Tuan, Jangan Sakiti Aku!

Tuan, Jangan Sakiti Aku!
Gelisah


__ADS_3

"Ibu, siapa namamu? Aku bahkan belum mengetahui namamu sama sekali."


"Nama ibu adalah Chandini Himeka. Jadi, nama Chandini dalam namamu ibu ambil dari nama ibu sendiri yang berarti cahaya bulan. Lihatlah, betapa cantik dirimu, Nak. Seperti indahnya cahaya rembulan. Kau akan selalu siap menerangi siapa saja," jelas Ibu sambil menyisir rambutku.


Aku mengangguk-anggukkan kepala. Aku baru saja mengetahui namaku yang sebenarnya. Jika nama Cornelia itu bukan pemberian dari Paduka Raja, berarti beliau punya keterkaitan dengan keluargaku. Hal ini memang sangat ganjil. Setahuku, Paduka Raja yang memberikan nama Cornelia padaku. Bahkan, beliau sendirilah yang mengatakannya.


"Apa benar Ibu tidak tahu sama sekali mengenai Kerajaan Rosalia?"


"Tidak. Ibu tidak tahu. Memangnya kenapa, Nak?" Ibu memelukku dari belakang.


"Setahuku ... Paduka Raja-lah yang memberikan nama Cornelia padaku. Tapi, jika namaku yang sebenarnya adalah Cornelia, berarti Paduka Raja memiliki keterkaitan dengan ayah."


Ibuku terdengar menarik napas panjang. "Ibu sama sekali tidak tahu apa pun mengenai Kerajaan Batalia milik ayahmu, Nak. Apalagi soal urusannya. Bahkan sejak kami menikah, ayahmu tidak pernah bercerita soal kerajaan beserta masalah-masalah yang ada. Sedangkan nama Cornelia itu ayahmu mengambilnya dari nama legenda seorang putri yang sangat baik hati. Arti Cornelia sendiri adalah penyelamat, Nak."


"Lalu ... kenapa Ayah begitu tega mengusir ibu dari kerajaan, bahkan membuangku?"


Perasaan sedih kembali hadir dalam benak. Aku belum bisa menerima seorang ayah begitu tega menelantarkan anaknya sendiri. Bahkan anak yang ia buang itu belum tentu berdosa.


"Entahlah, Nak. Dari yang ibu dengar, seorang peramal yang meminta ayahmu untuk membuang anak dan istrinya karena dikatakan akan membawa kesialan bagi istana. Itu pun ibu hanya mendengar gosip dari orang-orang."


"Tadi malam aku bermimpi, Bu. Mimpiku sangat buruk, dan aku sangat sulit mengingatnya."


"Mungkin Tuhan perlahan-lahan membuka kebenaran atas apa yang terjadi. Untuk saat ini, kau jangan memikirkan hal itu dulu. Bagaimana kalau kita bicara mengenai tuanmu yang tampan itu?"


Seketika aku tersipu begitu sang ibu mengalihkan pembicaraan pada Tuan Mahawira.


"Hmm? Kenapa? Kau malu membicarakannya?" goda ibuku.


"T-tidak. Siapa juga yang malu. Lagi pula, aku hanya pelayannya saja. Kami tidak punya hubungan istimewa apa pun."


"Siapa bilang kalian tidak punya hubungan istimewa? Jika setiap saat kau selalu bersamanya, itu artinya kalian sedang dalam hubungan yang istimewa. Kau tahu? Ibumu ini juga dulunya seperti itu dengan ayahmu. Ibu takut jika kau bernasib sama seperti ibumu ini. Apa kau sangat mempercayai pangeran itu?"


Aku terdiam atas pertanyaan sang ibu. Sangat berat memang untuk berkata jujur, tetapi ibuku merupakan pelayan yang pernah mengalami masa lalu pahit ketika menikah dengan seorang bangsawan.


Benar juga. Bagaimana jika aku dan Tuan Mahawira menikah, lalu punya anak, setelah itu ia membuang anak kami serta mengusirku seperti yang pernah ibuku alami. Ya, Tuhan. Aku tak sanggup memikirkan hal itu.


"Sepertinya tidak, Nak. Dari bola matanya, pria itu sangat baik dan bisa dipercaya. Hanya kaulah yang mengetahui bagaimana sifat tuanmu itu."


Aku mengangguk pelan kemudian. Mata menerawang sosok berwibawa itu.


----------------------


Setelah berhari-hari tinggal di gubuk sederhana ibuku, Tuan Mahawira tak kunjung datang seperti janjinya waktu itu. Aku sangat gelisah memikirkan tuanku. Segala pikiran buruk menghantui kepala tanpa bisa kuusir dengan kata-kata penenang.


Aduh, Tuan Mahawira! Ada apa denganmu? Kenapa sampai hari ini kau belum juga datang? Aku sangat ... sangat .... Ah! Aku tidak ingin menyebutkannya! Kau menyebalkan sekali, Tuan Mahawira!

__ADS_1


Berkali-kali aku keluar dan masuk, perasaan tak menentu.


Aku takut jika pada akhirnya Tuan Mahawira benar-benar menikah dengan putri congkak itu. Aku tidak rela! Sungguh tidak rela tuanku yang baik hati menikah dengan putri berhati busuk seperti dia.


Ya, Tuhan. Ampuni aku. Aku benar-benar tidak bisa menahan kegelisahan ini.


Untuk menghilangkan kegelisahan yang menghantui, aku keluar dari pekarangan dan memilih untuk berkeliling sambil melihat-lihat keadaan negeri ini. Tak lama berjalan, aku sampai di jalan utama yang cukup ramai.


Ada pengendara kuda, orang-orang yang berjalan kaki, serta pedagang-pedagang yang menjual berbagai macam tanaman serta makanan.


"Hei, Nona! Kau tidak ingin membeli bunga?!" tawar seorang pria paruh baya dengan janggut yang rimbun sambil mengacungkan bunga-bunga miliknya yang tampak segar.


"Tidak. Aku tidak sedang ingin membeli bunga," jawabku sambil menjauh dari pedagang itu.


Beberapa meter berjalan, lagi-lagi pedagang lainnya menawarkan sesuatu untukku.


"Hei, Nona Cantik! Apa kau ingin membeli sesuatu dari tokoku?"


"Tidak." Aku menggeleng cepat. Namun, pria kurus berambut keriting itu menggapai dan menarik tanganku.


"Nona, aku punya sesuatu yang cantik untukmu. Ikutlah bersamaku ke toko."


"Tidak! Lepaskan aku!"


Dasar! Orang gila!


Sepertinya aku berjalan terlalu jauh. Di ujung jalan yang aku tapaki, terlihat sebuah gerbang besar. Sepertinya pintu menuju pusat kota atau salah satu istana kerajaan negeri ini. Lantas, aku memutar badan untuk kembali saja ke gubuk ibuku.


Akan tetapi, saat berhasil membalik badan, seorang pria berjanggut lebat mengenakan mantel berwarna biru tua sambil menunggangi kuda, menatapku dengan lamat. Mata pria itu penuh selidik.


Jangan-jangan aku akan diculik lagi.


Segera aku melanjutkan perjalanan.


"Siapa namamu, Gadis?"


Langkahku terhenti seketika oleh suara berat pria itu. Entah mengapa telingaku sama sekali tidak asing mendengar suaranya.


Kubalikkan lagi badan, lalu menjawab, "Cornelia."


Pria itu seperti terkesiap setelah aku menyebutkan nama. Namun, sudahlah. Mungkin ia hanya kagum dengan namaku yang bagus.


"Hamba permisi," ucapku sambil membungkuk.


Dari penampilannya saja, sudah bisa kutebak pria itu adalah seseorang yang penting atau bahkan raja di negeri ini.

__ADS_1


"Tunggu, Cornelia."


Ia turun dari kuda berwarna cokelatnya, lalu menjejak lebih dekat ke arahku. Cukup membuat diriku khawatir.


Bagaimana tidak khawatir? Aku punya pengalaman buruk dengan orang asing seperti pria itu.


"Jangan takut," ucapnya. "Dari mana kau berasal?"


"Hamba? Oh, iya. Hamba bukanlah penduduk negeri ini. Hamba hanya kebetulan saja sedang mengembara dan singgah."


"Cornelia, nama yang bagus." Dihentikannya langkah beberapa meter dariku. Sepertinya ia memang bukan orang yang jahat.


"Namamu mengingatkan pada putri yang pernah aku miliki."


Dahiku mengernyit karena tiba-tiba saja sang pria menceritakan sesuatu yang tidak penting bagiku.


"Memang hal yang tidak penting bagimu, tetapi dengan mengatakan ini padamu, kau jadi tahu betapa indah dan berharganya namamu itu. Cornelia berarti perhiasan, juga berarti penyelamat. Tidak akan ada nama Cornelia di kerajaan mana pun di negeri ini, kecuali putriku dulu." Sang pria mengembuskan napas panjang. "Kalau saja dia masih hidup di dunia ini, dia pasti sudah sebesar dirimu."


Aku hanya bisa mengangguk mendengar penuturan pria yang sudah cukup berkeriput itu. Kala kutatap bola matanya, entah mengapa aku melihat sebuah kesedihan. Namun, ia tersenyum kemudian.


"Maaf, sudah menceritakan sesuatu yang tidak penting bagimu. Kalau begitu, aku akan kembali ke istana. Jagalah dirimu baik-baik, Nak."


Sang pria langsung menunggangi kudanya dan masuk melalui pintu raksasa menuju sebuah istana kerajaan.


Aku mengembuskan napas panjang. Aku berpikir, mungkin pria itu kehilangan putri yang sangat dicintai dan hari ini ia rindu kepadanya. Entahlah.


Baru saja aku akan mengangkat langkah, kedua mataku ditutup sepasang tangan dari belakang. Aku terkejut, bergeming.


"S-siapa?" tanyaku dengan napas tak beraturan. Mungkinkah seseorang mencoba untuk menculikku lagi?


"S-siapa?!" tanyaku lagi dengan nada sedikit tinggi.


Tak merespons, yang terdengar hanya deru napasnya.


"Jika kau rindu, pejamkanlah matamu sambil membayangkan aku ada di sampingmu. Maka, aku akan secepatnya datang menemuimu. Kita lepas rindu-rindu itu bersama-sama."


Jeda sejenak.


"Ternyata aku masih membutuhkan kehangatanmu, mentariku."


------------------


Jangan lupa like dan vote biar makin rajin update-nya, ya 😅 support selalu cerita ini.


Love you all ~

__ADS_1


__ADS_2