Tuan Muda Arogan

Tuan Muda Arogan
Dalam Jangkauan


__ADS_3

Dengan kemampuannya yang tak perlu di ragukan lagi, tidak butuh waktu lama menemukan ruangan dimana istrinya di sekap. Agra telah mengatur anak buahnya untuk mengelabuhi para penjaga di area depan bangunan tua itu, sementara dirinya berusaha memasuki sebuah gudang dengan pintu yang tertutup rapat serta tak memiliki jendela. Waktunya tak banyak lagi, sebelumnya ia telah memasang peledak untuk meruntuhkan bangunan setelah membawa Delia berserta orang-orangnya keluar dari sana. Secepatnya ia bergerak mendobrak pintu, hanya ada Delia di dalamnya saat itu, entah dimana kedua pelayannya pun ia tak melihatnya berada dalam satu ruangan dengan istrinya.


Kakinya serasa tak bertulang saat mengetahui kondisi menyedihkan Delia. Setidaknya tak ada ikatan pada perutnya yang sudah mulai terlihat menyembul kalau dalam posisi duduk dan memakai busana pas badan.


Terakhir kali ia meninggalkan Delia di villa seusai makan malam, senyum bahagia masih menghiasi wajah teduh istrinya. Dan kini meski dalam kondisi setengah sadar, perempuan itu seperti menahan sakit yang terlihat dari kerutan di dahinya. "Hei… sayang…" Agra sudah mensejajarkan tubuhnya di hadapan Delia, sementara tangannya berusaha melepaskan tali pengikat pada kaki dan tangan Delia.


Pendar lampu bohlam di atas kepalanya menembus ke retina karena kepalanya terkulai namun dalam posisi mendongak.


"Siapa?" Tangan rapuhnya mencoba menggapai wajah pria yang tertunduk dihadapannya. "Aku mau pulang. Hiks…" Tangisnya pecah saat sadar sayup suara siapa yang terdengar di telinganya.


Begitu ikatan berhasil terlepas, segera Agra merengkuh tubuh lunglai Delia. Menyalurkan rasa rindu sekaligus takut kehilangan perempuan berharganya. "Ya sayang. Kita pulang sekarang, bagaimana kondisimu hem?" Masih dalam rengkuhan Agra. Isak tangis Delia tak tertahan. Kondisi tubuhnya yang berbadan dua semakin memperburuk mentalnya, sekuat tenaga ia tahan untuk tidak menumpahkan kekalutan hati akan keselamatan dirinya juga calon bayi-bayinya namun, tetap saja rasa sakit di sekujur tubuh menghujam tanpa ampun yang secara reflek membuat air matanya jatuh berderai tiada tertahan juga. "Aku sudah disini Lia. Tidak perlu takut lagi, okey?!" Ucapnya menenangkan dengan nada luar biasa lembut, meski hatinya sendiri berdenyut tak tahan menyaksikan istrinya dalam keadaan terluka. Telapak tangan hangatnya menangkup wajah Delia, kedua ibu jarinya mengusap lelehan air mata yang mengaliri kedua pipi perempuan tercintanya.


Agra menyelipkan tangannya di lipatan kaki istrinya, buru-buru ia mengangkat tubuh Delia. Waktu yang tak banyak lagi, dan mungkin beberapa saat lagi bangunan tua ini akan hancur lebur.

__ADS_1


Langkah tegapnya berjalan pelan namun pasti dan tetap waspada pada bahaya di sekitar yang kapanpun bisa saja mengancam jiwa. "Peluk aku dan pejamkan matamu sayang." Perintahnya lembut pada Delia yang senantiasa mengalungkan kedua tangan rapuhnya pada leher kokoh Agra.


Agra melewati sebuah lorong yang terhubung dengan pintu belakang bangunan tua itu, Beberapa penjaga telah ia buat tak sadarkan diri saat berusaha memasuki satu ruangan dimana istrinya di sekap. Tanpa suara dan dalam suasana tenang ia mampu melumpuhkan mereka semua sebelumnya.


Duarrrrr… Bummmm!!!!


Suara ledakan terdengar sampai ke telinga Agra yang berada tak jauh dari bangunan itu.


Telah lama berkecimpung di dunia gelap membuatnya tak lagi gentar. Setelah ini ia tahu, bahwa semuanya belumlah berakhir. Mereka dengan sengaja mempermudah rencananya kali ini bukan sebab mereka tak memiliki rencana yang lebih mengejutkan lagi.


"Setelah ini bawa istriku ke markas besar! Aku akan membereskan urusanku dengan para bedebah itu!!" Agra berbicara setengah mengeram menahan amarah seolah tak membuka mulutnya, tapi satu anak buahnya yang setia mengekor di belakang derap langkahnya mengerti hal apa selanjutnya yang akan terjadi. "Mas…" Suara lirih Delia terdengar. Agra yang sudah akan bergegas, menghentikan langkahnya karena ujung jasnya terasa di tarik-tarik. "Menurut lah, oke!?" Ia mengecup lama kening istrinya. Bagai menyalurkan rasa berkecamuk dalam dadanya seraya mencoba menenangkan kegundahan sang istri. "Kalau begitu kamu harus berjanji untuk selamat dan pulang dalam keadaan tak kurang satu apapun." Sambil berkaca-kaca Delia mengulurkan jari kelingkingnya untuk mengikat janji sebagai bentuk upaya memantapkan hati melepaskan suaminya menghadapi penjahat sadis di dalam satu bangunan tua yang tersisa dekat reruntuhan puing-puing bangunan itu.


Mata elangnya mengedip menggoda istrinya. " Apa kamu takut kehilangan aku?" Bagaimana bisa Agra masih dengan ringannya menanyakan perasaan sang istri yang dilanda ketakutan luar biasa. "Kamu jahat mas!" Bibirnya memberengut melengos membelakangi Agra. " Oke-oke aku janji sayang. Lagipula masihkah kamu meragukan kemampuan suamimu ini hem?" Agra memutar tubuh istrinya paksa namun tetap dengan penuh kehati-hatian. "Jangan berpikir macam-macam dan buang jauh-jauh rasa khawatir mu yang berlebihan itu." Agra menghela nafas pelan saat masih terlihat sorot kekhawatiran di mata Delia. "Aku tahu sayang apa yang membebani hatimu saat ini. Dan asal kamu tahu bahwa sebenarnya aku teramat bahagia atas rasa khawatir mu terhadapku itu. Bukankah berarti hatimu telah terpaut jauh padaku?" Seketika rona merah bersemu pada kedua wajah Delia. Perempuan itu tak mampu menjawab sepatah katapun. Berusaha keras mengalihkan pandangan yang langsung ditahan oleh Agra. Lelaki itu mengangkat wajah Delia, mengikis jarak yang tersisa, menghadiahkan kecupan lembut sampai bibir istrinya basah sebelum ia berlalu dan menyelesaikan urusannya.

__ADS_1


"Oke! Tunggu aku datang. Setelah ini kita pulang bersama." Perlahan Agra melepaskan genggaman tangannya pada sang istri. "perketat keamanan! dua mobil di belakang kalian akan membantu mengawasi. Segera kirimkan sinyal padaku bila musuh kembali menyerang. Harus kalian tahu, musuh kita kali ini lebih berbahaya daripada gangster manapun!" Agra berbicara tegas setelah menutup pintu mobil pada dua pengawal Delia yang masih setia berdiri sembari berjaga di luar, menunggu bos mereka menyelesaikan urusannya dengan nyonya muda serta memastikan kenyamanan duduknya.


Alat perlindungan diri terpasang dengan baik. Mulai dari rompi anti peluru juga senpi keluaran terbaru dari pabrik senjata miliknya terselip samar di balik jas karena ukurannya yang sangat kecil. Senjata api yang sangat canggih. Benda seukuran jari telunjuk itu tidak akan mengeluarkan suara tembakan apabila digunakan. Bahkan, pelurunya mampu menembus benda keras seperti besi sekalipun.


Agra berjalan menyusuri lorong yang sebelumnya ia lewati. sengaja ia tidak meruntuhkan keseluruhan bangunan luas dengan ornamen khas London kuno itu. Lelaki itu hanya memasang peledak berkekuatan mirip ranjau sehingga bagian depan bangunan tetap utuh.


"Bersiaplah. Mereka datang Lex!" Agra berdiri di salah satu sudut gelap sebuah ruangan yang bersebelahan dengan ruang di mana istrinya di sekap dan kini hanya tinggal puing-puingnya akibat ledakan berskala sedang sebelumnya.


"Baik tuan. Semua sudah siap di posisi masing-masing."


Suara langkah kaki terdengar semakin mendekati tempat persembunyian Agra. Tidak, bukan satu. Suaranya seperti derap langkah setengah berlari banyak orang.


"Mereka bergerombol!! Jangan ada yang mengambil tindakan tanpa perintah dariku!!" Agra berbicara dengan semua anak buahnya yang sudah bersiap di tempat masing-masing, termasuk Alex sebagai koordinator kedua jika Agra dalam kondisi terdesak.

__ADS_1


Semuanya tidak ada yang menjawab. Sesuai kesepakatan sebelumnya, jika ada perintah apapun dari Agra tak ada yang boleh menjawabnya dalam sambungan Handy Talky yang dapat memancing musuh mengetahui tempat persembunyian Agra melalui suara yang ditimbulkan. Ia tengah berada diposisi rawan saat ini sehingga sebenarnya hanya tinggal menunggu waktu tepat untuk melumpuhkan para bajingan yang telah membuat istrinya dalam bahaya.


__ADS_2