Tuan Muda Arogan

Tuan Muda Arogan
Kencan Manis


__ADS_3

Happy Reading,


Cahaya senja di ufuk barat begitu mempesona. Seorang lelaki tampan mengenakan setelan jas berwarna abu gelap tampak beberapa kali memperhatikan jam di pergelangan tangan. Wajahnya terlihat gugup. Sesekali ia mengusap layar di ponselnya.


Satu jam yang lalu Agra meminta Alex untuk menjemput Delia. Ia sendiri saat ini tengah menunggu di salah satu restoran ternama yang sebelumnya Alex booking atas perintahnya. Seluruh lantai di dekorasi sedemikian rupa. Kencan dengan sang istri malam ini adalan kali pertama semenjak Agra menikahi Delia. Kencan yang merupakan wujud terimakasih nya pada sang istri atas hadiah yang tak ternilai. Yah… kehadiran buah hati memang bukanlah hal biasa bagi Agra. Cinta kasihnya sebagai seorang ayah bagi anaknya yang walaupun masih berada di dalam rahim Delia begitu kentara, rasa sayang yang muncul secara alamiah itu mampu mengantarkan dirinya duduk tenang di sini.


Suara langkah kaki memecah lamunan Agra. Dengan segera ia bangkit dari duduknya menyambut kedatangan sang pujaan hati. Senyumnya mengembang. Mata elangnya tak henti menatap penampilan Delia. Perempuan itu mengenakan dress panjang dengan model mengembang, Lengan yang lebar serta kerah sedikit turun namun tak sampai ke dada. Motifnya masih sama seperti kebanyakan dress kesukaan yang sering ia gunakan di rumah maupun bepergian. Bunga-bungaan. Dengan hiasan butiran batu berkilau di seluruh gaunnya membuat kata mewah tak lepas dari apa yang ia kenakan saat ini. Agra meraih tangan mungil perempuan itu merengkuhnya dalam dekapan. Lelaki itu menggamit pinggang sang istri. Pandangannya semakin mendekat hingga tak ada jarak sama sekali. Kedua keningnya beradu sebelum kecupan kecil ia hadiahkan lantaran tak tahan melihat ranumnya bibir sang istri. "Kamu cantik banget malam ini." Delia terkekeh menanggapi godaan Agra. Memukul dada bidangnya pelan. "Suamiku juga tampan sekali." Balasnya tak mau kalah.


Setelah itu Agra menuntun istrinya untuk menuju meja yang sudah di persiapkan secara khusus. Selang beberapa menit dua orang pelayan datang mendorong berbagai hidangan lezat kesukaan Delia. Menatanya di atas meja sedemikian rupa sesuai dengan table manner yang mereka pelajari.


Matanya berbinar kala melihat banyaknya makanan yang tersaji. Perempuan itu mengabsen makanan demi makanan di hadapannya. Ekspresi nya berubah riang saat ia menyadari bahwa ternyata hampir kesemua makanan yang sudah suaminya pesan adalah makanan favoritnya. Tumis daging bertabur wijen, juga udang bumbu merah dengan sayur brokoli sebagai topping adalah salah satu menu yang paling sering ia minta pada pak Li untuk selalu menyiapkan di mansion bahkan hampir setiap hari. Rasa takjubnya adalah hiburan tersendiri bagi Agra. Rasa syukurnya pada setiap makanan yang di berikan membuat nilai tersendiri bagi Agra. Saat banyak perempuan yang menyia-nyiakan makanan dengan alasan menjaga tubuhnya supaya tetap ideal. Ternyata tidak berlaku bagi Delia, ia akan selalu lahap makan jika memang ia sedang merasa lapar. Menghabiskan makanan hingga tandas adalah wujud syukurnya selama ini. Hal itulah yang membuatnya berbeda.

__ADS_1


"Mas tapi ini kebanyakan… aku rasa aku tidak akan sanggup untuk menghabiskan semua makanan ini. Yang masih utuh dibagikan saja ya mas." Delia berucap lembut sambil sesekali terkekeh saat Agra terus menggodanya dengan mengerlingkan sebelah mata. Kedua sudut Agra terangkat membentuk sebuah senyuman. Tawa istrinya menular hingga ia larut dalam suasana riang yang Delia ciptakan. Gelak yang tertahan sedari tadi akhirnya tercipta sudah. Image yang ia gaungkan sebagai tuan arogan hilang terbang ke angkasa tanpa bekas dan tanpa cela. "Tidak usah memikirkan yang lain… sekarang kita nikmati momen berdua kita." Agra menggenggam erat kedua tangan Delia. Menatap dalam manik sayu sang istri. Mencari keraguan yang terpatri. Benar, tak ada sama sekali. Justru saat ini yang ia temukan adalah ketulusan Delia. Dan dengan sadar Agra menarik tangan istrinya, menjadikannya satu lalu mengecup sayang. "Aku tak mau menjanjikan apapun padamu saat ini karena aku bukan seorang pembual. Tapi aku adalah seorang pejuang. Pejuang yang akan memperjuangkan apa yang pantas untuk ku perjuangkan. Aku mau kamu selalu berada di sisiku apapun yang terjadi. Untuk kesekian kalinya. Aku… aku dan hatiku telah jatuh terlalu dalam karena mu Delia Mecca Anindira. Terima kasih telah bersedia menjadi ibu dari anakku." Kedua sudut mata Delia sudah mulai berembun. Pandangannya kabur oleh air mata yang menggenang. "Jadi aku mohon terimalah aku dengan segala kekuranganku. Aku mencintaimu dan aku sangat membutuhkanmu." Agra berucap lambat lambat dengan pandangan yang tak pernah lepas dari manik sayu sang belahan jiwa.


" Aku…aku juga men…cintai mu mas…" Tak mampu lagi ia menahan bahagia yang tercipta. Delia bangkit dari duduknya. Berjalan menghampiri Agra yang telah berdiri lebih dulu sambil merentangkan kedua tangan. Menubruk dada bidang Agra dengan serampangan. Delia mendongak menatap Agra yang menunduk sebab tinggi badannya sebatas dagu sang suami.


Lelaki itu mengikis jarak yang tersisa. Tidak menyisakan sama sekali. Kecupan kecil ia layangkan. Berubah semakin menuntut kala Delia sedikit memberi akses dengan bibirnya yang terbuka. Memag*t dan mel***t penuh semangat. Wangi vanilla yang memanjakan indera penciumannya menambah rasa cinta yang tiada ujung. Agra memutar tubuh Delia hingga membelakanginya. Melingkari perut kencang sang istri sebagai bentuk perlindungan. Mengusap sayang, hingga rasa hangat dari panas tubuhnya tersalur melalui telapak tangan yang masih setia berada di sana menjalar memenuhi tubuh Delia.


Iringan musik mellow yang terdengar lembut ditelinga dan seluruh ruangan luas itu adalah sarana pendukung suasana romantis yang tercipta. Hingga terdengar bunyi perut Delia yang mematahkan segala keromantisan mereka saat ini.


Agra terkekeh. Membalik tubuh Delia menghadapnya lagi, meraih dagu terbelah milik sang istri. "Sudah lapar hem…?" Delia mengangguk. Pipinya merona menahan malu.


"Hey… ssshhh… semua makanan lezat ini memanglah sengaja ku pesan khusus untukmu. Jadi kamu bebas memakannya sesuka hatimu." Telunjuk Agra membungkam bibir ranum Delia yang akan berucap lagi. "Sebelum menikmati hidangan lezat. Aku ingin kamu memakai ini." Lelaki itu merogoh saku celananya. Mengambil benda tertutup Berwarna biru tua yang sisi luarnya adalah berbahan beludru juga berbentuk love. Ia membukanya, mengambil sesuatu di dalamnya. Menggantungnya tepat dihadapan sang istri.

__ADS_1


Mata cantiknya membulat penuh pesona. Liontin putih dengan berlian kecil berwana kebiruan ditengahnya kini tepat di hadapan. Kesan pertama tentang kalung itu darinya adalah. Kecil, sederhana namun tak meninggalkan kesan mewah dari benda itu sendiri. Penggambaran sebuah benda yang tiba tiba terlintas dalam otak kecilnya. Delia suka. Ia menyukai satu dari sekian banyak perhiasan yang ditawarkan ibu mertuanya sebelumnya. Cerita dari mama Rani tentang kesederhanaan Delia tentunya tak luput dari pendengaran Agra. Dan kali ini ia sendiri yang telah memilihkan hadiah kecil khusus untuk Delia.


"Kalung yang cantik untuk perempuan istimewa di hidupku. Selain mama." Agra memakaikan liontin itu sendiri ke leher jenjang dan putih milik sang istri. "Sempurna." Imbuhnya lagi ketika kalung itu telah terpasang dengan baik.


Tak hentinya Delia dibuat terperangah oleh sang suami. Hari ini adalah hari paling bersejarah baginya selama masa pernikahan bersama Agra. Ia tak akan pernah melupakannya. Tidak sama sekali. Merasa dicintai adalah impian semua wanita di dunia ini. Tanpa kecuali…tanpa terkecuali dirinya.


Bahagia yang tak terukur ini…semoga selamanya…


Bersambung…


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa LIKE,KOMEN,DAN VOTE


I LOVE YOU ALL...❤️


__ADS_2