
"Maaf nona… tuan Agra sedang tidak bisa di interupsi, karena saat ini masih ada meeting." Dua resepsionis tidak dapat menahan perempuan berpakaian kurang bahan yang saat ini mencak-mencak ingin menyerobot masuk ke lantai atas.
"Heh… beraninya kamu melarang ku bertemu Agra. Lihat saja nanti kalau aku sudah jadi istrinya… kamu…dan kamu adalah orang pertama yang akan aku depak keluar dari perusahaan ini. Camkan itu!!" Tunjuk Natasya pada dua resepsionis yang kewalahan menghalangi perempuan yang mengaku sebagai kekasih atasannya itu.
Tentu saja mereka tak langsung percaya begitu saja. Karena sudah beberapa kali mereka mengizinkan perempuan yang datang untuk masuk bertemu dengan atasan tanpa membuat janji terlebih dahulu, sehingga berujung merekalah yang terkena batu mendapat SP 1. Bahkan tak sampai di situ saja, mereka diancam di keluarkan tanpa pesangon jika masih melanggar aturan. Dan saat ini, tentu saja resepsionis dan beberapa pengawal Agra yang tengah berjaga di lobby, dengan berbagai cara akan menghalau siapapun yang berniat menerobos masuk menemui atasan tanpa membuat janji. Siapapun itu, tanpa terkecuali.
"Dari dulu aku selalu malas jika harus menghadapi penggemar tuan Agra." Salah satu dari dua resepsionis berbisik pada partnernya yang berdiri menghadang Natasya di depan pintu lift.
"Iya nih… bikin kerjaan nambah saja. Serba salah banget. Nggak di izinin, dia nya nyolot. Di izinin kita kita yang kena damprat asisten Alex. Beuh… bikin repot saja. Balas salah seorang lagi, menimpali dengan suara rendah penuh kekesalan.
"Heii… malah ngobrol." Mereka lengah. Natasya mendorong keduanya hingga salah satu dari resepsionis jatuh terjengkang. Bersamaan dengan keributan dari area dasar gedung perusahaan itu. Suara pintu lift pimpinan terbuka. Agra dengan mata elangnya mengintimidasi Natasya dengan penuh selidik. Diam tak bergeming memindai sumber kegaduhan yang terdengar begitu pintu lift baru terbuka .
Sontak Natasya merubah sikap saat ia mengetahui laki-laki dambaan hati tengah berdiri dihadapannya menatap tajam ke arahnya. Ia merapikan pakaian kurang bahannya, mengibaskan rambut panjangnya yang sedikit berantakan dengan tangan akibat keributan yang ia ciptakan sendiri. Natasya berjalan mendekati Agra yang masih tak beranjak di depan pintu lift.
"Hai Agra… apa kabar kamu? Aku sangat merindukanmu…" Dengan tak tahu malu Natasya menghambur dan menubruk tubuh kokoh Agra, bergelayut manja melancarkan misi merayu lelaki pujaan hati. "Lihat tuh… semua karyawan mu kurang ajar padaku…" Natasya dengan percaya diri mengadukan kegaduhan yang baru saja terjadi yang sebenarnya ia sendirilah sebagai dalangnya. "Kamu harusnya memecat mereka Agra… karena mereka berani mengusirku dan dengan lancang menahan ku untuk tidak menemui mu." Natasya melirik sinis dua resepsionis yang tengah berdiri tak jauh dari depan pintu lift.
"Idih… " Salah seorang resepsionis tersenyum mengejek pada Natasya yang masih bergelayut manja, sengaja menempelkan dua gunung kembarnya untuk melancarkan aksi menggoda lelaki tampan penggoda iman.
__ADS_1
"Lepas…" Dengan suara rendah nyaris menggeram Agra mendorong tubuh Natasya untuk menjauhinya. "Kau pikir… kau ini siapa hah?" Tatapan Agra semakin tajam, dengan satu gerakan ia menghentak tangan Natasya yang masih memegang ujung jas nya. "Lex… bereskan semua kekacauan ini. Bawa perempuan ini jauh dari hadapanku, dan jangan sampai ada perempuan sepertinya lagi datang ke perusahaan." Agra berucap lambat lambat namun mampu membungkam mulut Natasya yang terus saja mengeluarkan segala bujuk rayu yang ditujukan khusus pada Agra.
Agra berbalik " Asal kau tahu… yang telah karyawan ku lakukan adalah benar adanya. Kau…" Agra menunjuk tepat di wajah Natasya. "Kau dan aku sudah tidak memiliki urusan apapun. Enyah lah dari hadapanku jika tak ingin aku berbuat yang lebih menyakitkan dari kalimat… oh… atau kalau kau belum juga menyadari semua kesalahanmu. Segeralah membeli kaca lebar dan pasang di kamarmu. Agar kau dapat menyadari. Siapa aku? Dan siapa kau berani menampakkan dirimu dihadapan ku setelah kau berbuat hal yang sangat memalukan sehingga mencoreng nama baik keluargaku. Dasar perempuan murahan tak tahu malu!"
Agra mengemudi mobil sendiri setelah memerintah asisten Alex untuk tetap tinggal di perusahaan. Mengawasi petugas membersihkan segala kekacauan yang telah Natasya perbuat.
Tiba tiba Agra merindukan istri cantiknya. Rindu berbagi peluh bersama menikmati indahnya surga dunia yang terasa berbeda ketika ia lakukan bersama sang istri.
Beberapa kali Agra menghubungi nomor istrinya tak juga tersambung. Lalu ia memutuskan menelepon kepala pelayan. "Hallo pak Li. Istriku dimana? Kenapa ponselnya mati?"
"Nyonya sedang istirahat tuan… tadi selesai menghabiskan rujak, nyonya muda langsung ke kamar… sampai sekarang belum terlihat keluar."
Mobil mewahnya melesat membelah jalanan yang kini lengang sebab masih jam efektif bagi para pekerja kantoran. Mungkin sebentar lagi akan sedikit ramai. Setengah jam lagi memasuki jam istirahat. Pikiran Agra terus saja tak tenang membayangkan sang istri yang tengah mengandung calon anaknya. Sebelum memakan rujak, ia sempat menawarkan Delia untuk memakan nasi terlebih dulu agar lambungnya tidak terasa perih, mengingat riwayat penyakit nya yang terkadang kambuh tak kenal waktu . Tetapi apalah daya saat pak Li menghidangkan nasi beserta lauk pauk dengan standart ahli gizi yang khusus dipekerjakan untuk Delia. Perempuan itu malahan muntah dengan sejadi jadinya tanpa ada yang keluar karena belum memakan apapun sejak ia sarapan dengan roti pagi tadi. Jadilah Agra dengan terpaksa mengizinkan istrinya memakan rujak yang dibeli di tempat langganan mama.
Pengawal yang berjaga segera membuka gerbang begitu mengetahui mobil mewah berlambang kuda milik majikannya berhenti tepat di depan pagar tinggi nan menjulang itu.
Melaju pelan menuju pelataran luas mansion dan berhenti di teras ber penjaga ketat . Agra keluar dari mobil membiarkan salah satu dari pengawal memindahkan , sedikit berlari ia memasuki mansion. Menuju pintu lift yang terhubung langsung ke lantai dimana kamarnya berada.
__ADS_1
Mendapati istrinya tertidur pulas dalam posisi meringkuk membuat hati pria arogan itu menghangat. Tak tahan untuk menghadiahi Delia sebuah kecupan hangat yang lama.
Ketika tidurnya terusik Delia perlahan terbangun membuka mata, menyesuaikan cahaya lampu masuk pada kedua matanya.
"Emhhh…" Ia menggeliat. Meregangkan tubuh yang terasa kaku sebab posisi tidur yang tak berubah. Tanpa sadar dua kancing piyamanya terlepas. Menampakkan belahan dada yang membusung, membuat seseorang yang sedari tadi memperhatikannya menggeram menahan gejolak hasrat yang tak sengaja bangkit akibat pemandangan indah tersaji tepat di depan mata. "Kamu sengaja menggodaku ya…" Lelaki itu semakin mendekati istrinya. Menyergap tubuh sintal Delia. Mengunci kedua tangan istrinya keatas sandaran. "Masss…" Jerit tertahan Delia ketika tersadar kini Agra tengah mengungkungnya." Sudah pulang…?" Matanya sibuk mencari letak jam dinding. "Masih siang sayang… apa meeting nya sudah selesai?" Ia bertanya namun fokusnya terpecah oleh rasa nikmat akibat permainan Agra.
"Aku merindukanmu… jadi aku langsung pulang." Ia menarik tubuh Delia. Menjaga tubuhnya untuk tak menindih perut istrinya dengan kedua tangan sebagai penyangga.
Sibuk menjamah sana sini. Semua yang ada pada istrinya bagai obat penawar kala emosi mengusai jiwa. "Mas pelan…" Kata orang sakit saat pertama melakukan hal itu. Namun nyatanya tidak untuk Delia. Agra selalu membuatnya tak berdaya kala mereka intim berdua. "Sesuai permintaan sayang…" Agra menggeram menuntaskan hasrat yang kian membara. Peluh bercucuran memberi nuansa menyenangkan. Semakin berpacu meraih kesenangan bersama. Seiring tubuh menghentak meliuk, seirama gerakan berdua. Semakin menggila menuju rasa melambung memenuhi dahaga. Hingga akhir, tetaplah Tuan Muda Arogan sebagai juara.
Delia bergelung manja di bawah selimut. Semakin merapat pada tubuh kokoh penawar rindu kala tak bersua. Aroma mint berpadu kayu gaharu menenangkan hati.
Agra sangat menikmati kebersamaan dengan istrinya saat ini. Kebersamaan yang selalu ia rindukan. Bahkan saat meeting pun bayangan sang istri selalu muncul. Mendera nya tanpa ampun.
Bersambung...
***Jangan lupa like, komen,rate, favoritkan novel pertamaku....
__ADS_1
Tengkiyu..tengkiyu..tengkiyu...
i love you all....❤️***