
Dokter Stella menyambut dengan senyuman lebar saat pasien kelas VVIP nya datang.
Delia yang tiba-tiba merasa luar biasa antusias saat menyadari pemeriksaan kali kedua ini secara khusus untuk mengetahui perkembangan detak jantung bayi dalam kandungannya, secara tak sadar mengeratkan genggamannya pada Agra. Dokter Stella sendiri mengatakan kalau di bulan ini ia dapat mendengarkan heart beat bayi-bayinya secara langsung, lalu kalau tidak ada halangan, secara terjadwal ia juga dapat melihat jenis kelamin di bulan berikutnya.
"Apa kamu gugup?" Agra bertanya lembut sambil sesekali meremas lembut genggaman di tangan istrinya. "Sedikit…" Senyum manis Delia mengembang sempurna, membuat hati Agra seketika menghangat saat menyadari bahwa istrinya menerima kehamilannya dengan sukacita yang luar biasa terpancar dari manik sayu nya. Binar bahagia tak mampu keduanya sembunyikan lagi. Dan dengan refleks sebuah kecupan mendarat di kening Delia lama. Sontak selain keduanya. Dua pasang mata milik dokter beserta asistennya menunduk malu mendapati pasien mereka sedang melakukan adegan romantis. Asisten dokter Stella sendiri yang mungkin seusia Delia nampak merona menahan malu. Tersipu-sipu sambil senyam senyum tertahan, mencuri pandang dari sudut matanya. Ingatannya berusaha keras mengabadikan setiap momen tuan dan nyonya di hadapannya. Mungkin kalau saat ini ia memiliki keberanian, akan dengan segera gadis itu mengambil beberapa potret pose terbaik Agra dan Delia untuk dijadikan ide pokok bakal novel barunya dikemudian hari. Menulis adalah hobi sampingannya kala selesai bertugas menjadi asisten dokter Stella akhir akhir ini, dan setiap menemukan inspirasi baru akan dengan segera ia tuangkan dalam bentuk cerita ke dalam karya-karyanya yang sebagian telah tamat.
Dengan gerakan hati-hati dokter Stella meletakkan sebuah alat di atas perut istri tuan muda keluarga Wijaya setelah sang asisten mengoleskan gel berwarna bening yang terasa dingin. Sedikit menekan lalu pandangannya beralih menatap layar di samping ranjang pasien. "Nah detak jantungnya sudah terdengar lebih kencang ya tuan…" Agra melebarkan mata mengamati dengan jeli layar kecil di samping ranjang. Sementara dari posisinya Delia dapat dengan jelas memandangi serupa garis yang bergerak sebagi simbol detak jantung bayi-bayi mereka.
Dengan lincah dokter Stella membawa alat tersebut ke bagian perut Delia yang lain. "Wah. Nona termasuk ibu hamil yang beruntung yah." Nadanya bertambah riang setelah beberapa kali melakukan pengecekan yang sama sekali tak di mengerti oleh Agra, hingga kedua alis lelaki itu bertaut dan keningnya berkerut dalam. "Memangnya ada apa dengan istri saya dok?" Agra yang cemas luar biasa meski pemeriksaan menunjukkan hasil baik pun tetap merasa khawatir sebab kehamilan Delia termasuk beresiko. "Bukan hal yang buruk tuan. Istri anda sedang mengalami kehamilan kembar yang umumnya rentan mengalami kelahiran berat bayi lahir rendah, namun dalam kondisinya saat ini membuat rasa khawatir saya sedikit berkurang. Segala makanan yang di konsumsi ibunya telah terserap dengan baik oleh bayi-bayi anda. Hingga tubuh nona pun tidak banyak mengalami kenaikan." Agra diam tak menyela. Mencerna setiap penjelasan sekecil apapun dari dokter Stella.
" Nah lihat tuan. Meski belum terbentuk sempurna, mereka tumbuh seperti ketika dalam kondisi kehamilan bayi tunggal." Mata Agra berkaca-kaca ketika menyadari penjelasan dokter Stella bahwa bayi kembarnya telah tumbuh dengan baik di dalam rahim perempuan yang telah banyak mengubah hidupnya menjadi lebih berwarna.
Sementara dokter Stella masih melakukan pemeriksaan menyeluruh, Agra setia menggenggam tangan lembut Delia.
__ADS_1
Dan begitu rangkaian pengecekan telah selesai Agra segera menghela Delia keluar dari ruang praktek Dokter Stella. Membawa hasil pemeriksaan beserta foto 4 dimensi yang akan ia simpan menjadi album kenangan kehamilan pertama istrinya, menjadikannya satu dengan foto maternity ketika usia kandungan Delia sudah bertambah nanti.
Dengan langkah ringan Agra dan Delia saling menggenggam melewati lorong rumah sakit menuju mobil mereka di area parkir. Melindungi kepala istrinya dengan menutupi kepala agar tidak terbentur atap mobil.
"Ikut ke kantor ya? Aku masih merindukanmu." Ucapnya setengah berbisik di telinga Delia, menarik pelan tubuh sintal istrinya ke dalam pangkuan. "Kamu bilang mau menunjukkan foto ke mama mas?" Sambil menyandarkan tubuhnya di bahu lebar Agra Delia menyelipkan tangannya di tubuh hangat Agra. Bermanja sembari sesekali mengusap rahang Agra yang telah di tumbuhi beberapa jambang hingga terasa kasar di tangan lembutnya. " Iya nanti saja… Temani aku ke kantor. Setelah semua beres kita pulang ke mansion. Tapi tidak menginap, karena ada berkas penting yang harus aku cek kembali di apartemen. Oke, apa kamu setuju?" Delia mengangguk sebagai sebuah jawaban. "Gadis pintar." Usap-usap kepala, menarik istrinya untuk menatapnya. Menciumi leher yang semakin hari semakin bertambah lembut saja.
Pergerakan tak sengaja Delia pun membuat Agra salah mengartikan. Inti yang tak bisa berkompromi pun mengganggu fokus dan membuat kepalanya berdenyut. Hati dan pikirannya sibuk melawan hasrat yang acap kali membara saat fisiknya saling bersentuhan dengan Delia. Tetapi hatinya kalah. Delia terlalu menggoda saat ini. Bahkan perempuan itu terlihat bertambah berkali lipat kecantikannya. Dan meski tengah mengandung, tidak menyurutkan wajah jelitanya. Justru Delia semakin mengeluarkan aura berbeda yang selalu menjadi candu bagi Agra. " Sayang…" Panggilnya pada Agra yang tengah fokus memeriksa laporan dari asisten Alex yang di kirim melalui email di ponselnya.
Duduknya mulai gelisah. Ada sesuatu yang ingin ia sampaikan, tetapi malu untuk diucapkan. "Ada apa?" Delia yang bergerak gerak di atas pangkuan Agra membuat Agra semakin merasa pening. Menghela pelan tubuh istrinya untuk berpindah ke kursi sampingnya. "Ada apa? Apa yang membuatmu tiba-tiba gelisah saat ini?" Menarik Delia untuk lebih merapat pada tubuhnya. Tidak membiarkan istrinya duduk terlalu jauh darinya. "Mau pipis…" Setelah beberapa saat menahan rasa ingin buang air kecilnya, kini benar-benar tak dapat ditahannya lagi. Rasa-rasanya mungkin sudah akan keluar saat itu juga. "Masih di tengah jalan Lia. Apa kamu bersedia memakai toilet umum di tempat pengisian bahan bakar? Bahkan aku tidak bisa menjamin kebersihan di sana." Agra meringis membayangkan istrinya masuk ke dalam toilet yang telah di pakai orang lain secara bergantian sebelumnya. Bagaimana nanti kalau ia terkena virus yang mungkin saja mengkontaminasi saat ia berada di dalamnya? Apalagi dalam kondisinya yang rentan sebab tengah mengandung.
Dua mobil mewah berhenti tepat di depan toilet umum di tempat pengisian bahan bakar kendaraan. Agra sendiri sebelumnya telah memerintahkan pada lima anak buah untuk berjaga di mobil lain. Sejak awal keberangkatannya ke rumah sakit sepulang dari makan siang bersama dokter Leo ia telah di kawal oleh iring iringan dua mobil yang berisi para pengawal terlatih. Satu mobil bertugas menjaga dari jarak dekat sementara mobil lain mengawasi dari jarak jauh., Mengantisipasi hal tak di inginkan dari musuh-musuhnya yang memakai topeng menjelma menjadi teman atau bahkan sahabat.
"Hati-hati…" Agra menghela Delia ke toilet sementara dirinya menunggu di dekat pintu.
__ADS_1
Beberapa saat menunggu akhirnya Delia keluar dengan senyum cerah. Perempuan itu menggamit lengan suaminya sambil mengedip genit. "Eh…" Agra tergelak melihat tingkah lucu Delia. "Mau apa hem?" Tanyanya setelah sadar ada pesan tersirat dari gerik aneh istrinya. "Haus. Mau minuman dingin boleh? Beli di sana." Tangannya menunjuk minimarket di seberang, masih dalam area pengisian bahan bakar. "Di mobil kan ada sayang. Mau dingin pun juga ada." Delia menggeleng. Menolak tawaran Agra. "Maunya beli di sana mas." Agra menghela nafas kasar. Hari ini benar-benar sikap Delia sangat menguji kesabarannya. "Biar pengawal yang membelikan. Kita tunggu di mobil, oke!" Sama sekali tidak mengindahkan rengekan istrinya. Agra membalikkan tubuhnya, tidak melepas genggaman tangan pada Delia yang tengah mengerucutkan bibirnya karena sebal keinginan untuk membeli dan memilih sendiri minuman dingin tak di izinkan. "Mau beli minuman dingin apa Lia?" Suaranya sedikit meninggi karena Delia tak kunjung menyebutkan merk minuman yang di inginkan. "Nggak jadi beli. Mau minum air aja di mansion."? Delia melengos, bersungut-sungut memunggungi Agra yang tampak tak peduli dengan dirinya yang memasang sikap merajuk.
Sekali tarikan, tubuh sintal Delia menubruk dada bidang Agra. "Apa kamu lupa saat ini sedang ada dua makhluk mungil yang mencoba tumbuh dengan susah payah di dalam sini. Hem?" Agra mengusap pelan perut istrinya yang sedikit menyembul dalam dekapannya. "Bukannya aku melarang mu untuk membeli makanan atau minuman yang kamu mau… tapi ketahuilah, bahwa aku sangat mengkhawatirkan kondisimu juga calon bayi-bayi kita. Apa kamu mengerti Lia?" Perlahan Delia memposisikan tubuhnya agar menghadap Agra. Menatap mata tajam suaminya yang juga menatapnya. "Kamu boleh memakan apapun yang kamu mau asal sesuai standar ahli gizi yang sudah mama rekomendasikan untukmu." Agra menarik kepala Delia dalam pelukan. "Jangan bandel dan jangan pernah membuatku cemas lagi. Mengerti?" Agra berucap lambat-lambat demi meredakan emosi istrinya yang selama kehamilan mengalami ketidakstabilan. "Janji boleh pesan apapun pada pak Li?" Delia mendongak menatap Agra dengan mata sayu nya sambil mengacungkan jari kelingking untuk mengikat janji lisan pada suaminya.
"Janji…" Tanpa berprasangka buruk Agra mengiyakan keinginan istrinya. Tak sadar jika akan ada hari hari berat kedepannya yang telah Delia rancang dalam bentuk kesempurnaan di otak kecilnya.
Memalingkan wajahnya. Terkekeh tanpa suara, menertawakan suaminya yang sama sekali tak tau rencana jahilnya.
Bersambung…
...****************...
Jangan lupa KOMEN, LIKE, VOTE, RATE serta Favoritkan NOVEL pertamaku.
__ADS_1
Biar semangat kirimin kopi dong🤭
See you on the next episode...