
Artefak berbentuk batu berlambang naga merupakan benda sihir tingkat tinggi yang harus kami ambil di sebuah goa terlarang yang berlokasi di arah barat Kerajaan Rosalia. Menurut Ki Cakra, benda itu digunakan untuk menyempurnakan atau menyetabilkan energi api yang ada dalam jiwa Tuan Mahawira. Artefak berlambang naga itu tentu saja memiliki elemen api yang sangat cocok dengan jurus Napas Naga Tuan Mahawira. Oleh karenanya, sebelum menemui Baltra atau antek-anteknya, Ki Cakra menyarankan kami untuk mencari benda yang dimaksud sehingga elemen dalam tubuh tuanku lebih stabil tanpa hilang kendali seperti sebelumnya.
Setelah berjalan cukup jauh melewati hutan rimba, kami beristirahat sejenak untuk menikmati makan siang. Kebetulan aku sudah menyiapkan bekal agar tidak perlu lagi memburu hewan.
"Silakan, Tuan." Tanganku terulur memberikan beberapa potong daging ayam panggang.
"Terima kasih, Sayang. Kau selalu mengerti diriku."
Tuan Mahawira membuatku tersipu, tentu saja. Apalagi ketika dalam perjalanan, pria itu selalu saja menggodaku, melontarkan kalimat-kalimat romantis yang membuatku tak tahan mengalihkan pandangan karenanya.
"Tuan, bisakah kau berhenti menggodaku?"
"Kenapa? Kau tidak suka?" tanya pria itu sambil mengunyah daging.
"Bukan aku tak suka. Hanya saja ... aku—"
"Malu?"
Pria itu memang selalu tahu apa yang aku pikirkan. Entah bagaimana caranya ia membaca pikiranku.
"Kenapa harus malu? Anggap saja kau sedang latihan. Saat menikah nanti, aku akan lebih sering menggodamu, Cornelia."
"Aku yakin pasti akan lebih tidak tahan."
Tuan Mahawira tertawa renyah kemudian. Entah apakah pernyataanku terkesan begitu lucu baginya.
"Kau lucu sekali, Cornelia. Mana ada seorang perempuan yang tidak suka digoda."
"Tuan! Maaf saja. Aku bukan perempuan seperti kebanyakan perempuan lainnya. Aku tidak suka digoda!" tegasku sambil menjauh beberapa jarak darinya.
"Ayolah. Aku tidak percaya kau bisa marah hanya karena perkataanku. Aku hanya bercanda, Cornelia."
Aku tak merespons. Pria itu sekarang jadi begitu menyebalkan. Ingin sekali kugigit lehernya, lalu meminum darahnya. Ah, aku seperti seseorang yang sangat kejam.
Aku tetap tak ingin memandang ke arah Tuan Mahawira. Sambil menyilangkan tangan, aku terus menggerutu. Namun, tak lama kemudian, sepasang tangan melingkar dari belakang punggungku. Siapa lagi pemilik tangan itu kalau bukan Tuan Mahawira. Ya, pria itu selalu saja bisa menenangkan perasaan sebalku.
__ADS_1
Pria itu menempelkan wajahnya di pundakku. "Bagaimana kalau kita melakukan itu di sini?" bisiknya tajam.
"M-m-melakukan itu? A-apa itu yang kau maksud, Tuan?" tanyaku gagap karena betul-betul tak dapat mengendalikan pikiran setelah mendengar ajakannya yang terdengar begitu negatif.
"Melakukan hal yang seharusnya dilakukan oleh pasangan. Kau tahu itu apa?" Baritonnya begitu merasuk di telinga, mengiang di hati, lalu menimbulkan sesuatu yang perlahan-lahan terasa nyaman dan nikmat.
"A-aku tidak tahu apa yang Tuan maksud. S-sungguh. Aku tidak berbohong."
Pria itu menarik napas panjang. "Tentu saja yang aku maksud adalah ...."
Dielusnya lenganku dengan lembut hingga membuat bulu-bulu tipis di kulitku berdiri, merinding.
"Adalah ...," lanjutnya.
Aku menelan saliva, degup jantung serasa berontak. Mungkin ia pun menyadari suara gemuruh dari dadaku ini.
"Maksudku adalah, ayo, kita lanjutkan perjalanan." Pria itu melepaskan dekapannya, lalu tercengir seolah sudah berhasil mengerjaiku.
Ya, dia benar-benar sukses membuatku tidak bisa mengendalikan sesuatu yang terasa mengalir di dalam jiwa. Pria menyebalkan! Sangat menyebalkan!
Akhirnya, kami pun melanjutkan perjalanan ke barat. Beberapa bukit terjal kami lewati, tetapi tidak membuat kami cukup kesulitan akannya. Karena itu, hingga sore hari menjelang, kami telah tiba di tempat tujuan, yaitu goa terlarang tempat artefak simbol naga disimpan.
"Bagaimana? Apa kita langsung masuk, Tuan?" tanyaku sambil melihat wajah serius Tuan Mahawira.
"Tunggu dulu. Aku merasakan sesuatu yang sangat aneh," jawabnya terlihat semakin serius. Ia lalu memejamkan kedua mata.
Aku bungkam karena tidak tahu apa yang dimaksudnya. Memang, saat berada di sekitar goa, tubuhku merasa panas. Dan itu tidak mungkin disebabkan oleh cuaca atau suhu di sekitar goa. Tuan Mahawira benar, ada yang aneh di sekitar goa.
Tak lama kemudian, Tuan Mahawira menjejak dengan pelan. Ditempelkannya tangan pada dinding luar goa, tepat di mulut goa itu.
Namun, aku tercengang saat melihat Tuan Mahawira tiba-tiba saja terpental cukup jauh ke belakangku.
"T-Tuan!" teriakku sambil menggapai pria itu. Kulihat darah telah mengucur dari mulutnya.
"Kau tidak apa-apa, Tuan? Aduh, aku bodoh sekali. Jelas saja kau kenapa-kenapa." Kubantu ia duduk.
__ADS_1
Sambil memegang dada, ia berkata, "Aku tidak apa-apa. Tenang saja." Kemudian dibersihkannya darah di sekitar mulut.
"Dugaanku benar. Penunggu goa ini tidak akan mungkin membiarkan kita masuk dengan mudah. Itulah kenapa tempat ini dinamakan Goa Terlarang," jelas Tuan Mahawira sambil bangkit kembali.
"Kalau begitu, apa kita harus kembali—"
"Tentu saja tidak, Cornelia! Aku pantang pulang sebelum mendapatkan apa yang kumau."
Tatapan Tuan Mahawira menajam ke arah mulut goa.
"Hei, Penjaga Goa Yang Terhomat! Keluarlah kau! Aku menantangmu! Jika kau berani, tunjukkan dirimu!" teriak pria itu dengan begitu lantang.
Aku hanya bisa menyaksikan keberanian tuanku dari belakang. Namun, jika terjadi sesuatu, aku sudah pasti siap akan membantunya. Sekarang, aku sudah siap mati untuknya.
"Dengarkan aku, Cornelia! Menjauhlah. Apa pun yang terjadi padaku, kau harus ikhlas. Jika aku mati di sini, kau harus pulang dengan selamat." Tatapan pria itu sangat teduh. Ia sepertinya berharap besar aku bisa pulang dengan selamat atau bahkan tidak terjadi apa-apa denganku.
"Makhluk penunggu goa ini bukanlah makhluk sembarangan. Aku merasakan aura yang sangat kuat. Aku merasakan sebuah kekuatan yang begitu luar biasa. Karenanya, izinkan aku mengatakan ini padamu sebelum takdirku benar-benar berakhir di tempat ini."
Kontak tanganku terangkat, lalu menampar wajah pria itu dengan cukup keras. Bahkan tanganku membekas di pipi kanannya, merah.
"K-kenapa kau menamparku, Cor—"
"Aku benci kau mengatakan ini padaku, Tuan. Aku benci dirimu yang pesimis. Kau bukan Tuan Mahawira yang aku kenal. Tuan Mahawira yang aku tahu adalah orang yang sombong, dingin, dan selalu percaya dengan kemampuannya. Tapi, kau? Kau hanya pengecut yang berani membuat seorang Cornelia bersedih hati.
Mana rasa tanggung jawabmu sebagai orang yang mencintaiku? Jika kau benar-benar mencintaiku, seharusnya kau berusaha keras untuk tidak mengatakan hal yang membuatku sedih."
Tuan Mahawira terdiam setelah aku menyelesaikan kalimatku.
"Maaf," ucapnya lirih kemudian.
Tangan Tuan Mahawira terangkat, lalu diletakkannya di atas kepalaku. "Aku akan hidup."
Setelah itu, tiba-tiba terdengar sebuah suara erangan yang menyeramkan. Kulihat dari mulut goa, keluar seekor naga berwarna merah yang sangat panjang. Di mata naga itu, tercipta api yang membara.
Tuan Mahawira menatap lamat hewan raksasa panjang dengan dua kaki serta dua sayap berwarna kecokelatan itu.
__ADS_1
"Sudah kuduga."
--------------------