Tuan Muda Arogan

Tuan Muda Arogan
Menemukanmu


__ADS_3

Agra memukul kepala penjaga villa menggunakan gagang pistol di tangannya. Geram sekaligus jengkel mendapati anak buahnya tidak bisa melaksanakan tugas dengan baik hingga istrinya di culik dan sekarang ia tidak tahu kemana harus memulai mencari Delia. Meskipun dengan segala kekuasaan yang Agra miliki saat ini sangat mudah baginya menemukan keberadaaan markas milik penculik istrinya, tetap saja segala resiko bisa terjadi. "Bodoh kalian!! Kalau sampai terjadi sesuatu pada istriku, habis kalian!" Hardiknya pada beberapa anak buahnya yang hanya bisa menunduk sambil menahan sakit luka di tubuh mereka akibat perkelahian sengit melawan penyusup berkemampuan di luar dugaan beberapa saat sebelumnya.


Agra bergegas memasuki kamar utama setelah mengeluarkan serentetan perintah pada Alex untuk segera mengerahkan anak buahnya melakukan pencarian di setiap sudut kota London. Matanya menangkap pemandangan kamar dalam kondisi kacau. Ada bekas darah berceceran di lantai, seketika itu Agra di landa panik luar biasa. Bayangan Delia terus menari di pikirannya, bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu pada istrinya? Apalagi saat ini Delia dalam kondisi mengandung. Agra segera membuang jauh pikiran buruk tentang Delia saat langkahnya mengayun menuju pintu balkon yang terbuka. "Tuan, Alice dan Nora juga ikut menghilang. Kemungkinan besar mereka bersama nyonya dalam kuasa penculik saat ini. Sementara Daren masih di rumah sakit dan dalam perawatan intensif akibat luka tembak di bahunya. Saya akan bergegas menemuinya untuk mendapat informasi lebih lanjut lagi." Alex menjelaskan detil perkembangan informasi yang ia dapat seusai villa di serang habis-habisan tanpa sepengetahuannya. "Kita harus segera menemukan istriku secepatnya. Berikan kunci akses menuju ruang cctv, aku akan memeriksanya sendiri." Ekspresi Agra berubah gelap, menyambar kunci di tangan asisten Alex lalu bergegas meninggalkan kamar utama.


Di ruang cctv mata elangnya mengamati rekaman dengan jeli bagaimana Delia dan dua pelayan berusaha melarikan diri dari villa. Tanpa banyak menunggu lagi Agra bangkit dari duduknya dan berjalan setengah berlari meninggalkan ruangan cctv.

__ADS_1


Menuju parkiran Agra segera memasuki salah satu mobil mewah koleksinya, ia memilih mobil dengan spesifikasi paling cepat diantara 10 mobil mewah yang terparkir di garasi. Melaju dengan kecepatan di atas rata-rata Agra membelah jalanan kota London. "Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, aku tak akan pernah memaafkan diriku sendiri." Ujarnya dengan penuh penyesalan. Rasa takut dan sesal saling bersautan menyelinap dalam hatinya tiba-tiba. Agra menyaksikan sendiri bagaimana istrinya dan dua pelayan muda di villa saling bekerjasama dalam usaha pelarian diri mereka dari kejaran para musuhnya yang bahkan belum diketahui siapa dalang utama dalam insiden tak terduga saat ini, sejak itu pula ia berusaha menepis pikiran buruk tentang kondisi Delia yang dapat ia lihat dalam rekaman cctv ternyata mengalami luka di kakinya yang cukup serius. Agra memukul setir mobil frustasi. Bayangan istrinya meski dalam kondisi minim cahaya namun dapat ia amati dengan jelas bahwa Delia beberapa kali meringis pilu menahan luka pecahan kaca di kakinya. "Sial!! Sampai saat ini belum ada kabar apapun!!" Pegangan tangannya semakin erat pada kemudi mobil sambil matanya awas memperhatikan jalanan, berharap ada petunjuk tentang keberadaan sang istri.


Sibuk dengan pikiran berkecamuk, dering di ponsel memecah lamunannya. Tanpa memperhatikan tampilan layar yang tertera nama si penelpon Agra segera melakukan panggilan menggunakan earphone bluetooth warna hitam yang sering terpasang di telinganya saat-saat tertentu, sehingga dirinya hanya perlu menekan satu tombol pada alat itu untuk mengendalikan panggilan yang tersambung di ponselnya. "Sebaiknya ini penting!! Ada apa??" Geram Agra berbicara dengan nada mendesak penuh antisipasi.


Tak ada jawaban dalam panggilan itu, keheningan membentang saat keduanya saling berdiam lama.

__ADS_1


Tanpa banyak membuang waktu, buru-buru Agra mencari file video dalam aplikasi berkirim pesan berlogo hijau. "Sial!!" Umpatan kasar terus terlontar darinya sambil tangannya memukul kemudi frustasi.


Sekali menekan. Layar ponselnya langsung menampilkan sebuah adegan yang membuat kepalanya serasa mendidih. Dalam rekaman video berdurasi kurang dari satu menit itu memperlihatkan bagaimana kondisi lemah istrinya duduk dan terikat di sebuah ruangan gelap yang terdapat satu lampu kecil menggantung tepat di atasnya sebagai penerangan alakadarnya. Delia lunglai tak sadarkan diri. Untung saja meski dalam kondisi yang tidak baik-baik saja, luka di kakinya tertangkap sudut mata Agra telah di tutup menggunakan kain kasa dan di beri plester untuk merekatkan. Selesai melihat video yang membuat hatinya semakin terasa gusar, Agra berusaha menelpon kembali nomor penculik istrinya, tetapi nihil. Sambungan terputus begitu saja.


Tidak mau menunggu lebih lama lagi, segera ia menghubungi Alex. Istrinya dalam bahaya kali ini dan ia tentu tak mau membuang waktu percuma begitu saja. Ada satu hal yang membebani hati dan pikirannya, siapa dalang di balik penculikan Delia? Insting alaminya tertuju pada keterkaitan kasus yang tengah ia tangani. Tapi bahkan sekalipun belum pernah dirinya mempublikasikan status barunya pada media. Mengapa pelakunya seperti sudah mengincar Delia dan menjadikannya target utama sejak awal. "Oke, lacak sekarang juga nomor yang baru saja ku kirimkan padamu! Serahkan hasilnya dalam waktu lima menit!" Agra tidak peduli pada Alex yang saat ini pun masih memiliki tanggungjawab lain mengintrogasi Daren sedetil mungkin mengenai kronologi awal insiden di villa, yang lelaki itu pikirkan saat ini hanyalah tentang keselamatan istri dan calon bayi-bayinya.

__ADS_1


Tepat lima menit, Alex berhasil mengumpulkan semua bukti terkait keterlibatan klien yang sedang mereka tangani kasusnya beserta titik lokasi nomor penelpon misterius. "Tuan semuanya sudah saya siapkan dan beberapa pengawal juga penembak jitu sedang dalam perjalanan menuju lokasi terakhir kali nomor yang anda kirimkan tadi berada. Saya masih harus melanjutkan mengurus Daren, segera setelah semua selesai saya secepatnya akan menuju ke tempat tujuan." Tidak ada jawaban apapun dari Agra dalam sambungan telepon. Sepertinya lelaki itu terburu-buru mematikan telepon sepihak dan bergegas pergi menuju lokasi.


__ADS_2