Tuan, Jangan Sakiti Aku!

Tuan, Jangan Sakiti Aku!
Tipu Daya Camelia


__ADS_3

Dadaku berdentum-dentum tak keruan melihat dua pria saling tatap dengan Tuan Mahawira. Ketiganya adalah pria yang sama-sama aku hormati, juga sama-sama berjasa dalam hidupku. Aku tidak ingin melihat mereka saling menyakiti. Meski begitu, mereka telah memutuskan untuk menyelesaikan konflik dengan tradisi pertarungan sampai mati.


Pertarungan sampai mati merupakan tradisi yang biasa digunakan di sebuah kerajaan untuk memutus konflik antara dua orang atau lebih jika pembicaraan tidak menemukan solusi yang tepat. Sayangnya, hari ini salah satu dari mereka harus mati dalam pertarungan ini.


Tatapan Tuan Mahawira tajam seperti biasa kala memandang musuh-musuh yang tak bisa diremehkan kemampuannya. Tentu saja, Tuan Birendra maupun Pangeran Kalandra juga berapi-api.


"Hiyaaaaattt!"


Ketiga pria itu berteriak. Tuan Mahawira tak menunggu serangan dua pangeran, tetapi ia yang menjemput serangan mereka. Namun, perbedaan kekuatan telah terjadi.


Saat kufokuskan pandangan pada pertarungan itu, Tuan Mahawira jauh lebih unggul. Ia memukul mundur dua pangeran dengan sangat mudah. Namun, dua pangeran itu hanya dalam posisi bertahan tanpa serangan yang berarti.


Tuan Birendra dan Pangeran Kalandra sudah tampak kelelahan dengan napas yang berat. Sedangkan Tuan Mahawira semakin berapi-api.


"Ada apa, Birendra, Kalandra? Apa kau sudah ingin menyerah? Ini pertarungan sampai mati, kalian harus ingat. Jika kalian menyerah, artinya kepala kalian adalah milikku."


Sangat tidak tega diriku. Sedari tadi, aku menahan bulir-bulir kesedihan yang ingin meluncur dari netra. Kini, sudah tak dapat lagi kutahan, sebab tanggulnya telah hancur. Air mengalir deras tanpa bisa kuhentikan.


Ketiga pria itu menatap penuh tanda tanya ke arahku.


"Seharusnya kalian tidak memutuskan persahabatan hanya karena sebuah kesalahpahaman. Kalian pikir pertarungan kematian itu keren?" Sambil menatap ketiganya, aku berusaha menghapus air mata, tetap saja tak bisa. "Tuan Mahawira. Aku kecewa padamu. Padahal, kau bisa menjelaskan semuanya dengan kepala dingin. Tapi, kenapa kau bersikeras untuk menyelesaikan semuanya dengan kematian? Kalian pikir nyawa seremeh itu? Kalian pikir hidup seenteng itu?"


"C-Cornelia—"


"Jangan bicara apa pun, Tuan. Kau sungguh telah mengecewakanku. Aku pikir kau penuh kasih sayang, tetapi ternyata tidak seperti yang aku pikirkan." Aku bersimpuh sambil menundukkan kepala sementara air mata masih mengalir, sesenggukanku semakin kencang.


Tak sengaja kupegang kalung permata hijau yang menggantung di leher. Tiba-tiba benda itu membuatku teringat dengan perkataan Ki Cakra. Aku pun semakin erat menggenggamnya dan berharap Ki Cakra datang untuk menghentikan pertarungan tiga pria.


"Untuk kali ini, maafkan aku, Cornelia. Tidak ada yang bisa menghentikan pertarungan ini."


Tuan Mahawira tampaknya kembali bergerak. Pedang ketiganya saling menggigit, berdenting ngilu menciptakan percikan-percikan. Aku semakin dirundung kesedihan yang mendalam.


Saat berusia sepuluh tahun, Tuan Mahawira pernah bercerita mengenai dua pangeran yang sedang dilawannya mati-matian itu. Ia menganggap keduanya sebagai saudara sendiri meskipun pada saat itu mereka tak pernah lagi bermain ke Rosalia karena tindakan Tuan Mahawira yang membela diriku.


Aku hanya menyayangkan ikatan mereka yang sudah terjalin sangat lama, tetapi hancur begitu mudah hanya karena sebuah kesalahpahaman. Bukankah itu konyol? Ikatan yang sudah lama terjalin seharusnya tidak akan pernah hancur karena kebodohan mereka dalam berpikir dan bertindak. Sungguh mereka para pria hanya mengandalkan emosi semata.


Ketika aku belum terlalu dekat dengan Tuan Mahawira saat berusia delapan tahun, selalu kulihat dia bermain-main dengan dua pangeran. Aku ingat sekali bagaimana senyum mereka terkembang begitu indah. Aku sangat ingat bagaimana tawa mereka membuat diriku iri. Saat mereka tertawa bahagia, saling mewarnai hari bersama, saat itu aku hanya seorang gadis kesepian yang tak pernah diinginkan siapa pun.


Mengingat masa-masa itu membuat diriku lupa dengan pertarungan yang sedang berlangsung. Namun, aneh sekali karena pedang yang saling menggigit itu tak lagi terdengar.

__ADS_1


Kuangkat kepala, lalu melihat Ki Cakra menangkap senjata mereka dengan berada di tengah-tengah kedua belah pihak.


"Pertarungan yang sia-sia hanya akan membuat kalian terjerumus ke lubang penyesalan. Akhiri semuanya sebelum terlambat."


"Kenapa aku harus mengakhiri semuanya?"


"Kalian berdua, dengar. Ayah Mahawira tidak pernah datang ke istana kalian hanya untuk membunuh sahabatnya sendiri. Ini hanyalah tipu daya dari Camelia."


Tuan Birendra dan Pangeran Kalandra saling menatap, lalu perlahan mereka menarik pedang. Jelas saja, dahi mereka berkerut karena belum sepenuhnya percaya dengan penjelasan dari Ki Cakra.


"Mahawira dan Cornelia bertujuan ke Simaseba untuk menyelamatkan Raja Rosalia. Jadi, kalian bisa mengambil kesimpulan sendiri. Bagaimana mungkin seorang raja yang diculik beserta prajuritnya akan melakukan pengkhianatan terhadap kerajaan aliansi? Sangat tidak mungkin, bukan? Dan sekarang, aku serahkan semuanya pada kalian bertiga. Selesaikan dengan baik-baik atau bertarung sampai mati dan menyesal seumur hidup."


Ki Cakra langsung menghilang dari hadapan kami semua. Beliau memang penyihir yang sakti. Pantas saja Tuan Mahawira menjadi begitu tangguh karena dilatih olehnya.


"Apa maksud gurumu? Apa itu benar, kalian bertujuan ke Simaseba untuk menyelamatkan Paduka Raja yang diculik Camelia?" Tuan Birendra menyambung pembicaraan.


Karena Tuan Mahawira tak mau angkat menjawab, aku pun bangkit sambil menghapus bekas-bekas air mata di wajah dan netra.


"Aku sudah mengatakan kalau kita bisa menyelesaikan kesalahpahaman ini dengan kepala dingin. Tidak ada yang salah dari Tuan Birendra, Pangeran Kalandra, dan Tuan Mahawira. Yang salah adalah tindakan kalian yang gegabah." Kudekati mereka. Sepertinya Tuan Mahawira masih begitu enggan menatap dua sahabatnya.


"Tuan Mahawira, aku mohon Tuan menjelaskan semuanya dan berbaikan."


"Tuan, bukan mereka yang memfitnah Paduka Raja, tapi aku yakin ada orang di belakang semua ini."


"Siapa?"


"Tentu saja, Tuan Birendra dan Pangeran Kalandra harus memeriksa kembali orang-orang di istana. Aku tidak ingin asal menduga. Yang jelas, Paduka Raja tidak akan pernah melakukan sesuatu seperti pembunuhan. Aku sangat mengenal Paduka Raja. Dia orang yang sangat pria dan selalu menyelesaikan semua masalah dengan perbincangan."


Pangeran Kalandra tertunduk, begitu juga dengan Tuan Birendra.


"Cornelia benar. Aku bertujuan ke Simaseba untuk menyelamatkan ayahku. Kemungkinan orang-orangmu sudah berhasil dipengaruhi Camelia." Akhirnya Tuan Mahawira angkat bicara meskipun terlihat jelas wajahnya masih menyimpan kekesalan.


"Kurang ajar ...." Pangeran Kalandra bergumam.


Suasana hening beberapa saat. Dua pangeran tidak bersuara, apalagi Tuan Mahawira yang sedari tadi membuang muka.


Namun, tak lama kemudian, Tuan Birendra mengacungkan tangan sambil berkata, "Maaf."


Tuan Mahawira melihat tangan Tuan Birendra, lalu beralih ke wajah pria itu. Mereka bersitatap.

__ADS_1


Tuanku menghela napas dalam, lalu menghilangkan kerutan di dahinya.


"Aku juga minta maaf."


Akhirnya, tangan mereka tertaut. Suasana menjadi sejuk kembali dengan melihat senyum mereka yang perlahan-lahan merekah.


"Aku juga ... maaf, Mahawira Tengik." Pangeran Kalandra dengan malu-malu mengacungkan tangan.


Aku terharu dengan suasana yang menyelimuti sekeliling. Ini benar-benar adegan yang luar biasa. Setelah cukup menegangkan beberapa waktu lalu, kini mengharu biru karena tiga sahabat itu tak lagi bersiteru satu sama lain.


Tuan Mahawira menanggapi permintaan maaf Pangeran Kalandra dengan sebuah senyuman sambil mengangguk.


Aku mengambil napas dalam, lalu mengembangkan senyuman.


"Aku sangat bersyukur. Terima kasih, Tuhan."


"Kalau begitu, kami juga akan membantu kalian. Kami akan menuntut Camelia atas tindakan yang dia lakukan."


"Baiklah. Anggota kita semakin bertambah. Saatnya kita melanjutkan perjalanan!" Tuan Mahawira kembali berapi-api.


"Yang terpenting," kata Tuan Mahawira sambil membuatku lebih dekat padanya hingga menempel, "aku minta maaf, Cornelia."


Aku tersenyum lebar, lalu mengangguk-angguk.


"Sebagai permintaan maaf, aku akan mencium bibirmu."


Apa?!


Saat mendekatkan wajahnya, Pangeran Kalandra dan Tuan Birendra memisahkanku dengan Tuan Mahawira.


"Enak saja bermesraan," kata mereka serentak.


Tuan Mahawira terbahak.


"Hei, Aksa! Ayo, kita berangkat!"


------------------


Vote, ya. Terima kasih ....

__ADS_1


__ADS_2