Tuan, Jangan Sakiti Aku!

Tuan, Jangan Sakiti Aku!
Selamat Tinggal (Volume 1 end)


__ADS_3

Setelah mendapatkan serangan tak terduga dari musuh, aku memuntahkan darah yang cukup banyak. Saat terbaring lemah, terdengar pekikan dari Tuan Mahawira dan apa yang kulihat menjadi hitam pekat.


Selama ini, aku tak pernah mendapatkan pukulan sekeras ini sampai-sampai membuatku memuntahkan darah. Pria mana yang tega menyakiti seorang perempuan sepertiku, tak berbelas kasihan bahkan tidak menahan kekuatan untuk dikeluarkan.


Aku paham kami adalah musuh bagi mereka yang masing-masing punya alasan untuk bertarung.


"Cornelia! Cornelia! Bertahanlah! Cornelia!"


Itu suara tuanku yang tampan. Di mana dia? Aku tak dapat melihat apa pun. Hanya gelap yang menyelimuti di sekeliling.


"T-Tuan ...." Napasku terasa berat. Degup jantung tak beraturan. Ini menandakan aku sudah menyentuh batas kemampuan. Aku tak akan bisa lagi untuk berdiri, lalu bertarung dan membantu teman-teman.


Aku tak tahu bagaimana posisiku saat ini, yang jelas aku masih bisa mendengar dan merasakan sebuah tangan di tubuhku. Suara pedang yang berdenting, suara angin yang mengembus, suara Tuan Mahawira yang hampir menangis, suara Aksa yang menjerit, suara burung, langkah kaki, semuanya dapat kudengar.


Kondisi di tempat ini sedang genting. Hanya dari gelombang suara yang diserap oleh telinga, mampu kuprediksi bahwa posisi kami sedang tersudut. Ada orang-orang kuat yang dikerahkan Camelia. Aku tak tahu, tapi jika boleh menebak, mereka sepertinya setara dengan kemampuan Tuan Mahawira.


"Woi, bangun! Bertahanlah, Cornelia!"


Ah, suara itu lagi. Aku mendengar suara yang mengandung kesedihan. Catatan perjalanan ini mungkin akan berakhir sebentar lagi karena aku tak lagi bisa menjabarkan keadaan yang terjadi.


"Hahahahaha!"


Suara orang tertawa. Sepertinya berasal dari orang-orang yang mengenakan mantel hitam.


"Kalandra! Birendra!" Suara Tuan Mahawira.


"Kalian sudah kalah!"


Tidak, tidak! Kami belum kalah. Masih ada satu orang yang belum dikalahkan.


"T-Tuan ...."


Aku tidak bisa mendengar suara yang keluar dari mulutku sendiri. Sepertinya aku memang tidak bisa bersuara. Tapi, aku masih sadar meskipun yang terlihat semuanya hanyalah kegelapan.


"Kurang ajar!"


Siapa? Suara siapa itu? Tuan ... Mahawira?


Sepertinya kekuatan tuanku mulai bangkit. Tapi, bagaimana caranya ia akan melawan orang-orang itu dengan kondisi seperti ini?


Meski tak melihatnya sendiri, tapi suara-suara memberitahuku bahwa Tuan Birendra, Pangeran Kalandra, dan Aksa sudah menjadi sandera mereka. Aku sangat yakin dengan pemikiranku.


Bagaimana Tuan Mahawira akan melawan empat orang sekaligus? Dan pria yang baru saja datang langsung menyerangku, mampukah Tuan Mahawira mengalahkannya?


Ya Tuhan. Kenapa aku tidak bisa melihat? Aku harus bangkit dan kembali membantu teman-temanku. Tapi, bagaimana caranya? Aku hanya bisa mendengar suara.

__ADS_1


"Terkutuk kalian ...!"


Sepertinya tak ada lagi yang dapat menghentikan kemarahan Tuan Mahawira. Sudah terlambat. Yang aku takutkan adalah, jika Tuan Mahawira membangkitkan kekuatannya dan didorong oleh emosi, itu akan membuatnya buta. Dia tidak akan bisa membedakan teman dan musuh. Dia pasti akan berpikir siapa pun yang menghalangi dirinya adalah musuh. Hanya aku yang bisa menghentikan amukan Tuan Mahawira meskipun risikonya sangat tinggi dan kemungkinan berhasilnya sangat rendah.


"Mahawira! Sebaiknya kau pergi dari sini dan bawa Cornelia!"


Itu suara Tuan Birendra. Tidak. Hanya dengan teriakan seperti itu tidak akan membuat Tuan Mahawira mengurungkan niatnya. Dia akan membangkitkan kekuatan itu.


Sebentar lagi akan tiba saatnya.


Suara siapa yang barusan aku dengar? Bariton itu bukan dari Tuan Mahawira, dua pangeran maupun Aksa. Siapa pemilik bariton berat itu? Suaranya seolah menggema di telinga.


Aku mendengar desau angin. Tidak salah lagi, kekuatan Tuan Mahawira yang sebenarnya akan keluar.


Aku ingat sekarang. Pemilik bariton itu adalah sang naga. Aku mengerti, naga itu hidup dalam artefak dan sekarang bersemayam di pedang tuanku.


Sebentar lagi akan mulai. Kekuatan luar biasa yang bisa membuat kehancuran.


Tidak mungkin. Tuan Mahawira tidak boleh mengeluarkan kekuatannya di tempat ini. Jika itu terjadi, maka orang-orang yang menjadi tawanan, Aksa, dua pangeran akan merasakan dampaknya. Tidak hanya mereka, tetapi aku juga akan merasakan dampaknya.


"Tuan!"


Suaraku masih tidak dapat kudengar. Ke mana perginya suaraku?


"Kau sudah berani mengganggu ketentramanku. Kau membangkitkan sesuatu, maka kau akan merasakan akibatnya."


Tidak bis dibiarkan. Suara Tuan Mahawira sudah berubah. Suara angin pun perlahan-lahan bertambah kencang.


Aku harus bangkit dan menyelamatkan tuanku; semua orang. Kekuatan besar yang akan ia keluarkan itu seharusnya untuk melawan Baltra. Meskipun keempat orang utusan Camelia sangat kuat, tapi jika menggunakan kekuatan tersembunyi Tuan Mahawira, itu sama saja dengan bunuh diri.


Aku ingat sesuatu berwarna hijau, permata. Kurasakan tanganku bergerak naik ke leher, berusaha meraih permata yang menjadi kalungku. Mungkin dengan memanggil Ki Cakra, Tuan Mahawira bisa mengurungkan niatnya untuk mengeluarkan kekuatan.


Aku merasakannya—kalung permata. Aku berharap Ki Cakra tidak sedang sibuk, lalu datang untuk menenangkan Tuan Mahawira. Jika bisa, aku berharap pria itu mengalahkan empat orang utusan Camelia.


Namun, sepertinya keinginanku terlalu banyak.


Aku merasakannya; suara angin itu perlahan-lahan menghilang. Apakah Ki Cakra sudah tiba?


"Kau terlalu banyak menggunakan kekuatan itu. Ingat pesanku, gunakan sedikit saja agar kau tidak kehilangan kendali. Naga di dalam pedangmu itu juga bisa mengendalikan dirimu."


Berhasil. Itu suara Ki Cakra. Dia benar-benar datang dan berhasil menghentikan Tuan Mahawira.


"Hei, siapa kau, Orang Tua!"


Suara pukulan terdengar setelah itu. Aku tahu, Ki Cakra pasti menyerang empat orang utusan Camelia.

__ADS_1


"Terima kasih. Aku tidak tahu kau siapa, tapi terima kasih sudah menyelamatkanku."


Suara Tuan Birendra. Ia sepertinya sudah terlepas dari belenggu lawannya.


"Aku tidak ingin ikut campur terlalu jauh. Mahawira, ingatlah pesanku. Jangan menggunakan kekuatan penuh."


Aku lega karena kekuatan besar dari Tuan Mahawira tidak jadi mengamuk. Tapi, aku kenapa sebenarnya?


"Hei, Rambut Kribo! Kau apakan Cornelia?"


Pria berambut kribo, sepertinya dia orang yang menyerangku.


"Hahaha. Dia akan terperangkap di ruang hampa selamanya. Jiwanya tidak akan kembali bahkan meski kau membunuhku—"


Yang benar saja?! Aku tidak bisa kembali ke tubuhku selamanya?!


"Kembalikan Cornelia! Kembalikan! KEMBALIKAN!"


Kali ini tebakanku pasti sangat akurat. Dinilai dari teriakan Tuan Mahawira yang perlahan-lahan semakin tinggi, ia sepertinya sedang menganiaya orang yang membuatku tak bisa menggerakkan tubuh.


"KEMBALIKAN CORNELIA! KEPARAT!"


Ya Tuhan. Jika benar apa yang dikatakan oleh pria itu, maka tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Seperti yang dikatakannya, aku mungkin akan terjebak di ruang hampa nan gelap ini selama-lamanya.


"D-dia ... t-tidak akan bisa ... kembali ke ... tubuhnya."


Meski tak dapat kulihat, aku merasakan air mata yang membasahi pipi. Mungkinkah ini akhir dari kisahku dengan Tuan Mahawira?


"KEMBALIKAN CORNELIA!"


Jika seperti itu, maka haruskah aku mengucapkan selamat tinggal pada Tuan Mahawira dan teman-teman yang lain.


"Ini bohong, kan? Cornelia? Kau masih bisa bertahan. Aku yakin kau masih bisa bertahan!"


Ah, suara Pangeran Kalandra dan Tuan Birendra terasa sangat dekat. Sepertinya ia coba membangunkan dengan menggerakkan ragaku.


*Jika benar aku tak dapat kembali ke tubuhku, artinya aku sama seperti mayat. Artinya aku sudah mati. Percuma saja sadar jika tak bisa melihat senyum Tuan Mahawira lagi. Percuma karena tak ada yang bisa dilakukan seonggok tubuh tanpa jiwa. Tak lagi aku dapat membantu teman-teman. Bertualang ke Kerajaan Simaseba, menyelamatkan Paduka Raja, merebutkan kembali istana dari Baltra.


Maafkan aku, Tuan Mahawira*.


"CORNELIA!"


----------------


Jangan lupa vote, ya ;)

__ADS_1


__ADS_2