Tuan Muda Arogan

Tuan Muda Arogan
Menyadari....


__ADS_3

Hari ini Delia berniat mengunjungi bu Maya ke toko bunga miliknya. Hitung- hitung mengobati rasa kangen pada rutinitasnya yang dulu. Pikirnya.


Begitu mendengar Agra membatalkan izin kerjanya sebab asisten Alex telah kembali dari perjalanan dinasnya, perempuan cantik itu tak langsung kehabisan akal. Sungguh ia benar-benar bosan saat ini jika harus berlama-lama berada dalam mansion. Untuk itu dirinya segera meminta izin pada ibu mertuanya.


Dan untung saja beliau mengizinkannya untuk pergi namun dengan catatan bahwa ia harus membawa pengawal demi keamanannya.


Meski sebenarnya ia merasa terlalu berlebihan, tak urung Delia menuruti permintaan mama. Daripada nggak dikasih izin kan lebih baik menuruti mama, toh semua demi kebaikannya sendiri, jika mengingat kejadian tempo hari yang hampir membahayakan nyawanya.


"Nit… tolong bawakan semua buket bunga yang sudah ku rangkai ini ke ruang packing ya, soalnya aku mau ke kantor bentar ketemu bu Maya." Pintanya pada Nita, lalu ia bergegas melangkah menuju ruangan bu Maya.


"Okeee… siap Del!" Teriaknya begitu melihat perempuan itu berjalan meninggalkan ruang merangkai.


Setelah memutuskan langsung memasuki ruangan bu Maya karena tadi beberapa kali mengetuk pintu tak juga ada jawaban. Lalu ia mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk mencari keberadaan atasannya, tetapi ternyata tidak ada orang sama sekali di dalam ruangan.


Ia mendengar suara gemericik dari dalam kamar mandi, mungkin bu Maya sedang berada di sana.


Setelah menunggu beberapa saat sambil merapikan beberapa tumpukan berkas-berkas yang sedikit berantakan di atas meja kerja, pintu kamar mandi terbuka lalu bu Maya keluar dengan wajah segarnya, sepertinya perempuan setengah baya itu selesai membasuh wajahnya.


" Eeehhh Lia… berangkat jam berapa tadi sayang? Sudah lama sekali yaa kamu nggak mampir ke toko, kangen sekali rasanya… ibu kira kamu sudah lupa dengan ibu." Ungkapnya dengan raut sedih.


" Kenapa bicara seperti itu bu… tentu saja Delia juga rindu dengan ibu. Maafin Lia ya bu, akhir-akhir ini jadwal Lia sedikit padat jadi baru sempat mampir ke toko." Jelasnya sendu sambil mengusap lembut lengan bu Maya.

__ADS_1


"Ah… kog jadi mellow gini sih. Ayo lebih baik kita kerjakan pesanan bareng anak-anak yang lain. Ini ibu dapat pesanan lagi dari teman arisan… yuk yuk ah anak manis jangan sedih juga dong." Canda bu Maya sambil mengerling kan sebelah mata dengan tertawa bahagia. Setelah itu ia menggamit lengan Delia kemudian berlalu meninggalkan ruang kerja.


Kini, begitu sore menyambangi, Delia baru beranjak dari toko. Senang sekali rasanya nostalgia dengan teman lama, tertawa bercanda saling mengingat kejadian lucu ketika ia melayani pembeli dulu.


Sopir dan juga pengawal yang tengah menunggunya begitu sigap ketika ia keluar dan melangkah menuju pelataran parkir di depan toko bunga. Setelah berada tepat di samping mobil dengan gerakan cepat sambil menunduk hormat pengawal membukakan pintu untuknya.


"Nyonya muda… kami tadi mendapat perintah dari tuan, untuk mengantarkan anda ke apartemen begitu kembali dari toko." Jelas pengawal dengan sedikit menolehkan wajahnya ke kursi belakang.


"Baik. Aku akan segera menghubungi mama supaya tak menungguku pulang karena tadi kami rencananya akan makan malam bersama di mansion." Terangnya dengan jelas.


"Baik… silahkan nyonya muda." Hingga mobil mewah yang mereka tumpangi melesat membelah jalanan, Delia menatap suasana luar dari kaca mobil yang dihiasi cahaya senja.


Begitu sampai di apartemen ia dikejutkan dengan begitu banyaknya pengawal yang berjaga didepan pintu. Ia memperhatikan beberapa dari mereka juga lalu lalang disekitar basemen tadi.


Ini pasti akibat kejadian tempo hari. Ucapnya kemudian menempelkan jari telunjuknya pada finger print di sisi kanan pintu apartemen sehingga terdengar bunyi Bip, lalu pintu terbuka dan Delia berjalan memasuki tempat tinggalnya bersama Agra yang meski apartemen tetapi terlihat begitu mewah dan elegan dengan nuansa gelap yang mencerminkan pemiliknya, Agra.


"Huh… capek banget hari ini." Sambil meregangkan tubuhnya ia berjalan gontai menuju kamar mandi. Seluruh badannya serasa pegal dimana-mana sebab di toko sempat kewalahan menangani banyaknya pesanan. Informasi yang di dapat tadi ada acara resepsi dari salah satu publik figur di kota tersebut sehingga banyak kalangan sosialita memesan karangan hingga buket bunga di toko milik bu Maya karena toko tersebut memang salah satu toko langganan kalangan elit.


Ia menambahkan sabun aroma terapi setelah sebelumnya bath tube itu dipenuhi sabun busa yang Delia tuangkan sedari tadi.


Dan ketika ia telah berendam menikmati sensasi menenangkan dari aroma vanilla favoritnya yang menguar ke seluruh kamar mandi, tanpa diduga Agra kini sudah berada didekat bath tube dengan tubuh polosnya. Lelaki itu segera memasuki bath tube, mendorong istrinya supaya lebih maju sehingga cukup untuknya berendam juga.

__ADS_1


Perempuan cantik itu terkaget sebab dirinya tadi dalam kondisi setengah sadar demi merasakan air hangat yang begitu menenangkan dan meluruhkan toksin dalam tubuh. "Mas kog ada disini…" Delia menoleh menatap Agra yang memperhatikan dirinya dengan tatapan yang tak biasa.


"Memang kenapa kalau aku ada disini?" Kedua lengan kokohnya meraih dan melingkupi tubuh indah istrinya. Menyusuri setiap jengkal leher jenjang milik Delia.


"Mass…" Des**nya tertahan.


Lalu dengan sekali gerakan Agra meraih jemari dan menarik tangan Delia sehingga perempuan itu terjatuh dalam dekapan suaminya.


Ritual mandi yang seharusnya berakhir hanya dalam hitungan menit kini berbuntut panjang akibat lelaki itu yang terus saja mengerjai istrinya.


...****************...


" Mulai hari ini kalau kamu hendak bepergian kemanapun harus bersama dengan pengawal pribadimu!" Jelas Agra dengan tegas. " Perusahaan sedang menangani proyek besar saat ini. Kamu sendiri pasti paham bukan? Sebagai sekertaris ku jika hal ini dapat berpengaruh dengan kehidupan pribadi kita. Jadi aku tidak mau kalau kalau dengan kecerobohan mu mungkin saja akan menghambat segala yang sudah ku persiapkan." Terangnya tak terbantahkan. Agra mengamati Delia yang masih duduk di depan meja rias mengeringkan rambut sehabis mencuci rambut tadi.


" Baik mas… ehmm… besok aku ke kantor boleh yaa?" Tanyanya dengan nada takut takut sambil sesekali membalas tatapan Agra dari pantulan cermin di hadapannya.


" Sebenarnya aku tengah mempertimbangkan untuk mencari penggantimu, sebab ku kira terlalu sulit bagiku jika bekerja dengan sekertaris sekaligus istriku, karena mungkin saja aku akan mengingat adegan percintaan kita setiap kali kita sedang membicarakan masalah pekerjaan ." Terangnya dengan senyum menggoda. "Kemari lah sayang… temani aku." Tangannya menepuk-nepuk ranjang disebelah mengisyaratkan Delia agar segera datang dan bergelung menikmati hangatnya ranjang mewah dengan pelukan Agra sebagai pelengkap juga candu baginya.


Malam ini Agra baru menyadari satu hal lagi…


Bahwa ternyata dirinya begitu menginginkan Delia, menginginkan dalam arti yang sesungguhnya. Tak ingin orang lain merebut atau bahkan lebih parahnya lagi menikmati kecantikan alami istrinya. Tak akan ia biarkan hal itu terjadi.…

__ADS_1


Setelah ini ia akan mencari sekertaris baru agar Delia lebih berfokus pada kuliahnya saja tanpa bersusah susah membagi waktu antara jam kerja serta jam kuliahnya. Sehingga ia juga tak perlu repot repot menahan emosi ketika banyak dari partner bisnisnya melirik istri cantiknya saat mereka melakukan pertemuan bisnis. Huh sangat menyebalkan sekali.


Bersambung……………


__ADS_2