Tuan Muda Arogan

Tuan Muda Arogan
Ke Rumah Yura...


__ADS_3

Happy Reading,


Delia...


Akhirnya akhir pekan pun tiba, aku di izinkan masuk kuliah dengan catatan tidak di bolehkan mengikuti kegiatan berat. Niatku hari ini ingin menjenguk Yura setelah jam kuliah selesai. Aku sangat merindukannya.


Dulu kami akan selalu menghabiskan waktu di kamarnya. Berbicara dan mengoceh tentang banyak hal. Ibu Yura yang sudah ku anggap seperti orang tua ku sendiri selalu memasak makanan enak jika aku datang untuk menginap. Ah aku jadi rindu. Ingin buru buru pergi ke sana. "Pak nanti tidak usah di jemput ya… mas Agra yang akan menjemput saya nanti." Pesanku pada sopir dan pengawal pribadi.


"Baik nyonya muda." Mereka berdua menjawab kompak dan hormat sambil keluar dan segera memutari mobil ke sisi kanan kursi penumpang. Membuka pintu mempersilahkan aku untuk keluar. "Terimakasih…"


Aku bergegas menuju kelas. Rasanya kangen juga lama tidak jumpa dengan temanku yang super bawel satunya.


Begitu aku berjalan melewati lorong menuju ruang kelas ku lihat Keysa sedang berdiri sambil terbahak. " Heyy…Keysa" Aku melambai. Berjalan menghampiri Keysa yang sedang berasyik masyuk bersama teman yang lain. Dari gesture tubuhnya, ia sepertinya sedang membahas hal lucu hingga salah satu teman bicaranya tertawa terpingkal sampai bahunya berguncang.


Keysa menoleh padaku. Matanya terbelalak saat menyadari aku ada di depan mata. "Kamu kemana saja Delia? Aku khawatir tahu… ih malah nggak ada kabar. Menghilang bagai ditelan bumi. Mau ke rumah eh aku nggak tahu alamat rumah kamu." Keysa memberondong ku dengan banyak pertanyaan hingga aku bingung harus menjawab apa.


"Bener kan… temanku yang satu ini pasti tambah bawel saat aku nggak masuk." Aku menguyel gemas kedua pipi Keysa. " Duhhh sakiit tahu." Bibir Keysa mengerucut karena kesal padaku yang semakin menambah tekanan pada kedua pipinya.


"Ayok masuk… sebentar lagi dosen datang." Aku melihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul delapan tepat. "Key…nanti aku pinjam catatan semua mata kuliah yang terlewat olehku yah…" Mataku mengerling pada Keysa yang berjalan tepat di sebelahku.


"Iyah gampang… besok aku bawakan buat kamu. Eh tapii… kemaren kamu kemana sih Del? Katanya kamu izin ke kampus nggak masuk karena sakit? Emang iya Del?"


Pasti mas Agra. Andai saja Keysa tahu kalau aku sudah menikah, pasti ia akan terkejut. Apalagi saat ini ada calon bayi di dalam perutku.


Aku akan menjaga amanah yang telah Tuhan titipkan padaku ini. Dan secara refleks tanganku mengelus lembut pada perutku yang belum terjadi perubahan secara nyata. Cenderung masih sama seperti biasanya. Rata. Hanya sedikit lebih berisi saja.


...****************...


Selesai mata kuliah terakhir Delia berjalan menuju gerbang utama. Suasana di halaman kampus tampak lengang karena ia keluar paling akhir. Sebagian penghuni kampus telah banyak yang pulang lebih dulu.


Beruntung tidak ada kegiatan yang menguras tenaga hari ini. Sehingga Delia tidak perlu bersusah payah mencari alasan pada yang lain.

__ADS_1


Agra berdiri bersandar pada pintu mobil mewahnya. Memasukkan kedua tangan ke saku celana dan dengan kacamata hitam yang bertengger di pangkal hidung mancungnya ia semakin terlihat tampan berkali lipat.


Pipinya bersemu merah kala menyadari sang suami berpenampilan berbeda. Eh… yang benar meski setiap hari pesona Agra tak pernah luntur. Siang ini lelaki itu terlihat lebih segar dan tampak lebih muda. Kalau kesehariannya Agra akan selalu mengenakan setelan resmi dan memasang wajah serius sebab menghadapi tugasnya sebagai pemimpin perusahaan besar yang tiada habisnya. Sehingga ekspresi tegang dan waspada Agra tak akan pernah terpisah. Saat ini Agra memakai kaos putih polos, celana jeans hitam serta sepatu kets bermerk. Benar benar membuat Delia salah tingkah saja. "Sudah selesai sayang…" Agra bertanya sambil tangannya meraih tangan mungil istrinya.


"Emh… sudah mas." Delia salah tingkah. Pandangannya enggan bertemu dengan tatapan tajam Agra. "Hari ini… mas Agra janji mengantar aku ke rumah Yura." Delia mengingatkan Agra. Takut suaminya melupakan sesuatu yang mungkin bisa saja dianggap remeh olehnya.


"Kamu meragukan pendengaran dan ingatan ku…?" Sebelah alisnya terangkat.


"Tidak…" Sambar nya cepat.


"Bukan begitu mas…"


"Bukan begitu mas…hanya saja aku sangat merindukan Yura dan ibunya. Sudah lama sekali aku tidak mengunjunginya." Delia menjelaskan. Sebelah tangannya berada pada genggaman Agra. "Aku tahu… aku akan mengantarmu. Tapi jangan terlalu lama… hari ini aku akan mengajak mu ke suatu tempat. Okey…" Agra melepaskan genggaman. Mengelus puncak kepala Delia. " Ayo masuk." Ia menuntun Delia untuk segera masuk ke dalam mobil. Melindungi kepala sang istri agar tak terbentur pinggiran atap mobil. Setelahnya ia sedikit berlari memutari mobil, segera masuk di kursi pengemudi. Sebelum benar benar melajukan kendaraan mewahnya Agra memeriksa sabuk pengaman istrinya. Mengecek apakah sudah terpasang dengan benar atau belum. "Kamu bersandar ya… tidur saja kalau mengantuk. Nanti kalau sudah sampai di rumah teman mu akan aku bangunkan." Delia mengangguk patuh. Rasa-rasanya ia memang mengantuk. Mungkin saja efek kehamilannya sehingga membuatnya gampang sekali terserang rasa kantuk secara tiba-tiba. Meski sebenarnya ia tidak mengerjakan pekerjaan yang melelahkan sekalipun.


Perjalanan menuju rumah Yura memakan waktu sekitar 30 menit lamanya. Selama itu pula Delia tampak pulas. Meski saat ini Agra telah sampai tepat di depan rumah sahabat istrinya, ia enggan membangunkan Delia sebab perempuan itu tampak nyenyak sekali tidurnya...


"Emhh… mas… kenapa nggak bangunin aku? Kita sudah sampai yah?" Delia menggeliat…meregangkan tubuhnya yang terasa kaku.


"Iya iya sayang… nih tadi pak Li mengepaknya jadi satu sama yang lain." Delia menunjukkan tas kecil yang berisi bermacam obat yang pak Li siapkan untuk berjaga jaga.


Di teras rumah Yura. Yura serta ibunya sudah berdiri menyambut kedatangan Delia. Perempuan manis berkulit sawo matang itu merentangkan tangan bersiap memeluk sahabat baiknya. Delia tersenyum melihat hal itu. Ia menghambur memeluk Yura dan ibu. "Maafin Lia ya Yura dan ibu baru sempat menjenguk." Kedua sudut matanya basah. "Lia janji akan sering kesini…" Isakan kecil lolos dari bibir mungilnya.


"Udah ah… ayuk masuk. Masa baru ketemu udah nangis kayak gini. Daripada kita sedih mending makan… ibu sudah masak banyak tadi." Ibu mengusap punggung Delia lalu menuntunnya masuk ke dalam rumah sederhana namun terlihat sejuk karena banyaknya tanaman koleksi ibu yang meski sederhana tetapi mampu menambah kesan mahal karena dirawat sepenuh hati oleh ibu Yura.


"Tahu tuh Del… ibu tuh tiap hari menunya itu ituuu… aja. Eh giliran tahu kalau kamu mau dateng. Masak buanyak banget udah kayak mau arisan aja." Yura terkekeh menggoda ibu yang menghadiahinya cubitan kecil di pinggangnya. "Auuuhh sakittt ibu…." Yura mengelus pinggangnya yang terasa panas oleh cubitan kecil ibu tadi. "Kamu sih godain ibu terus. Udah ah ayuk kita makan. Lia udah laper banget tauk…." Delia melerai perdebatan Yura dan ibu lalu segera menarik kursi untuk duduk. Ia tak sabar menikmati masakan ibu yang terlihat menggugah selera.


"Hemm… enak banget bu…" Delia mengacungkan kedua jempolnya. Memberi nilai plus pada masakan ibu yang rasanya juara. "Lia mau tiap hari di masakin ibu." Celetuknya yang ditertawakan oleh ibu. " Kamu ini bisa saja… masa masakan ibu enak. Padahal di rumah kamu tentu lebih banyak variasi menu yang disiapkan oleh para pelayan suamimu.


"Iya sih bu. Tapi masakan ibu tetap yang paling enak menurutku." Ia menjawab dengan jujur. Meski makanan di mansion banyak macamnya tetapi sebenarnya lidahnya merasa kesulitan untuk beradaptasi dengan makanan barat. Memang ada beberapa menu makanan yang cocok untuknya tapi menu itu adalah menu yang paling jarang di sajikan di mansion.


"Yaudah nanti kalau Lia bisa sering ke rumah ibu pasti akan membuat makanan kesukaan kamu." Tangan ibu mengusap lembut tangan Delia yang berada di atas meja.

__ADS_1


"Isshhh… ibu selalu saja pilih kasih." Senyumnya mengembang melihat bibir Yura yang mengerucut. "Kamu ini kayak anak kecil aja. Kamu kan sudah sering makan masakan ibu."


"Yura sudah…" Delia menghentikan Yura yang akan memulai berkonfrontasi dengan ibu.


"Bapak mana bu? Kog nggak kelihatan dari tadi?" Delia mencari cari keberadaan Bapak Yura yang tak menampakkan kehadirannya sejak ia datang tadi. "Oh itu bapak sedang ke rumah pak RT untuk membahas jadwal ronda nanti malam dan selanjutnya." Delia mengangguk mengerti.


"Oh ya bu. Maaf ya mas Agra belum bisa mampir. Tadi katanya ada urusan di perusahaan. Nanti sore kemari lagi menjemput Lia."


"Iya tidak apa. Mungkin suamimu banyak urusan. Lain kali kan juga bisa mampir nya."


"Ayuk Del ke kamar. Kamu udah kan makannya? Apa mau nambah lagi?" Yura menggoda Delia karena melihat sahabatnya telah menghabiskan makanannya hingga tandas tak bersisa.


"Ish apaan sih. Ibu Lia ke kamar dulu yah mau rebahan di kamar anak gadis ibu satu ini." Delia terkekeh dan mencubit gemas hidung Yura.


"Eh tunggu…" Ibu menghentikan langkah Delia. "Kayaknya ada yang aneh dari pinggang mu Lia." Ibu memperhatikan dengan jeli dan sedikit memutar tubuh Delia supaya lebih jelas lagi. "Lia kamu hamil ya?" Ibu bertanya antusias.


"Hah I…iya kog ibu bisa tahu? Memang bedanya apa yah bu?" Delia menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Jelas ibu tahu sayang. Dijaga yah… jangan makan sembarangan. Harus banyak istirahat. Tidak boleh kecapekan karena masih hamil muda." Ibu mengusap usap lengan Delia dengan sayang.


"Jadi beneran nih kamu hamil Del?" Giliran Yura yang menyampaikan keterkejutannya.


Delia tak menjawab. Ia menganggukkan kepala dan tersenyum pada sahabatnya Yura.


"Lia… kamu adalah anak ibu juga. Jadi jaga cucu ibu ya sayang." Ibu mendekat dan mengusap lembut perut Delia .


Mereka berpelukan meluapkan rasa bahagia yang membuncah akan hadirnya calon bayi Delia.


Bersambung…


...****************...

__ADS_1


I Love You All...❤️


__ADS_2