
Agra,
Bertahun lamanya aku membangun kerajaan bisnis gelap tanpa sepengetahuan orang tua, semua tak ada yang sia sia. aku bekerja keras demi memperkuat usahaku mulai dari bukan apa-apa hingga kini terbukti mampu menjadi luar biasa. Tentu saja bukan tanpa alasan aku melakukan itu, karena tanpa diriku berusaha keras pun orang tua ku dapat menopang ku dengan kekuasaan dan kekayaan yang mungkin tak terhitung...
Tetapi sifat ku yang ulet, gigih juga tidak mau berhenti pada satu titik saja serta ingin membuktikan pada dunia bahwa aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri tanpa sokongan dari siapapun, membuatku menjadi Agra yang kuat, arogan, juga ditakuti banyak musuhku setiap kali mereka bersinggungan denganku.
Aku dengan segala sikap otoriter ku akan tanpa belas kasihan mampu menghabisi siapapun yang berniat menumbangkan ku juga menyentuh orang-orang terdekatku. Tak ada setitik pun ampun bagi para penghianat, apalagi penghianat berkedok rekan bisnis ataupun teman. Aku akan dengan senang hati melibas mereka sampai habis hingga ke akar-akarnya, sebab bukan menjadi rahasia lagi jika banyak orang-orang dengan hati dengki yang berniat menghancurkan bisnis yang tengah ku rintis sedari nol ini dan saat ini tengah berkembang begitu pesat merambah bisnis perhotelan juga persenjataan.
Aku menggamit pinggang ramping istriku, berjalan menuju ruang ganti sehabis mandi bersama. Ah… aku benar-benar tak mau jauh darinya sekarang, istri cantikku. Kedua tanganku menarik Delia agar semakin merapat padaku, lalu memintanya memasangkan dasi setelah berganti pakaian, tetapi kenyataannya istriku kesulitan sebab tubuh mungil Delia tidak sebanding dengan postur tinggi tubuhku. Aku menggelengkan kepala tergelak dalam hati tak tahan melihat mimik wajahnya yang menahan kesal sebab aku dengan keisenganku tetap berdiri tegak tak mau mensejajari. Runtuh sudah segala pertahanan ku untuk berniat mengabaikannya.
__ADS_1
" Mas bisa agak menunduk sedikit, tidak? Ini aku nggak nyampe nyampe masangin dasinya…!" Keluhnya dengan bibir mengerucut. Melihat hal itu membuat Aku tertawa lagi serta tak tahan untuk segera menghadiahi sebuah kecupan kecil pada bibir mungil istriku... "Mau aku belikan susu peninggi badan, tidak?" Ucapku dengan senyum tertahan.
" Iiish… jangan bercanda dong! Cepetan nunduk mas, nanti keburu siang terus telat ke kantor lagi!" Dan ketika aku menunduk agar sejajar dengan istriku saat itu juga pandanganku bertemu dengannya, kemudian tidak tahu mengapa jantung ku berdetak cepat saat ini demi menyadari manik teduh istriku. Aroma vanilla yang menguar dari tubuhnya semakin membuat debaran jantungku tak menentu. Senam jantung pagi hari ini, huh.
Kini kami sudah rapi dan bersiap berangkat ke perusahaan bersama. Delia kekeh jika ia akan tetap bekerja selama aku belum mendapatkan sekertaris pengganti, karena aku menambah masa kerja sekertaris Sintya di Singapore guna menggantikan ku untuk waktu yang tak dapat ditentukan, dengan begitu akan membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk Alex menemukan sekertaris yang tepat untukku. Benar-benar gila aku jika banyak rekan bisnisku yang memandangi kecantikan istriku. Yaa… memang ku akui jika aku memintanya berhenti sebab aku tidak mau istriku menjadi konsumsi publik. Dia hanya milikku.
" Ma… Pa kami berangkat dulu." Pamitnya pada orang tuaku. Selain karena ia memang spesial dimata ku, dia juga begitu tulus menyayangi kedua orang tua ku, aku bisa melihatnya ketika ia berbincang dengan mereka. Dan mulai hari itu aku menganggap bahwa memang perjodohan ku dengan Delia berdampak baik untuk kehidupan ku juga kebahagiaan kedua orang tua ku. Aku berjanji akan selalu menjaga orang-orang yang ku sayangi, ya… aku berjanji, meski aku terlalu malu untuk mengakui secara terang-terangan, namun aku akan selalu memegang janji yang telah ku patri dalam hatiku.
Begitu memasuki lobby perusahaan, kedua resepsionis yang tengah berjaga, berdiri lalu mengangguk menyapa kami berdua. Ia terlihat menjaga jarak dengan berjalan sedikit dibelakang ku sejak sampai di pintu masuk tadi. Aku menarik tangannya supaya berjalan sejajar denganku sambil menunggu lift karyawan terbuka sebab lift khusus untukku sedang dalam perbaikan rutin, begitu pintu lift terbuka beberapa karyawan yang turun dari lantai atas langsung menunduk sopan padaku kemudian mereka bersama-sama berlalu meninggalkan ku dan istriku. Ada dua karyawati yang juga akan menaiki lift bersamaan dengan masuknya kami, mereka melirik kami sekilas, tidak berani berbisik maupun menatap dengan jelas sebab kedapatan melihat tanganku yang menggamit pinggang ramping istriku. Ah… biarkan saja, pendapat mereka bukan urusanku dan tak penting juga bagiku.
__ADS_1
Hari ini tidak ada meeting, hanya ada beberapa berkas yang harus ku periksa lagi. Aku melirik sekertaris cantikku yang sedari tadi diam mengatur jadwal kerjaku untuk satu minggu ke depan. Cantik banget sih istriku.
"Delia…"
"Iya mas, ada yang bisa aku bantu?" Tanya nya lembut. Ah jadi tidak tahan aku, melihatnya yang semakin hari semakin bersinar saja, tak salah memang peraturan yang ku buat-buat sewaktu pertama ia menjejakkan kaki ke perusahaan ku dulu. Mana ada perusahaan yang membuat peraturan konyol agar karyawannya melakukan perawatan rutin supaya cantik. Aku tertawa dalam hati kala dulu ia menganggap peraturan yang ku buat adalah nyata adanya, padahal hanya gurauanku saja. Lucu memang, tapi terbukti dengan keisenganku waktu itu membuat kulitnya tampak lebih kenyal dari waktu dulu yang terlihat meski bersih tapi rapuh.
Aku berjalan mendekati meja kerjanya, ia yang sedang serius oleh pekerjaannya kemudian menoleh kearah ku. "Buatin aku kopi ya sayang." Ucapku lembut juga. Aku mengamati istriku yang berjalan menuju mesin kopi yang sengaja ku sediakan di dalam ruang kerja ku agar ia tak perlu repot-repot ke pantry jika sewaktu-waktu aku menginginkan kopi yang tentu saja dari biji kopi pilihan favoritku. Kemudian aku mengekor di belakangnya memeluk dari belakang. Hemm… wangi banget sih istriku ini. " Kamu buat teh juga ya… aku mau minum sama kamu." Tak tahan juga aku bersikap manja padanya. Aku benar-benar menjadi berbeda ketika aku bersamanya. Menjadi bukan aku yang Arogan.
Sekilas ia melirikku, pipinya memerah menahan malu, mengahadapi aku yang tak biasa baginya. " Iya… sayang, tunggu sebentar ya. Jangan begitu nanti air panasnya tumpah." Ucapnya risih sebab kini aku tengah menciumi rambut serta leher wanginya. Benar-benar membuatku candu.
__ADS_1
Bersambung…
Happy reading man teman❤️