
"Tuan! Apa yang terjadi denganmu?!" tanyaku dengan khawatir sambil memapah tubuhnya hingga teras.
Kembali pria itu tersungkur.
"Tuan!"
"Kau ... masuklah! Jangan berada di sini," katanya dengan napas menderu.
"M-memangnya apa yang terjadi?!"
"Kau tidak perlu tahu. Cepatlah masuk!"
"Kalau begitu, kau juga harus masuk."
Dengan segera kupapah kembali tubuh tuanku yang tidak berdaya itu. Kedua matanya sayu, napasnya tersengal lelah. Darah berceceran di sekitar tubuhnya. Apalagi suhu tubuhnya meningkat drastis.
Dalam keadaan panik, aku mengambil air hangat yang tersisa pada ceret, lalu menuangkannya di sebuah bejana tanah liat.
Kubersihkan darah yang menempel di tubuh tuan tampanku itu menggunakan kain yang sudah dicelup pada air hangat.
"Ya, Tuhan. Sebenarnya apa yang terjadi?" tanyaku terus-menerus. Namun, Tuan Mahawira terus bungkam tak berkata-kata.
"Apa yang terjadi, Nak? Kenapa Pangeran terluka?!" Ibuku keluar dari kamarnya, lalu segera membantuku untuk mengobati Tuan Mahawira.
Beberapa saat setelahnya, ayahku juga muncul. Ia menatap Tuan Mahawira dengan lamat, lalu menjongkok dan memeriksa keadaan tubuh tuanku itu sambil memejamkan matanya.
"Pangeran diserang oleh orang-orang Baltra. Sebentar lagi, orang-orang itu juga akan kemari. Mereka sudah menemukan keberadaan kita," jelas sang ayah.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan, Ayah?!"
"Jangan panik. Aku yang akan melawannya. Kemungkinan besar Baltra tidak mengerahkan semua prajurit. Namun, hanya beberapa orang yang kemampuannya sudah tidak diragukan lagi."
"Tapi, keadaan Ayah belum sepenuhnya—"
"Kau tidak perlu khawatir. Pangeran sudah banyak membantu kita. Aku khususnya harus berterima kasih dan membalas budi padanya. Kebaikan hati ayahnya juga yang menyelamatkan dirimu, menjagamu hingga dewasa."
Tanpa bisa kuhentikan, ayahku keluar dari rumah dan menutup pintu rapat-rapat.
Ya, Tuhan. Sampai kapan kami akan dirundung rasa gelisah karena dikejar-kejar oleh Baltra?
Aku ingin sekali mengakhiri semuanya. Jika saja aku punya kekuatan luar biasa, aku pasti akan melenyapkan pria licik itu hingga tidak lagi mengganggu ketenangan kami. Dengan begitu, aku juga secepatnya bisa menikah dengan Tuan Mahawira.
Ah, kenapa di saat genting seperti ini aku malah memikirkan pernikahan dengan Tuan Mahawira? Tidak masuk akal!
Suara ayahku yang berbicara dengan seseorang terdengar jelas di telinga. Sepertinya orang yang melukai Tuan Mahawira sudah tiba. Tak lama kemudian, suara pedang berdenting, beradu, sesekali seseorang yang ayahku lawan menjerit kesakitan.
"Aku ... harus keluar dan ... m-membantu ayahmu," kata tuanku memaksakan diri bersuara.
__ADS_1
"Pangeran, kau tidak boleh keluar. Keadaanmu sangat parah. Diamlah di sini dan biarkan Cornelia merawatmu," timpal ibuku.
"Tidak bisa. Aku ... harus membantu. O-orang itu sangat kuat. Apalagi ... keadaan Raja Abirama belum sepenuhnya pulih."
"Yakinkan semuanya pada suamiku. Aku sangat percaya dia bisa mengalahkan orang itu." Sang ibu menatap Tuan Mahawira sambil tersenyum tipis.
"B-baiklah."
Pria itu memejamkan matanya, lalu terlelap.
"Cornelia, jaga dia. Ibu akan membuatkan obat untuk Pangeran."
Aku pun mengangguk, lalu Ibu masuk ke ruangan lainnya.
"Bertahanlah, Tuan. Aku tidak ingin kehilanganmu. Kita belum menikmati masa-masa yang akan membuat kita bahagia. Apa kau tega meninggalkanku dalam keadaan penuh cinta?" kataku berbicara seorang diri sambil menatap lamat wajah lemah tuanku.
Aku pernah merasa setakut ini saat kali pertama Tuan Mahawira sakit akibat serangan lawan. Dan sekarang, aku kembali dirundung ketakutan itu.
Saat tengah dibalut pikiran-pikiran buruk itu, tanganku terasa disentuh sesuatu. Aku sadar dari lamunan. Ternyata Tuan Mahawira yang memegang dan mengelus tanganku sambil tersenyum begitu pasrah. Tatapannya sangat teduh.
"Semua akan baik-baik saja. Yakinkan hatimu."
Aku pun mengangguk pelan.
"Bolehkah aku tidur di pangkuanmu?" tanya Tuan Mahawira. Aku pun dengan cepat menyetujuinya.
"Terima kasih sudah selalu ada untukku. Terima kasih. Terima kasih banyak."
Tuan Mahawira sepertinya langsung tertidur. Karena saat memegang tanganku, ia tak lagi mengelusnya.
-----------------
Pintu depan rumah berlubang, seorang pria menggelepar sambil memegangi dada. Mulutnya memuntahkan darah.
Aku bergeming saat seorang lelaki dengan rambut gondrong mengenakan ikat kepala menatapku dengan tajam. Ia membawa sebilah pedang yang cukup panjang.
Sementara itu, aku tidak terlalu mengkhawatirkan diriku, tetapi lebih mengkhawatirkan Tuan Mahawira yang masih dalam keadaan lemah.
Ayahku tersengal, tetapi ia kembali bangkit. Ia saling pandang dengan musuhnya itu. Sedetik kemudian, sang ayah melompat seolah tubuhnya begitu ringan. Pedangnya diacungkan tinggi-tinggi, lalu mengibaskannya.
Pria yang ayahku lawan sudah siap menerima serangan. Ia melawan pedang milik ayahku, dengan sengaja menebasnya hingga patah, lalu menendangnya hingga tergeletak di tanah.
"Ayah!" teriakku.
Ibuku berlari menuju sang ayah, tetapi pria jahat itu mendorongnya hingga tersungkur. Meski begitu, ibuku kembali bangkit dan berhasil tiba di tempat sang ayah.
Namun, sang pria menuju ke arahku. Saat tiba, aku hanya menatap kosong. Hawa keberadaan pria itu begitu kuat seolah mengintimidasi.
__ADS_1
Aku benar-benar merasa ketakutan dengan tatapannya yang begitu tajam.
Tak lama kemudian, digerakkannya pedang ke atas. Tentu saja, ia akan melakukan sesuatu padaku.
Aku benar-benar tidak bisa meninggalkan Tuan Mahawira. Bahkan untuk melawan pun rasanya begitu mustahil.
Akhirnya, aku pun pasrah menerima serangan pria itu. Kutundukkan kepala sambil terpejam.
Akan tetapi, tak ada yang terjadi beberapa detik kemudian. Karena penasaran, kubuka mata. Tahu-tahu, Tuan Mahawira menangkap benda mengilap milik pria itu menggunakan tangannya. Darah segar mengalir.
Tatapan Tuan Mahawira sangat berbeda. Bola matanya bergerak ke atas. Giginya membuat bunyi gemeletuk.
"Berani-beraninya kau ...."
"Hiyaaaaat!"
Tuan Mahawira melompat, masih sambil memegangi pedang milik sang pria. Saat mendarat, ia menendang musuhnya hingga terpental beberapa jarak.
Aku pikir tenaga lelaki itu sudah terkuras. Namun, sekarang dia malah mampu membuat musuhnya terkapar.
"Tidak akan kuampuni kau, Keparat!"
Kembali Tuan Mahawira melompat, ia mendarat di atas perut lawannya sehingga darah kembali bercucuran keluar.
Tuan Mahawira menendang musuhnya dengan tenaga penuh hingga terpental untuk kesekian kalinya. Tubuh pria itu terempas di pohon.
Saat melihatnya, ia seperti bukan Tuan Mahawira. Tatapan matanya begitu mengerikan. Aku sampai tak berani menatapnya.
"Tuan, hentikan!" teriakku.
Pria itu benar-benar tidak mendengarku. Ia tidak menghiraukan teriakanku. Lantas, kembali ia tendang, injak, serta pukul lawannya bertubi-tubi.
Kulihat pria itu sudah sangat kelelahan. Bernapas pun sepertinya ia sangat kesulitan. Sehingga itu, aku putuskan menghentikan tuanku secara langsung.
Aku berlari, lalu mendekap tubuhnya dari belakang, menahannya agar tidak menyerang lawan yang sudah tak berdaya.
"Jangan hentikan aku, Cornelia." Bariton itu terdengar mengerikan. "Aku akan membunuhnya karena sudah mengganggu ketenangan kita."
"Tuan ...."
Disingkirkannya tanganku secara paksa, lalu kembali menghardik musuh yang sudah tidak berdaya.
Air mataku menitik. Entah mengapa, kemarahan tuanku membuatnya menjadi orang lain.
"Kalau kau mau bertemu iblis, kau sudah menemui orang yang tepat." Tuan Mahawira menyeringai. Aku bergeming.
-----------------------
__ADS_1
Vote terus!!! Crazy up! 🙏