas, Mahawira buka suara. “Baiklah. Aku ingin tahu. Bagaimana caranya?”
“Akhirnya, kau menyerah juga.”
“Cepat, katakan!” teriak Mahawira tak sabar ingin mengetahui caranya.
“Kau hanya perlu mencium bibirnya.”
Mahawira membelalak. Jika memang hanya itu yang harus dilakukan, berarti tidak cukup sulit untuk dilakukan. Setidaknya itu yang dipikirkan sang pangeran. Akan tetapi, sang naga belum selesai menjelaskan.
“Namun, bukan hanya itu. Tanpa kekuatan dariku, selama apa pun kau menciumnya, dia tidak akan pernah bangkit kembali. Menciumnya hanyalah salah satu syarat agar kekuatanku mengalir ke dalam tubuhnya, sehingga itu aku bisa menarik kekasihmu dari ruang hampa.”
Mahawira mengepal tangannya erat. Dia terlihat sangat geram kepada naga itu.
“Kenapa kau tidak mengatakannya lebih awal? Dengan begitu, aku tidak akan perlu ke Kerajaan Simaseba.”
“Bodoh. Tentu saja, ada syaratnya. Aku tidak akan melakukannya jika kau tidak bersedia menerimaku sepenuhnya.”
Mahawira mengernyit.
“Menerimamu? Apa maksudmu?”
“Mudah. Jika kau menerima diriku atau kekuatanku sepenuhnya, maka kau akan mempunyai tanda di sekitar wajahmu. Sebuah tanda hitam yang artinya kau telah menyatu denganku.”
“Lalu, apa yang akan terjadi padaku jika aku menerimamu sepenuhnya?”
“Tidak ada. Kau hanya perlu menerimaku sepenuhnya. Itu saja. Jika kau setuju, aku akan membantumu. Bukankah ini adalah tawaran yang sangat menguntungkan? Bukankah kau sudah sangat rindu dengan kekasihmu itu?”
Sebenarnya Mahawira menyadari bahwa gerak-gerik sang naga sangat mencurigakan. Tidak mungkin jika dia menerima kekuatan naga itu tidak akan memberikan efek pada dirinya. Walau begitu, Mahawira sangat menginginkan Cornelia bangun dari mimpi indahnya.
“Baiklah. Aku sangat setuju.”
Sang naga pun tertawa renyah.
“Kalau begitu, aku bisa memindahkanmu ke desa itu agar cepat tiba dan menemui kekasihmu.”
Mahawira mengangguk, lalu berkata, “Sudah saatnya kau bangkit, Sayangku.”
__ADS_1
-------------
Vote, ya, biar nggak malas up 6_6