Tuan, Jangan Sakiti Aku!

Tuan, Jangan Sakiti Aku!
Dua Konflik Berbeda


__ADS_3

"Aku mohon, hentikan! Siapa kalian sebenarnya?! Kenapa kalian tiba-tiba menyerang kami?!"


Dengan bersimbah air mata, kupangku kepala Tuan Mahawira. Pria itu tersengal lelah menahan rasa sakit pada luka-lukanya.


"Kau pergilah, C-Cornelia!" pintanya dengan napas tertahan.


"Tidak! Mana  mungkin aku meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini! Aku mencintaimu, Tuan! Aku sungguh mencintaimu!" ucapku sambil mengelus pipi sang pangeran.


"Jadi, begitu. Seorang pelayan rendahan sepertimu dengan lancang jatuh cinta pada seorang pangeran seperti Mahawira?"


Terdengar derap langkah seseorang. Setelah menolehkan pandangan ke sebelah kanan, ternyata Putri Camelia. Ya, seorang tuan putri yang dijodohkan dengan Tuan Mahawira. Ialah Putri Camelia dari Istana Simaseba.


"T-Tuan Putri ...." Aku tidak menyangka ternyata penyerangan dadakan ini merupakan perbuatan perempuan itu.


Tuan Putri Camelia terdiam beberapa meter dari tempatku berada, kemudian di belakangnya puluhan prajurit bersiap menyerang dengan senjata masing-masing.


"Camelia! Apa yang kau lakukan?!" Tuan Mahawira terlihat geram sembari memaksa tubuhnya bangkit.


"Sayangku, apa ini tujuanmu datang ke Negeri Angin? Ini yang kau bilang urusan bisnis? Kau telah mengkhianati harapan semua orang, Mahawira."


"Diam kau, Camelia! Kau tidak berhak mengatur hidupku! Akulah yang memutuskan—"


"Apa kau sudah dipengaruhi oleh pelayan rendahan itu? Oh, seperti itu. Kau mungkin sudah terkena pelet pelayan buruk rupa itu!" Camelia bernada amarah. Matanya melotot tajam padaku.


"Camelia keparat! Pergi! Dan bawa semua prajuritmu enyah dari sini!"


"Baiklah. Aku akan pulang." Putri Camelia berbalik badan. Akan tetapi, ia tak langsung mengangkat langkah, justru terdiam beberapa saat. "Prajurit! Tangkap Mahawira dan bunuh pelayan rendahan itu!" perintahnya.


Aku membelalak setelah mendengar titah Putri Camelia pada semua prajurit.


"Camelia!" teriak Tuan Mahawira. Tatapan tuanku dipenuhi api yang membara, bergejolak dan mungkin saja tidak dapat ia tahan lagi hingga akhirnya meledak-ledak.


Putri Camelia berjalan menjauh dari pekarangan, lalu semua prajurit bergerak menyerang. Mereka yang menggunakan pedang, maju serentak menyerang Tuan Mahawira yang telah terluka. Akan tetapi, tidak sedikit pun tuanku itu menunjukkan perasaan takut. Justru, Tuan Mahawira bersiap-siap, dipasangnya kuda-kuda. Satu serangan dari prajurit tak dapat mengenai dirinya, Tuan Mahawira melakukan serangan balik menggunakan jurus bela diri tingkat tinggi.


"Cornelia! Menjauh dari sini!" teriaknya sambil berkutat dengan pertarungan.


Aku segera berlari ke gubuk reyot milik Ibu, tetapi beberapa prajurit menghalangi jalanku.


"Mau ke mana kau, hah?!" Diacungkannya pedang, tetapi Tuan Mahawira menyelamatkanku dengan cara melompat dan memukul telak di bagian leher para prajurit itu. Mereka terkapar tak berdaya.


"Cepat! Sekarang bersembunyi!"


Segera aku melanjutkan langkah, masuk ke rumah, tetapi terus menyaksikan jalannya pertarungan Tuan Mahawira melawan para prajurit dari Kerajaan Simaseba.


"Hiyaaat! Maju kalian!" tantang pria itu semakin bergelora.


Para prajurit yang sempat tergeletak dan masih mempunyai sisa tenaga, lantas bangkit dan kembali menyerang. Kini, Tuan Mahawira diserang dari segala sudut.


Setelah dirasanya cukup kewalahan melawan dengan tangan kosong, Tuan Mahawira menghunus pedang panjang bermata dua miliknya. Ia ayunkan dengan penuh gairah, ditebasnya para lawan. Namun, pria itu sempat terkena pedang sehingga menggores punggung dan membuat pakaiannya sobek.


"TUAN!" pekikku dengan khawatir.


Kulihat sepertinya Tuan Mahawira semakin kewalahan. Prajurit-prajurit itu juga semakin bertambah banyak. Sepertinya Putri Camelia mengerahkan ratusan prajurit, dan setengahnya ia perintahkan untuk menunggu sebelum prajurit yang lain kewalahan.

__ADS_1


"Selesaikan tugas kalian secepatnya!" kata perempuan berhidung lancip itu.


Kuakui Putri Camelia seorang perempuan yang teramat cantik. Banyak pangeran yang tergila-gila padanya, tetapi ia tolak mentah-mentah dan hanya menginginkan Tuan Mahawira sebagai suaminya.


"Mahawira! Menyerahlah!"


"Tidak akan!"


Mahawira terus berusaha untuk mengalahkan semua lawan, tetapi kini posisinya sedang terpojok. Pedang melayang dari segala arah, sebisa mungkin Tuan Mahawira harus bisa menghindar dan menyerang balik. Namun, kulihat pria itu lagi-lagi terkena sabetan dari lawan.


Tuan Mahawira memekik kesakitan.


"Tuan ...."


Sungguh, aku tidak bisa melakukan apa-apa, kecuali menyaksikan dirinya terlukai oleh para lawan. Air mataku kembali mengalir deras melihat tuanku dihardik puluhan prajurit. Tendangan dan pukulan menghantam tubuhnya dengan keras. Tuan Mahawira lunglai tak berdaya.


Ditancapkannya pedang pada tanah, lalu menahan tubuhnya agar tidak roboh. Tuan Mahawira terengah-engah. Meski begitu, para prajurit tidak ingin berhenti melakukan aksi mereka sehingga sang pria akhirnya diringkus.


Sempat kulihat Tuan Mahawira berontak, tetapi mereka langsung membelenggu tangan dan kakinya.


"Tuan! Tuan Mahawira!"


Aku berlari untuk menggapai tuanku. Beberapa prajurit kembali menghalangi, aku berhenti.


"Bawa Mahawira ke istana!"


Putri Camelia berjalan mendekat, lalu ditatapnya diriku dengan lamat. Putri Camelia tertawa pelan. Seringainya terpahat di wajah cantiknya.


"Jangan bermimpi untuk bisa memiliki Mahawira! Kau, pelayan rendahan tidak akan bisa menjadi seorang putri bangsawan! Kau camkan itu!"


"DIAM! Kau pasti menggunakan ilmu hitam agar bisa mendapatkan cintanya! Mimpimu terlalu tinggi, Pelayan Rendahan!"


Seketika, Putri Camelia menaikkan kakinya di bahuku, lalu membuatku tersungkur.


"Camelia! Hentikan!" Suara Tuan Mahawira menggelegar. Kulihat pria itu lalu dibawa pergi oleh para prajurit.


Putri Camelia tersenyum miring, lalu berkata, "Aku biarkan kau hidup, Pelayan Rendahan. Kalau kau melakukan kesalahan yang sama, maka aku sendiri yang akan membunuhmu. Ingat! Mulai hari ini, kau tidak akan bisa bertemu dengan Mahawira. Tidak akan pernah untuk selamanya!"


Putri Camelia berlalu pergi. Sedangkan aku menggeming dengan tatapan hampa. Aku kecewa dengan diri sendiri yang tidak bisa menyelamatkan tuanku. Bukan hanya itu, tetapi sakit hati terhadap segala yang dikatakan oleh putri congkak itu.


"Aaarrrgggh!" teriakku sambil meneteskan bulir bening. Tanganku memukul-mukul tanah.


Kini, orang-orang yang kusayangi diambil dari diriku. Ibu, Tuan Mahawira, lalu siapa lagi?


Tuhan, kenapa Kau memberikan cobaan yang begitu sulit untuk aku jalani? Kenapa semua yang aku sayangi perlahan-lahan pergi? Sekarang, apa yang bisa aku lakukan, Tuhan? Aku tidak punya ilmu bela diri, juga bukan seseorang yang bisa menyelamatkan Ibu atau Tuan Mahawira.


Hari ini aku benar-benar hancur.


Aku bangkit perlahan, berjalan gontai ke dalam rumah. Tangis masih mengalir deras, bahkan sampai sesenggukan.


Kubaringkan tubuh di atas ranjang, merengkuh diri, memikirkan bagaimana caranya untuk menyelamatkan Tuan Mahawira dan ibuku. Meski begitu, tak ada yang kudapatkan dari pemikiran-pemikiran itu. Yang tampak hanya wajah tuanku ketika tersenyum, cemberut, atau bahkan marah.


Saat sampai di Kerajaan Simaseba, aku yakin sekali putri berhati busuk itu akan memaksa Tuan Mahawira untuk menerima pernikahan yang telah diatur oleh para petinggi istana.

__ADS_1


Benar kata Tuan Mahawira, hidup seorang bangsawan itu begitu rumit. Ia tidak bebas,  tidak dapat melakukan sesuatu berdasarkan apa yang ia kehendaki. Aturan telah dibakukan. Pernikahan dipolitisi.


Jika saja aku bisa membebaskan tuanku dari jerat aturan para bangsawan itu, aku pasti akan menikah dengannya, lalu hidup sederhana.


Akan tetapi, harapan seperti itu hanyalah mimpi belaka seperti yang dikatakan oleh Putri Camelia.


-------------------------


Sesuatu kurasakan menepuk-nepuk bahu. Kubuka kedua mata, yang terlihat adalah pria paruh baya dengan pakaian zirah.


"Kenapa kau tidur di sini?" tanyanya.


Aku menatap sekeliling.


"Kenapa aku ada di sini?" gumamku karena melihat diriku ternyata tidur di tengah hutan di atas tanah yang lembab.


"Dari mana asalmu?" tanya pria paruh baya itu.


"Asal? Aku ... aku ... dari mana? Aku ... tidak tahu."


Kucoba berpikir keras, tetapi benar-benar tidak dapat mengingat apa pun.


"Ikutlah denganku. Aku tahu siapa kau. Sepertinya kau adalah anak dari para prajuritku."


"Prajurit? Lalu, di mana orang tuaku?"


"Sayangnya, orang tuamu telah mati secara terhormat di medan perang. Aku baru saja pulang dari peperangan besar. Ikutlah denganku, nanti akan kuceritakan padamu."


Karena merasa tak tahu apa yang harus dilakukan, akhirnya kusetujui ajakan pria paruh baya itu. Dimasukkannya diriku ke kereta. Entah kenapa, kereta tempatku duduk ini mengingatkan pada sebuah peristiwa, sayangnya bayangan-bayangan itu sama sekali tidak jelas.


Kereta dijalankan, aku pasrah pada takdir. Entah ke mana orang-orang ini akan membawaku.


----------------------


"Mulai sekarang, namamu adalah Cornelia. Kau belajarlah menjadi seorang pelayan sedikit demi sedikit di istana ini. Namun, kau tidak akan melayani siapa pun kecuali putraku sendiri. Pangeran istana sekaligus penerusku di kerajaan ini. Sebentar lagi, dia akan datang. Tunggulah."


Aku mengangguk, lalu duduk bersimpuh di bawah singgasana pria itu.


Tak berselang lama, seorang laki-laki dengan hidung lancip bersama dengan seorang wanita paruh baya berjalan, lalu berhenti beberapa meter dari singgasana.


Aku kagum melihat laki-laki itu. Namun, saat aku menatapnya, ia hanya menunduk.


"Nah, inilah dia yang ditunggu-tunggu. Putraku, mulai hari ini, gadis ini akan selalu bersamamu, dia akan terus melayanimu sampai dewasa nanti."


Sang pangeran mengacungkan tangannya, mengajak diriku bersalaman. Sedikit ragu untuk menyambut tangannya, tetapi kuberanikan diri.


"Namamu—maaf—nama Tuan siapa?" Tanganku masih bertautan dengan lelaki itu.


"Jangan terlalu sopan. Aku tidak menyukainya."


Aku mengangguk pelan.


"Namaku Mahawira." Ia tersenyum hangat kepadaku.

__ADS_1


--------------------------


Jangan lupa like dan vote, ya ^°^


__ADS_2