Tuan Muda Arogan

Tuan Muda Arogan
Sepenggal Kisah


__ADS_3

Malam harinya,


Pak Li berpamitan setelah menyiapkan makan malam yang telah koki buat sore tadi. Ahli gizi menyarankan untuk pak Li memakai jasa juru memasak sehingga ia menghubungi koki di mansion agar segera datang sebelum malam menjelang, sebab ada takaran takaran tertentu dari bahan makanan sebelum dimasak yang hanya di mengerti oleh juru masak profesional. Setelah koki pamit pulang lebih dulu, pak Li masih harus menunggu jam pulang sambil menunggu waktu membuatkan desert favorit nyonya muda. Tidak banyak pekerjaan sebenarnya. Bahkan semua makanan pun hanya tinggal menghangatkan menggunakan microwave saja, hanya saja pak Li harus memastikan Tuan muda juga Nyonya muda tidak memerlukan bantuannya lagi. Tidak banyak menu yang tersaji. Sesuai permintaan Delia, selalu ada salad buah racikan pak Li sendiri yang telah lelaki paruh baya itu siapkan sepuluh menit sebelum ia benar benar meninggalkan apartemen. "Makanlah yang banyak. Aku ke ruang kerja sebentar." Agra bangkit dari duduknya sambil mengusap lembut pucuk kepala Delia. Satu menit yang lalu ia menerima kabar dari asisten Alex bahwa Barend membuat ulah lagi . Sehingga ia harus menyelesaikan masalah yang timbul akibat ulah tak bertanggungjawab temannya itu. Mengatasinya langsung agar masalah tak berlarut larut dan bertambah runyam serta merembet pada intern perusahaan.


Delia mendongak menatap Agra yang berdiri memperhatikannya dengan tatapan lembut. "Iya mas." Senyum lembutnya menular. Refleks kedua sudut bibir Agra pun juga ikut terangkat. "Kalau sudah mengantuk segeralah tidur. Mungkin malam baru selesai, jadi tidak perlu menungguku. Oke!" Nada bicaranya terdengar luar biasa lembut, namun jelas tersirat bahwa kalimat itu adalah perintah mutlak yang tak boleh di bantah. Sekalipun itu istrinya.


"Iya sayang." Delia terkekeh sambil mengelus sayang tangan Agra yang mengusap pelan pipi halusnya.


Kunyah kunyah kunyah sampai tandas.


Begitu menyelesaikan makan malam, Delia duduk berdiri di balkon apartemen. Menikmati malam bertabur bintang sambil sesekali memejamkan mata, merasai setiap hembusan angin lembut yang menerpa wajah cantiknya. Balkon adalah spot favoritnya saat tinggal di apartemen ini.


Cukup lama ia menikmati keindahan alam yang tersaji tepat di depan mata, tiba tiba ponsel yang terletak di atas meja kecil teras balkon, menampilkan layar yang berkedip kedip.


Tergesa ia meraih ponsel miliknya. Dari notifikasi, Delia dapat melihat pesan siapa yang masuk.


"Hei cantik. Bagaimana kondisimu saat ini setelah peristiwa tak mengenakkan waktu itu?" Begitu isi pesan masuk dalam ponsel Delia.


Hah? Helaan nafas kasar Delia hembuskan setelah membaca pesan tak jelas dari laki-laki tak jelas.


Terakhir kali dokter Leo bertemu dengannya, membuat semua bertambah runyam.


Delia sendiri tidak pernah berpikir bahwa pertemuannya dengan Leo yang tak disengaja dapat memicu perkelahian dua lelaki dewasa itu. Dan sampai saat ini pun perempuan itu tak berani menanyakan lebih lanjut hal apa yang sebenarnya terjadi hingga mungkin saja membuat suaminya bertambah murka nantinya. Ia takut Agra semakin salah paham pada dirinya.


Memandangi layar ponsel yang menampilkan pesan dari dokter Leo. Sama sekali tidak berniat untuk membalasnya. Lalu di tekannya tombol power lama. Lebih baik mematikan ponsel saja daripada dokter Leo meneleponnya nanti sebab pesan yang tak terbalas. Keputusan terbaik yang ia ambil demi menghindari pertanyaan-pertanyaan yang tak seharusnya ia jawab pun tak pantas di ucapkan oleh lelaki yang tak ada hubungan sama sekali dengan kehidupannya. Kecuali hutang budi. Yah secepatnya ia akan menepati janji itu, agar dokter muda itu tak lagi mengusik kehidupan pribadinya.


"Belum tidur, hem?" Dari arah belakang Agra berjalan mendekati Delia yang tengah berpegangan pagar pembatas sambil melihat pemandangan malam. Lampu lampu telah menyala, menambah keindahan tersendiri ketika melihatnya dari gedung apartemen Wijaya. Gedung paling tinggi di kawasan tersebut.


Rasa hangat seketika Delia rasakan begitu Agra memeluknya. Lelaki itu melingkupi tubuh dingin istrinya. Posisi gedung yang tinggi serta angin yang lumayan kecang,

__ADS_1


membuat suhu udara lebih rendah . "Ibu hamil tidak baik terlalu banyak menghirup udara malam. Ayo kita masuk dan tidur." Sebelah tangan kokohnya ia selipkan pada lipatan kaki Delia. Membawa istrinya dalam gedongan, serta mencium kening perempuan itu lama. Melangkah pelan melewati pintu kaca, memutar tubuh lalu menekan tombol otomatis yang terpasang di tengah pembatas berbahan besi sehingga pintu kaca dan tirai tertutup sempurna.


Perlahan Agra meletakkan istrinya di atas pembaringan yang begitu luas nan indah itu.


Pertama kali Delia menjejakkan kaki di tempat tinggal suaminya, benda paling berkesan baginya adalah ranjang berukuran king size yang di hiasi dengan tirai putih di tengah, dengan posisi menggantung diatasnya.


Gaun tidur tak berlengan sebatas lutut itu terlempar jatuh entah kemana. Menjadi saksi bisu malam panjang keduanya.


Memuja setiap lekuk indah istrinya dengan penuh kehati-hatian dan tanpa menyakiti buah cinta yang tengah bertumbuh di dalam sana.


Berada dekat dengan Delia selalu saja membuatnya tak dapat menahan hasrat yang menggelora.


Tak lagi berminat oleh buaian wanita penggod* ketika ia sedang menghadiri jamuan para kolega di klab malam.


Cukup sudah sepak terjangnya selama ini untuk menjajaki nikmat sesaat belaian perempuan bayaran yang menimbulkan rasa hampa, setiap kali aktifitas ranjangnya telah usai.


Kini hanya satu wanita yang mampu meruntuhkan segala keangkuhan pada diri Agra. Yaitu satu. Istrinya. Delia seorang, takkan ada yang lain lagi.


Leo,


Delia…


Kesan pertama saat aku bertemu dengannya adalah cantik dan lembut. Gaya busananya yang jauh dari kesan seksi justru membuatnya semakin terlihat berkelas.


Berhari-hari aku mencari tahu tentangnya tapi tak juga ku dapatkan informasi sedikitpun tentang perempuan yang belakangan ini telah banyak menyita pikiranku. Hingga akhirnya tak sengaja ku lihat ia sedang berada di pinggir jalan menuju apartemen keluarga sahabatku waktu itu, Agra. Cukup aneh memang, karena ku kira kawasan tersebut tak dapat di lalui oleh sembarang orang. Tapi kenapa gadis itu ada disini. Buru buru ku singkirkan rasa penasaranku dan bergegas keluar mobil untuk membantunya yang terlihat sedang kesulitan.


Seminggu telah berlalu semenjak kejadian naas yang menimpaku, dihajar habis habisan oleh sahabatku sendiri. Kini seluruh luka lebam yang memenuhi tubuh serta wajahku sudah memudar dan mungkin sebentar lagi akan sembuh.


Mama begitu histeris waktu itu kala aku tiba di mansion keluarga ku sehabis menjalani pengobatan di klinik kampus tempo hari. Hati ibu mana yang tak sedih saat mendapati anaknya pulang dengan kondisi yang memprihatinkan. Dengan tangis yang tiada henti, mama menghubungi dokter spesialis penyakit kulit juga penyakit dalam untuk segera menangani kondisiku sehingga proses penyembuhan dapat berjalan dengan maksimal dan secepatnya kembali pulih seperti sedia kala.

__ADS_1


Gadis itu beberapa kali ku kirimi pesan tak pernah ia balas. Apa sebenarnya yang telah terjadi? Aku seperti merasakan ada sesuatu hal yang aneh dengan sikap Agra juga waktu itu.


Potongan-potongan beberapa kejadian sedikit banyak telah bermunculan dalam ingatanku. Tetapi aku tak ambil pusing, toh sebelum janur kuning melengkung, tak ada yang berhak melarang ku untuk mendekati Delia bukan? Aku dan Delia kan sama-sama masih sendiri! Jadi bebas dong aku mengenalnya lebih dekat.


Niat untuk datang ke mansion keluarga Wijaya pun ku urungkan. Biarlah nanti saja ku tanyai Agra sendiri. Daripada mama Rani ikutan sedih saat melihatku dengan kondisi babak belur begini, lebih baik aku fokus pada proses penyembuhan ku saja. Memang sahabat sialan tuh Agra! Apa dia tidak ingat siapa teman yang selalu ada saat ia butuhkan dulu? Hah emang brengsek tuh anak…


Setelah pesan yang begitu banyak tak ada satupun yang terbalas, ku putuskan untuk melakukan panggilan telepon saja supaya lebih cepat Delia meresponnya. Eh… kenapa tidak terhubung dan malah terdengar suara operator yang mengatakan bahwa nomor Delia tidak aktif serta berada di luar jangkauan?


Sungguh aneh dan membuatku semakin penasaran saja padanya…


"Leo… cepat letakkan ponselmu itu dan segeralah istirahat. Besok kita harus memeriksakan kondisimu lagi ke rumah sakit. Tidurrr dan jangan buang buang waktu dengan hal tak berguna!!!." Teriakan mama dari balik pintu kamar membuyarkan lamunanku tentang gadis cantik pemikat hati.


Ah… akan ku tagih hutang makan siang ku padanya kalau nanti aku sembuh total.


Delia,


Bersambung…


...****************...


Jangan lupa KOMEN, LIKE, VOTE, RATE serta Favoritkan NOVEL pertamaku.


oh syedihnya… huhuhu


enggak ada yang nganter kopi wat gadang.


#candakopi


hehe…

__ADS_1


__ADS_2