
Malam semakin larut, terlihat dari dalam jendela kaca kamar Agra yang kini ditempati Delia, menampilkan suasana lembab dan basah diluar, sebab hujan terus mengguyur sekitaran kawasan mansion sedari siang begitu Delia serta mama tiba dan menapakkan kaki dihalaman depan begitu turun dari mobil mewah yang membawa mereka kembali.
Terdengar suara ketukan pintu, mengagetkan Delia dari lamunannya. Tok tok tok
" Del… boleh mama masuk?"
" Iya ma… tentu saja." Seiring pintu terbuka menampilkan senyum cantik Delia menyambut kedatangan ibu mertuanya yang sejak siang tak terlihat karena mama meminta untuk banyak beristirahat agar kondisinya lebih segar.
" Ada yang ingin mama bicarakan denganmu nak…" sorot matanya menghangat mengusap lembut rambut Delia dengan sayang.
"Teman lama Agra lusa akan berkunjung ke mansion. Mama minta kamu jangan salah paham ya sayang dengan suamimu…" Mama menghela nafas, tangannya menggenggam erat Delia dengan khawatir, takut kalau menantu kesayangannya akan tersinggung sehingga ia sengaja memberitahu terlebih dulu hal tersebut agar Delia merasa tak ada yang disembunyikan darinya.
" Namanya Natasya, orangtuanya adalah teman dekat papa. Dulu kami pernah akan menjodohkan mereka." Deg… Delia menatap lekat mama, sorot matanya meminta penjelasan lebih pada mama Rani.
" Ahh iya nak…" mama tergelak mengamati reaksi Delia, yang tentu saja membuat menantunya menatapnya heran. Ia paham pasti Delia penasaran mengapa dirinya yang kini menjadi isteri Agra sementara lelaki itu memiliki calon istri sebelum menikahinya.
"Iya… seperti yang kamu tahu sekarang, dan mama bukanlah ibu yang menutup mata dan telinga memilihkan jodoh untuk putera semata wayang kami hingga mendapatkan calon pendamping hidup tanpa menyelidiki asal usulnya terlebih dahulu."
"Tanpa mama jelaskan padamu, suatu saat Agra pasti akan memberitahumu sendiri. Dan juga mama minta kamu tak akan terprovokasi oleh sikap arogan Natasya nantinya, sebab mama sudah hafal betul akan tabiatnya yang tak mau kalah dari siapapun dan menghalalkan segala cara demi mencapai tujuannya sendiri. Mama hanya ingin kamu fokus pada keluarga kita, pada suamimu serta kebahagiaan kalian." Pandangan mama menerawang mengenang masa lalu yang masih tersimpan dalam kenangannya, ketika ia memergoki Natasya berkencan dengan seorang pria dikamar hotel yang diketahuinya lewat informasi langsung dari orang kepercayaan papa Hadi yang ia tugaskan mengikuti Natasya beberapa hari menjelang acara pertunangan putra kesayangannya.
Dan jujur saja mama tidak habis pikir, ketika orang tua Natasya menghubunginya hari ini. Memberitahukan bahwa putrinya akan berkunjung ke mansion dengan alasan ingin menjalin lagi hubungan keluarga yang telah terputus sekian lamanya. Benar-benar tak tau diri bukan?. Tanpa panjang lebar mama Rani menegaskan, tujuan mereka dapat di terima dengan senang hati, tetapi mama menegaskan lagi bahwa semua tak lagi sama seperti waktu dulu, dan jika untuk menginap itu tak akan mungkin terjadi sebab putranya kini telah menikah. Ia sendiri sebagai orang tua tentu tahu bahwa hal tersebut akan mengundang dan menambah masalah saja pastinya.
"Kamu mengerti maksud mama kan Del?" Delia mengangguk mengerti.
"Mama tidak usah khawatir lagi ya… Delia bisa jaga diri, mama tenang saja." Ujarnya sambil mengulas senyum tulus untuk ibu mertuanya yang kini ia anggap bagai ibu kandungnya sendiri.
" Baiklah… mama percaya kamu pasti bisa menghadapinya." Perempuan cantik itu terharu melihat mama Rani yang begitu perhatian pada dirinya yang terhitung baru saja masuk dalam anggota keluarga Wijaya
"Mama turun dulu ya, sebentar lagi makan malam siap. Nanti biar pelayan bawa makan malam kamu ke atas, ingat kamu baru sembuh harus banyak istirahat ya…" Tegas mama.
"Iya. Terimakasih mama."
__ADS_1
...****************...
Pukul sebelas malam Agra baru saja tiba di rumah. Meski dalam keadaan lelah pun lelaki itu masih saja terlihat tampan dan bugar.
Begitu tiba dikamar ia mendapati istrinya terlelap di atas sofa dengan tv yang masih menyala. Senyumnya mengembang lalu tangannya mengusap lembut rambut panjang Delia yang sebagian menjuntai kebawah, lalu ia merapikan piyama istrinya yang sedikit tersingkap hingga menampilkan perut ramping perempuan itu.
"Untung saja kamu baru sembuh, kalau tidak aku pasti akan melahapmu kelinci ku…" Bisiknya, kemudian dengan segera mengangkat Delia lalu memindahkan ke tempat tidur, menyelimuti tubuh istrinya agar tak kedingingan.
"Eughh…" Perempuan itu menggeliat merubah posisi tidurnya menyamankan diri tanpa membuka mata dan kemudian kembali tidur dengan nyenyaknya.
Tak sadar Agra tersenyum gemas dengan tingkah Delia, lelaki itu berjalan mendekat mengamati wajah Delia yang semakin hari semakin bertambah cantik dan mempesona, membuat lelaki itu tak tahan menghadiahkan kecupan lembut pada bibir merah muda alami lalu turun pada dagu terbelah milik istri cantiknya.
Malam ini kamu aku lepaskan…kelinci ku
Bisiknya parau lalu beranjak menuju kamar mandi.
Dini hari penuh kabut.
"Aku mau ke kamar mandi sebentar. Lepas dulu yaa..."
"Mau ngapain?"
"Mau buang air kecil ini, udah nggak tahan. Buruan lepasin..." Dengan cepat Delia mendorong tubuh Agra, melesat menuju ke kamar mandi dengan sedikit membanting pintu akibat terburu-buru.
Agra terkekeh menyadari kelakuan istri kecilnya. Runtuh sudah image yang selama ini ia ciptakan.. Lelaki kuat dengan segala sikap arogannya serta aura gelap yang selalu memancar.
gemes sendiri kan jadinya...
Di kantor ia tak begitu memperhatikan tingkah dan kebiasaan Delia demi menjaga wibawanya sebagai Pimpinan perusahaan. Tetapi saat di mansion tentu saja berbeda cerita.
Begitu selesai dan keluar dari kamar mandi Delia terkejut mendapati Agra sudah berdiri di depan pintu dengan bersedekap tangan, juga lampu kamar yang semula menyala kini terlihat padam dan hanya menyisakan lampu tidur yang menyala di kedua sisi ranjang.
__ADS_1
" Mau ke kamar mandi juga?" Tanyanya dengan memicingkan mata, merasa aneh memperhatikan sikap Agra.
"Tidak..." Jawabnya dengan sorot mata menghangat memandangi Delia.
"Sepertinya kamu sudah sehat dan bugar ya?" Tentu saja karena Delia tertidur nyenyak setelah meminum obat tadi ketika mama Rani selesai berbincang bersamanya.
"Emh...iya ."Sahut Delia semakin merasa aneh dengan sikap Agra yang tiba-tiba.
"Kalau begitu, aku mau meminta hak ku saat ini juga."
Deg....
Ia terdiam menyadari kalimat Agra, membuat tubuhnya me remang merasakan hawa panas yang kian menjalari setiap sendi-sendi. Semburat merah pun telah menghiasi wajah putihnya. Agra tentu saja tak menyiakan situasi yang belakangan ini selalu datang mengganggu pikirannya, sikap malu-malu Delia ketika beberapa kali ia menggodanya. cantik.
"Apa...?" Perempuan itu tergagap merasa kebingungan ketika Agra menarik tangannya, kemudian dengan lembut merengkuh Delia ke dalam dekapan hangatnya.
Lelaki tampan itu tak lagi menjawab pertanyaan istrinya, ia meraih lalu menggendong tubuh Delia kemudian membawanya ke ranjang king size mereka.
Agra membaringkan tubuh Delia dengan pelan, kemudian membelai me sra wajah perempuan itu. Manik hazell nya meredup meminta persetujuan pada istrinya.
Dengan sentuhan selembut sutera ia memperlakukan istri nya, dan tanpa sanggup menolak lagi Delia telah luluh oleh sikap mendominasi Agra. Dimatanya, lelaki itu bagai magnet yang mampu menariknya ke dasar lembah hingga membuat ia tak sanggup menahan gejolak yang tanpa sadar menggerus kesadarannya, sentuhan yang me mabukan, juga perlakuan manis Agra membuatnya tak sadar mende sah pelan dengan tangan meremas sprei berwarna putih itu sehingga tampak kusut masai dibuat oleh mereka.
Agra baru menyadari di detik ia menyatukan tubuhnya dengan istri cantiknya. Perempuan ini terlihat ranum, manis juga meng ga irahkan.
Membuatnya semakin tidak dapat menahan-nahan diri lagi untuk menyelesaikan urusan penting mereka berdua.
Lelaki itu merapatkan tubuh dan memeluk lembut Delia yang membelakanginya.
"Good night sweet heart." bisiknya lirih dan menghadiahkan kecupan di kening Delia, lalu menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher jenjang Delia yang terasa wangi dan menenangkan. Perempuan itu tak merespon Agra sebab begitu kelelahan. Ia meraih tubuh Agra lalu memeluk suaminya erat tanpa disadari sebab kini mata dan tubuhnya terasa luruh tak bertulang.
Hingga senyum seringai terbit di bibir lelaki itu, merasakan hati dan jiwanya yang menghangat.
__ADS_1
Bersambung.....