
Delia,
Selama aku menjadi istrinya, baru kali ini aku merasakan perubahan besar pada sikap suamiku. Tidak tahu kenapa ia manja sekali siang ini. Ia memelukku erat ketika aku membuatkan kopi untuknya, pun ketika aku selesai dengan pekerjaanku ia memintaku untuk duduk di pangkuannya, lalu setelah itu dengan tenangnya ia menciumi rambut juga tengkuk ku. Hih… geli sendiri jadinya.
Memang ku akui perjalanan rumah tanggaku dengannya terbilang tak mudah, tetapi juga bisa dibilang aku santai untuk menjalaninya, sebab dari awal aku telah memikirkan matang matang jalan yang akan ku tempuh ini dengan menikahi taipan kaya yang dari kesan pertama bertemu dengannya membuatku bergidik sendiri. Waktu itu aku berpikir, apakah aku mampu untuk menjalani kisah ini? Sementara aku dan dia berasal dari dunia yang sangat jauh berbeda. Apakah aku mampu? Selalu pertanyaan itu yang terus berputar bagai benang kusut di pikiranku kala itu. Kesan pertama bertemu dengan mama lah yang membuatku bertambah yakin dan berani untuk menerima pernikahan ini, mama adalah sosok ibu yang hangat, pembawaannya yang lembut mengingatkanku pada ibu.
"Mas nanti mampir sebentar ke toko kue dekat toko bunga ya…" Pintaku pada mas Agra ketika kami akan memasuki mobil yang telah asisten Alex parkir kan tepat di depan lobby. " Kamu mau kue?" Tanyanya, yang ku jawab dengan gelengan.
"Mama tadi nitip beberapa kue untuk jamuan tamu papa, mas." Terang ku padanya. Hemm… suamiku terlihat begitu tampan meski dalam kondisi pulang kerja begini. Namun aku tak berani untuk melihat bahkan menatapnya saat ini. Aku malu.
" Lihat aku kalau yang kamu ajak bicara aku." Ucapnya tegas tak main-main.
Memang sedari pertama aku bekerja sebagai sekertaris nya suamiku itu tidak suka jika lawan bicaranya tak menatap matanya. Siapapun itu.
Jadi tidak heran kalau saat ini ia terlihat begitu kesal ketika aku berbicara dengannya tanpa menatap mata. "Iya…" Ucapku takut takut kemudian ku alihkan mataku dari pemandangan luar tertuju padanya.
"Siapa tamu papa?" Tanyanya padaku yang ku jawab dengan gelengan kepala, karena memang tidak tahu." Tidak tahu, mas… tadi mama cuma berpesan minta di belikan beberapa macam kue dari toko langganannya."
"Ya sudah… Lex nanti mampir ke toko kue dulu." Perintahnya pada asisten Alex yang tengah fokus mengemudi.
Begitu sampai di pelataran parkir toko kue, mas Agra memintaku supaya segera masuk dan memilih kue dengan ditemani asisten Alex. "Lex jaga istriku, aku mau ke toko tante Maya sebentar. Sudah lama aku tidak menyapa."
__ADS_1
" Baik tuan, silahkan."
Aku yang mendengar percakapan mereka segera menahan mas Agra. " Mas tunggu…"
"Ada apa, sayang?" di depan beberapa orang yang lalu lalang di sekitaran toko, mas Agra memanggilku dengan mesra. Niatnya untuk menyembunyikan hubunganku dengannya kenapa berbanding terbalik dengan caranya memperlakukanku. Sungguh aku tak habis pikir mengapa hal itu bisa terjadi. Dan meski tak ku pungkiri juga jika sebenarnya hatiku teramat berbunga atas perlakuan manisnya padaku saat ini.
"Emmh… itu kenapa tidak menemui bu Maya bersamaku saja?" Tanyaku salah tingkah.
"Kamu pilih saja kuenya dulu… aku hanya sebentar tidak lama. Begitu kamu selesai memilih kue pesanan mama, aku sudah sampai di sini lagi." Ucapnya menenangkan ku.
"Baik mas, mungkin lain kali saja aku ke sana menyapa mereka." Lalu mas Agra berjalan menjauhi toko menuju toko bu Maya yang terletak tak jauh dari toko kue ini.
Di kompleks pertokoan ini memang selalu tampak ramai jika menjelang malam. Ada banyak anak muda, juga orang tua yang sengaja mengajak jalan jalan anak mereka untuk sekedar cuci mata atau bahkan menjajal semua jajanan yang unik dan lagi viral di kalangan anak muda, tumpah ruah menjadi satu. Aku menatap mas Agra yang memasuki toko bunga bu Maya lalu aku juga segera bergegas masuk ke dalam dan membeli semua daftar kue pesanan mama untuk jamuan nanti malam dengan asisten Alex yang selalu setia berada di belakangku atas perintah mas Agra.
"Maaf nyonya muda… nanti tuan memarahi saya jika saya meninggalkan anda sendiri di sini. Saya akan menunggu anda sampai selesai lalu kita akan membayarnya bersama juga."
"Jangan! Tidak apa-apa asisten Alex, saya akan menyelesaikan pesanan mama yang lain. Ini tolong bayar dan masukkan ke mobil mas Agra ya!" Kekeh ku lalu aku berjalan meninggalkannya yang terbengong tak mampu lagi mematahkan keinginanku. "Lucu juga aku melihat raut wajahnya yang kebingungan itu hihi." Ucapku lirih tak bisa menahan senyum jahil ku, kalau tahu seseru ini mengerjainya sudah dari dulu ku lakukan kan.
Ku lihat mas Agra tengah berbincang serius dengan asisten Alex, dari raut seriusnya suami ku terlihat sedang memarahi asisten setianya itu atas ulah konyol ku tadi. Aku yang merasa bersalah bergegas menghampiri mereka, niat ku untuk menjelaskan bahwa tadi kesalahanku ku urungkan sebab mas Agra juga menatapku tajam. Ciut juga nyali ku ini. " Kamu ini sudah ku bilang agar tidak jauh-jauh dari Alex kenapa malah menyuruhnya ke mobil!!" Omelnya padaku yang ku jawab dengan wajah memelas ku tanpa berucap sepatah katapun.
"Jangan seperti ini lagi, tolong jaga sikapmu! Kamu tak tahu bahaya apa yang mengintai jika aku atau para penjaga tak ada di sampingmu!!" Sambungnya menahan kesal.
__ADS_1
" Maaf mas… aku janji tidak akan begitu lagi." Rayuku padanya karena ku lihat ia masih mengerutkan keningnya tanda bahwa emosinya belum mereda. " Maaf… seharusnya aku tidak berbuat hal konyol seperti tadi." Aku menyesal, menunduk menahan air mata yang telah terbendung di pelupuk mata. Aku lupa bahwa tempo hari sempat terjadi penembakan di apartemen yang hampir mencelakai ku. Aku lupa, pasti mas Agra saat ini tengah was-was dengan keadaan tak terduga di sekitarnya. Aku tahu dibalik sikap kerasnya, saat ini ia begitu mengkhawatirkan banyak hal. Terutama orang-orang tersayangnya. Maafin aku mas. Ucapku lirih dalam hati.
Kurasakan tanganku ditarik olehnya hingga aku terjatuh dalam pelukan hangatnya. Air mataku terjun bebas begitu saja saat ia merengkuhku menyalurkan perasaan yang tak dapat kami berdua jabarkan. Aku tenggelam dalam pikiranku...
Tepat pukul tujuh malam mobil yang kami tumpangi sampai di mansion. Asisten Alex berpamitan dengan mas Agra, setelahnya ia bergegas melesat meninggalkan mansion dengan mengendarai mobil mas Agra yang sering dipakai untuk mengantar jemput kami. Dari belakang mama mendekat memeriksa semua pesanan kue yang telah di bawa oleh pak Li untuk segera ditata menjadi beberapa piring saji.
" Tamu yang mana ma… kog tumben malam, biasanya siang. Dan kalau malam papa seringnya makan di luar kenapa ini jadi di mansion?" Cerca mas Agra yang khawatir pada mama dan papa yang begitu kami sayangi, mengingat situasi kondisi yang membuat kami harus selalu waspada akan banyak hal yang tak terduga.
" Itu, sahabat mama dan papa dulu sewaktu kuliah. Katanya sih putranya seumuran denganmu sayang. " Jelas mama pada mas Agra yang berdiri merangkul pundak mama.
Mas Agra melirikku sekilas lalu ia merogoh saku celananya mengambil ponsel. Mengetik sesuatu yang tak ku ketahui untuk siapa akan dikirimkan. Tetapi dari keningnya yang berkerut, aku meyakini jika ia sedang berkirim pesan pada seseorang yang penting.
Setelah mendapat jawaban dari mama, mas Agra terlihat menjadi sedikit lega. " Maa… aku keatas dulu ya… mau mandi sama istriku." Ucapnya tenang tanpa ekspresi, yang justru membuat pipi ku terasa panas sebab menahan malu atas ucapan suamiku yang tak tahu malu itu. ih… masa di depan mama nggak tahu malu membahas hal sensitif seperti itu. Batinku kesal sendiri menghadapi mas Agra.
"Ish… kamu ini. Liat tuh istrimu malu Agra! Yaudah cepat mandi lah kalian. Kalau capek tidak usah turun tidak apa-apa Lia. Biar mama sama papa yang menemui tamu … oh ya makan malam kalian biar dibawa keatas pak Li nanti "
"Baik ma… kalau begitu kami pamit keatas dulu ya maa." Ucapku pada mama yang sibuk memberi arahan untuk pak Li agar segera menyiapkan semua jamuan, sebab tamu papa sebentar lagi tiba di mansion.
Dan malam ini kami memutuskan menginap di mansion karena aku sendiri juga terlalu lelah jika harus melakukan perjalanan lagi saat ini.
……
__ADS_1
Bersambung…
Happy Reading.❤️