Tuan Muda Arogan

Tuan Muda Arogan
Mie Instan...


__ADS_3

Delia,


Aku terbangun dari tidur lelap ku. Tak mendapati mas Agra di samping ku membuat hatiku terasa tak tenang juga tak nyaman. Sudut mataku menangkap ada sesuatu di atas meja nakas. Secarik kertas bertuliskan


"Aku sudah berpesan pada pak Li untuk menyiapkan makanan bergizi saat kamu bangun. Jadi jangan makan sembarangan lagi. Terutama rujak. Ingat itu."


Kutarik selimut yang membungkus tubuh polos ku agar tak melorot saat ku bawa ke kamar mandi. Rasanya remuk redam setelah sesiangan meladeni hasrat suamiku yang tak kunjung surut, dan malahan ku pikir bertambah menggila saja. Ah tapi entah mengapa hati ini rasanya semakin terpaut saja. Satu hal yang perlahan ku sadari. Aku tak bisa jauh dari mas Agra untuk saat ini.


Selesai mengeringkan rambut, segera aku bergegas ke ruang ganti. Memilih memakai dress kuning satu tali bermotif bunga , dipadu sepatu flat berwarna senada. Mematut diri pada kaca lebar yang terpasang disudut ruang ganti. Mas Agra mewanti wanti ku supaya aku tak memakai sepatu berhak tinggi atas saran dari dokter Stella. Aku mematuhi nya. Tentu saja. Kalau tidak?… sudah pasti pak Li akan melaporkan pada asisten Alex yang setia itu. Dan akhirnya… berujung pada mas Agra yang mengomeli ku sepanjang waktu karena tak mengindahkan aturannya. Oh no! Aku tak mau itu terjadi. Mas Agra sekarang sudah banyak merubah sikapnya yang keras demi aku dan calon anak kami. Jadi… aku tak mau itu sampai terjadi.


Aku berjalan melewati ruang santai. Tujuanku adalah dapur. Aku ingin makan… perutku terasa lapar dan keroncongan setelah bangun tadi. Ketika sampai di dapur tak ku lihat seorang pun ada di sana. Aku mengedarkan pandangan mencari makanan yang di maksud mas Agra. Lalu kubuka lemari es empat pintu di samping kitchen set modern milik mama. " Uwaahhh… sudah lama banget aku nggak makan emi hihi…" Aku terkikik geli membayangkan reaksi mas Agra kalau tahu aku makan makanan instan. Aku menemukan mie instan sejuta umat bermerk indonoodle , di dalam laci buah paling bawah.


Entah siapa yang membelinya. Aku tak peduli.


Kini tujuanku adalah segera memasak mie itu agar aku dapat menikmati mie instan yang sekian lama sudah tak ku cium aroma bumbu nya yang kuat dan khas. Seingat ku terakhir kali aku menikmatinya adalah pada saat tinggal di apartemen perusahaan. Padahal waktu itu ditegaskan bahwa tak ada satu pun karyawan dengan jabatan khusus dibolehkan mengkonsumsi makanan instan. Terutama adalah semua jenis makanan kemasan dengan kandungan pengawet yang tinggi. Tidak tahu alasan apa sehingga terdapat peraturan dari perusahaan yang terkadang terkesan di buat-buat dan tak masuk akal menurutku.

__ADS_1


Ku potong beberapa helai sawi hijau dan segera ku cuci di air mengalir. Lalu memasukkannya dalam panci teflon berbahan granit yang sebelumnya telah berisi air yang mendidih. Lanjut ku tambahkan telur, irisan cabe, serta beberapa potong sosis juga baso merk premium. Ku tunggu hingga sayur setengah matang baru kemudian ku masukkan mie instan jenis goreng yang sudah ku buka dan ku pindahkan bumbunya kedalam piring saji.


Kepulan asap yang bersumber dari mie yang sudah lunak medium dan ku tuang dalam saringan, begitu menyengat di indera penciumanku. Setelahnya ku tuangkan kedalam piring yang berisi bumbu yang sudah ku tuang lebih dulu.


"Hemmm… wangi banget nih… makan ah, mumpung enggak ada orang di dapur." Aku mengaduk aduk sampai bumbu dan mie beserta sayur dan segala topping yang ku masak bersama tadi tercampur hingga merata. Sesuap… dua suap aku mengunyah dengan pasti. Selang lima menit satu piring mie goreng tapi direbus… tandas tak bersisa beserta bumbu hingga piring pun tak perlu di cuci lagi (bercanda deh)… lapar apa doyan?


"Makasih yaa sayang… sudah mau bekerja sama. Sekarang mama tidak mual lagi. Terus seperti ini yah supaya nutrisi kamu di dalam perut mama terpenuhi. Kuat dan sehat yah anak mama." Ku usap lembut perutku… menstimulasi calon bayiku agar meningkatkan ikatan batin antara ibu dan anak. Meski kini ia masih seukuran biji kacang. Aku yakin ia akan mengerti dengan apa yang ku sampaikan padanya.


Dengan langkah riang aku bersenandung kecil. Mengutarakan suasana hatiku saat ini, sebab perut terasa kenyang. Sungguh bahagianya ibu hamil bila mual dan muntah menghilang saat makan. Tidak salah memang saat tadi aku memutuskan memakan mie instan yang sudah lama tak ku nikmati.


"Tapi nyonya muda… kalau boleh tahu. Tadi anda makan dengan menu apa ya? Karena saya harus melaporkan sebagai laporan harian pada asisten Alex." Duuhhh… kenapa begini. Kepalang tanggung. Sekalian bohong saja deh. "Ada tadi… saya ambil dari lemari pendingin. Ah pak Li… saya ke atas dulu yah… mau mencari ponsel yang terselip " Aku berkilah. Meninggalkan pak Li yang menggaruk kepala dengan raut bingung. "Baik nyonya muda. Silahkan." Menunduk hormat membiarkan aku melangkah memasuki lift. Meski sorot matanya masih menyisakan tanya, ku lihat dari pintu lift yang hampir tertutup pak Li bergegas meninggalkan tempat.


...****************...


Agra,

__ADS_1


Alex mendekat pada meja kerja tempatku menumpuk seluruh berkas yang akan ku tanda tangani. Mungkin satu jam lagi baru akan selesai. "Tuan… ada yang ingin saya tunjukkan pada anda." Alex menyodorkan ponsel yang berada di genggamannya. Begitu aku memperhatikan video yang ternyata adalah sambungan cctv di mansion yang langsung terkoneksi ke ponsel Alex. Refleks aku terbahak bahak sampai bahuku terguncang. Istriku mengendap ngendap di area dapur sambil sesekali melirik sana sini, dari gerak geriknya ia takut kalau sampai ada orang yang datang. "Tadi saya tak sengaja melihat nyonya muda bergerak mencurigakan. Jadi langsung melaporkan pada anda tuan." Alex menjelaskan padaku namun mataku tak beralih menatap layar ponsel. Istriku cantik sekali. Tingkahnya sangat menggemaskan. Tetapi pandangan penuh damba tak berlangsung lama sebab begitu ku perhatikan dengan jeli. Ternyata istriku tengah memakan mie instan yang di masaknya sendiri tanpa sepengetahuan pak Li. padahal ia tahu betul kalau makanan itu sangat ku larang keberadaannya. Bahkan dari pertama ia bekerja sebagai sekertaris pribadiku. "Kenapa pak Li tidak menyiapkan menu sehat untuknya?" Tanya ku penuh penekanan pada Alex yang setia berada di sampingku sedari tadi.


"Saya akan menanyakan langsung pada pak Li begitu mengantar anda tuan." Putus Alex cepat.


"Bereskan ini semua. Kita pulang sekarang." Aku bergegas meninggalkan Alex yang sigap mengambil alih berkas dan memasukkan ke dalam tas kerjanya. "Aku harus memberinya hukuman untuk kesalahan yang di sengaja ini."


Mobil melesat membelah jalanan yang lengang sebab telah terlewat jam pulang kerja. Pikiranku berkecamuk, sekelebat bayangan perempuan cantik menari nari di pelupuk mata. Harusnya aku lebih tegas lagi pada Delia. Tatapan sayu dan teduh, membuatku tak tega bersikap keras padanya akhir akhir ini. Namun aku takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada mereka berdua, jika aku tidak menegaskan lagi pada Delia bahwa apa yang ia lakukan dan apa yang ia makan akan membawa dampak pada calon anak kami. Aku harus berbicara dengannya. Apa maksudnya melanggar peraturan yang telah ku buat dengan tegas. Padahal ia tahu betul konsekuensi yang akan ditanggung jika sampai menyinggungku.


Alex mengemudi dengan kecepatan di atas rata rata. Ia adalah tangan kanan ku. Tidak perlu banyak bicara padanya saat menginginkan sesuatu. Dengan melihat ekspresi ku saat ini pun ia sudah dapat menjabarkan kekesalan hatiku yang tak terbendung lagi. Alex tahu aku ingin segera tiba di mansion. Memberi pak Li hukuman. Karena tak mungkin aku menghukum istriku yang tengah mengandung. Yah… dengan begitu secara tidak langsung Delia akan merasa bersalah pada pak Li yang tua untuk menggantikan posisinya menerima hukuman atas perbuatannya yang tak mengindahkan aturan ku. Aku tergelak membayangkan reaksinya saat pak Li ku hukum nanti. Biarlah… biar ia tahu bagaimana seharusnya bersikap jika tak ingin membuat aku murka.


Bersambung…


...****************...


I Love You All....❤️……

__ADS_1


__ADS_2