Tuan, Jangan Sakiti Aku!

Tuan, Jangan Sakiti Aku!
Apa yang Terjadi?


__ADS_3

Berjam-jam aku merengkuh diri, tak juga suasana hati kembali seperti sedia kala. Hancur, puing-puingnya beterbangan. Tak lama kemudian, terdengar guntur menggelegar. Udara dingin mulai menyapa. Aku semakin dirundung bisu atas segala yang terjadi.


Ibu ..., Tuan Mahawira.


Kuciumi mantel tebal yang merupakan milik tuanku. Hadirnya selalu nyata kala aroma tubuhnya masih melekat di mantel ini. Kuciumi lebih dalam, mata menerawang, ingatan menyatu dengan khayal.


"Untuk apa kau bersedih? Ini bukan saatnya membuang waktu dengan kesedihan."


Tak dapat kubedakan kini,  mana suara dari dunia nyata, mana yang khayal. Namun, deru napas itu terdengar jelas, artinya bukan imaji belaka. Aku beranjak dari ranjang, lalu membuka pintu rumah.


"Tuan Birendra ...." Aku tertunduk sendu di hadapan pria itu. Aku berani bertaruh, pria itu pasti sudah tahu bahwa Tuan Mahawira dibawa ke Kerajaan Simaseba.


"Bukan saatnya untuk bersedih, Cornelia. Ini adalah waktu untuk memperjuangkan sesuatu yang berharga bagimu," cetusnya sambil mengatur napas hingga kembali normal.


"Tuan Mahawira—"


"Aku sudah tahu. Kabar itu sudah tersebar di seluruh negeri. Lagi pula, siapa yang tidak akan tahu? Semua orang melihat si Mahawira dibawa oleh Putri Camelia."


"Aku ... tidak bisa melakukan apa-apa, Tuan Birendra. Aku hanya gadis lemah. Bahkan saat ini pun aku tidak berdaya."


"Kau selalu bisa melakukan segalanya, Cornelia. Hanya saja, pikiranmu sekarang sedang goyah dan berada di bawah tekanan."


Tuan Birendra meraih dagu lancipku, lalu mengangkat wajahku. "Aku akan membantumu. Jangan bersedih lagi."


"A-apa maksud Tuan?"


"Seperti yang kau dengar, Cornelia. Akulah yang akan membantumu maupun Mahawira."


Pangeran Birendra menatapku lamat.


"Jangan bersenang-senang sendirian. Aku juga ingin hadir dalam pesta yang kau adakan."


Suara Tuan Kalandra terdengar cukup jelas sehingga kualihkan pandangan untuk mencari sosok itu. Ia tepat berada di belakang Tuan Birendra sambil bersedekap. Mata kami saling bertemu kemudian, sang pangeran tersenyum begitu teduh.


"Pangeran Kalandra ...."


"Ayo, sekarang juga kita harus membereskan semua kekacauan ini." Suara sang pangeran terdengar bersemangat.


"Lihat? Kami sekarang ada di sini untuk membantumu."


Akhirnya, sebuah senyum kuukir meski harus memaksanya di tengah-tengah air mata yang masih mengalir.


"Terima kasih, Tuan Birendra, Pangeran Kalandra. Terima kasih banyak."


Haru membiru. Keduanya seperti meruntuhkan segala sedih, membuat senyap segala tangis, sirna hingga hanya asa yang tersisa.


-------------------


"Lebih baik kita prioritaskan dulu untuk menyelamatkan ibumu. Untuk urusan Mahawira, aku yakin dia tidak akan serta-merta menerima pernikahan itu walau dipaksa sekalipun." Pangeran Birendra berpendapat.


Aku mengangguk setuju dengan pendapat pria itu karena begitu yakin dengan Tuan Mahawira. JIka benar cintanya begitu tulus dan telah mati ke padaku, maka dia tidak akan mengkhianati cinta itu. Ia pasti akan berkorban sesulit apa pun rintangan yang didapat. Meski begitu, aku sangat sedih karena tuanku itu harus menanggung rasa sakit dan penderitaan hanya oleh diriku.


Aku mengambil napas dalam. "Lalu, kapan kita akan berangkat ke Kerajaan Batalia?"


"Hari ini sebaiknya kita ke sana. Tapi, sepertinya tidak sembarangan orang bisa melewati pintu raksasa itu." Tuan Kalandra menimpali.


"Kau benar, Kalandra. Kalau begitu, sebaiknya kita selidiki dulu."

__ADS_1


Kedua pangeran itu bersitatap, lalu mengangguk pelan.


"Cornelia, sayang sekali kau harus tinggal di sini sementara kami menyelidiki Kerajaan Batalia," tandas Tuan Birendra.


"Hah?! Aku semestinya ikut—"


"Tidak bisa! Kau harus tinggal di sini. Kalau kami sudah mendapatkan informasi yang cukup mengenai Batalia, barulah kami akan kembali menemui dan membawamu bersama kami."


Mengembuskan napas kecewa, aku menjawab, "Baiklah."


"Pastikan kau tetap waspada." Pangeran Kalandra menepuk bahuku, tatapannya penuh pengharapan.


"Cornelia, jangan pernah keluar dari rumah ini."


Aku mengangguk menghadap Tuan Birendra. Kedua pangeran itu pun melangkah pergi ke Kerajaan Batalia untuk menggali informasi.


-------------------


Sampai malam tiba, kedua pangeran itu tidak kunjung kembali. Perasaanku mulai tidak enak. Apakah mereka mengalami sesuatu yang buruk di sana? Jangan-jangan tertangkap. Segala pikiran buruk kembali menghantui kepala.


Aku masih ingat Tuan Birendra mengatakan bahwa aku tidak boleh keluar dari rumah apa pun yang terjadi. Akan tetapi, dinginnya malam telah menyapa, berjam-jam sudah mereka berada di sana.


Akhirnya, aku memberanikan diri menyusul Tuan Birendra dan Kalandra.


Gelapnya hutan memang membuatku takut, tetapi untung saja ada api dari nyala obor yang biasa diletakkan di setiap sudut rumah. Aku menggunakannya untuk menerangi jalan menuju Kerajaan Batalia.


Suara-suara erangan terdengar di telinga, kutahu itu suara dari beberapa binatang buas yang tinggal di hutan ini. Meski begitu, aku terus melangkah, berusaha mengusir rasa takut dari angan.


Beberapa menit berjalan, aku berhasil tiba di jalan utama. Tak satu pun orang melintas. Toko-toko sudah tutup. Kuambil jalan menuju Kerajaan Batalia. Saat telah lebih dekat ke pintu masuk istana, ternyata ada beberapa pengawal yang berjaga-jaga.


Aku mengendap-endap, nyala obor kumatikan dengan menekannya di tanah. Setelah itu, aku bersembunyi di balik batu-batu yang menumpuk sambil waspada akan sekitar. Terlihat para pengawal mondar-mandir. Satu nyamuk pun tidak luput dari penjagaan.


Jantungku berdebar, tak dapat ditenangkan. Kewaspadaan kutingkatkan. Meski suara angin mengembus, aku langsung menoleh untuk memastikan. Tiba-tiba saja, seekor kucing mengeong dan terdiam di tempatku berada.


Aduh, si kucing! Kau jangan diam di sini. Aku bisa ketahuan.


Lalu, kuusir kucing lucu berwarna putih itu. Jika tidak sedang dalam keadaan terdesak, aku pasti membawa dan merawatnya. Sayangnya, waktu tidak tepat.


Bukan malah menjauh, si kucing semakin tidak ingin pergi dariku. Ia terus mengeong seperti sedang kelaparan.


Beberapa pengawal kulihat mengedarkan pandangan. Sepertinya mereka telah menyadari hawa keberadaanku.


Kucing mengeong beberapa kali.


"Oh, hanya kucing," kata pengawal itu kepada temannya yang lain.


Syukurlah, aku terselamatkan oleh si kucing. Terima kasih, Kucing!


Namun, semua belum berakhir. Akan sampai kapan aku berada di balik batu ini? Sedangkan para nyamuk sudah menggerogoti diriku sedari tadi. Beberapa gigitan terasa di pipi dan lengan. 


"Siapa?!"


Aduh, aku terlalu keras menepuk nyamuknya.


Semakin kutundukkan kepala.


Terdengar langkah berderap. Aku terkesiap, dada semakin berontak. Dengan pasrah aku memejamkan mata.

__ADS_1


Sebuah tangan menepuk punggungku, tetapi mata tak berani kubuka.


"Tenanglah, Cornelia. Ini aku."


Mendengar suara yang sangat kukenal, mata kubuka dan menoleh ke samping kanan. Ternyata Tuan Birendra.


"Tuan ... Birendra? Bagaimana caranya Tuan—"


"Lihatlah, Kalandra sudah mengalahkan para penjaga itu."


Segera kualihkan pandangan ke arah pintu raksasa, dan di sana ada Pangeran Kalandra yang telah berhasil menaklukkan para penjaga, entah dengan menggunakan jurus apa. Yang penting, dalam penglihatanku, semua penjaga itu tidak sadarkan diri.


Tak lama kemudian, Pangeran Kalandra memberikan tanda dengan mengangkat tangan kanan.


"Ayo, kita ke sana. Kalandra sudah memberikan tanda."


Segera Tuan Birendra menuntunku lebih dekat ke arah pintu raksasa.


"Pintu ini tidak dikunci, kita bisa membukanya hanya dengan sekali dorongan," ucap Pangeran Kalandra.


Tuan Birendra mengangguk paham, lalu segera mendorong pintu sedikit demi sedikit. Pintu tidak terbuka lebar, cukup untuk membuat tubuh kami masuk ke pekarangan istana.


Tuan Birendra menyelidiki ke dalam istana. "Ayo, tidak ada yang perlu dikhawatirkan."


Aku melangkah masuk, sedangkan Pangeran Kalandra berada di belakangku.


Kami bertiga berhasil masuk ke pekarangan istana. Tuan Birendra bertugas mengawasi di depan, sedangkan Tuan Kalandra bertugas melindungiku di belakang.


Kami berjalan ke sisi istana sebelah kiri.


"Sepertinya di sana ada sebuah jalan," kata Tuan Birendra.


Beberapa meter berjalan, kulihat sesosok perempuan dalam keadaan terbelenggu kaki dan tangannya. Mataku membelalak melihat sang perempuan, lalu tak kuasa air mata merintik. Kakiku melangkah pelan untuk mendekat ke arah ... sang ibu.


Ibu menyadari kehadiranku. Ia membuka mata yang sayu, sepertinya begitu lelah. Di dua lengannya saja kulihat ada bekas-bekas merah, luka memar. Menurutku, sang ibu baru saja dicambuk dengan kejam.


Saat ingin menggapai perempuan itu, suara tepuk tangan menggema. Aku beserta dua pangeran tangkas itu menoleh ke sumber suara.


"Kalian memakan umpannya sesuai yang diharapkan."


Tuan Birendra dan Kalandra dalam posisi waspada. Ia segera melindungiku dari dua sisi berlawanan.


"Nak, kenapa kau ke sini? Adalah sebuah kesalahan kau datang menyelamatkan ibu." Begitulah ucap ibuku dengan suara parau dan terengah-engah.


"Apa maksudnya?"


"Maafkan ibu, Nak." Air mata perempuan itu berderai hebat.


Kulihat pria paruh baya yang pernah berbicara denganku itu, muncul dari sebuah pintu di belakang tempat ibuku sedang dibelenggu.


"A-apa yang terjadi?!"


"Terima kasih karena sudah datang tepat waktu, Cornelia."


"T-tidak mungkin!" kataku sambil beringsut mundur.


-----------------------

__ADS_1


Udah, ah. Jangan kebanyakan protes soal update. Lagi pula, tiap hari juga di-up. Mohon vote.


__ADS_2