Tuan Muda Arogan

Tuan Muda Arogan
Ngidam Nasi Goreng


__ADS_3

HAPPY READING,


Tak hentinya mama memandangi foto hitam putih hasil periksa kandungan waktu itu. Di usia mama dan papa saat ini. Kehamilan Delia adalah hadiah terbesar yang setiap hari mereka nanti. Apalagi saat ini anak menantu kesayangan mereka tengah mengandung bayi kembar. Hal itu tentu menambah kebahagiaan yang tiada mampu di ungkap walau hanya dengan kata bagi keluarga Wijaya sendiri.


Sepulang dari dinner kemarin mama mewanti wanti Agra untuk tidak selalu membawa Delia keluar rumah. Ibu hamil rentan terkena angin malam, itu alasannya. Sebagai calon nenek, mama Rani terlampau khawatir. Apalagi Agra adalah putera satu-satunya sehingga harapan mereka hanyalah tertumpu pada calon cucu cucu mereka. "Kamu ini jangan sering keluar malam dengan istrimu…" Mama mengomel sambil berjalan beriringan dengan anak dan menantunya. "Apa kamu tahu bahaya yang bisa saja mengintai istrimu. saingan bisnismu di luar banyak Agra. Dan harusnya kamu paham tanpa mama bicara banyak padamu." Agra mengangguk mengerti. Memang nyata adanya jika saingan bisnisnya bertebaran di luar sana. Sudah menjadi rahasia umum kejamnya dunia bisnis. Memenangkan tender dengan cara menyuap atau menghilangkan nyawa bagai menepuk lalat pengganggu demi lancarnya sebuah proyek. Itu semua adalah hal yang biasa terjadi dan lumrah.


"Iya maa… sekali ini. Tidak lagi. Kalau keluar dengan istriku tentu aku akan membawa beberapa anak buah terlatih ku." Mama melengos. Sebenarnya ia berharap menantu kesayangannya untuk tetap tinggal di dalam mansion demi keamanan. Tetapi tentu mama menyadari jika hal itu tak akan mungkin terjadi. Sebab mama tidak mau kalau sampai menantunya merasa terkekang.


Delia hanya menanggapi dengan seulas senyum perdebatan antara suami dan ibu mertuanya. Dan yang terpenting baginya jadwal kuliahnya tidak di hilangkan saja sudah dapat melegakan hati.


...****************...


"Aku nggak mau makan… " Delia menggelengkan kepala menolak suapan dari sang suami. "Kamu kan belum makan dari pagi." Perempuan itu tetap pada pendirian. Bukan tanpa sebab sebenarnya. Sedari pagi perutnya terus saja bergejolak kala mencium bau makanan kesukaannya. Beberapa kali pak Li mondar mandir dari dapur ke meja makan demi menyiapkan menu berbeda setiap nyonya mudanya menggeleng tak mau memakan hidangan yang sepenuh hati ia dan ahli gizi sajikan. Delia sendiri juga merasa aneh memang. Biasanya ia akan sangat bersemangat saat pak Li menyajikan tumis daging favoritnya. Menerima dengan penuh antusias adalah rasa syukur yang membuat pak Li juga beberapa koki yang bertugas menjadi lega. Tetapi siang ini satu mansion di buat kelabakan. Merasa sudah kehabisan cara agar nyonya muda mereka tetap menerima asupan untuk calon penerus keluarga Wijaya.


"Aku… aku mau nasi goreng." Mata Agra membulat tidak percaya. Semudah itu? Tanyanya dalam hati. Kenapa nggak dari tadi sih? Masih dalam hati. Tahu begitu sudah ku minta pak Li menyiapkan.


"Tapi… dimasakin mas Agra."


What…?

__ADS_1


"Tapi sayang… aku kan belum pernah masak nasi goreng." Jawabnya cepat. Tak ingin memberi harapan palsu pada sang istri.


"Yaudah… aku nggak makan kalau gitu." Wajahnya sudah ditekuk dan dilipat. Bibirnya mengerucut tanda ia sedang merajuk.


"Jangan dong… apa kamu tidak kasihan dengan mereka?" Agra bertanya penuh kehati-hatian. Menahan agar tak mengucapkan kata atau kalimat yang mampu menyinggung Delia. Ia mengusap lembut perut perempuan itu. "Makan yah… aaa buka mulutnya." Menyadari bahwa ia harus menekan keinginannya demi makhluk kecil yang berada di perutnya. Akhirnya Delia pun membuka mulutnya dan menerima suapan Agra.


Mengunyah perlahan berusaha menelan. Namun ketika makanan yang bersusah payah ia telan itu sampai pada kerongkongannya, ada dorongan kuat dari perutnya untuk membuatnya kembali lagi ke atas. Sekuat tenaga ia bangkit dari duduknya. Berlari tunggang langgang sambil membekap mulutnya menuju kamar mandi di dekat dapur. "Sayang jangan lari… nanti jatuh." Agra mengikuti Delia. Berusaha mensejajari langkah cepat sang istri namun tak bisa. Dan begitu perempuan itu sampai di depan pintu kamar mandi. Membukanya dengan terburu buru. Saat sampai tepat di depan washtafel Delia memuntahkan segala isi perutnya tanpa ampun hingga tak ada lagi apapun yang tersisa. Malahan yang keluar hanya berupa cairan serupa kuning telur yang terasa luar biasa pahit di mulutnya.


Hati Agra terasa nyeri. Secara langsung menyaksikan sang istri muntah sejadi jadinya. "Maaf telah memaksamu hingga kamu muntah sampai seperti ini." Sebelah tangannya membantu Delia memegangi rambut agar tak terurai jatuh dan mengganggu acara muntahnya. Sedikit memberi pijatan pada tengkuk mulus Delia supaya melancarkan peredaran darah. Dan begitu selesai…tubuh perempuan itu seketika lemah tak bertulang hingga ia hanya mampu bersandar pada dada bidang Agra.


Dengan sigap Agra mengangkat tubuh lemah Delia. Melewati mama yang sedari tadi hanya bisa khawatir menyaksikan menantunya muntah dengan hebat. "Pak Li tolong buatkan minuman hangat untuk menantuku." Perintahnya pada pak Li yang setia mengekor di belakang. "Baik nyonya besar."


"Maaf aku yang mengabaikan keinginanmu sehingga kondisimu bertambah buruk. Aku pikir tak ada hal yang harus ku khawatirkan. Dan ternyata kamu serius dengan keinginanmu yang memang ingin memakan nasi goreng buatan ku. Apa… apakah kamu masih ingin memakannya?" Nadanya berubah teramat sedih. Lelaki itu menggenggam kedua tangan mungil sang istri dengan ekspresi bertambah muram.


Senyumnya terbit kala melihat raut penyesalan Agra begitu kentara. Kemudian ia mengangguk pasti. Menarik tangan Agra untuk menyentuh perutnya yang sedikit kencang. "Aku serius mas… mereka berdua yang ingin makan nasi goreng buatan mu." Agra terkekeh nyaris tergelak. Ia menarik sang istri dalam dekapan. Memeluknya erat menyalurkan rasa gemas pada istri cantiknya. "Baiklah karena mereka yang mau… aku akan mencobanya. Nanti aku akan meminta pendampingan pada ahli gizi. Supaya nasi gorengnya memiliki rasa yang tidak terlalu buruk sehingga layak untuk di nikmati oleh perempuan cantik di hadapanku ini." Agra menyentuh ujung hidung Delia seraya terkekeh menahan gemas.


"Kamu tunggu dan berbaringlah disini. Tidak lama. Aku akan segera kembali membawa nasi goreng pesanan mu." Delia mengangguk patuh. Menatap punggung suaminya yang berjalan meninggalkan kamar mereka.


Satu jam berlalu belum ada tanda Agra membuka pintu kamar. Delia berbaring gelisah di atas ranjang luas itu. Dengan hati hati ia bangkit dari tidurnya akibat kepala yang masih menyisakan rasa berdenyut sebab belum makan apapun dari pagi. Hanya ada air jahe hangat yang sekarang bahkan sudah terlampau dingin terkena hawa dari AC yang menyala di kamarnya.

__ADS_1


Delia melangkah pelan menuju kamar mandi. Saat akan manarik handle pintu, detik itu juga Agra datang mendorong pelan pintu membukanya tanpa menutup lagi, ia membawa nampan yang berisi sepiring nasi goreng di atasnya. "Hemm… wangi banget mas." Mata Delia langsung berbinar ketika mengetahui apa yang berada di tangan suaminya. "Aku mau…" cicitnya lagi seraya melangkah menghampiri Agra


"Ini memang untukmu sayang…" Jawab Agra lembut. Ketegangannya sedikit berkurang ketika melihat sikap antusias sang istri. Kemudian ia meletakkan nasi goreng itu di atas ranjang. Menarik tangan Delia untuk duduk di sampingnya. "Maaf jika rasanya mungkin akan membuatmu kecewa." Sebelah tangannya mengusap lembut penuh sayang pucuk kepala Delia. Selanjutnya dengan segera ia membawa nampan berisi sepiring nasi goreng buatan tangannya itu dalam pangkuannya. Mengambil sesendok dan lalu menyuapkan pada Delia yang menanti penuh harap. Satu detik… dua detik. Perempuan berlesung pipi itu mengunyah dengan pasti. Detak jantung Agra berdetak cepat. Takut kalau kalau sang istri memuntahkan lagi apa yang ia makan saat ini. Tadi siang saja Delia sudah muntah dengan hebat. Akan tidak lucu jika hal itu terjadi berulang kali. Kalau sampai benar terjadi Agra akan memutuskan untuk Delia di rawat di rumah sakit dengan segera. Mungkin itu solusi dan upaya paling tepat. Sebab istrinya saat ini betul betul harus mengkonsumsi banyak nutrisi demi sang buah hati.


"Ini enak mas…" Binar wajahnya memancarkan ungkapan tanpa paksaan. "Benarkah?" Tanyanya serius.


"Iya beneran! Aku suka!" Tidak sabar menunggu suapan berikutnya. Delia mengambil alih nasi goreng ke hadapannya. Dan dengan lahap ia menikmati nasi goreng itu penuh sukacita. "Pelan pelan itu khusus buatmu sayang."


Makan siang yang sedikit terlambat. Tidak masalah. Semua terbayar dengan rasa yang sesuai selera. Delia.


Bersambung…


...****************...


I LOVE YOU ALL…❤️


Jangan lupa LIKE, KOMEN,POIN,VOTE dan FAVORITKAN


NOVEL pertamaku.

__ADS_1


Tengkiyu, tengkiyu, tengkiyu.


__ADS_2