
Delia masih terlalu syok mengingat perkelahian suaminya dengan dokter Leo. Memeluk lelaki itu sambil sesekali melirik wajah tegang Agra di dalam mobil yang masih terparkir di halaman kampus. Dahi Agra sendiri berembun, nafasnya masih memburu, namun ia hanya diam tak berbicara sepatah katapun, kilasan terakhir yang ia tangkap di bayangan matanya, istrinya tengah tertawa ria dengan lelaki lain. Kenapa harus Leo? Kenapa harus sahabatnya? Pertanyaan itu yang terus menerus berputar di otaknya. Ingin sekali membuang jauh pikiran buruk tentang istrinya yang tengah mengandung buah cintanya. Tetapi saat ia mencoba untuk melupakan, justru bayangan dimana Leo menyentuh bahu istrinya semakin membuatnya tak berhenti tenggelam dalam kekalutan hatinya. Tawa ria juga gestur tubuh Delia yang dengan senang hati menerima candaan Leo masih tercetak jelas di pelupuk mata tajamnya. Ia tak terima! Bajing*n itu harus menerima ganjaran akibat menyentuh istrinya yang berharga dengan kedua tangannya yang menjijikan itu.
"Lia…" Agra memanggil setengah menggeram. Dan begitu wanitanya mendongak mengamati wajahnya tanpa berkedip, tiba-tiba saja ia meraup dan ******* kasar bibir ranum Delia yang setengah terbuka, mengabsen seluruhnya tanpa celah.
Sedetik kemudian ia berhenti. Delia memukul-mukul dada bidang Agra karena pasokan oksigen yang mulai menipis di rongga paru-parunya. "Mas… berhenti!" Delia mendorong kasar Agra yang mendekatinya lagi, namun tetap, kekuatannya tak sebanding. Agra sama sekali tak bergerak, malahan lelaki itu membalasnya dengan tatapan tajam. Seolah olah akan menelan bulat-bulat istrinya sebab emosi yang tak kunjung padam. "Kamu kenapa mas?" Sisa nafasnya yang masih tersengal membuatnya sedikit terbatuk-batuk. "Masih pantaskah kamu menanyakan suasana hatiku yang memburuk akibat ulah mu?…" Delia mengernyit bingung. "Apa maksud kamu? Aku nggak ngerti mas…? Kalau yang kamu maksud adalah bagaimana bisa aku mengenal dokter Leo? aku akan dengan gamblang menjelaskannya padamu. Tapi nanti saat kamu tenang, dan tidak dengan emosi. Tolong jangan seperti ini ya…." Sambil meringis menahan perut yang terasa sedikit kencang, Delia menjelaskan dengan nada luar biasa lembut. "Hey… kamu kenapa?" Agra panik. Menyaksikan Delia yang sedikit menggigit bibirnya serta dahi yang mulai berembun basah oleh keringat dingin. "Awh… sakit mas…" Tangan mungilnya mencengkeram kuat lengan kokoh Agra.
Sebelah tangannya yang bebas mengusap usap perutnya yang terasa kencang dan melilit. "Mas mau pulang…" Ucapnya lirih.
"Sayang! bagian mana yang sakit? Kita ke dokter ya? Maaf, maafin aku. Kamu berbaring di sini ya kita langsung menemui dokter Stella. Aku nggak mau kamu kenapa-napa." Dengan lembut ia baringkan sang istri di kursi sebelahnya. Memposisikan kursi lebih turun. di kursi belakang, lalu ia merogoh ponsel dalam saku celananya untuk menghubungi doter Stella supaya segera bersiap. Namun saat sebelum tangannya yang berada di saku, detik itu juga Delia menarik narik ujung kemejanya yang lusuh dan menahannya agar tak jadi menelepon. "Nggak mau ke dokter…" Agra berbalik, menatap Delia yang juga menatapnya lembut. "Mau pulang." Sambungnya lagi.
Sudut bibir Agra terangkat. Tersenyum lembut mendekati istrinya dan mengecup sayang perut rata Delia "Kita periksa ya? Tadi perutmu terasa kencang, aku takut mereka kenapa-napa." Delia menggeleng kuat. Masih dengan tatapan lembutnya ia menolak untuk di bawa ke rumah sakit. "Mau tidur… di temenin." Alis tebal Agra bertaut, pandangannya lembut menatap Delia. " Masih sakit…?" Ia bertanya sambil sebelah tangannya mengusap usap perut istrinya yang masih terasa sedikit kencang.
Delia menggeleng." Sedikit… mau pulang istirahat di apartemen saja."
"Oke kita pulang sekarang." Meski hati masih membara. Namun Agra akan berusaha mengesampingkan urusannya. Kondisi Delia saat ini belum benar-benar pulih pasca keluar dari rumah sakit, ia tentu akan melakukan segala cara untuk melindungi istrinya. Jadi akan sangat tidak termaafkan jikalau sikapnya yang emosional justru menjadi boomerang dan akan membahayakan keselamatan istri dan calon anaknya.
Mobil mewah favoritnya melaju kencang membelah jalanan di area dekat kampus yang lengang sebab masih di jam aktif bagi para mahasiswa. Begitu memasuki jalan besar ia dihadapkan dengan hiruk pikuk padatnya kendaraan sebab hari ini adalah akhir pekan, sesuai jadwal kuliah istrinya. Tangannya terulur menyentuh pipi lembut istrinya, mengusapnya pelan dan sedikit meremasnya dengan sebelah tangan yang menangkup gemas, menyingkirkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah cantik Delia. Perempuan itu bersandar sambil menatap suaminya yang tengah fokus mengemudi dengan sebelah tangan. Kemahiran mengemudi Agra memang tak perlu di ragukan lagi, sebab meski jalanan ramai pun ia mampu mengendarai mobil sport itu dengan lihai hanya menggunakan sebelah tangan. Sebelah tangannya sibuk menggenggam tangan halus istrinya, menarik dan membawanya dalam dekapan lalu menghadiahi kecupan hangat di punggung tangan Delia. "Sabar ya… kita pulang dan istirahat, oke."
Sampai di basemen Agra segera membuka pintu mobil. Setengah berlari menuju pintu mobil bagian samping pengemudi.
Saat pintu sudah terbuka, ternyata Delia sudah akan berdiri.
__ADS_1
Merangkul pundak Delia. Kemudian sebelah tangan ia letakkan di lipatan kakinya, setelah itu mengangkatnya dengan hati-hati. "Jangan protes! Diam dan bersandar lah di dadaku! Oke?" Begitu memastikan mengangkat tubuh istrinya dan memposisikan agar Delia nyaman, lelaki itu segera melanjutkan perjalanan menuju apartemen mereka. Langkah lebarnya dengan pasti berderap mendekati pintu lift khusus untuknya.
" Tolong bantu aku menekannya!" Di depan lift Agra meminta Delia menekan tombol menuju lantai tertinggi dimana apartemen mereka berada.
Di dalam lift Agra menurunkan Delia dari gendongan hangatnya, mendorong pelan tubuh Delia hingga bersandar ke dinding lift. "Mas mau apa?" Tanpa banyak kata lelaki itu menatap dalam manik bening Delia yang setia mendongak menatap mata hazell nya. Jarak yang semakin terkikis diantara keduanya, tentu saja tak di sia siakan oleh Agra, ia menarik tengkuk Delia. Berbanding terbalik saat ia mencium kasar sebab emosi menguasai diri sewaktu di mobil. Saat ini ia berusaha membuang segala pertahanan hatinya yang keras hingga membawanya ke dalam suasana romantis tak terelakkan. Delia sendiri sudah tak mampu lagi berdiri tegak. Bukan tanpa alasan. Segala perlakuan Agra yang luar biasa lembut membuatnya semakin hilang kendali. Perempuan itu sendiri juga menyadari perbedaan yang jelas sikap Agra atara saat di mobil hingga detik ini. Delia mengalungkan tangan lentiknya di leher kokoh Agra, membalas setiap serangan yang suaminya layangkan memang ia akui tak semudah membalikkan telapak tangan.
Beberapa kali lututnya terasa lemas dan beberapa kali juga ia tak kuat menopang tubuhnya sendiri. Senyum licik Agra tercetak jelas saat ia berhasil mengerjai istrinya. Setengah mengangkat tubuh Delia. Serangan demi serangan pun tak henti hentinya ia lancarkan pada istri mungilnya. " Sudah menyerah Lia?" Agra bertanya setengah terkekeh. Memandangi wajah istrinya yang kini tampak tak karuan akibat ulah jahilnya.
Ting!!!!
Pintu lift terbuka…
Dan sebelum Agra mendapat banyak pertanyaan dari istrinya mengenai pertanyaannya yang ambigu. Dengan segera ia mengangkat tubuh Delia, menggendongnya lalu segera melangkah lebar meninggalkan lift menuju apartemen mereka di lantai tertinggi gedung miliknya ini.
Membaringkan Delia di ranjang luas kamarnya. Mengungkungnya, menghadiahi ciuman berbekas di seluruh area favoritnya tanpa celah. Delia yang sibuk mempertahankan diri agar tak mengeluarkan suara pun akhirnya menyerah. Mengikuti alur yang suaminya ciptakan
"Massshhh…" Detik dimana ia menerima serangan Agra dengan sukacita detik itu juga ia menyadari, ada yang salah dari perlakuan suaminya kali ini…
Ada perasaan yang ingin Agra sampaikan padanya tanpa banyak kata.
Rasa cemburu yang luar biasa membuat Agra menyerangnya secara membabi buta. Dan meski dengan kelembutan yang luar biasa, Delia tetap menyadari bahwa suaminya ingin menyampaikan rasa yang begitu mendalam padanya.
__ADS_1
*
Dalam keadaan polos… ia memeluk tubuh kekar suaminya. Menggambar pola di dada bidang Agra. "Apakah ada yang ingin mas Agra tanyakan padaku?" Delia bertanya lirih sambil sesekali mendongak memperhatikan wajah suaminya yang basah oleh keringat cinta yang bercampur diantara keduanya selepas urusan penting mereka.
Agra menoleh… menatap mata bening istrinya dalam. "Untuk apa aku bertanya padamu… Kamu sendiri pun tentu sudah sangat paham mengenai diriku luar dalam Lia." Ada kesedihan yang tersirat dari kalimat yang terlontar dari suara Agra. "Aku cemburu!" Buru-buru lelaki itu menjelaskan dengan gamblang perasaannya saat ini sebelum kekerasan hati merenggutnya untuk mengungkapkan rasa yang sebenarnya. "Aku tahu kamu tidak ada niat sama sekali untuk mengkhianati ku. Tapi aku dengan kekerasan ku selama ini, sungguh sangat tidak mudah menahan emosi kala secara langsung menyaksikan wanitaku bercengkerama akrab dengan laki-laki lain di depan mata dan kepalaku sendiri. Nalar ku menolak untuk berdamai Lia. Dan aku memaksamu sebagai seorang suami, kamu harus menerimaku dengan caraku mencintaimu. Sekalipun itu harus menggunakan kekerasan. Kamu harus tahu bahwa itulah aku, suamimu. Kamu harus benar-benar mengingatnya di dalam hati dan pikiranmu."
Delia terus mendongak memperhatikan setiap kalimat yang di sampaikan oleh Agra. Tidak menyela sama sekali.
Saat Agra berhenti berbicara saat itu juga secara impulsif, Delia menaikkan posisi tubuhnya agar sejajar dengan wajah suaminya. Tanpa banyak kata dan tanpa paksaan atau perlawanan. Secara sukarela dan senang hati ia menarik tengkuk, membenamkan bibir ranumnya pada bibir tebal Agra. ******* menyes*p tanpa jeda dan tanpa cela.
Agra yang menerima serangan istrinya secara tiba-tiba tentu sangat menerima dengan bahagia sikap manis Delia tanpa ia minta juga tanpa ia paksa. Kedua sudut bibirnya terangkat ditengah tengah percintaan mereka. Membalas setiap sikap inisiatif Delia dengan serangan mendominasi yang bertubi-tubi.
Meski tanpa kata… keduanya larut dalam cinta yang semakin bertumbuh…
Bersambung…
...****************...
Jangan lupa KOMEN, LIKE, VOTE, RATE serta Favoritkan NOVEL pertamaku.
Kopi mana kopi…😂
__ADS_1
gawe sangu gadang ki gess engko bengi. Canda kopi😁…