Tuan Muda Arogan

Tuan Muda Arogan
Ancaman Natasya.


__ADS_3

"Natasya Monica!!!" Suaranya terdengar menggelegar ke seluruh ruangan gelap minim cahaya itu. "Tidak membunuhmu adalah sebuah keberuntungan yang ku berikan padamu kali ini!" Matanya memerah menahan amarah yang membuncah. "Kau!!" Tunjuk nya tepat di depan wajah lusuh perempuan yang kedua tangannya telah di ikat oleh algojo terlatih nya. "Kau pikir aku tidak tahu hah? Kau pikir aku sesederhana itu ?" Agra berteriak keras hingga Natasya memalingkan wajahnya. "Kau bahkan belum mengenalku terlalu dalam wanita!" Lelaki yang tengah di kuasai kemarahan itu meraih dagu Natasya dan mencengkeramnya kuat hingga meninggalkan rasa sakit hingga desis kesakitan itu lolos dari bibir yang merona. Kemudian dengan kasarnya Agra menghempas keras cengkeramannya. "Tanganmu yang terikat itu… adalah tangan yang telah mendorong istriku dengan kuat bukan?" Lelaki itu tertawa sumbang. "Rencana yang kau susun beserta ayahmu? Bahkan sebelum kalian memikirkannya! Semua telah ku ketahui!!!" Wanita itu terkesiap. Mengapa berubah haluan begini. Bahkan sebelum ia berhasil mendekati Agra. Semuanya telah kacau balau.


" Kenapa? Apa tebakanku benar? " Lelaki itu tersenyum sinis.


"Apa maksudmu Agra…?" Suara Natasya terdengar bergetar. "Aku dan keluargaku pindah ke sini karena memang aku ingin mengembangkan karirku. Itu saja tak lebih. Kau… kau berbicara tanpa bukti yang mendasar. Aku bisa menuntut mu Agra. Lepaskan tangan dan kaki ku Agra. Ini sakiiiitt…" Perempuan itu merintih sekaligus berteriak kesakitan. Peluhnya bercucuran. Gaun yang ia pakai rusak akibat siksaan yang di lancarkan anak buah Agra sebelum lelaki itu tiba di markas rahasianya. " Kau bilang sakit? Apa kau tidak berpikir bahwa istriku juga sakit saat kau mendorongnya hingga jatuh tadi? Kau berteriak menggila karena kesakitan yang kau rasakan di tubuh mu sendiri. Tapi kau tak memikirkan istriku yang juga sakit akibat ulah mu yang tak tahu aturan itu. Kau akan menerima akibat yang lebih dari ini jika kau sampai menyentuh dan melukai istriku lagi." Agra memberi sebuah isyarat pada para bodyguard nya untuk melepaskan Natasya. Lelaki itu sudah akan melangkah meninggalkan ruangan pengap dan gelap minim cahaya itu. Tetapi sedetik kemudian ia berhenti dan menoleh memandang sinis Natasya yang luruh ke lantai karena kaki nya yang kram dan terasa lemas setelah lama di ikat kencang, lalu perempuan itu menatapnya tajam. " Jangan pernah menampakkan dirimu juga keluargamu di hadapanku lagi, atau kau akan menerima akibatnya. Camkan itu, wanita!!" Desisnya penuh penekanan.


"Tidak menampakkan diri dihadapan mu? hah! Lihat saja nanti. Akan ku bunuh perempuan yang telah menyebabkan ku seperti ini. Aku tidak terima atas penghinaan ini Agra." Perempuan itu mengumpat dalam hati. Bersumpah serapah bahwa ia akan membalas semua perlakuan Agra berkali lipat.


Agra telah salah mengambil tindakan. Melepaskan wanita ambisius yang rela melakukan berbagai cara untuk mencapai tujuan gilanya.


Kemeja yang Agra pakai kini telah kotor. Ia sedikit menggulung lengan sampai ke siku. Masih tetap tampan seperti biasa. Tidak berkurang sama sekali. Lelaki itu melihat jam di pergelangan tangan masih menunjukkan pukul delapan lewat. Belum terlalu malam… perutnya menagih meminta segera di isi. " Iya ma. Iya ma." Agra mengemudi sambil menerima panggilan dari mama Rani yang menjelaskan kalau tak bisa menemani Delia dan sekarang sudah berada di mansion. Otomatis saat ini istrinya tengah sendiri di rumah sakit.


Tanpa pikir panjang. Agra menambah kecepatan mobilnya. Ingin segera sampai di rumah sakit dan menemani sang istri yang mungkin saat ini sedang mencemaskan nya. Mungkin? dan mudah mudahan saja begitu. Hati dan pikiran lelaki itu terus saja berharap jika Delia akan selalu mengharapkan kehadirannya setiap hari.


*


*

__ADS_1


*


*


Agra,


Aku berjalan pelan mendekati ranjang istriku yang tertidur lelap dengan napas yang berhembus teratur. Mama bilang tadi Delia sudah makan. Rona di pipi halusnya sudah sedikit muncul. Berbeda sewaktu ia tak sadarkan diri saat jatuh di lobby perusahaan tadi. Wajahnya bercahaya. Membuatnya semakin cantik di mataku.


Tanpa membersihkan diri. Aku segera bergelung manja di ceruk lehernya yang begitu wangi. Ku usap sebelah pipinya yang merona. Ku singkirkan anak rambut yang juga sedikit menutupi wajahnya. Pandanganku beralih ke perutnya yang belum menampakkan perubahan yang signifikan. Tak tahan tanganku untuk mengusap halus perut ratanya. Tanganku menelusup di bawah seragam rumah sakit yang kebesaran di tubuhnya yang mungil. Jika di lihat dari luar memang belum kentara bila ia tengah mengandung. Tapi saat ku sentuh secara langsung perutnya, ternyata sudah sedikit kencang hampir sedikit membuncit.


Ia menggeliat dan sedikit mendes*h tanpa di sadari karena masih dalam kondisi belum sadar seutuhnya dari tidur pulas nya. Sebagai lelaki normal? Tentu saja! Tentu saja aku tak tahan melihat istriku seperti itu. Naluri ku sebagai pria normal ingin segera menerkam gadisku. Tetapi untung saja nalar ku menyelamatkan istriku. Matanya mengerjap cantik saat segala perlakuan dan pergerakan ku menarik kesadarannya. "Mas… jam berapa ini?" Ia bertanya dengan suara serak khas bangun tidur. "Tidur lagi… baru pukul delapan." Aku menghela tubuhnya lembut agar berbaring karena ku lihat ia akan bangkit dan duduk. "Sudah hilang kantuk nya." Ia menjawab dan tetap berusaha untuk duduk. "Bagaimana kondisimu? Dokter Stella menjelaskan padaku bahwa kamu hanya syok saja. Apa memang benar begitu? Kalau kamu merasa masih ada yang tidak nyaman di tubuhmu, biar dokter Stella menambah masa rawat inap mu untuk penanganan lebih intensif lagi. Tentu saja aku akan menemanimu disini selalu." Aku mengusap lembut pipi halusnya.


"Baiklah kalau itu mau mu. Besok kita pulang ke apartemen kita." Ku usap lembut pucuk kepalanya.


Rasanya ringan sekali setelah Delia membantuku menyelesaikan urusanku yang membuat kepalaku berdenyut tadi.


Ku tatap wajahnya yang merona malu-malu.

__ADS_1


"Temani aku makan…" Perutku terasa sangat lapar sebab belum terisi apapun sedari siang tadi.


"Mas aku mau itu." Ia menunjuk dua hidangan penutup yang masih berada di atas troli makanan di sampingku.


Dengan sekali tarik troli yang sebelumnya berada agak jauh dari posisiku kini berpindah tepat di sampingku. Aku mengambil makanan itu lalu meletakkan di hadapan istriku. "Makanlah." Pinta ku padanya yang di sambut dengan sebuah gelengan. "Kenapa? Kamu bilang mau ini?" Ku kerut kan keningku dalam karena bingung akan tingkah anehnya.


"Mas Agra makan dulu. Baru sisanya buat aku?" Semakin dalam keningku berkerut. "Kenapa begitu. Aku bisa memesankan makanan seperti ini satu troli penuh khusus untukmu tanpa perlu kamu berbagi makanan dengan porsi sedikit ini padaku. Apapun yang kamu minta pasti akan ku penuhi, asalkan tidak membahayakan kesehatan mu juga calon anak kita. Aku pasti akan memenuhinya."


"Iya mas aku tahu. Tapi aku maunya mas Agra makan dulu setengahnya, baru sisanya buat aku makan." Ia merengek manja. "Hemm… pesan baru saja ya?"


"Yaudah aku nggak makan." Wajahnya berubah masam dan berpaling menghindari ku.


"Baiklah baiklah, aku makan." Ku lihat ia langsung beralih menghadap ku lagi. Mengawasi ku yang tengah memakan tiga hidangan sekaligus namun hanya ku makan setengahnya saja, sesuai permintaan istriku. "Sudah selesai." Matanya berbinar menatap makanan yang tinggal setengahnya itu. Sungguh aneh dan sama sekali tidak terpikir olehku. Besok aku akan menanyakannya pada dokter Stella akan hal ini. Aku takut istriku kenapa kenapa.


Ia menarik makanan itu kehadapan nya dan langsung memakannya dengan lahap. " Semua makanan yang mas Agra makan rasanya pasti lezat sekali." Ia mengunyahnya dengan binar bahagia menghiasi wajah cantiknya.


Bersambung…

__ADS_1


...****************...


Jangan lupa KOMEN, LIKE, VOTE, RATE serta Favoritkan NOVEL pertamaku


__ADS_2