Tuan Muda Arogan

Tuan Muda Arogan
Sekertaris Tuan Agra


__ADS_3

Pagi ini Delia dan sekertaris Sintya sudah berada di meja makan. Sedikit malu-malu untuk mengambil makanan yang terhidang, karena semua makanan yang tersaji diatas meja adalah menu kelas atas yang dipesan secara online dan semuanya itu telah dibayar melalui aplikasi oleh sekertaris Sintya, hati dan pikirannya yang kini dikuasai rasa malu yang menyergapnya secara perlahan termentahkan oleh rasa lapar yang tak tertahan, lambungya kini menagih meminta untuk segera diisi, sebab semalam saat direstoran Delia tak makan dengan benar. Saat itu seluruh tubuhnya menegang dan merasa terintimidasi oleh aura arogan yang terpancar dari mata elang Agra. Karenanya membuat tangan mungilnya merasa dingin dan kaku, jangankan menyentuh makanan, untuk menggerakkan tubuh saja dia merasa was was dan takut bertindak gegabah yang dapat mempermalukan dirinya sendiri. Lalu dirinya hanya duduk diam tanpa banyak kata yang terucap dengan sesekali tersenyum canggung saat mama Rani mengatakan sebuah lelucon untuk membuat suasana menghangat.


Kruuuuukkk…


Suara perutnya tak dapat dibantah lagi. Sekertaris Sintya melihat Delia yang terdiam dan tampak ragu untuk mengambil makanan.


" Delia!" Menghela nafas melihat tingkah Delia yang menurutnya amatlah lucu.


" Sampai kapan kamu akan memandangi makanan itu dan tak berniat menyentuhnya?"


" Kita akan terlambat kalau kamu tidak segera menyelesaikan sarapanmu!" Sergahnya lagi.


" I… iya sekertaris Sintya, saya… saya hanya sungkan karena tak ikut andil dalam membayar semua makanan ini, seharusnya kita membayarnya berdua."


" Kamu tak perlu malu Delia. Saya yang memintamu segera pindah ke asrama. Jadi tak ada salahnya jika saya mau berbagi denganmu kan?"


Sesekali matanya melirik gadis disampingnya yang mulai menyendok makanan. " Kamu boleh memakai semua bahan-bahan yang tersedia di lemari pendingin, saya sama sekali tidak keberatan untuk itu. Yang terpenting sekarang kamu sudah ada disini, jadi saya sudah tidak merasa sendiri dan takut lagi."


Delia tersenyum canggung menanggapi kalimat sekertaris Sintya. "ehmm… terima kasih sekertaris Sintya"


" Tidak perlu sungkan Del… oh ya Del, setiap tiga hari sekali di asrama ini akan ada petugas kebersihan untuk membersihkan asrama khusus yang kita tempati saja. Itu karena peraturan dari perusahaan yang mengharuskan kita sebagai seorang sekertaris untuk selalu berpenampilan, bersih, modis, juga rapi. Oleh sebab itu di dalam kamar mandi tersedia berbagai macam sabun juga aneka bubblebath dengan berbagai varian serta peralatan kecantikan seperti alat menicure pedicure atau hairdryer dan lain-lain lagi. Aku rasa kamu belum memeriksa semuanya, jadi jika nanti kamu mengalami kesulitan saat akan memakainya kamu dapat menanyakannya langsung padaku, aku akan membatumu."


"Satu hal lagi Del… jika kamu tidak memakai atau menggunakan semua yang tersedia di dalam sana, itu dianggap sebagai sebuah pelanggaran. Atasan tidak akan segan untuk memberimu surat peringatan atau yang paling parah kamu akan dipecat, kedengarannya memang aneh sih Del… tapi ini memang peraturan dari dulu sudah ada, dan kamu tidak perlu khawatir semua produk kecantikan yang ada di kamar mandi itu adalah produk kecantikan kelas satu yang didatangkan langsung dari jepang."


Delia ternganga atas informasi yang disampaikan oleh sekertaris Sintya, matanya melebar, otaknya sibuk berpikir mencari alasan masuk akal atas peraturan tersebut. Peraturan macam apa ini… aku belum pernah mendengarnya selama ini.


" Tapi… tapi apakah atasan kita akan tahu, jika kita tak memakainya. Beliau bahkan tak melihatnya"


Sekertaris Sintya menoleh menatap Delia. " Jangan salah Delia, petugas kebersihan akan dengan rutin untuk datang memeriksa setiap botol yang tertata di dalam kamar mandi apakah tetap utuh tak terpakai sama sekali atau sudah berkurang dan kita telah memakainya. Kemudian mereka akan melaporkannya langsung pada asisten Alex untuk diteruskan kepada presdir Agra. Sampai disini kamu paham kan Del?"


" Dan juga jangan coba membuangnya, mereka akan tahu semuanya, sekecil apapun itu. Jadi jika kamu masih ingin bekerja disana. Patuhlah dengan semua peraturan yang ada."


Sejeli itukah mereka, tidakkah waktunya terbuang percuma untuk mengurusi hal-hal kecil seperti ini? entahlah, lebih baik kucoba untuk mengikuti aturan mereka saja dulu. Lagipula aku kan baru memulainya. Hmm… Aku Pasti Bisa. Tekatnya membulat, mencoba menguatkan hatinya sendiri.

__ADS_1


Sekertaris Sintya memeriksa jam di pergelangan tangannya. Seteleh menyampaikan rentetan informasi kepada Delia, dia segera bangkit, menggeser kursi lalu mengangkat beberapa makanan yang masih banyak tersisa untuk dimasukkan ke dalam lemari pendingin. " Kita harus berangkat sekarang, jika tak ingin berdesakan dalam lift, kau tahu ada 2 lift berada dalam masa perbaikan rutin." Penampilannya memang selalu memukau, gaya busana yang modis, tubuh ramping, dengan lekuk wajahnya yang terkesan dewasa, membuat gayanya terlihat semakin elegan. Tentu saja itu semua adalah tuntutan profesinya sebagai seorang sekertaris di perusahaan ternama.


Sebelum makan tadi sekertaris Sintya meminta Delia untuk mengganti penampilannya yang terkesan apa adanya, dia meminjamkan beberapa setelan kerjanya yang sudah tak muat dipakainya karena berat badannya yang bertambah akhir-akhir ini. Terlalu biasa, huuffft … kupingku akan panas nanti mendengar ocehan asisten Alex kalau sampai dia melihat penampilan Delia. Dia juga mengajari Delia untuk merias wajahnya supaya terlihat lebih segar, dengan kemeja biru muda serta celana bahan yang pas membalut tubuh mungilnya membuat penampilannya kini semakin cantik mempesona. Tidak berlebihan dan terkesan lembut.


...****************...



Kali ini pertemuan itu tak bisa terhindarkan lagi. Delia dan Agra akan segera menatap wajah masing-masing sebagai atasan dan karyawan. Detak jantungnya berpacu lebih cepat, kemarin-kemarin Delia dapat sedikit bernafas lega karena Agra sedang tidak digedung pusat.


Mengekor sekertaris Sintya menuju lift khusus karyawan. Tangannya mendadak dingin, perasaan takut juga was-was muncul dalam benaknya. Ingatan tentang betapa murkanya Agra saat dirinya secara tak sengaja memasuki kawasan terlarang itu secara bertubi-tubi memenuhi rongga dadanya, menimbulkan sesak yang membuatnya seketika pucat pasi, kilasan-kilasan itu secara egois berlarian dalam otak kecilnya saat kakinya menginjak memasuki lantai lift karyawan menuju lantai tempat dimana ia menerima segala tuduhan, caci maki, juga ancaman yang membuat tubuhnya bergetar hebat dengan air mata mengalir deras membanjiri pipi mulusnya kala itu.


"Berani- beraninya kau gadis kampung. Memasuki area terlarang yang bahkan karyawanku saja tak semua kuizinkan masuk dengan mudah ke lantai ini. Dan kau… dengan penampilan kampunganmu itu dengan percaya diri dan tak tahu aturan… kau memasuki kawasan ini." Tunjuknya, menuding tepat diwajah Delia, dengan nada kemarahan yang bergetar memenuhi seluruh ruangan itu.


" Alex!!" Desisnya dengan kilatan kemarahan yang tercetak jelas di wajahnya.


Asisten Alex bergerak mendekati sisi kanan Agra. Dengan sikap menunduk patuh menerima segala titah yang akan diberikan kepadanya.


"Ya tuan…"


" Baik tuan" Tegasnya tanpa banyak membuang waktu, berjalan menuju keluar ruang kerja Agra.


...****************...


Seluruh divisi hari ini terlihat begitu sibuk juga kerepotan. Terlihat disetiap kubikel-kubikel yang berjajar rapi itu, semua staff di tiap-tiap bagian mengerjakan setumpuk laporan bulanan yang nanti akan diserahkan kepada pimpinan perusahaan. Menurut informasi yang disampaikan setiap kepala divisi, rapat akan diundur satu jam kebelakang. Oleh sebab itu seluruh staff diminta untuk mengecek kembali semua laporan atas sedikit waktu yang tersisa, menemukan kemungkinan kesalahan sekecil apapun itu guna menghindari kemarahan sang presiden direktur.


Sekertaris Sintya menatap Delia dengan sikap serius. Otaknya sibuk menelaah sikap Delia yang sedari tadi diam mengekor dibelakangnya tanpa sepatah katapun. Padahal sepanjang perjalanannya menuju gedung tadi gadis itu cukup aktif untuk bercakap-cakap dengannya, tetapi ntah apa yang membuatnya sendu seperti saat ini setelah memasuki lift tadi. Mungkin saja Delia mengingat kejadian tak mengenakkan minggu lalu sehingga membuatnya pucat pasi seperti ini. Begitu pikirnya.


" Del, hari ini adalah pertama kalinya kamu bertemu dengan presdir Agra sebagai sekertarisnya. Sekertaris Sintya berucap dengan nada serius tanpa mengalihkan perhatian dari layar laptop juga komputernya.


Seketika tubuhnya terkesiap, menegang dengan keringat yang mulai membanjiri pelipisnya. " Ya, sekertaris Sintya saya akan… saya akan memperkenalkan diri saya dengan baik nanti ketika beliau sudah tiba."


" Del, Saya tahu apa yang saat ini kamu pikirkan. Dan apa yang membuatmu terlihat pucat seperti itu. Kamu pasti mengingat kejadian itu kan Del? Kejadian yang membuatmu begitu tak berdaya, hingga kamu berdiri dengan tangan dan kaki gemetar menahan tubuhmu agar tak terjatuh waktu itu. Yang harus kamu ketahui Delia! Jika kamu bertekad untuk tetap bekerja di sini…" Helaan nafas terdengar saat sekertaris Sintya menjeda kalimatnya " Kamu harus memiliki hati yang sekeras baja. Karena seperti yang sudah saya sampaikan, jika pimpinan kita memiliki tempramen yang mengerikan saat menyangkut perusahaannya. Jadi mulai sekarang kuatkan hatimu untuk menghadapi segala sikap otoritas dan arogansinya. Tunjukan pada semua orang bahwa kamu bisa dan kamu mampu menjadi karyawan yang patut diperhitungkan, saya yakin dengan kemampuanmu Delia. Sekarang kamu harus mulai menata hati, percaya diri bahwa kamu bisa menjadi sekertaris kebanggaan tuan Agra."

__ADS_1


Matanya berkaca-kaca menahan haru yang menyeruak memenuhi hati dan jiwanya. Sekertaris Sintya menyemangatinya… setitik rasa itu perlahan mulai muncul… rasa percaya diri tiba-tiba saja datang merasuk kedalam hati dan terus berkobar seiring kalimat penyemangat yang keluar dari bibir sekertaris Sintya.


Nada bicaranya bergetar seiring ujung mata yang mulai sembab menahan tangis penuh syukur. " Saya… saya akan mencobanya… mohon dukungan dan bimbingannya sekertaris Sintya, sekali lagi terimakasih atas motivasi yang begitu berharga ini. Saya tidak akan pernah melupakannya." Sahutnya dipenuhi rasa bahagia yang terpancar dari manik sayunya nan teduh menenangkan jiwa.


" Sebentar lagi saya akan dipindah tugaskan ke Singapura, untuk mewakili presdir yang masih ingin menghabiskan waktu bersama tuan dan nyonya besar. Dan untuk itu saya percayakan semuanya padamu."


Jadwal meeting sebentar lagi akan dimulai, sekertaris Sintya melirik kearah jam tangannya. Setelah itu dia menatap pintu lift khusus pimpinan perusahaan. Sedetik kemudian pintu berwarna silver itu terbuka lebar, dari sana tampak sosok Agra. Penampilannya selalu sempurna, dengan menggunakan setelan jas berwarna navy serta kemeja juga dasi berwarna senada, dia melangkah menuju ruang rapat yang terdapat di sisi sebelah ruang kerjanya. Tubuh tinggi tegapnya sungguh mempesona, membuat kaum hawa begitu memujanya. Ketika lelaki itu melewati meja sekertaris Sintya, sejenak dia berhenti, menatap tajam kearah seseorang disebelah sekertaris Sintya. Mata teduh gadis itu sejenak menyihirnya. Dia memalingkan muka kearah asisten Alex yang berada disampingnya.


Delia berdiri gugup setelah mengetahui kehadiran tuan Agra tepat didepan mejanya. Kepalanya mengangguk tipis sementara tubuhnya sedikit membungkuk memberi hormat kepada atasan barunya.


" Selamat pagi tuan. Perkenalkan, nama saya Delia. Saya sekertaris baru anda. Mohon bimbingannya tuan Agra." Ucapnya dengan senyum ramah yang tersungging dari bibir mungilnya.


Agra mengangkat tangan kanannya, mengibaskan tangan supaya Delia berhenti berbicara. " Segera siapkan dokumen dan file data untuk meeting. Kita lihat seberapa hebat dirimu untuk menjadi sekertarisku. Tidak perlu salam perkenalan. Tunjukkan saja padaku kemampuanmu, hingga kau layak diperhitungkan diperusahaanku ini." Seringainya dengan tatapan sinis yang terpancar dari sorot mata elangnya.


" Baik tuan saya akan lakukan yang terbaik untuk anda." Ucapnya penuh kobaran tekad dari manik mata teduhnya.


Bersambung…


...****************...


**Terima Kasih Sudah Membaca


i love you all and


Bye bye


see you again on the next episode


♥️♥️**



***Suatu saat nanti, akan tiba masa dimana Aku dan Dirimu. Menjadi kita

__ADS_1


Suatu saat nanti, akan tiba masa dimana aku dan dirimu tak kan mampu melepas rasa satu sama lain.


Saat waktunya tiba nanti. Semoga rasa benci ini menghilang dan berganti rasa cinta yang begitu mendalam, tumbuh bersemi laksana taman syurga yang menyejukkan mata setiap penghuninya. Dengan aku dan dirimu di dalam sana. Bersama Selamanya***.


__ADS_2