Tuan Muda Arogan

Tuan Muda Arogan
Malam Pertama


__ADS_3

" Kenapa harus pindah sekarang Agra. Apa kamu tidak memikirkan perasaan kami lagi sebagai orang tuamu?"


Mama Rani berbicara dengan raut sendunya. " Delia harusnya tinggal disini, menemani mamamu yang sudah tua dan sering kau tinggal-tinggal ini!"


"Nanti ma… Agra ingin kita tidak bergantung pada pelayan atau asisten apapun. Dan perusahaan saat ini sering mengadakan rapat dengan dewan direksi. Kalau Agra tinggal di apartemen tentu saja akan menghemat waktu ma."


" Sudahlah memang kau ini anak bandel. Jadi ya mau bagaimana lagi selain mama izinkan niatmu itu!"


" Mama tenang saja. Agra akan sering mengunjungi mama dan papa nanti." Lelaki berbadan tegap ini berdiri,berjalan mendekati mamanya, mencium pipi kemudian melangkah meninggalkan meja makan.


" Biarkan mereka tinggal diapartemen ma. Mama sendiri kan tahu anak kita memiliki jiwa pemimpin yang kuat, jadi selama Agra bisa membagi waktu semua pasti akan baik-baik saja." Ucap papa Hadi yang sedari tadi hanya diam membaca majalah bisnis setelah selesai makan sambil sesekali mencecap kopi dihadapannya.


" Papa ini selalu membelanya! Harusnya papa menahan Agra untuk tetap tinggal disini. Mama ingin merasakan memiliki seorang putri pa… seorang anak perempuan yang bisa menemani mama berkebun, belanja, kesalon dan lain-lain. Agra mana bisa dan tak mungkin juga seperti itu, dia terlalu sibuk dengan semua kerjaan kantornya."


" Del. kamu sudah selesai makan ya sayang?" Terlihat Delia mengelap mulutnya dengan lap khusus kemudian ujung bibirnya terangkat. Tersenyum menatap mama Rani.


" Iya ma Delia sudah selesai. Makanannya lezat sekali, maaf tadi Delia nambah ma…" tersenyum malu-malu karena tumis daging dengan taburan persley serta wijen tampak tinggal kuah kecapnya saja yang menempel dipiring saji.


" Kamu boleh nambah lagi sayang kalau mau, mama bisa meminta koki menyiapkannya lagi untukmu." ucapnya dengan nada lembut dan meyakinkan.


Gadis itu terkejut saat mama Rani sudah bersiap memanggil pak Li yang berjaga didekat minibar favorit Agra " Tidak… ma tidak sudah cukup, sepertinya Delia sudah kenyang." Papa Hadi tergelak melihat menantu cantiknya yang kebingungan menanggapi ulah isterinya.


" Ya sudah, gih kekamar susul suamimu. Anak itu biasanya selalu kesusahan saat memasang dasi, padahal mama sudah sering mengajarinya dan lagi tidak mau disentuh pelayan sembarangan jadi repot sendiri kan."


" Iya ma pa Delia kekamar dulu. Permisi." Berjalan sedikit cepat menaiki tangga menuju lantai atas.


Kedua orang tua yang sedang duduk menikmati hidangan pencuci mulut tersenyum bahagia.


" Pa… rasanya mama belum rela mereka tinggal terpisah dari kita. Rumah ini pasti akan terasa sepi lagi pa."


" Sudahlah ma… mama dengar sendiri kan, kalau jadwal Agra dikantor sangat padat. Apa mama nggak takut Delia kelelahan nantinya kalau harus menempuh perjalanan jauh dari kantor ke mansion, katanya pengen cepat gendong cucu." Mama Rani terkekeh mendengar ucapan papa Hadi.


" Iya tentu saja pa... semoga saja Delia cepat hamil ya pa."


" Iya ma... kita doakan saja yang terbaik untuk mereka berdua."

__ADS_1


Sementara itu dilantai paling atas mansion.


Agra sedang berbicara dengan asisten kusus pakaiannya ketika Delia membuka pintu. Dia terlihat merapikan penampilan Agra. " Sudah selesai tuan. Pak Li menyampaikan pesan untuk anda bahwa driver sedang menyiapkan kendaraan, apakah nyonya muda akan berangkat bersama anda?"


" Siapkan kendaraan lain untuknya. Antarkan dia ke apartemen, aku akan langsung ke kantor!" Lelaki itu berjalan dengan santai tanpa memperdulikan Delia yang menunggunya sedari tadi.


" Tuan tunggu…" Cegahnya menghetikan langkah Agra. " Bagaimana dengan kantor tuan? Rapat satu jam lagi akan dimulai, bagaimana dengan anda tuan? Kenapa saya harus ke apartemen sekarang, bukankah lebih baik kita pergi ke kantor bersama, agar lebih menghemat waktu?" Ucapnya tanpa jeda, membuat Agra menatapnya sinis.


" Kau pikir kau ini siapa? Beraninya mengaturku!! Sudah kukatakan padamu berulangkali untuk tak banyak bicara. Cepat keluar dari kamarku dan segera pergi ke apartemen sesuai perintahku. Atau aku akan menghukumu !!" Geramnya dengan nada penuh penekanan.


" Ba… baik tuan saya akan ke bawah." Dengan langkah terburu-buru gadis itu meninggalkan Agra. Dia takut jika Agra benar-benar akan menghukumnya.


Delia menuruni tangga dengan setengah berlari.


" Delia hati-hati jangan terburu-buru! Kenapa tidak menggunakan lift saja Del?" Mama setengah berteriak melihat menantunya berlari menuruni tangga.


" Maaf ma, Delia pagi ini akan ke apartemen. Delia pamit dulu ya ma…" Mendekati mama, meraih tangan lalu bersaliman. Rasanya baru sebentar merasakan lagi kasih sayang dari seorang ibu semenjak kepergian mendiang orangtuanya. Entahlah, baginya sekarang segala yang terjadi dihidupnya mungkin memang sudah takdir. Dia merasa hanya perlu melakukan yang terbaik saja untuk hidupnya dan orang-orang disekitarnya.


...****************...


Sesampainya di apartemen pagi tadi Delia berniat untuk pergi ke kantor. Tanggungjawab sebagai seorang sekertaris di sebuah perusahaan besar tentu saja menjadikannya tak bisa berbuat semaunya dengan tidak masuk tanpa suatu alasan yang jelas. Tetapi bahkan di apartemen mewah dengan keamanan berlapis serta penjagaan ketat itu tak ada satupun baju yang layak untuk dipakainya pergi ke kantor.


Bahkan kini ia memakai baju tidur yang sebenarnya lebih baik tela****g saja menurutnya. Semua ini adalah rencana mama Rani yang meminta asisten Alex untuk menyiapkan semua baju-baju itu sebelum Delia dan Agra sampai di apartemen.


" Itu orang otaknya dimana sebenarnya ya… baju begini tipisnya malah dibeli. Kan percuma saja kalau aku pakai kayak gini malah masuk angin gimana coba!!" Kedua tangannya mengusap usap sisi-sisi lengannya mencoba menyalurkan hangat tangan pada tubuhnya. Tidak tahu jika di apartemen tersebut tersedia penghangat ruangan yang dapat disetel sesuai keinginan .


" Huuft… mana baju yang tadi udah basah kena air lagi. Kenapa begini coba bajunya tipis banget ini…" Delia bergumam-gumam jengkel dengan situasi yang dihadapinya. Dia berjalan mendekati dapur yang tertata rapi, rasa lapar karena melewatkan makan siang membuatnya ingin mencari bahan makanan yang tersedia di lemari pendingin untuk kemudian dimasak. Ketika sedang asyik menyiapkan menu untuknya Delia tidak mendengar jika ada langkah kaki yang mendekat


Lelaki bertubuh tegap dengan wajah tampannya itu sudah berdiri di depan pintu dapur. Dia memperhatikan Delia dengan luwesnya menuangkan masakan yang sudah matang kedalam mangkuk sedang dan semangkuk mie serta potangan sayuran menggugah selera telah siap disajikan.


Kulit putih mulusnya juga seluruh lekuk tubuhnya jelas terpampang nyata karena Delia saat ini memakai baju tidur berbahan tipis . Rasa panas juga rasa dingin yang datang secara bersamaan secara tiba-tiba menjalari seluruh tubuh Agra. Tetapi tentu saja ia tak akan memaksakan keinginannya pada gadis yang bahkan jarang bertatap muka dengannya. Hanya saja naluri kelelakiannya saat ini tak bisa berkompromi pada pikiran angkuhnya, toh Delia sudah sah menjadi miliknya.


" Makanan sampah seperti itu seharusnya berada di tempat sampah. Siapa yang mengijinkanmu mencemari hunianku dengan bau menyengat ini?" Bibirnya berbicara seakan berusaha bersikap angkuh, tetapi matanya dipenuhi kabut hasrat yang tak terbendung dan membuatnya semakin terasa nyeri dibawah sana. Apalagi ketika Delia memutar tubuhnya mencari sumber suara. Area sensitifnya dengan kedua puncak yang mengayun-ayun membuat Agra tak bisa menahan diri lagi. Delia tidak memakai apapun kecuali baju tidur tipis menerawang yang telah disiapkan ibu mertuanya.


Bibir ranumnya tak urung berucap. " Ma…maafkan saya tuan. Sa…saya lapar, la…lalu hanya ini yang tersedia di lemari pendingin. Jadi sa…saya memasaknya. Ma…maafkan saya tuan." Ucapnya terbata dengan kedua tangan yang berusaha menutupi tubuhnya .

__ADS_1


Agra tidak menjawab. Dia berjalan maju ke sisi kanan Delia. Dengan refleks gadis itu mundur, mengangkat kedua tangan untuk menutupi dadanya.


Tubuh Delia membentur meja dapur, hingga kedua tangannya ia gunakan sebagai penyangga. Tentu saja membuat kedua area sensitif yang mengayun ayun terlihat jelas di penglihatan Agra.


Lelaki itu semakin merangsek maju menghimpit tubuh Delia seiring rasa nyeri yang semakin menjalari tubuhnya. Bahkan Delia bisa merasakan sesuatu dibawah sana


" Mau apa kau tuan… " Delia tahu situasi ini akan dihadapinya cepat atau lambat. Tetapi ini pertama kali untuknya, tentu saja ia butuh menata hati menyiapkan diri melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.


" Kau…kau pasti bisa merasakan. Aku… aku tak bisa menahannya lagi. Dan kau harus membantuku sekarang juga atau aku akan memaksamu dengan cara yang lebih kasar lagi…" Geramnya dengan mata dipenuhi kabut hasrat yang hampir meledak.


" Te… tapi tuan. Sa… saya…"


Belum sempat menyelesaikan kalimatnya. Agra mendorongnya, merapatkan tubuh kekarnya pada Delia. Menyatukan kening, perlahan memaksakan keinginannya.


Permainan ahli Agra yang mampu menghanyutkan Delia perlahan jatuh pada pesonanya. Hingga tanpa sadar mereka telah sampai di dalam kamar. Rasa tertarik yang selama ini ia pendam untuk Delia membuat hatinya terbelenggu dalam keegoisan untuk tak pernah menyuarakan isi dalam nuraninya.


Gelenyar-gelenyar rasa yang diciptakan Agra membuat Delia beberapa kali hampir jatuh lemas karena tak dapat menahan rasa yang hampir memenuhinya.


" Tuan… hen…hentikan tuan sa…saya takut henti…" Kalimatnya terpotong ketika Agra kembali melesak menindihnya , Agra dengan sekali gerakan mer***k pakaian Delia dan melemparkannya serampangan.


Malam yang panjang untuk hati yang belum menyatu. Mungkin setelahnya atau juga tak kan pernah sama sekali. Tetapi orang bilang cinta datang karena telah terbiasa, begitupun Agra dan juga Delia. Mereka tak pernah menyangka takdir yang mengikat masing-masing. Yang mereka tahu hanyalah, menjalaninya dengan penuh lapangdada apa yang terjadi saat ini.


Kedua insan yang bergelung dibalik selimut tebal yang menjadi pelindung dinginnya malam ini, melepaskan akhir rasa yang membuat pikirannya melambung penuh rasa bahagia jauh dibagian terdalam tubuh Delia hingga mereka sama-sama tertidur pulas saling menghangatkan.


Agra telah mengatur suhu ruangan supaya Delia tak kedingingan seperti ketika pertama tangannya menyentuh tubuh Delia tadi akibat cuaca diluar sana.


Mata elangnya memandangi Delia. Agra terbangun di tengah malam ini, tangannya semakin menarik Delia kedalam pelukannya, merapatkan selimut yang menutupi tubuh urian mereka. Gerakan Delia yang refleks karena sentuhan Agra saat menutupi pundak mulusnya yang terbuka dengan selimut membuat sesuatu dibawah sana kembali terusik.


...****************...


***TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA


LOVE AUTHOR***


PITA WULAN

__ADS_1


__ADS_2