Tuan Muda Arogan

Tuan Muda Arogan
Penculikan


__ADS_3

"Nyonya muda, biarkan saya yang mengerjakan. Anda sebaiknya istirahat saja." Salah satu pelayan wanita yang tengah bertugas berjaga di dapur mencoba menghentikan Delia saat sedang menyiapkan salad buah untuk dirinya sendiri.


"Heii… tidak apa-apa aku baik-baik saja. Kau bisa mengerjakan yang lainnya daripada mengkhawatirkan ku berlebihan seperti itu. Okey?" Tangan lentiknya dengan terampil meracik salad buah yang dominan dengan buah strawberry. Delia mengaduk-aduk hingga potongan aneka buah dalam wadah kaca itu tercampur rata dengan saus berbahan dasar mayonaise. Bahkan air liurnya telah memenuhi langit-langit mulutnya sebelum ia menyendok salad yang sudah terbayang betapa segar dan lezatnya menu penutup favorit setelah menyantap makan malam bersama suaminya. " Kalian harus mencobanya. Ini terlihat sangat menggiurkan bukan?" Ia berbicara pada dua pelayan yang tengah bertugas di dapur. Mereka tertawa senang begitu mengetahui bahwa ternyata majikan perempuan mereka sangatlah ramah.


"Tidak nyonya, terima kasih tapi kami baru saja makan." Salah satu maid menjawab sambil menunduk dan tersenyum malu. "Oke baiklah. Kalau begitu aku akan membawanya ke kamar." Senandung kecil terdengar dari bibir cantik Delia. Langkah riangnya mewarnai villa megah dalam suasana musim dingin, sambil menenteng wadah berisi salad.


Pranggg!,


"Aaahhk."Pecahan kaca dari wadah salad berhamburan mengenai kaki kanan Delia hingga darah mengucur dan bercecer ke lantai.


"Nyonya…!!!" Dua maid yang melihat kaki Delia bersimbah darah berteriak dan berlari ke arah tangga. "Tolong…tolong pengawal tolong, nyonya terluka." Pengawal terlatih Agra yang bertugas mengamankan villa sekaligus memastikan keselamatan Delia terlihat menarik pelatuk senjata api dalam posisi mengendap-endap dari arah pintu belakang dekat dapur. "Ssstt… bawa nyonya ke kamar dan kunci pintu rapat-rapat. Ada penyusup mencoba masuk ke villa." Daren, anak buah Agra paling setia itu setengah berbisik mengucapkan rangkaian perintah tegas pada dua maid yang membantu Delia berdiri.


Prangggg,


Lemparan kedua membuat kesabarannya habis. Ada kemungkinan penjagaan di area depan villa telah di lumpuhkan penyusup. Meski dengan tangan dan kaki gemetaran kedua maid berusaha keras memberanikan diri membawa Delia masuk ke kamar utama yang letaknya bersebelahan dengan kaca jendela yang telah pecah. Tirai tebal biasanya menutupi, tetapi entah mengapa malam ini kaca jendela yang lebar dan tinggi itu polos tak berpenutup. "Nyonya bertahanlah! Kita harus sembunyi di kamar ini. Jangan sampai para penjahat itu menemukan kita." Setelah menenangkan Delia yang terlihat syok. Alice, salah satu pelayan muda itu mencoba menutupi pintu berlapis anti peluru di kamar utama dengan berbagai macam benda yang mampu menahan dorongan dari luar. "Ssssh." Rintihan kesakitan Delia semakin terdengar. Kaki yang masih tertancap pecahan kaca itu terus saja mengeluarkan darah segar. "Alice! Kita harus keluar dari villa. Aku sedang mengandung, tentu lukaku ini akan sangat membahayakan kedua bayiku yang tengah mencoba bertumbuh di perutku." Delia bersikeras untuk keluar dari kamar, kondisi kakinya yang terkena pecahan kaca selain mengeluarkan darah, juga terdapat bekas keunguan di sekitar lukanya membuat rasa berdenyut menderanya.


"Tapi nyonya...ini terlalu beresiko. Kita akan tertangkap oleh kawanan penjahat itu kalau bertekad keluar sementara kaki nyonya terluka parah." Nora dan Alice mengapit lengan Delia karena perempuan itu memindai setiap sudut kamarnya dengan Agra, dan ketika matanya menemukan sebuah pintu yang terhubung dengan balkon, niatnya semakin kuat untuk segera keluar dan pergi dari villa mewah milik suaminya itu setelah berhasil menguasai diri.


Ponsel Agra tidak bisa ia hubungi, beberapa kali Delia mencoba menghubungi tetapi sambungan selalu terputus, ia sendiri menyimpulkan yang artinya ponsel suaminya sedang nonaktif. "Tidak ada waktu lagi, kita harus segera keluar dari villa ini! Ayo ikuti aku!" Perintahnya tegas pada dua maid yang terlihat jelas ketegangan di wajah mereka. "Nyonya kaki anda terus mengeluarkan darah." Pekik Alice histeris. "Kita harus menghentikan perdarahannya lebih dulu supaya anda tidak kehilangan banyak darah. Sebentar saya carikan kotak p3k!" Alice bergegas menuju sebuah laci kecil yang tergantung di dinding dekat pintu kamar mandi.


"Sudah ku bilang kita tidak ada waktu Alice." Delia menahan kesal pada Alice yang kekeh ingin mengobati lukanya. Ia menarik tangan pelayan itu agar tak membuang waktu lebih banyak lagi. Dalam situasi pelik saat ini seharusnya ketiganya harus saling memahami hingga tak menimbulkan tertangkapnya mereka nanti, sebab di luar mereka dapat mendengar dengan jelas suara baku tembak antara anak buah Agra melawan penyusup yang mereka sendiri tidak tahu berapa jumlahnya.

__ADS_1


Langkah Delia tertatih kala ia mencoba berjalan menuju pintu itu. "Bantu aku menarik tirai nya." Nora dengan sigap mendekati sisi sebelah tirai.


Sraaakkk


sraaakkk


Dua kali tarik keduanya berhasil menjatuhkan tirai tebal itu. Sementara Alice mengambil bagian membuka pintu balkon dengan pelan dan mengendap, begitu ia berada di balkon reflek matanya awas memperhatikan sekeliling, merasa takut apabila ada penyusup yang mengintai.


Memastikan situasi aman, Alice segera mengambil tirai yang telah diikat memanjang oleh nora lalu segera menjatuhkan ke bawah melalui pagar pembatas balkon setelah mengikatnya kuat di besi penyangga.


"Kalian berdua turun lebih dulu. Supaya dapat menangkap ku nanti." Delia berucap seraya meringis menahan rasa perih akibat luka di kakinya yang masih terdapat pecahan kaca yang belum tercabut. Hal yang ia pikirkan saat ini adalah bagaimana mempertahankan kesadaran sebab darah terus merembes yang sedikit demi sedikit melemahkan tubuhnya juga menggerus kesadarannya.


"Aku harus kuat demi mereka." Susah payah perempuan itu mengumpulkan tekad. Selain rasa ngilu pada kakinya Delia juga merasakan tegang di perutnya hilang dan timbul. Bukan ia tak tahu artinya, dokter Stella telah menjelaskan sebelumnya secara rinci dan gamblang mengenai kondisi apa saja yang patut di waspadai pada kehamilan kembar. "Ini kontraksi…sshh" Ia merintih pelan sambil mengusap perutnya. "Tenang sayang. Mama percaya kalian pasti kuat, kita berjuang bersama-sama ya!" Tekadnya kemudian. Dan entah sugesti atau memang kedua bayinya memang merasakan apa yang ia juga rasakan saat ini secara perlahan rasa tegang di perutnya mulai kembali normal.


Perlahan ia mulai menuruni tirai yang menggantung.


Tepat seperti dugaannya. Delia mendengar dengan jelas ada orang yang mencoba mendobrak pintu kamarnya. "Ssshhh" Delia mendesis menahan sakit yang kian menyiksa.


"Nyonya hati-hati, kami akan menangkap anda dari sini." Nora dan Alice setengah berbisik menyemangati Delia yang terdengar beberapa kali mendesis kan suara kesakitan hingga membuat kedua maid itu seperti ikut merasakannya.


"Sebentar. Tubuhku rasanya tidak kuat. Ayo kita sembunyi di pohon itu." Bibir Delia terlihat semakin memucat. Kedua pelayan muda itu dengan reflek merangkul Delia, menopangnya dan perlahan mengikuti langkah tertatih Delia menuju pohon besar yang kelihatannya mampu menutupi tubuh ketiga perempuan sebaya itu. "Sebentar nyonya kita hampir sampai. Anda harus kuat dan bertahan nyonya." Alice memeluk erat pinggang Delia agar tak terjatuh.

__ADS_1


"Sssst!! Pelan kan suara! Penjahatnya tahu kalau kita kabur. Tunggu mereka lengah baru kita menjauh dari villa.


"Sialan!! Mereka kabur!!" Terdengar umpatan kasar dari para penjahat yang berhasil memasuki kamar dan telah mengetahui bahwa incaran mereka tiada.


"Biar ku habisi mereka kalau sampai ketemu." Pria botak yang sebelah matanya memakai penutup kain hitam itu menendang kursi di balkon dengan kasar hingga terbalik. Delia dan kedua pelayan mudanya dapat melihatnya dari celah pagar pembatas balkon.


"Kalian lihat itu?" Delia tertawa sumbang sambil menggelengkan kepala, ia menertawakan situasi yang menurutnya sangat aneh ini. Baru sebentar ia dan Agra saling bertukar canda di meja dapur, menikmati makan malam, dan dalam hitungan menit nasib buruk pun sudah tak mampu perempuan itu hindari. Takut? Tentu saja ia takut, apalagi ia tak sendiri. Ada bayi-bayi mungil berjuang di dalam rahimnya yang membuatnya mau tak mau harus memberanikan diri keluar dari villa mewah yang kini telah di kuasai orang-orang tak dikenalnya.


"Ayo nona pergi dari sini sebelum mereka menyadari keberadaan kita." Nora membantu Delia berdiri dengan menjadikan pundaknya sebagai tumpuan, sementara Alice bertindak mengawasi sekeliling. "Ayo cepat!" Seru Alice setengah berbisik.


Ketiganya berjalan melintasi area taman menuju gerbang utama. Alice yang berjalan paling depan semakin menajamkan pendengaran serta menambah kewaspadaannya guna mengantisipasi hal tak terduga, Delia sesekali meringis menahan sakit yang semakin menyiksanya, mencengkeram pundak Nora saat perutnya terasa kencang kembali.


"Krakk." Tidak sengaja Nora menginjak sebuah benda karena area taman gelap, minim penerangan juga saat fokusnya tertuju pada Delia yang semakin terlihat tak berdaya di sampingnya. "Berhenti!!" Suara berat laki-laki di balik pohon membuat ketiganya mengangkat kedua tangan. "Jangan harap kalian bisa pergi dari sini!" Laki-laki itu semakin mendekat. meraih tangan mungil Delia lalu menyeretnya untuk lebih menjauh dari kedua maid. "Ssshhh…" Rasa sakit yang kian mendera membuat kesadarannya hilang. Delia limbung di hadapan penyusup berbadan besar itu.


"Nyonya!!!" Teriak kedua maid bersamaan saat melihat Delia tak sadarkan diri.


"Diam atau ku bunuh dia!!" Ancam lali-laki itu sembari menodongkan senjata api ke arah tubuh Delia yang terkulai tak berdaya.


"Apa yang akan kau lakukan tuan! Nyonya kami sedang terluka, jangan sakiti dia!!" Suara Alice meninggi. Ingin sekali ia menendang laki-laki di depannya dengan kemampuan bela diri miliknya. Tetapi urung, karena dirinya tentu sadar, gerakannya tak secepat peluru yang melesat jika pelatuk senjata api dalam genggaman laki-laki itu di tarik. "Okey! Apapun niatmu, aku minta jangan pernah sakiti dia!" Alice mengangkat kedua tangannya ke depan, mencoba menahan tindakan kasar penyusup di hadapannya itu.


"Hahahah!!!!!" Laki-laki itu tertawa sinis, meremehkan gadis muda di hadapannya. "Gayamu sudah seperti pendekar saja nona! Huh!!" Alice dan Nora terdiam tidak berani bertindak lebih, sebab keduanya begitu mengkhawatirkan keselamatan nyonya muda mereka. Tidak mampu membayangkan kemarahan tuan Agra andai mengetahui istri kesayangannya terluka parah. Alice dan Nora tentu tahu bagaimana Agra yang terkenal bengis dan Arogan itu bersikap pada semua wanita yang mendekati selama ini saat terakhir kali lelaki itu meninggalkan kota London. Tidak pernah peduli ataupun memiliki perasaan mendalam. Sangat berbeda sikapnya dengan Delia, apalagi perempuan itu telah memiliki sesuatu yang spesial dalam tubuhnya yang mungil itu. Bayi dalam perutnya. Bukankah hal itu cukup untuk membuat Alice dan Nora menyimpulkan seberharga apa Delia bagi tuannya?"

__ADS_1


......................


Jangan lupa KOMEN, LIKE, VOTE, RATE serta Favoritkan NOVEL pertamaku.


__ADS_2