Tuan Muda Arogan

Tuan Muda Arogan
Pelakor Atau Pebinor???


__ADS_3

Happy Reading.


Natasya,


Ku lihat dari kejauhan Agra tengah menggandeng perempuan yang tempo hari tak sengaja ku temui di mansion om Wijaya. Dari gerak geriknya sih perempuan itu seperti sedang merayu laki-laki yang tengah ku perjuangkan cintanya.


"Sial…! kenapa pas antre sih apoteknya. Kalau saja mama tak sedang menitip vitamin padaku pasti aku akan melabrak perempuan gatel yang tak tahu malu menggoda laki laki di tempat umum." Umpat ku kesal di hadapan beberapa orang yang tengah mengantre di loket penebusan obat. Mereka menatapku sinis. So what? Aku tak peduli!


"Ehh mbak… jangan teriak gitu dong. Sakit nih telingaku dengar suara cempreng mu." Kurang ajar! Suara ku dibilang cempreng. Enak saja… suara bagus begini kog di bilang jelek, mereka belum tahu saja kalau aku ini adalah penyanyi. Eh… Penyanyi kamar mandi maksudnya. Daripada meladeni mereka lebih baik aku mengikuti kemana perginya lelaki yang selalu datang di setiap mimpi ku .


"Siall… mereka sudah pergi." Aku menghela nafas frustasi ketika tak ku lihat lagi keberadaan Agra. Aku benar benar ingin bertemu dengan Agra saat ini, lelaki yang setahun belakangan ini ku rindukan kehadirannya, lelaki yang membuat makan ku tak enak dan tidurku pun tak nyenyak. "Ah iya, lebih baik aku menemuinya di perusahaan. Pasti dia di sana. Lihat saja nanti, akan ku tunjukkan pada perempuan itu kalau aku adalah bagian terpenting Agra."


...----------------...


Delia,


"Hati-hati sayang makannya. Tidak usah terburu-buru, tidak ada yang akan merebut rujak mu." Mas Agra mengusap lembut rambutku. Aku tidak peduli dengan apapun, yang kurasakan saat ini adalah betapa lezat dan terasa sekali sensasi segar dari rujak yang tengah ku nikmati . Dan aku tak akan rela untuk berbagi pada siapapun, termasuk mas Agra yang sedang menatap takjub dihadapan ku ataupun asisten Alex, big no, aku tak mau berbagi meski hanya sedikit.


"Satu jam lagi ada meeting dengan investor dari Jepang tuan." Aku melirik asisten Alex yang tengah duduk di single soffa dengan memangku laptop menyampaikan agenda suamiku yang sedikit padat hari ini.


"Kalau sudah selesai makannya, langsung istirahat yah." Aku mendongak mengamati mas Agra yang bangkit dari duduknya dan menatapku lembut. "Iya mas, mas Agra hati-hati ya." Sudut bibirku terangkat, ku usap lembut tangan kokoh suamiku yang masih setia berada di sandaran kursi yang ku duduki. Lalu ia mengecup kening ku lama. "Jaga diri kamu ya, sekarang kamu tidak sendiri. Ada calon anak kita ada di sini." Tangannya mengusap lembut perut ku yang masih rata.


Melihatnya membuatku refleks menyentuh tangan mas Agra yang masih berada di perutku. "Aku janji mas… aku janji akan selalu menjaganya, mas Agra tidak usah khawatir ya."


Ia menarik tengkuk ku, mengecup bibirku nyaris melum*tnya. "Aku berangkat. Jangan kemana-mama langsung ke kamar dan istirahatlah setelah selesai."


Pipiku terasa panas, rasanya sangat malu, apalagi ada asisten Alex yang masih setia menunggu mas Agra. Meski ku lihat ia sama sekali tak bergeming mendapati bos nya berlaku tak senonoh padaku.


Selepas kepergian mereka, aku memutuskan untuk langsung ke lantai atas menuju kamarku dengan mas Agra. Aku melihat pak Li sedang mengamati dua orang pekerja perbaikan AC. Sepertinya salah satu AC di dekat jendela depan kamar mas Agra ada yang rusak. "Pak Li mama sama papa kemana? Kog sepi banget?"

__ADS_1


"Iya nyonya muda… nyonya besar dan tuan besar sedang menemui teman lama . Mungkin sore baru pulang."


"Oh… baiklah saya ke kamar dulu. Nanti kalau mama dan papa sudah pulang tolong kasih tahu saya ya pak. Ada yang ingin saya sampaikan"


"Baik nyonya muda… silahkan nyonya muda istirahat. Saya permisi melanjutkan pekerjaan yang lain."


Begitu aku masuk kedalam kamar, ku rasakan ponsel ku bergetar di atas nakas.


Notifikasi satu pesan masuk muncul di layar ponselku.


"Hai cantik…"


Ku putuskan untuk tak membuka pesan itu, karena ku anggap dari nomor tak dikenal dan hanya salah sambung saja, juga aku ingin segera merebahkan tubuh yang tiba tiba terasa lemas setelah makan rujak buah yang terasa amat segar di mulutku tadi. Ah sudahlah aku lelah.


Hingga satu notifikasi pesan masuk lagi, karena ponsel masih berada di genggamanku aku dapat melihatnya.


Nomor yang sama, dengan pesan berbeda.


Di ikuti nada panggilan masuk.


Aku memutuskan untuk tidak menanggapinya, tetapi ternyata nada panggilan tak juga berhenti dan masih saja terus berbunyi. Benar-benar berisik dan mengganggu waktu istirahatku saja.


"Hallo…" Akhirnya ku angkat panggilan telepon yang terus berbunyi memekakkan telinga ku.


"Hai cantik. Apa kabar?"


Hah???


"Maaf Ini siapa? Saya tidak mengenali nomor anda tuan?" Tak ada jawaban. Kudengar hanya gelak tawa yang memenuhi hingga terdengar di ruangan. Hah?? Refleks ku jauhkan ponsel yang semula menempel di telinga. "Ini sebenarnya siapa sih. Gak jelas banget."

__ADS_1


"Hei nona… aku adalah orang yang tempo hari memberimu tumpangan. Masa tidak ingat?"


Jadi dia orang yang memberiku tumpangan dan juga ku tabrak waktu di rumah sakit.


" Dokter Leo…" Hanya itu yang mampu ku ucapkan.


"Jadi bagaimana? Apa kamu sudah mengingatku? " Suaranya seperti menahan senyum.


"Iya tuan, maaf saya tidak tahu kalau itu anda."


"Memangnya aku majikan mu sehingga kamu memanggilku tuan. Kan sudah ku bilang, panggil namaku saja. "


"Maaf, iya baiklah Leo. Jadi kenapa kamu menelpon ku? Apakah ada hal penting yang ingin kamu sampaikan?" Aku membenarkan posisi tidurku karena kurasa tak nyaman pada perutku. Rasanya sedikit kram.


"Iya tentu saja. Apakah besok kamu ada acara? Aku ingin mengajakmu ke kafe langganan. Kalau kamu bersedia, besok siang aku jemput!"


"Hah??? " Aku tak bisa langsung menyetujui ajakannya. Mas Agra pasti keberatan kalau aku mengiyakan. Tetapi tentu saja aku juga tak mampu menolak, sebab mengingat pertolongannya waktu itu sehingga aku tidak sampai telat datang ke kampus. Aku berhutang budi pada lelaki itu. Sungguh sulit.


"Maaf Leo… bukan ingin menolak tapi bagaimana kalau nanti akhir pekan saat aku ada jadwal kuliah, selepas jam belajar akan aku usahakan memenuhi undangan mu. Sekali lagi maaf, saat ini aku belum bisa untuk bertemu denganmu."


"Oke baiklah, aku mengerti. Mungkin lain waktu saja saat jadwal mu tidak padat. Ya sudah aku tutup dulu yah cantik… ada pasien sedang menungguku."


"Hah???" Aku melempar kasar ponsel ku ke ujung ranjang, menindihnya dengan satu bantal. "Aneh banget sih laki-laki itu. Kalau mas Agra tahu ada laki-laki lain menelepon ku, mungkin aku bisa habis di maki." Aku meraih lagi ponsel yang ku lempar, ku hapus pesan dan panggilan dari laki-laki yang baru ku kenal beberapa hari itu.


"Huft… rasanya ngantuk banget yah… " Ku putuskan untuk mematikan daya ponselku dan berbaring meringkuk di atas ranjang. Merebahkan tubuh yang terasa bertambah lemah saja.


Bersambung…


...----------------...

__ADS_1


Jangan lupa like,vote, dan favoritkan novel pertamaku yah teman-teman...❤️


__ADS_2